• Latest News

    Rabu, 31 Desember 2014

    Saat Ketua Majelis Tarjih Bicara Syiah






    Namanya lengkapnya H. Sholahuddin Sirizar, Lc, M.A, dilahirkan di Sukoharjo pada 10 Juni 1972. Ayahnya bernama K.H. Muhammad Ghufron, B.A salah tokoh besar Muhammadiyah di Cabang Blimbing Daerah Sukoharjo dan ibunya bernama Siti Latifah adalah aktivis ‘Aisyiyah. Latar belakang pendidikannya dimulai dari SD Muhammadiyah Wonorejo (1985), MTs dan SMA Pondok Pesantren Islam Assalam Kartasura (1991). Lulus dari Pesantren Assalam, beliau sempat melanjutkan kuliah di Jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN (Sekarang UIN) Sunan Kalijaga Jogjakarta. Dalam waktu yang sama beliau juga nyantri di Pesantren Mahasiswa Budi Mulya yang diasuh oleh Al Ustadz Prof. DR. H. M. Amien Rais, M.A.
    Ustadz Sholahuddin mengisahkan, baru sampai semester 5 belajar di IAIN, pada sebuah kuliah Subuh Pak Amien Rais menawarkan beasiswa kuliah ke Iraq kepada para mahasantri Pesantren Budi Mulya. Dari 8 mahasantri yang mendaftar saat itu hanya satu yang akan terpilih dan beliaulah yang dipilih oleh Pak Amien untuk berangkat ke Iraq mewakili PP Muhammadiyah. Sarjana (Lc) beliau selesaikan di Universitas Saddam (1998) dan Magister (M.A) beliau selesaikan di Universitas Baghdad (2002), semuanya dalam Jurusan Syariah.
    Menjelang lulus S2, beliau ditawari Prof. DR. H.M. Din Syamsuddin, M.A untuk melanjutkan program Doktoral di Iraq, tapi beliau memilih untuk pulang ke Indonesia. Qadarullah tidak sampai setahun setelah beliau pulang dari Iraq, Amerika menyerang dan menjajah Iraq bahkan mengganti rezim Sunni dengan Syiah sampai sekarang.
    Motto hidup Ustadz Sholahuddin Sirizar adalah “Buatlah untuk dunia ini dua ruangan; satu untuk mencari akhirat dan satunya lagi untuk mencari yang halal dari dunia.”

    Aktivitas Organisasi dan Dakwah
    Pengalaman organisasi Ustadz Sholahuddin diantaranya pernah menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Iraq (1995-1996). Hingga sekarang beliau aktif sebagai Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama indonesia (MUI) Kabupaten Sukoharjo dan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PW Muhammadiyah Jawa Tengah.
    Disamping kesibukan beliau sebagai dosen di Fakultas Syariah IAIN Surakarta, aktivitas dakwah beliau banyak dilalui dengan mengisi kajian intensif di masjid-masjid tingkat ranting dan cabang. Beliau juga punya beberapa kajian Tarjih di tingkat daerah Sukoharjo, sesekali pula beliau mengisi kajian Tarjih tingkat wilayah di Jawa Tengah. Beliau juga pernah diminta untuk mengisi kajian di beberapa PDM di wilayah Jawa Timur.

    Pendapat Ustadz Sholahuddin tentang Densus 88
    Menanggapi aksi kekerasan Densus 88 yang semakin hari semakin membabi buta bahkan hingga akhir-akhir ini.  Beliau melihat seakan-akan antara terduga teroris dan polisi saling balas dendam. “Sebaiknya kita menggunakan cara yang persuasif, karena cara-cara kekerasan yang dilakukan polisi sekarang terbukti tidak menyelesaikan masalah,” terang beliau.
    Beliau mengibaratkan, lebih baik memadamkan api dengan air, bukan malah membakar. Menurut beliau, apa yang dilakukan oleh mereka yang dianggap teroris oleh pemerintah itu memang Muhammadiyah tidak setuju, tapi penanganan Densus 88 kepada yang dianggap teroris itu juga tidak bisa dibenarkan.
    Kajian maupun pendidikan yang diajarkan di Muhammadiyah pembelajarannya tidak untuk menjadi radikal, tapi bukan berarti kita tidak mengajarkan jihad. Muhammadiyah mengajarkan jihad, hanya saja jihad yang diajarkan di Muhammadiyah adalah jihad dengan pembahasan yang komperhensif. Tidak hanya satu atau dua bidang saja melainkan dilihat dari berbagai aspek. Karena jihad tidak hanya dicapai lewat angkat senjata saja, tapi juga dengan pena, dakwah dan sebagainya.

