• Latest News

    Jumat, 30 Januari 2015

    Cinta di Balik Hijab




    Apa sih itu cinta? Pertanyaan yang satu ini jelas tidak asing lagi bagi kita. Tanpa tahu arti detailnya, kita sudah sangat tahu bagaimana rasanya. Sejak kita dalam kandungan ibu, kita sudah dikenalkan dengan rasa cinta. Cinta yang teramat istimewa itu dikenalkan ibu kita dengan kasih sayangnya saat menjaga kehamilannya. Cinta juga kita peroleh dari ayah kita yang bekerja mencari nafkah untuk menyambut kelahiran kita di dunia. Bahkah kakek dan nenek kita pun turut memberikan rasa cintanya kepada kita dengan menantikan kelahiran seorang cucu yang akan meneruskan keturunannya.
    Yang lebih hebat lagi, sebelum kita ada di dunia ini, sudah ada seorang hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mencintai kita, menyayangi kita dan memperhatikan kita semua. Siapakah beliau? Yupz, beliau adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam. Salah satu bukti cintanya kepada kita adalah ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam sakaratul maut. Beliau meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk melimpahkan semua rasa sakit sakaratul maut umatnya kepada beliau. Sungguh mulia hati Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam, padahal beliau belum mengenal kita.
    Yang teramat hebat lagi adalah kita mendapatkan cinta dari Rabb kita. Rabb Yang Maha Tunggal, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Meskipun kita adalah hamba yang sering melanggar larangan-Nya, kita masih bisa merasakan nikmat yang selalu diberikan-Nya, mendapat ampunan-Nya dan memperoleh kasih sayang-Nya dengan kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh-Nya dalam kehidupan kita.
    Tanpa cinta kehidupan ini akan hancur. Oleh karena itu sebagai insan yang beriman, kita harus mempunyai rasa cinta yang kita tebarkan dengan budi halus kita, tutur lembut kata kita dan keikhlasan doa untuk saudara-saudara muslim kita. Cinta yang kita kelola dengan baik sesuai syariat akan menciptakan hal-hal yang luar biasa. Namun sebaliknya cinta yang tidak kita kelola dengan baik dan tidak sesuai dengan syariat islam dapat menimbulkan hal-hal yang tidak baik termasuk menghancurkan iman kita.
    Salah satu cinta yang bisa menurunkan kadar iman kita adalah cinta pada lawan jenis yang bukan mahrom dan tidak dilandasi dengan ikatan halal yaitu ikatan pernikahan. Cinta ini, jika diikuti dengan perbuatan yang dilarang Allah Subhanahu wa Ta’ala, tak hanya akan menurunkan iman kita, tetapi juga bisa membuat iman kita benar-benar berbalik 180° terutama saat benteng keimanan kita rapuh.
    Seringkali kita temui remaja yang menjalin cinta sedang asyik pacaran di tempat umum. Mungkin kita masih bisa memaklumi jika mereka tidak tahu bagaimana hukum pacaran yang sebenarnya dalam islam. Namun mungkin kita akan terheran-heran jika yang menjalin cinta yang tidak halal ini adalah seorang ikhwan dan akhwat yang jelas-jelas tahu bagaimana hukumnya. Apalagi jika mereka adalah aktivis lembaga dakwah yang menggembar gemborkan semangat untuk memperjuangkan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Di balik perjuangan untuk menyebarkan ilmu dien, sebagian dari para aktivis justru terkena virus merah jambu yang sering dikenal dengan VMJ. Hijab-hijab yang digunakan untuk membatasi pergaulan sesama aktivis ternyata tak mampu menghijabi semua hati aktivis dakwah secara sempurna. Sebagian dari para aktivis tak mampu bertahan untuk menguatkan hatinya dari serangan VMJ. Sebenarnya semua itu tidak akan menjadi masalah jika sebagai aktivis mereka tidak melanjutkan perasaan mereka dengan menjalin hubungan yang belum halal. Karena kita semua tahu bahwa perasaan cinta mutlak ada