• Latest News

    Selasa, 30 Desember 2014

    Dakwah Dalam Semangat Persaudaraan




    Oleh: Dr. H. Shabah S.M. Syamsi, M.A.
    Anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah,
    Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

    Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Q.S. Al Hujurat [49] : 10)
    Sering kali karena kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan, seseorang melupakan prinsip utama dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu ukhuwah (persaudaraan). Dia membuat pembenaran untuk memenangkan kepentingannya melalui berbagai argumen. Argumentasi logika (al-‘aqlî) dan agama (al-naqlî) digunakan untuk merebut simpati, meraup dukungan, dan memenangi perang perebutan kue kekuasaan. Nilai ukhuwah tercabik-cabik, dikalahkan oleh naluri egoisme yang menguasai jiwa. Kehancuran demi kehancuran terjadi, karena yang memelopori pertikaian dan permusuhan adalah para pemimpin dan tokoh panutan mereka.
    Mengedepankan faktor ukhuwah menjadi sangat penting dalam mewujudkan kedamaian dan keamanan warga bangsa. Islam mengajarkan perdamaian dan kesejukan dalam segala hal, bahkan termasuk dalam hal dakwah menyebarkan ajaran agama itu sendiri. Islam membenci kekerasan dan permusuhan. Islam mengedepankan kesejukan dalam berbagai hal.
    Kita semua bersaudara, kita dilahirkan dari ayah dan ibu yang sama, Adam dan Hawa, tapi kenapa akhirnya saling bermusuhan. Islam mengajarkan kita untuk mencari persamaan-persamaan, bukan perbedaan-perbedaan. Bila persamaan yang kita bangun, maka kekuatan dan kemakmuran yang akan diraih, tapi bila perbedaan yang ditonjolkan, maka konflik dan permusuhan yang akan terjadi.

    Ukhuwah dalam Al Qur’an
    Kata akh (saudara) dalam Al Qur’an, setidaknya ditemukan sebanyak 52 kali. Kata itu dapat berarti: 1). Saudara kandung atau saudara seketurunan, seperti pada ayat yang berbicara tentang kewarisan, atau keharaman mengawini orang-orang tertentu (Q.S. An Nisa [4] : 23); 2). Saudara yang dijalin oleh ikatan keluarga, seperti bunyi doa Nabi Musa ‘alaihis salam yang diabadikan Al Qur’an, “Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku,” (Q.S. Thaha [20] : 29-30). Kata itu juga berarti saudara dalam arti sebangsa, walaupun tidak seagama seperti dalam firman-Nya: “Dan kepada suku ‘Ad, (kami utus) saudara mereka Hud,” (Q.S. Al A’raf [7] : 65). Seperti telah diketahui kaum ‘Ad membangkang terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Hud ‘alaihis salam sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memusnahkan mereka (baca antara lain: Q.S. Al Haqqah [69] : 6-7).
    Kata akh (saudara) dalam Al Qur’an juga berarti saudara semasyarakat, walaupun berselisih paham: “Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai 99 ekor kambing betina, dan aku mempunyai seekor saja, maka dia berkata kepadaku, ‘Serahkan kambingmu itu kepadaku’; dan dia mengalahkan aku di dalam perdebatan,” (Q.S. Shad [38] : 23). Dalam sebuah hadits, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Belalah saudaramu, baik ia berlaku aniaya, maupun teraniaya.” Ketika beliau ditanya seseorang, bagaimana cara membantu orang yang menganiaya, beliau menjawab, “Engkau halangi dia agar tidak berbuat aniaya. Yang demikian itulah pembelaan baginya,” (H.R. Bukhari melalui Anas bin Malik).
    Kata akh (saudara), juga mengandung arti persaudaraan seagama. Ini ditunjukkan oleh firman Allah dalam surat Al Hujurat (49) ayat 10, “Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara.” Ada pula yang mengandung arti saudara sekemanusiaan (ukhuwah insaniah). Al Qur’an menyatakan bahwa semua manusia diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari seorang lelaki dan seorang perempuan (Adam dan Hawa) (Q.S. Al Hujurat [49] : 13). Ini berarti bahwa semua manusia adalah seketurunan dan dengan demikian bersaudara. Juga berarti saudara semakhluk dan seketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Al Qur’an secara tegas menyatakan bahwa: “Dan tidaklah (jenis binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya) kecuali umat-umat juga seperti kamu,” (Q.S. Al An’am [6] : 38).
    Dr. M. Quraish Syihab, dalam Wawasan Al Qur’an, menyebutkan bahwa Al Qur’an menyebut setidaknya ada empat macam persaudaraan: 1). Ukhuwah ‘ubudiyyah atau saudara kesemakhlukan dan kesetundukan kepada Allah; 2). Ukhuwah insaniyyah (basyariyyah) dalam arti seluruh umat manusia adalah bersaudara, karena mereka semua berasal dari seorang ayah dan ibu; 3). Ukhuwah wathaniyyah wa al-nasab, yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan; 4). Ukhuwah fi din Al-Islam, persaudaraan antar sesama Muslim.

