• Latest News

    Senin, 05 Januari 2015

    Peran Muslimah dalam Dakwah





    Oleh: Ahmad Nasri

    “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. Al-Hujurat [49] : 13)
    Dari ayat diatas secara umum dapat kita fahami bahwa dalam syariat Islam kedudukan semua manusia, termasuk halnya laki-laki dan perempuan adalah sama. Yang membedakan mereka disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala hanyalah ketakwaan dan amal shalih yang mereka kerjakan. Sedangkan dalam hal kewajiban-kewajiban menjalankan perintah agama kedudukan mereka adalah sama kecuali jika ada nash tertentu baik dari Al-Qur’an maupun sunnah yang membedakannya.
    Namun demikian hingga saat ini masih saja kita dapati di masyarakat kita banyak kalangan yang diskriminatif dalam memperlakukan laki-laki dan perempuan. Termasuk dalam hal dakwah amar makruf nahi munkar, kebanyakan masyarakat kita seolah-olah hanya membebankan kewajiban dakwah di pundak para laki-laki saja, sedangkan perempuan terbebas dari kewajiban mulia tersebut. Padahal kaum perempuan juga diberi beban yang sama oleh syariat agama dalam tugas dakwah ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
    Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(Q.S. At-Taubah [9]: 71)
    Kiprah dakwah kaum perempuan dapat dilakukan dalam berbagai macam aktivitas dan peran yang dimilikinya, baik secara khusus di rumahnya berdakwah kepada anggota keluarga penghuni rumahnya (suami dan anak-anaknya) dan juga kepada wanita-wanita lain di masyarakat dan negara ini secara umum.

    Wanita sebagai istri
    Ketika seorang laki-laki merasa kesulitan, maka sang istri-lah yang bisa membantunya. Ketika seorang laki-laki mengalami kegundahan, sang istri-lah yang dapat menenangkannya. Dan ketika sang laki-laki mengalami keterpurukan, sang istri-lah yang dapat menyemangatinya. Termasuk pula dalam hal dakwah, sebagaimana suami yang wajib berdakwah kepada istri, begitu pula istri juga harus bisa dan mau berdakwah kepada suaminya. Ketika suaminya dalam kondisi yang melenceng dari ajaran agama atau melanggar syariat-Nya karena tergelincir maupun secara sengaja, maka sang istri-lah yang pertama kali wajib mengingatkan, beramar makruf nahi munkar kepada suaminya agar suami mau segera beristighfar dan kembali kepada jalan yang benar.
    Teladan kaum Muslimah, Khadijah radiyallahu ‘anha dalam mendampingi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam di masa awal kenabian beliau, ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam merasa ketakutan terhadap wahyu yang diberikan kepada beliau dan merasa kesulitan, lantas apa yang dikatakan Khadijah radiyallahu ‘anha kepadanya?
    Demi Allah. Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena sungguh engkau suka menyambung silaturahmi, menanggung kebutuhan orang yang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya, menjamu dan memuliakan tamu dan engkau menolong setiap upaya menegakkan kebenaran.” (H.R. Muttafaqun ‘alaih)
    Sungguh istri adalah orang yang sangat mempunyai pengaruh besar pada keluarga mereka, termasuk kepada suami mereka. Bahkan ada rumah tangga yang segala macam urusannya dikendalikan oleh istri karena sang suami sudah merasa lelah beraktifitas di luar rumah. Sehingga jika istri mengatakan sesuatu kepada suaminya seringkali suami menurutinya tanpa banyak berkomentar.
    Tentunya kita ingat dengan kisah Firaun sesaat setelah istrinya (Asiyah rahiallahu ‘anha) menemukan bayi yang dihanyutkan di sungai Nil. Dikala Firaun bersikeras akan membinasakan bayi tersebut sesuai dengan programnya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir dari kalangan bani Israil, sang istri berkata kepadanya, “Janganlah kalian membunuh bayi ini sebab dia penyejuk mata kita berdua, barangkali ada manfaatnya buat kita sebagai pelayan atau kita jadikan sebagai anak angkat.” Mendengar ‘dakwah’ dari istrinya tersebut, tidak ada pilihan lain untuk Firaun kecuali satu, menurutinya. Dan pada kemudian hari, bayi yang ditemukan di sungai Nil tersebut diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi salah satu nabi terbesar yang diutus kepada bani Israil, yaitu Musa ‘alaihis salam.

