• Latest News

    Sabtu, 27 Desember 2014

    K.H. Abdur Rozak Fachrudin (Pak AR)




    Tegas dalam Aqidah, Santun dalam Muamalah

    Oleh: Sahadi MH

    Orang tuanya memberi nama Abdur Razaq Fachruddin, warga Muhammadiyah biasa menyapanya dengan sebutan Pak AR. Beliau lahir 14 Februari 1916 di Cilangkap, Purwanggan, Pakualaman, Yogyakarta. Ayahnya, K.H. Fakhruddin adalah seorang Lurah Naib atau Penghulu di Pura Pakualaman yang diangkat oleh kakek Sri Paduka Paku Alam VIII, berasal dari Bleberan, Brosot, Galur, Kulonprogo. Sementara ibunya adalah Maimunah binti K.H. Idris, Pakualaman. Beliau putra ke 7 dari 11 bersaudara.
    Pendidikan Pada tahun 1923, untuk pertama kalinya A.R. Fachruddin bersekolah formal di Standaard School Muhammadiyah Bausasran, Yogyakarta. Setelah ayahnya tidak menjadi Penghulu dan usahanya dagang batik juga jatuh, maka ia pulang ke desanya di Bleberan, Galur, Kulonprogo. Pada tahun 1925, ia pindah ke sekolah Standaard School (Sekolah Dasar) Muhammadiyah Prenggan, Kotagede, Yogyakarta. Setamat dari Standaard School Kotagede tahun 1928, ia masuk ke Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta. Baru belajar dua tahun di Muallimin, ayahnya memanggilnya untuk pulang ke Bleberan, dan belajar kepada beberapa kiai di sana, seperti ayahnya sendiri, K.H. Abdullah Rosad, dan K.H. Abu Amar. Sehabis Mahgrib sampai pukul 21.00, ia juga belajar di Madrasah Wustha Muhammadiyah Wanapeti, Sewugalur, Kulonprogo.
    Setelah ayahnya meninggal di Bleberan dalam usia 72 tahun (1930), pada tahun 1932 A.R. Fach­ruddin masuk belajar di Madrasah Darul Ulum Muham­madiyah Wanapeti, Sewugalur. Selanjutnya, pada tahun 1935 A.R. Fachruddin melanjutkan sekolahnya ke Madrasah Tablighschool (Madrasah Muballighin) Muhammadiyah kelas Tiga.
    Pak AR menikah dengan Siti Qomariah putri Kiai Abu Amar yang berusia 17 tahun pada tahun 1938 dan dikaruniai 7 orang anak: Wasiyah, 1943  lahir di Tanjungraja, Ogan Komering Ilir; Drs. Sukrianto, lahir 1945 (Ketua PP Muhammadiyah); Siti Zahana lahir 1948; Lutfi Purnomo lahir 1950; Farkhana lahir 1953; dr. Fauzi lahir 1956; dan Wastiah lahir 1958.
    Diantara perjalanan dakwah beliau, pada tahun 1935, A.R. Fachruddin dikirim oleh Hoofdbestuur Muhammadiyah ke Talangbalai (sekarang Ogan Komering Ilir) dengan tugas mengembangkan gerakan dakwah Muhammadiyah. Di sana, ia mendirikan Sekolah Wustha Muallimin Muhammadiyah, setingkat SMP. Pada tahun 1938, ia juga mengembangkan hal yang sama di Ulak Paceh, Sekayu, Musi Ilir (sekarang Kabu­paten Musi Banyu Asin). Pada tahun 1941, ia pindah ke Sungai Batang, Sungai Gerong, Palembang sebagai pengajar HIS (Hollandcse Inlanders School) Muhammadiyah, setingkat dengan SD.
    Pada tanggal 14 Februari 1942, Jepang menyerbu pabrik minyak Sungai Gerong. Dengan sendirinya sekolah tempat mengajarnya ditutup. Kemudian A.R. Fachruddin dipindahkan ke Tebing Grinting, Muara Meranjat, Palembang sampai tahun 1944. Selama bertugas itu Pak AR mengajar di sekolah Muhammadiyah serta memimpin dan melatih HW, memberi Pengajian dan sebagainya.
    Ketika kembali Yogyakarta, ke desanya Bleberan, Kulon Progo (tahun 1944), A.R. Fachruddin terus aktif berdakwah dalam Muhammadiyah. Ketika pada tahun 1950 pindah ke Kauman Yogyakarta, A.R. Fachruddin tetap aktif sambil terus belajar kepada para assabiqunal awwalun Muhammadiyah, seperti K.H. Syudjak, KHA. Badawi, KRH. Hadjid, K.H. Muchtar, Ki Bagus Hadikusumo, K.H. Djohar, K.H. Muslim, K.H. Hanad, K.H. Bakir Saleh, K.H Basyir Mahfudz, Ibu Hj. Badilah Zuber dan sebagainya.