dalam kehidupan kita. Perasaan cinta adalah fitrah bagi setiap manusia. Namun persoalannya akan berbeda jika mereka semakin tidak bisa menahan perasaan mereka hingga mereka menjalin cinta layaknya sepasang kekasih. Hijab atau batasan-batasan yang seharusnya mereka gunakan untuk membentengi diri justru menjadi penutup untuk kisah cinta terlarang mereka. Mereka pun menjadi para pelaku cinta di balik hijab. Cinta yang mereka sembunyikan dari pandangan manusia namun sesungguhnya tak bisa menghalangi dari pandangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Walaupun para pelaku cinta di balik hijab mungkin hanya berhubungan melalui sms atau telepon dan sesekali bertemu di tempat yang mereka pikir tidak bisa diketahui orang-orang yang mereka kenal, tetapi perbuatan mereka tetap tidak bisa dibenarkan. Mereka seharusnya menjadi teladan bagi yang lain dalam menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga melarang kita berkhalwat. Berkhalwat di sini bukan hanya bertemu, namun ber-sms-an atau berbincang-bincang berdua di telepon termasuk juga berkhalwat jika membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat dan hanya bersenda gurau atau saling merayu untuk memikat hati lawan bicaranya. Awalnya dari sms nasihat. Lama-lama ditambahi gambar emotion entah senyum, tertawa atau kerlingan mata dan lainnya. Setelah itu berkembang lagi jadi telpon-telponan dan akhirnya menjadi hubungan cinta. Entah itu hubungan pacaran atau sekedar HTS-an (Hubungan Tanpa Status). Padahal tidak ada diantara dua orang lawan jenis yang sedang berduaan melainkan yang ketiganya adalah setan (HR. Abu Dawud).
    Banyak dari para pelaku cinta di balik hijab yang berkilah bahwa mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa, tetapi yang mereka lakukan sudah seperti orang yang berpacaran. Di depan orang banyak, mereka menutup-nutupi, sedangkan di belakang mereka melanggar perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan diantara mereka juga ada yang tak malu mengumbar hubungan kasih misalnya melalui facebook. Banyak diantara itong (ikhwan sepotong -ikhwan yang akhlaknya tidak mencerminkan seorang ikhwan yang baik, kadang penampilannya saja yang menunjukkan seorang ikhwan-) dan atong (akhwat sepotong -akhwat yang akhlaknya tidak mencerminkan seorang akhwat yang baik, kadang penampilannya saja yang menunjukkan seorang akhwat-) ini yang entah secara sadar atau tidak bermesra-mesraan di status atau komentar-komentar facebook. Entah mengirimi kata-kata cinta, lambang-lambang cinta seperti gambar hati atau bunga mawar, tulisan kata-kata bermakna cinta atau juga membicarakan sesuatu hal lain yang bersangkutan dengan hubungan mereka. Padahal facebook bisa diakses dan dilihat siapa saja. Dari facebook, orang yang tidak tahu keadaan seseorang bisa jadi tahu dengan melihat status-status yang di-update atau komentar-komentar yang dikirim. Bukankah seperti itu akan mencoreng nama ikhwan dan akhwat itu sendiri? Terlebih lagi bisa membuat kesan islam menjadi berkurang karena perbuatan-perbuatan itong dan atong yang tak patut dicontoh ini. Tak sadarkah jika mereka telah menghianati agama Allah Subhanahu wa Ta’ala? Tak sadarkah jika mereka telah mengesampingkan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala? Tak sedikit dari para aktivis dakwah yang menasihati orang lain agar tidak mendekati zina, namun sebagian dari mereka yang memberi nasihat justru melanggar sendiri ucapannya. Tidakkah mereka sadar bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala membenci orang yang mengatakan sesuatu tetapi dia sendiri tidak melaksanakan apa yang dikatakan?
    Dalam QS. Ash-Shaf ayat 2 dan 3 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat”.