    Dakwah Yang Lembut
    Dakwah yang berhasil adalah dakwah yang dilakukan dengan sejuk, santun, dan menebarkan kedamaian, yaitu dakwah yang dilakukan tanpa mengandung provokasi, dan kebencian. Itulah dakwah yang dibangun atas semangat ukhuwah (persaudaraan). Da’wah bukanlah di’ayah, dakwah bukanlah kampanye. Dakwah adalah serangkaian kegiatan yang menyebabkan orang lain tersentuh melalui kesadarannya untuk dapat melaksanakan ajaran-ajaran Islam sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
    Dasar utama dalam dakwah adalah keteladanan. Ibn Khaldun menjelaskan bahwa dasar terpenting bagi dakwah adalah contoh dan keteladanan. Penguasa memberi contoh dan teladan kepada yang dikuasai. Yang lemah mengambil contoh dari yang kuat. Yang di belakang mengikut orang yang di depannya. Maka orang-orang yang berkuasa itu harus memberikan teladan yang baik kepada rakyatnya, tidak sekedar pandai berbicara.
    Keteladanan itu adalah akhlaq dan budi pekerti yang dilakukan penguasa untuk rakyatnya, guru terhadap muridnya, maupun orang kaya kepada orang miskin. Maka rakyat meneladani penguasa karena keadilan, keramahan, dan kasih sayangnya. Murid meneladani guru karena ilmu, keshalehan, dan bimbingannya. Dan orang miskin meneladani orang kaya karena kebersahajaan, kedermawanan, dan penghargaannya kepada orang yang lebih rendah. Oleh karena itu, dakwah adalah upaya untuk mengumpulkan berbagai kelompok masyarakat itu, bukan untuk memecah belah, menjadikan mereka saling berdekatan bukan saling menjauhi, mengajak, bukan mengusir. Dakwah itu membangun dan mempererat ukhuwah (persaudaraan).
    Dakwah yang lembut dan luwes itu dicontohkan umpamanya oleh Buya Hamka. Suatu ketika ada beberapa perempuan terpelajar yang masih terpengaruh mode Barat ingin belajar Islam kepada beliau di Masjid Agung Al-Azhar. Mereka datang dengan pakaian minim dan make up yang berlebihan. Buya tidak berkeberatan mengajar mereka yang berpakaian belum sesuai dengan akhlak Islam itu. Janggal memang seorang ulama besar mengajar perempuan dengan berpakaian terbuka, setengah tutup aurat. Tapi beliau lakukan dengan memberikan pemahaman yang komprehensif tentang Islam. Lama kelamaan, mereka datang ke pengajian itu dengan menutup aurat, berbusana muslimah dengan indah dan rapi. Bahkan pada awal-awal berdiri pendidikan formal Al-Azhar, tidak diwajibkan bagi siswa siswinya untuk berbusana muslimah. Bertahap namun pasti, dakwah itu membawa hasil. (Rusydi, 1982: 156-157).
    Buya mengizinkan Aula Masjid Agung Al-Azhar (yang kini bernama Aula Buya Hamka) dijadikan tempat mode-show (peragaan busana) pakaian haji oleh ibu-ibu Pertiwi DKI. Tentang peragaan busana seperti itu beliau menjelaskan bahwa memang pakaian yang mereka pakai itu indah, cantik, menarik hati, dan terutama sopan. Yang diperagakan pakaian sehari-hari, pakaian pergi shalat, pakaian yang pantas buat perempuan yang sudah menjadi Hajjah. Peragaan busana seperti itu, kalau disadari, tidak lepas dari lingkaran dakwah. Bahkan mungkin lebih positif hasilnya dari seorang muballigh yang di dalam suatu tabligh akbar dengan agitasi yang gagah perkasa, mencela, menyindir, dan mengharamkan pakaian-pakaian wanita modern zaman sekarang. Sebab dengan mencela, memaki, hati orang jadi sakit. (Hamka, 1984: 32). Bisa jadi setelah mendengarkan ceramah seperti itu, mereka justru akan mempertontonkan model pakaian yang lebih tidak Islami, karena meresa kesal dan sakit hati.