    Saat Ulama Tarjih Bicara Syiah
    Melihat ajaran Syiah yang beberapa saat ini semakin merebak tampaknya juga turut membuat resah Ustadz Sholahuddin. Maka beberapa saat lalu sebelum Majelis Tarjih Jawa Tengah menggelar Musyawarah Wilayah (Musywil), Ustadz Sholahuddin pernah mengusulkan untuk membahas tentang Syiah dalam forum Musywil Tarjih. Sayangnya ada sebagian dari anggota Majelis yang menganggap pembahasan tentang tema Syiah sebagai tema yang cukup sensitif. “Muhammadiyah itu biasanya tidak mau ikut ribut-ribut, karena memang di Solo sendiri juga baru ramai-ramainya pembahasan tentang Syiah. Takutnya kita justru masuk kedalam lingkaran yang cukup sensitif tersebut. Makanya mereka (anggota PWM Majelis Tarjih) inginnya tema yang lain saja yang dirasa lebih ringan,” begitu jelas beliau.
    Selanjutnya Ustadz muda yang baru saja dilantik sebagai Direktur Pondok Pesantren Imam Syuhodo tersebut menjelaskan bahwa Syiah itu ada beberapa kelompok, dari yang paling keras sampai yang paling moderat. Beliau melihat Syiah yang paling keras sudah sampai diluar Islam.
    “Diantara sekte Syiah ada yang menganggap bahwa malaikat Jibril ‘alaihis salam  salah menyampaikan wahyu. Mestinya diberikan kepada Ali radhiallahu ‘anhu tapi kok diberikan kepada Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Nah, yang seperti itu sudah jauh sekali dari Islam,” terang beliau.
    Kemudian beliau menerangkan bahwa ada sekte-sekte Syiah yang mencela para sahabat khususnya yang diangggap tidak mau membaiat kepada Ali radhiallahu ‘anhu, “mereka (para sahabat nabi) dicela bahkan dikafirkan oleh Syiah. Termasuk ada juga sekte Syiah yang melaknat Aisyah radhiallahu ‘anhuma. Salah satu ummahatul mukminin itu dilaknat, bahkan mereka punya lagu-lagu yang melaknat kepada Aisyah radhiallahu ‘anhuma. Nah, itu kan sudah sangat jauh. Karena rangkaiannya bisa sampai kesitu jelas aqidahnya sudah sangat jauh dari Islam,” lantun beliau.
    Tentang sekte-sekte Syiah ini beliau juga menerangkan bahwa sampai ada juga sekte Syiah yang menyebut bahwa Ali radhiallahu ‘anhu adalah jelmaan antara Tuhan dan manusia. Jadi ketika Ali radhiallahu ‘anhu gugur, mereka malah bergembira, karena dalam anggapan mereka Ali radhiallahu ‘anhu sebagai manusia sudah selesai, tinggallah Ali radhiallahu ‘anhu sebagai Tuhan.
    Diantara kesesatan lain Syiah yang beliau sebutkan adalah dalam masalah rukun iman. Rukun iman dalam Syiah yang sangat jauh dari aqidah kita adalah tidak memasukkan, tidak mengakui dan tidak percaya kepada malaikat sebagai salah satu bagian dari rukun iman. Hai itu disinyalir karena salah satu pimpinan malaikat, yaitu Jibril ‘alaihis salam  mereka anggap telah salah saat mengurusi masalah wahyu sebagaimana tadi disebutkan.
    Selanjutnya, model imamah yang maksum itu juga dianggap oleh ustadz Sholahuddin sebagai kesesatan yang berat. Artinya mereka menganggap imam mereka yang duabelas itu tidak akan melakukan kesalahan dan berposisi sama dengan para Nabi. Apa yang para imam katakan dan perbuat adalah hukum yang wajib ditaati. Padahal dalam keyakinan ahlus sunnah, selain para Nabi tidak ada yang maksum. Sehebat dan sealim apapun, mereka tetap manusia biasa yang tidak maksum sehingga sangat mungkin berbuat salah. Itulah beberapa perbedaan antara Syiah dan ahlus sunnah yang sangat mendasar.