    Wanita sebagai ibu
    Diantara ajaran Islam yang menunjukkan penjagaan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap perempuan dan kedudukan utama seorang perempuan adalah dengan menempatkan perempuan di rumah untuk menyiapkan generasi penerus yang baik di masa depan.
    Maka semestinya, kaum wanita hendaknya menjadikan rumahnya sebagai istananya, karena memang itulah (rumah) medan kerja mereka yang sesungguhnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    "Hendaklah kaum wanita (wanita muslimah), tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkahlaku seperti orang -orang jahiliyah dahulu." (Q.S. Al-Ahzab [33] : 33)
    Dirumah, wanita mempunyai peran sangat penting, yaitu mencetak anak–anaknya menjadi generasi penerus yang kelak dapat menegakkan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan meninggikan kalimat laa ilaaha illallah di atas permukaan bumi. Sehingga meskipun wanita berkarya di berbagai bidang tidak membuat seorang wanita melupakan tugas utamannya sebagai ‘madrasatul ula’, sumber pendidikan pertama bagi anak–anaknya. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
    وَالْمَرْأَةُ فِى بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهْىَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا
    Dan wanita menjadi pemimpin di rumah suaminya, dia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai orang yang diurusnya.” (H.R. Bukhari no. 2409)
    Wanita sebagai ibu merupakan seseorang pemimpin yang senantiasa diharapkan kehadirannya bagi anak-anaknya sebagai pihak yang dipimpinnya. Seorang ibu dapat menjadikan anak-anaknya menjadi orang yang baik. Demikian pula sebaliknya, seorang ibu bisa juga dengan mudah menjadikan anaknya menjadi orang yang jahat sesuai keinginannya. Baik buruknya seorang anak, dapat dipengaruhi oleh baik atau tidaknya seorang ibu yang menjadi panutan anak-anaknya. Betapa banyak anak-anak yang tidak terbiasa melalukan kebaikan karena tidak melihat ibunya melakukan hal tersebut. Anak-anak yang saat mendengangar azan tetap saja pada aktifitasnya karena ibunya juga tidak mengajarkan shalat di awal waktu.
    Yang paling ekstrim adalah seperti istri Nabi Nuh ‘alaihis salam yang berhasil mengajak anaknya tetap pada kekafiran, mendurhakai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ayahnya sebagai pengemban risalah-Nya. Anak Nabi Nuh ‘alaihis salam kafir karena pengaruh ibunya yang juga kafir. Hingga pada akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala turut membinasakan mereka (istri dan anak Nabi Nuh ‘alaihis salam) dalam azab yang diturunkan kepada kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam yang tidak mau beriman. Na’uzubillah.
    Demikianlah, kebanyakan anak-anak memang lebih akan memilih untuk mengikuti ibunya daripada ayahnya karena sang ibu-lah yang lebih banyak membersamai anak-anak mereka sejak dalam kandungan, saat masih kecil sampai setelah mereka beranjak dewasa. Karena posisi ibu yang berada di rumah sedangkan ayah mereka bekerja, beraktifitas dan berdakwah diluar rumah. Sehingga tugas dakwah dan beramar makruf nahi munkar di rumah akan jauh lebih efektif jika dilakukan oleh sang ibu kepada anak-anak meraka.
    Semoga para muslimah saat ini bisa seperti Ummu Sulaim radhiallahu ‘anha yang berhasil menjadikan anaknya sebagai putra yang shalih. Anaknya yang bernama Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu masuk Islam karena pengaruh ibunya yang juga seorang muslimah. Padahal bapaknya adalah seorang kafir dan dengan keras melarangnya untuk mengikuti ibunya yang beriman kepada kenabian Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.

    Wanita sebagai anggota masyarakat
    Salah satu tugas dakwah wanita dalam dakwah adalah menjadi penggerak dalam komunitas kewanitaan, memberikan pendapat, arahan, dan contoh amal shalih nyata dalam bermasyarakat dan bernegara. Dalam pertemuan-pertemuan ibu-ibu yang seringkali digunakan untuk menggunjing dan memperbanyak ghibah, para ummahat muslimah selayaknya dapat berperan aktif sebagai penyeimbang dengan memberikan nasihat-nasihat hikmah dan beramar makruf nahi munkar. Bukan malah larut dan ikut-ikutan arus keburukan di masyarakat.
    Termasuk juga dalam komunitas kajian ibu-ibu di masyarakat sudah saatnya untuk mulai dimunculkan da’iyah-da’iyah, para pendakwah wanita. Sehingga dalam kajian-kajian ilmiyah yang digelar para ibu tersebut para pengisinya dapat berinteraksi lebih leluasa dengan wanita lain sebagai mad’u (objek dakwahnya) daripada jika yang menyampaikan adalah da’i kaum lelaki.

    Wanita sebagai tiang Negara
    Bisa dikatakan bahwa salah satu kunci perbaikan bangsa ini adalah terletak pada pundak perempuan. Pada penjagaan diri dan kehormatannya. Pada rahim subur yang akan melahirkan generasi yang lebih baik dan pemimpin-pemimpin selanjutnya. Termasuk juga pada kelembutan dan kasih sayangnya yang mampu membelai dan menentramkan semesta. Salah satu kata mutiara arab mengatakan,
    الْمَرْأَةُ عِمَادُ الْبِلاَدِ إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَتِ الْبِلاَدُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَتِ الْبِلاَدُ
    “Wanita adalah tiang suatu negara, apabila wanitanya baik maka negara akan baik dan apabila wanita rusak maka negara pun akan rusak.”
    Jika perempuan adalah tiang negara, maka itu dimulai darinya yang merupakan tiang sebuah rumah tangga. Dan untuk mewujudkan tegak dan kokohnya sebuah negara tentu tidak akan cukup hanya dengan satu tiang saja yang menopangnya. Darinya diperlukan tiang-tiang yang lainnya untuk membantu menahan beban atap negara, yaitu berbentuk kumpulan keluarga yang membentuk masyarakat yang dibangun diatas pondasi syariat Islam yang tegak. Salah satunya hasil dari peran dakwah kaum muslimah. Wallahu a’lam
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Peran Muslimah dalam Dakwah Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top