    Buya Hamka menceriterakan tentang dakwah yang luwes itu seperti yang dilakukan oleh Gerakan Muhammadiyah/Aisyiyah antara tahun 1927–1930. Pada saat itu, kaum perempuan Indonesia dari berbagai suku, memakai pakaian yang berbeda-beda, yang terkadang bertentangan dengan ajaran Islam karena tidak menutup aurat, sangat tipis (transparan) sehingga menampakkan bagian-bagian tubuh terlarang. Gerakan Aisyiyah tidak mencela mereka sebagai haram, berdosa, masuk neraka dan lain-lain. Aisyiyah membuat mode pakaian baru yang islami, cantik, manis, dan menarik. Para anggotanya yang tersebar di seluruh Indonesia menggunakan mode pakaian itu. Akhirnya dakwah itu berhasil. Mode pakaian itu ditiru oleh banyak perempuan Indonesia, termasuk pemuka wanita Islam seperti Rasuna Said dan Rahmah El Yunusiyah. (Hamka, 1984: 32-33)
    Islam harus dihadirkan dalam bentuk keramahan, luwes, memahami lingkungan dan budaya setempat. Islam harus dihadirkan dalam bahasa yang aktual dan difahami umat, bukan konsep normatif yang rigid (kaku) dan mengawang di langit. Islam dihadirkan dalam kehidupan masyarakat yang hidup dinamis. Dakwah yang hidup akan menjadikan Islam dan kaum muslimin terus hidup, maju dan berkembang. Tapi bila dakwah itu mati, Islam dan kaum muslimin akan terpuruk, mundur, statis, akhirnya mati.
    Karena Islam hadir sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi sekalian alam), sebagaimana yang terkandung dalam Q.S. Al Anbiya’ [21] : 107, Al An’am [6] : 54, Al A’raf [7] : 158, Saba’ [34] : 28, maka dakwah Islam harus dihadirkan dalam rangka menjelaskan kebenaran kepada seluruh alam. Islam bukan untuk bangsa, suku, atau golongan tertentu. Islam hadir untuk seluruh dunia. Islam hadir bukan untuk membawa bencana, petaka, dan kehancuran, tapi datang untuk menebar rahmah, kasih sayang, dan kedamaian. Maka dakwah yang hidup yang mampu menjangkau seluruh dunia adalah dakwah yang dilakukan dengan pemahaman yang luas, hati lapang, dan memandang manusia sebagai saudara. Rasa persaudaraan itu harus ditanamkan sedemikian rupa, sehingga orang yang baru mengenal Islam tertarik menerimanya.
    Akhirnya, marilah kita bangkit berdakwah menegakkan panji-panji Islam. Negeri ini tidak boleh kosong dari gerakan dakwah. Kekosongan sesaat akan dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk menghancurkan dari belakang. Jangan pernah lengah dan lalai. Jangan biarkan Islam mati karena kegiatan dakwah mati. Kita kembangkan dakwah yang hidup. Dakwah yang tumbuh dan berkembang. Dakwah yang sejuk dan damai. Dakwah yang dikembangkan dalam semangat ukhuwah, persaudaraan. [tabligh]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Dakwah Dalam Semangat Persaudaraan Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top