• Latest News

    Jumat, 02 Januari 2015

    Ahmad Dahlan yang Disalahpahamkan


    Oleh: Niki Alma Febriana Fauzi
    Alumni Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) Yogyakarta
    Mahasiswa Tafsir-Hadits Universitas Ahmad Dahlan
     
    Judul Buku             : The Untold Story K.H.R.Ng. Ahmad Dahlan; Pembaharu, Pemersatu, dan Pemelihara Tradisi Islam
    Penulis                  : Ahmad Sarwono bin Zahir & Shofrotum binti Husein al-Aydrus
    Penerbit                : Mitra Pustaka Nurani (MATAN)
    Cet. Pertama         : Juli 2013
    Tebal                    : xxx + 426

    Muhammadiyah dalam beberapa waktu belakangan ini sering kali dilabeli dengan stigma-stigma negatif oleh sebagian kalangan. Di antara stigma negatif tersebut disebutkan bahwa Muhammadiyah adalah Wahabi dan organisasi yang sering kali tampil ‘berbeda’, sehingga dengan keberbedaannya itu berpotensi besar menimbulkan perpecahan dalam tubuh umat Islam. Setidaknya, stigma itu dapat kira rasakan dalam buku “The Untold Story K.H.R.Ng. Ahmad Dahlan; Pembaharu, Pemersatu, dan Pemelihara Tradisi Islam” karya Ahmad Sarwono bin Zahir & Shofrotum binti Husein al-Aydrus ini.
    Penulis buku ini ingin mengajak para pembaca untuk melihat kenyataan bahwa Muhamadiyah sekarang telah berbeda dengan Muhammadiyah pada masa pendirinya, Ahmad Dahlan. Muhammadiyah telah berubah arah ke jalur yang keliru semenjak didirikannya Majelis Tarjih. Majelis Tarjih telah mengubah paradigma Muhammadiyah menjadi organisasi Islam yang anti budaya dan tradisi, terutama tradisi dan budaya Jawa.
    Penulis buku ini ingin mengesankan bahwa yang harus bertanggung jawab terhadap pergeseran paradigma Muhammadiyah pasca-Ahmad Dahlan adalah Majelis Tarjih. Dan lebih jauh lagi orang yang memelopori berdirinya Majelis Tarjih itu sendiri, yaitu KH Mas Mansur, KH Mas Mansur lah, yang menurut penulis buku ini, dianggap orang yang harus bertanggung jawab atas itu semua. KH Mas Mansur telah memasukkan ideologi Wahabi ke dalam tubuh Muhammadiyah, sehingga Muhammadiyah menjadi organisasi eksklusif yang anti budaya dan tradisi.
    Secara sekilas, buku ini nampak menyajikan beberapa data baru tentang Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah generasi awal. Namun, justru di sinilah letak masalahnya. Beberapa data dan referensi yang diklaim berbeda dan meluruskan data yang sudah ada justru banyak yang lebih kacau dan membingungkan. Misalnya, dalam halaman 73 buku ini menyebut nama mufti, Mufti Batavia tahun 1862 dengan nama Habib Utsman bin Abdullah bin Yahya, tetapi dalam halaman 89 disebut dengan nama Sayyid Utsman bin Abdullah bin Agil. Hal serupa juga dapat dijumpai ketika ia menyebut pendiri organisasi Islam, Jamiat Khair. Di satu tempat ia menyebutnya dengan nama Sayyid Ali bin Ahmad Shahab, tapi di tempat lain ia menyebutnya Sayyid Muhammad bin Abdurrahman Shahab.
    Dari segi referensi, buku ini hanya merujuk pada satu tulisan dari sejarawan Muhammadiyah. Buku yang dirujuk itu pun juga bukan buku yang secara khusus membahas sosok Ahmad Dahlan. Sumber lapangan (wawancara) yang dilakukan pengarang kepada perwakilan pihak keluarga Ahmad Dahlan juga perlu dikritisi. Ada narasumber yang disebut dalam buku ini yang malah mempertanyakan kevalidan hasil wawancaranya. Dengan kata lain, banyak data yang disajikan buku ini patut dipertanyakan validitasnya secara ilmiah maupun secara metodologis. Apalagi, buku ini juga banyak menyajikan kutipan tanpa mencantumkan dari mana informasi itu diambil. Hal ini tentu menjadikan para pembaca sulit untuk melacak kesahihan isi yang disajikan.
    Buku ini juga menyinggung hubungan antara Muhammadiyah-NU dan juga ormas-ormas Islam yang lain. Penulis buku ini ingin mengesankan kepada para pembaca bahwa Muhammadiyah dan NU yang sekarang adalah ibarat dua binatang; kucing dan anjing yang selalu ‘bertikai’ karena beberapa perbedaan pemahaman fiqih antara keduanya. Mereka, menurut penulis buku ini, telah terjebak ke dalam jurang perselisihan furu’iyyah yang bertele-tele, tidak penting dan tidak akan pernah berkesudahan.
    Di tengah pesan yang ingin disampaikan inilah, penulis buku ini mengetengahkan sekaligus (ada kesan) mencitrakan baik aktivitas Jamaah Tabligh, sebagai kelompok inklusif, tidak sibuk pada masalah khilafiah dan kelompok yang mengajak pengikutnya mendahulukan akhlak di atas fiqih. Itu dapat dengan jelas dirasakan ketika beberapa halaman pada pertengahan buku ini. Melihat latar belakang penulisnya, pembaca akan mafhum, buku ini ada dan untuk apa dan untuk siapa dia berpihak. [SM]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    1. LIHAT KOMENTAR BERBAGAI TOKOH DI http://www.el-amien.com/180/ DAN
      http://www.el-amien.com/tanggapan-penulis-buku-the-untold-story-k-h-r-ng-ahmad-dahlan/

      BalasHapus

    Item Reviewed: Ahmad Dahlan yang Disalahpahamkan Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top