    Menuju Ketua Umum PP Muhammadiyah
    Keterlibatan A.R. Fachruddin di pusat Muhammadiyah mengantarkan beliau menjadi Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta, kemudian menjadi Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, selanjutnya menjadi anggota Dzawil Qurba Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sampai akhirnya dipercaya memimpin Muhammadiyah selama kira-kira 22 tahun (1968-1990).
    Pak AR menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sejak tahun 1968 setelah  untuk menjadi Pejabat Ketua PP Muhammadiyah sehubungan dengan wafatnya K.H. Faqih Usman.
    Dalam Sidang Tanwir di Ponorogo (Jawa Timur) pada tahun 1969, akhirnya Pak AR dikukuhkan menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sampai Muktamar Muhammadiyah ke-38 di Makassar pada tahun 1971. Sejak saat itu ia terpilih secara berturut-turut dalam empat kali Muktamar Muhammadiyah berikutnya untuk periode 1971-1974, 1974-1978, 1978-1985 dan terakhir 1985-1990.

    ‘Ibroh Pak AR
    Pak AR meniti karir di Muhammadiyah sejak dari bawah, yaitu menjadi anggota, menjadi muballigh yang ditugaskan di pelosok Sumatera Selatan dan di kampungnya sendiri, sampai pada pimpinan puncak yakni dipercaya sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pak AR menjadi pemimpin setelah melalui proses yang amat panjang.
    Melihat sosok Pak AR, akan didapatkan sebuah cermin, bahwa seorang pemimpin perlu menghayati bagaimana kehidupan ummat secara riil. Bagaimana derita dan nestapa ummat di tingkat bawah, bagaimana pahit getir berdakwah dan menggerakkan organisasi di tingkat Ranting yang jauh dari kota, yang serba kekurangan prasarana dan sarana. Susah payah, kesulitan-kesulitan, dan suka duka yang dialami seorang pemimpin yang bekerja di tingkat Ranting dan Cabang dapat memberi pengalaman yang berharga dan menjadikan seorang pemimpin menjadi arif dalam mengambil kebijakan dalam memimpin umat.

    Surat untuk Paus Paulus
    Ketika menyambut kunjungan pimpinan Vatikan, Paus Yohanes Paulus II di Yogyakarta, sebenarnya Pak AR menyampaikan kritikan kepada umat Katholik, tetapi kritik itu disampaikannya secara halus dan sejuk berupa sebuah surat terbuka. Dalam surat itu, Pak AR mengungkapkan bahwa sebagian besar rakyat Indonesia adalah muslim. Namun, ada hal yang terasa mengganjal bagi umat Islam Indonesia, bahwa umat Katholik banyak menggunakan kesempatan untuk mempengaruhi ummat Islam yang masih menderita dan miskin agar mau masuk ke agama Katolik. Mereka diberi uang, dicukupi kebutuhannya, dibangunkan rumah-rumah sederhana, dipinjami uang untuk modal dagang, tetapi dengan ajakan agar menjadi umat kristen. Umat Islam dibujuk dan dirayu untuk pindah agama. Dalam tulisannya kepada Paus Yohanes Paulus II itu, Pak AR menyatakan bahwa agama harus disebarluaskan dengan cara-cara yang perwira dan sportif. Kritik ini diterima dengan lapang dada oleh ummat lain karena disampaikan dengan lembut dan sejuk dalam bahasa Jawa halus, serta dijiwai semangat toleransi yang tinggi.

    Pak AR ‘qudwatun hasanah’
    Pak AR adalah sosok yang sederhana dan bersahaja, sejuk dan mudah dipahami dalam menyampaikan pesan dakwah. Beliau juga sosok humoris. Bukan pemimpin opurtunis yang punya ‘aji mumpung’. Perhatian terhadap keluarga dan umat.