    Selain itu, karena melihat aktivis senior dakwah yang berpacaran, tak jarang pula aktivis dakwah yang lain atau aktivis dakwah junior ikut-ikutan berpacaran dengan menjalin hubungan kasih ala aktivis. Akibatnya hanya segelintir aktivis dakwah yang benar-benar memegang keistiqomahan untuk berada di atas jalan lurus-Nya. Tidak hanya itu saja, banyak orang yang awalnya ikut bergabung dalam lembaga dakwah akhirnya keluar karena tidak tahan melihat keadaan para anggota dakwah yang pacaran. Banyak juga orang yang hendak bergabung dengan lembaga dakwah tetapi mengurungkan niatnya karena ternyata lembaga dakwah tersebut tak sesuai harapannya hanya karena di dalamnya juga banyak yang pacaran sehingga dia merasa lembaga dakwah tidak ada bedanya dengan organisasi umum.
    Untuk itu teman-teman, marilah kita perkokoh benteng keimanan kita agar kita bisa terhindar dari cinta di balik hijab yang banyak madharat (kerugian) ini. Hal yang bisa kita lakukan agar terhindar dari cinta di balik hijab ini antara lain:
    1.  Memahami arti cinta yang diridhoi Allah. Yaitu cinta yang tidak menimbulkan dosa jika kita memilikinya tetapi justru cinta yang bisa meningkatkan iman kita dan mendekatkan diri kita kepada-Nya.
    2.  Meyakini bahwa Allah sudah mempersiapkan jodoh yang terbaik untuk kita. Kita tidak perlu merasa takut kehilangan seseorang yang kita cintai jika kita tidak berpacaran dengannya. Allah Yang Maha Tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari pada kita. Jikalau memang dia adalah jodoh kita, Allah akan mempermudah jalan cinta itu. Namun jika bukan jodoh kita, Allah pasti menggantinya dengan yang jauh lebih baik. Karena percuma saja jika pacaran 10 tahun, 20 tahun sekalipun, dan ternyata tidak berjodoh maka sampai kapanpun kita tidak akan menikah dengannya. Justru kita hanya membuang-buang waktu dan tenaga, belum dosa yang kita terima. Rugikan?
    3.  Banyak membaca buku yang berkaitan dengan tata cara manajemen cinta yang sesuai syariat islam.
    4.  Menyibukkan diri dengan hal-hal positif yang dapat membangun kepercayaan dan semangat kita untuk berprestasi. Banyak orang yang beranggapan bahwa tanpa pacar atau kekasih kita tidak akan punya semangat untuk berprestasi. Siapa bilang? Anggapan itu sama sekali tidak benar. Tanpa pacar kita bisa mendapat banyak motivasi untuk dapat meraih prestasi yang kita inginkan. Hanya orang bodoh yang menunggu motivasi dari orang lain (seorang pacar) untuk dirinya. Apakah jika selamanya tidak punya pacar akan tidak semangat terus? Rugi sekali. Padahal hidup hanya sekali.
    5.  Berkumpul dengan orang-orang sholeh yang bisa mengingatkan kita. Kita adalah teman kita. Jika kita berkumpul dengan pandai besi, bau kita seperti besi. Jika kita berkumpul dengan penjual minyak wangi, kita pun akan wangi. So, mari kita berkumpul dengan orang shalih agar kita bisa jadi sholeh juga.
    6.  Menikah jika mampu dan puasa jika belum mampu. “Hai golongan pemuda, siapa di antara kamu yang mampu untuk menikah, maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih memelihara kemaluan. Tetapi, siapa yang tidak mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat mengurangi syahwat.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan Darami). Jika memang belum siap, tidak perlu janjian akan menikah beberapa tahun lagi karena hal itu mengandung banyak ketidakpastian, menggantung status seolah-olah menjadi pengikat bahwa keduanya tidak boleh dilamar. Hal itu juga akan menimbulkan banyak fitnah.
    Selanjutnya, sepantasnya marilah kita bersyukur jika kita tidak termasuk pelaku cinta di balik hijab. Kalaupun ada saudara-saudara kita yang masih menjalani ritual cinta di balik hijab ini, kita doakan semoga bisa segera terlepas dan kembali ke jalan-Nya. Dan semoga kita semua selalu mendapatkan perlindungan-Nya dari hal-hal yang tidak diridhoi-Nya. Aamiin.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Cinta di Balik Hijab Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top