• Latest News

    Selasa, 27 Januari 2015

    Mengenal Assabiqunal Awwalun Muhammadiyah


    Judul Buku   : Matahari-Matahari Muhammadiyah

    Penulis          : H. Djarnawi Hadikusuma

    Penerbit         : Suara Muhammadiyah

    Cetakan         : Pertama, 2010

    Tebal              : 102 halaman

    Ukuran           : 14 x 21 cm

    No. ISBN       : 978-979-3708-82-9




    Buku Matahari-Matahari Muhammadiyah ini berisi kiprah Tokoh-tokoh yang berperan penting dalam pendirian Muhammadiyah. Tokoh yang pertama adalah K.H. Ahmad Dahlan. Beliau adalah orang yang sangat berperan penting dalam berdirinya Muhammadiyah. Selama hidupnya beliau selalu mencari dan mengumpulkan bekal untuk mati. Dan bekal untuk mati itu telah beliau peroleh, yakni memperbanyak ibadah dan amal shalih, menyiarkan agama Allah serta memimpin umat ke jalan yang benar.

    Kemunduran umat Islam sangat merisaukan hatinya dan beliau merasa bertanggungjawab dan berkewajiban untuk membangunkan, menggerakkan dan memajukan mereka. Beliau sadar bahwa kewajiban itu tidak mungkin dilakukan seorang diri, melainkan harus oleh beberapa orang, oleh banyak orang yang diatur dengan seksama. Untuk itu harus dibentuk organisasi, atau perkumpulan atau persyarikatan. Beliau merasa tergugah oleh panggilan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surat Ali Imran ayat 104. Beliau pahami firman Allah Subhanahu wa Ta’ala itu sebagai perintah untuk mendirikan umat atau golongan orang yang bekerjasama untuk dakwah amal ma’ruf dan nahi munkar. Dengan pemahaman itu, beliau dirikan sebuah organisasi dan beliau beri nama “MUHAMMADIYAH”.

    Angkatan muda yang menjadi muridnya membantu beliau dalam mendirikan dan memperkembangkan Muhammadiyah antara lain Haji Mochtar, Haji Syuja’, Haji Fachrodin dan Ki Bagus Hadikusuma. Bagi K.H. Ahmad Dahlan dan pengikutnya Muhammadiyah merupakan gerakan yang diyakini sebagai penghimpun umat dan wadah perjuangan dan amal. Pada tanggal 7 Rajab 1340 H bertepatan dengan 23 Februari 1923, pendiri Muhamadiyah itu pulang ke rahmatullah dengan tenang.

    Tokoh yang kedua adalah K.H. Ibrahim. Sebelum K.H. Ahmad Dahlan wafat, beliau berpesan agar pemimpin Muhammadiyah nantinya dipimpin oleh K.H. Ibrahim. Persidangan pada akhir Maret 1923 yang mengukuhkan K.H. Ibrahim tersebut, telah berhasil pula menyusun Pengurus Besar. Selama dalam pimpinan K.H. Ibrahim, Muhammadiyah mengadakan Persidangan Tahunan sepuluh kali dan setiap kali beliau masih terpilih sebagai Ketua Pengurus Besar. Perkembangan Muhammadiyah periode K.H. Ibrahim meluas dengan cepat, cabang-cabang Muhammadiyah telah berdiri di seluruh tanah air.

    Tokoh yang ketiga adalah K.H. Fachrodin. Beliau menjadi anggota Muhammadiyah pada tahun 1916 dengan nomor baku 5 dan langsung menjabat sekretaris sampai tahun 1921. Sebagai wakil ketua pengurus besar, perhatian K.H. Fachrodin tidak hanya ditujukan kepada masalah pimpinan. Sebagai sekretaris, Fachrodin mengatur pekerjaannya dengan teliti dan cermat. Sebagai Wakil Ketua beliau pegang teguh ketentuan-ketentuan organisasi. Beliau hafal di luar kepala seluruh materi dalam Statuten (Anggaran Dasar) Muhammadiyah. Sifat K.H. Fachrodin yang suka berterus terang, tegas, dan mantap dibawanya setiap turun ke daerah-daerah. Maka tidak heran daerah Muhammadiyah yang dikunjunginya memperoleh manfaat besar dan semakin maju. Pada tanggal 13 Maret 1921, K.H. Fachrodin menunaikan ibadah haji. Pada tahun 1920 dikemudikannya majalah Suara Muhammadiyah dengan bahasa dan huruf jawa. Pada tahun 1925, bagian Taman Pustaka menugaskan beliau mendirikan sebuah percetakan, beliau menjabat sebagai direkturnya yang pertama. Pada tahun 1926 Fachrodin yang menjabat Wakil Ketua mengambil alih pimpinan.

    Tokoh yang keempat adalah K.H Hisyam. Beliau menjabat sebagai ketua PB pada tahun 1934. Selama 3 tahun Muhammadiyah berada di bawah pimpinannya telah mendapat kemajuan yang lebih pesat terutama pada segi ketertiban organisasi dan administrasi, dan pendidikan. Selama beliau menjadi pemimpin beliau membuka sekolah-sekolah Muhammadiyah, dan beliau mendapatkan bintang tanda jasa dari pemeritah Hindia Belanda. Pada tanggal 20 Mei 1945 K.H Hisyam wafat.

    Tokoh yang kelima adalah K.H. Mas Mansur. Beliau adalah orang yang selalu mengikuti pengajian K.H. Ahmad Dahlan. Karena hal itu di Surabaya didirikan cabang Muhammadiyah yang di pimpin oleh K.H. Mas Mansyur. Beliau menjabat menjadi ketua pengurus besar pada tahun 1937. Selain menjabat sebagai ketua beliau juga diangkat sebagai Guru Madrasah Mu’alimin. K.H. Mas Mansyur wafat pada tahun 1946 dan dimakamkan di Surabaya.

    Diantara kelebihan buku yang ditulis oleh H. Djarnawi ini yaitu isinya yang bagus. Di dalamnya dikisahkan tentang orang-orang yang berperan penting dalam berdirinya Muhammadiyah. Hal ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa Muhammadiyah itu didirikan dengan penuh perjuangan. Dan tokoh-tokoh tersebut bisa menjadi inspirasi buat para penerusnya.

    Meski demikian ada sedikit kekurangan dari buku ini, yaitu tokoh-tokoh yang diceritakan dalam buku ini, tidak dikisahkan secara detail. Penyusunannya juga kurang sistematik.

    Muhammadiyah didirikan dengan penuh perjuangan, untuk itu kita sebagai generasi penerus harus bisa melanjutkan perjuangan tersebut supaya Muhammadiyah semakin maju dan berkembang. [Desi Murwani]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Mengenal Assabiqunal Awwalun Muhammadiyah Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top