    Kesaksian K.H. Ibnu Juraimi
    Pak AR adalah satu-satunya seorang Ketua PP Muhammadiyah yang sampai akhir hayatnya tidak memiliki rumah pribadi, hidup dengan sangat sederhana, dan segala kekuatan yang beliau miliki disumbangkan sepenuhnya untuk dakwah Islam. Seluruh tenaga, ilmu bahkan hartanya yang tidak seberapa disumbangkannya untuk kepentingan Islam.
    Pak AR, saya sebut, adalah orang yang paling zuhud. Kalau beliau diminta ceramah di suatu tempat dan mendapatkan amplop, biasanya isinya habis diberikan kepada para karyawan kantor PP Muhammadiyah yang gajinya masih sangat kecil.
    Para pengurus PP Muhammadiyah kalau sakit biasanya dilayani oleh Rumah Sakit Muhammadiyah, di Jogja oleh RSU PKU Mu-hammadiyah Yogyakarta dan kalau di Jakarta oleh Rumah Sakit Islam Jakarta. Suatu kali Pak AR sakit dan akan melakukan operasi Katarak. Pak AR tidak ingin PP Muhammadiyah tahu tentang sakitnya itu sehingga ia diberi fasilitas pengobatan gratis di RSU PKU. Namun, sebuah kelompok pengajian kecil di dekat rumahnya mengetahui dan mengumpulkan uang untuk membantu biaya operasi. Dari mereka terkum-pul uang sebanyak 600 ribu rupiah yang kemudian diserahkan kepada Pak AR.
    Ketika selesai operasi, pengurus kelompok pengajian tadi diundang Pak AR. Beliau meng-ucapkan terima kasih dan menyerahkan sebuah bingkisan kepada pengurus pengajian tersebut yang ternyata isinya uang 300 ribu. Uang tersebut adalah sisa biaya operasi bantuan dari kelompok pengajian tersebut. Pak AR mengembalikan sisanya karena biaya operasinya hanya 300 ribu.
    Suatu kali beliau didampingi oleh H. Ahmad Dimyati, seorang tokoh Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, menghadiri suatu acara Muhammadiyah di daerah Jawa Tengah. Oleh Panitia tempat tidur mereka berdua ditempatkan di sebuah ruang kelas di lantai yang diberi kasur. Pak Dimyati merasa penasaran, masak seorang ketua PP tidurnya ditempatkan hanya di lantai yang diberi kasur. Ketika Pak Dimyati bermaksud mencari panitianya untuk mengadukan masalah ini, Pak AR dengan santai malah mengatakan: “Sudahlah, dengan begini saya malah enak, tidak mungkin jatuh/ngglundung  dari tempat tidur”.

    Anekdot Pak AR, Sepak Bola Kalah 9-0
    Peristiwa  ini terjadi sekitar 1927, pada saat Pak AR masih kanak-kanak, ketika menjadi siswa di SD Muhammadiyah Prenggan Kotagede Yogyakarta. Suatu ketika diadakan pertandingan sepak bola, Beliau diikutsertakan dikesebelasan kelasnya dan mendapatkan posisi Penjaga Gawang(Kiper). Saat pertandingan berjalan cukup ramai, serangan lawan cukup gencar. Boleh kata setiap serangan lawan dan tembakan tepat mengarah ke gawang  Pak AR bola pasti masuk. Pertandingan berakhir dengan skor 9-0 untuk kemenangan Lawan, pihak lawan bergembira sedangkan pihak Pak AR kecewa, dan teman-teman Pak AR begitu kecewa kepada Beliau. Saat ditanya teman Pak AR, “Kenapa  ketika bola mengarah ke gawang mu tidak ditangkap???
    Pak AR menjawab, “Ya Sekali-kali kita harus membuat gembira lawan, kan kata Pak Guru kemarin bahwa membuat orang lain senang itu hal yang baik.”
    Semua teman Pak AR pun serempak berteriah, HUUUU...”

    Bersahabat Karena Kecelakaan
    Suatu hari Pak AR pergi kesidang DPR di Kepatihan Yogyakarta. Karena tergesa-gesa, maka motor dikendarai agak cepat dan dijalan Malioboro Pak AR menabrak becak. Becaknya  jatuh, pengemudinya mengalami luka kaki dan tumit. Setelah diurus polisi maka ada kesepakatan damai dan tukang becak itu dirawat dirumah sakit Mangkubumen(Rumah sakit bakal RS DR.Sarjito). hampir tiap hari Pak AR menengok tukang becak itu untuk mengetahui perkembangannya dan setiap kali Beliau pergi ke RS, Beliau selalu membawakan oleh-oleh untuk tukang becak tersebut.
    Setelah diperbolehkan pulang oleh dokter, Pak AR masih sering berkunjung kerumah siTukang Becak itu dan selalu membawakan oleh-oleh sekedarnya. Setelah tukang becak pulih total. siTukang Becak yang kini berkunjung kerumah Pak AR, begitu seterusnya, tak lupa tukang becak itu membawakan oleh-oleh, tukang becak  mengatakn pada Pak AR setiap ia dating berkunjung “Ini hasil kebun sendiri kok Pak” sambil memegang pisang dan ubi kayu. Jadilah kecelakaan pangkal Persahabatan yang digambarkan Pak AR dan Tukang Becak.
    Beliau menderita vertigo sejak tahun 1988, dan sempat dirawat di beberapa Rumah Sakit sampai akhirnya wafat pada 17 Maret 1995 di Rumah Sakit Islam Jakarta pada usia 79 tahun. Selamat jalan Pak AR... Allahu yarham... Allahummaghfirlahu wa ‘afihi wa’ fu ‘anhu...
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: K.H. Abdur Rozak Fachrudin (Pak AR) Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top