• Latest News

    Rabu, 07 Januari 2015

    Penjelasan Tentang Mandi Janabah






    Pertanyaan:  Mohon penjelasan tentang mandi janabah”:
    a.  Bagaimanakah cara Rasulullah mandi janabah?
    b.  Bolehkah cara kita mandi janabah berbeda dengan  Rasulullah?
    c.  Apakah harus berwudhu setelah mandi Janabah?
    d.  Jika kita mandi janabah pada jam 07.00 WIB, kemudian kita akan melaksanakan shalat Dhuhur, apakah harus berwudhu lagi?

    Jawab: Ada banyak hadits yang menceritakan tentang tata cara mandi janabah Nabi shalallahu alaih wasallam, antara lain:
    Hadits pertama:
    عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِى الْمَاءِ ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ، ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ
    Dari ‘Aisyah, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.” (HR. Bukhari no. 248 dan Muslim no. 316)

    Hadits kedua:
    عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَتْ مَيْمُونَةُ وَضَعْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مَاءً يَغْتَسِلُ بِهِ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ ، فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ ، فَغَسَلَ مَذَاكِيرَهُ ، ثُمَّ دَلَكَ يَدَهُ بِالأَرْضِ ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى جَسَدِهِ ، ثُمَّ تَنَحَّى مِنْ مَقَامِهِ فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ
    Dari Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Maimunah mengatakan, “Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali-dua kali atau tiga kali. Lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda).” (HR. Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)

    Diperbolehkan melaksanakan mandi janabah/wajib berbeda dengan tata cara Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, selama memenuhi rukun mandi wajib, adapun rukun mandi wajib/janabah adalah (Asy Syarhul Mumti’ ala Zadil Mustaqni’ oleh Muhammad Ibn Shalih Al Utsaimin):
    a.  Niat, ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan membedakan antara mandi wajib dengan mandi adat/biasa.
    b.  Meratakan air, dari ujung rambut sampai ke seluruh tubuh, dan menghilangkan najis-najis yang ada jika dijumpai.
    Adapun selain dari pada kedua hal tersebut di atas adalah sunnah-sunnah dan keutamaan yang kita dianjurkan untuk mengikutinya.
    Adapun berwudhu setelah mandi janabah terdapat beberapa hadits:

    Hadits Pertama :
    عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ لاَ يَتَوَضَّأُ بَعْدَ الْغُسْلِ (من الجنابة)
    Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berwudhu setelah selesai mandi (yaitu mandi janabah). (HR. Tirmidzi no. 107, An Nasai no. 252, Ibnu Majah no. 579, Ahmad 6/68. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

    Hadits Kedua dari Ibn Umar:
    سُئِلَ عَنِ الْوُضُوءِ بَعْدَ الْغُسْلِ؟ فَقَالَ:وَأَيُّ وُضُوءٍ أَعَمُّ مِنَ الْغُسْلِ؟
    Beliau ditanya mengenai wudhu setelah mandi. Lalu beliau menjawab, “Lantas wudhu yang mana lagi yang lebih besar dari mandi?” (HR. Ibnu Abi Syaibah secara marfu’ dan mauquf)

    Adapun tentang menyentuh kemaluan pada saat selesai mandi wajib, maka menurut pendapat yang terpilih dari perbedaan pendapat yang ada, adalah tidak membatalkan wudhu, dan dianjurkan/disunnahkan saja untuk berwudhu kembali. Sebagaimana disebutkan oleh pendapat Imam Ahmad, Ibnu Taimiyah, Ibnu Utsaimin, dll. Sehingga seorang yang mandi wajib pada pagi hari dan akan menunaikan shalat Dhuhur, tidak perlu berwudhu lagi selama seseorang tersebut belum melakukan aktivitas yang membatalkan wudhunya. Wallahu a’lam.
    *) Hasil Mudzakarah Majelis Tarjih dan Tajdid PCM Blimbing Bulan Desember 2012
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Penjelasan Tentang Mandi Janabah Rating: 5 Reviewed By: Hizbul Wathan Blimbing
    Scroll to Top