    Syahadat mereka juga berbeda. Selain syahadat tauhid dan syahadat rasul yang diikrarkan ahlus sunnah, mereka juga menyebutkan dua belas imam. Dengan syahadat yang semacam ini artinya mereka sendiri mengatakan kalau kita (ahlus sunnah) yang belum bersyahadat kepada 12 imam itu dianggap belum muslim atau kafir oleh mereka.
    Kalaupun ada Syiah yang moderat itu hanya satu, yaitu Syiah Zaidiyah yang ada di Yaman. Namun dalam pandangan beliau saat kita bicara Syiah akhir-akhir ini, yang sangat progresif untuk menyebarkan faham Syiah adalah Iran dengan fahamnya Imamiyah Istna Astariyah. Perbedaan kita (ahlus sunnah) dengan mereka dalam masalah prinsip cukup banyak seperti yang disebutkan tadi.
    Memang saat kaum Muslimin tidak mempelajari ajaran Syiah langsung dari kitab-kitab mereka, kita akan menganggap bahwa Syiah itu juga orang Islam hanya saja dengan mazhab Syiah. Yang oleh segelintir orang, Syiah di Indonesia itu dikenal toleran dan mau menggunakan hadis-hadis dari Imam Bukhari dan Imam Muslim. Padahal kalau kita ketahui Syiah Imamiyah itu anti pada kitab-kitab hadis, baik shahihain maupun kutubus sittah yang muktabar dikalangan ahlus sunnah. Mereka tidak mau menggunakan kitab-kitab tersebut karena tidak mengakui hadis-hadis yang tertulis didalamnya. Hadis yang mereka akui hanyalah hadis dari ahlul bait yang ada dalam kitab-kitab mereka saja.
    Dosen IAIN Surakarta ini juga menceritakan kisahnya dengan seorang Syiah saat masih kuliah di Iraq dulu. “Saya pernah ketemu dengan seorang al fadhil, sebuah jenjang keulamaan. Dia bilang bahwa dia sering ke Karbala untuk mengisi kajian disana. Dari Baghdad menuju Karbala jaraknya sampai beberapa ratus kilometer. Saat di Karbala tersebut biasanya dia menginap satu atau dua pekan. Karenanya dia sudah melakukan nikah mut’ah lebih dari 25 kali. Bahkan dia pernah mengajak saya  untuk ikut nikah mut’ah. Saya hanya tersenyum saja, tidak menolak, tidak juga menanggapi. Karena kalau saya menentang wong saya posisinya di sana (Iraq juga basis Syiah), kalau harus mendukung mut’ah juga tidak sesuai dengan hati.”
    Al Fadhil tersebut juga pernah berkata kepada beliau, “Sholahuddin kamu jangan curiga, saya itu kalau nikah mut’ah di karbala, saya hanya membaca Alquran dengan istri (mu’tah) saya sampai subuh dan tidak tidur,” begitu beliau mengisahkan.
    Mendengar perkataan ini Ustadz Sholahuddin hanya bisa bertanya dalam hati, “Saya sebenarnya ada pertanyaan besar buat dia, kalau hanya membaca Alquran saja kenapa harus nikah mut’ah?!”
    Karena efek negatif nikah mut’ah yang luar biasa, kata beliau ulama-ulama kalangan Syiah di Iran sekarang sudah mulai memperselisihkan dan memberikan batasan-batasan untuk mut’ah. Diantara efek negatif tersebut adalah dengan lahirnya anak-anak hasil mut’ah tersebut yang banyak sditelantarkan dan akhirnya menjadi beban negara.
    Tentang perlunya Majelis Tarjih Muhammadiyah memfatwakan kesesatan Syiah. Beliau mengatakan, “kalau Muhammadiyah dibutuhkan untuk memfatwakan tentang kesesatan Syiah, maka Muhammadiyah perlu menjelaskan secara lengkap juga bahwa di dalam Syiah terdiri dari banyak sekte. Sekte yang sangat keras dan prinsip akidahnya jauh melenceng dengan prinsip agama Islam yang kita anut, maka menurut saya mereka sudah lakum dinukum waliyadin (bukan lagi Islam). Meskipun ada satu yang masih dekat dengan paham Ahlus Sunnah, yaitu Zaidiyah. [Ahmad Nasri]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    Item Reviewed: Saat Ketua Majelis Tarjih Bicara Syiah Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top