• Latest News

    Minggu, 04 Januari 2015

    Keluarga Sakinah Pilar Suksesnya Dakwah




    Oleh: Burhan Sodiq, S.S

    Menikah adalah peristiwa fitrah, fiqhiyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya. Peristiwa fitrah, sebab pernikahan adalah salah satu sarana mengekspresikan sifat-sifat dasar kemanusiaan. Peristiwa fiqhiyah, artinya pernikahan memiliki sejumlah aturan fikih yang jelas. Peristiwa dakwah, artinya dengan pernikahan telah membuat pengkabaran tentang jati diri Islam kepada masyarakat. Pernikahan adalah peristiwa tarbiyah, bahwa dengan melaksanakan pernikahan akan menguatkan sisi-sisi kebaikan individual dari laki-laki dan perempuan yang bertemu di pelaminan tersebut. Peristiwa sosial, artinya dengan pernikahan terhubungkanlah dua keluarga besar dari pihak laki-laki dan perempuan. Nikah juga peristiwa budaya, artinya dengan pernikahan terbaurkanlah dua latar budaya yang tak mesti sama dari kedua belah pihak.

    Maka, nikah adalah…
    Mempertemukan banyak kepentingan, dan bukan mempertentangkan kepentingan-kepentingan tersebut.

    Big Question…
    Apakah pemilihan jodoh ini memiliki implikasi kemaslahatan yang optimal bagi dakwah, ataukah sekedar mendapatkan kemaslahatan bagi dirinya sendiri?
    Bukankah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada Jabir radhiallahu ‘anhu: “Mengapa tidak (menikah) dengan seorang gadis yang bisa engkau cumbu dan bisa mencumbuimu?”  (H.R. Bukhari dan Muslim).
    Dan inilah jawaban dakwah seorang Jabir radhiallahu ‘anhu, “Wahai Rasulullah, saya memiliki saudara-saudara perempuan yang berjiwa keras, saya tidak mau membawa yang keras juga kepada mereka. Janda ini saya harapkan mampu menyelesaikan persoalan tersebut, kata Jabir. “Benar katamu,” jawab Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.
    Kendatipun Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan Jabir radhiallahu ‘anhu agar menikah dengan gadis, kita juga mengetahui bahwa hampir seluruh isteri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam adalah janda! Kendatipun Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menyarankan agar Jabir radhiallahu ‘anhu beristeri gadis, pada kenyataannya Jabir radhiallahu ‘anhu telah menikahi janda!
    Demikian pula permintaan mahar Ummu Sulaim radhiallahu ‘anha terhadap laki-laki yang datang melamarnya, Abu Thalhah. Mahar keislaman Abu Thalhah menyebabkan Ummu Sulaim radhiallahu ‘anha menerima pinangannya. Inilah pilihan dakwah. Inilah pernikahan barakah, membawa maslahat bagi dakwah.
    Sebagaimana pula pikiran yang terbersit di benak Sa’ad bin Rabi’ Al Anshari radhiallahu ‘anhu, saat ia menerima saudaranya seiman, Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu, “Saya memiliki dua isteri sedangkan engkau tidak memiliki isteri. Pilihlah seorang di antara mereka yang engkau suka, sebutkan mana yang engkau pilih, akan saya ceraikan dia untuk engkau nilkahi. Kalau iddahnya sudah selesai, maka nikahilah dia.” (H.R. Bukhari)

    Nikah=Dakwah
    Kita coba melihat betapa Islam menghendaki kemudahan dalam proses pernikahan. Proses pemilihan jodoh dibuat sedemikian rupa oleh Islam sehingga memudahkan bagi laki-laki maupun perempuan untuk melakukannya. Mereka boleh memilih sendiri calon pasangan hidupnya, atau dicarikan orang tua, kerabat, dan orang-orang shalih, atau dicarikan oleh pemimpin. Wanita boleh memilih laki-laki untuk menjadi calon suami, demikian pula laki-laki boleh memilih perempuan untuk menjadi calon isterinya.
    Keberadaan kita dijalan dakwah harus disadari sepenuhnya. Sebagaimana dakwah merupakan tuntutan setelah berilmu dan beramal. Karena itu, kita tidak bisa memilih jalur aman dengan hanya mengatakan, Ah, kan sudah banyak yang berdakwah”. Sesungguhnya setiap kita mendapat amanah yang sama, tentu dengan bentuk dan porsi yang berbeda-beda. 

    Menengok Kembali Niat Kita
    Niat, tampaknya sepele padahal memberikan pengaruh ekstra luar biasa. Ia menjadi kekuatan penggerak yang bisa terlihat wujudnya secara kasat mata, entah baik atau buruk.
    Niat boleh ada. Semangat boleh tinggi. Namun setelah menikah, perlu strategi cerdik agar kedua amanah mulia itu dapat berjalan seiring, tanpa meninggalkan satu dan yang lainnya. Pasangan aktivis harus mengkomunikasikan hal ini dengan baik agar niatan mulia untuk tetap eksis di jalan dakwah pasca menikah tetap bisa berjalan tanpa mengganggu tanggung jawab terhadap keluarga.
    Khusus untuk para istri, ghirah (semangat-red) untuk tetap eksis di barisan dakwah harus disikapi secara arif. Seorang wanita boleh jadi punya semangat dan kemampuan yang cukup menunjang utnuk hal itu, namun ia harus tetap tahu diri, bahwa ketika sudah menikah, tugas utamanya adalah tetap menangani urusan rumah tangga dan pengasuhan anak.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Keluarga Sakinah Pilar Suksesnya Dakwah Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top