• Latest News

    Jumat, 20 Maret 2015

    NASKAH PIDATO MILAD IMM Ke 51




    “MENCERAHKAN UMAT, MENDUNIAKAN GERAKAN, MENGABDI UNTUK BANGSA, DEMI INDONESIA BERKEMAJUAN”.

    Assalamu‘alaikum Warahmatullah Wabarakatuh...
    Segala puji bagi Allah yang telah memadukan hati para aktivis Islam dalam kecintaan kepada, mempertemukan mereka dalam berdakwah dijalan-Nya, dan mengukuhkan hati mereka untuk senantiasa mengokohkan janji setia dalam membela agama-Nya. Mudah-mudahan kita semua adalah generasi yang menjadi harapan umat di kemudian hari…
    Shalawat dan salam tak lupa pula kita limpahkan kepada Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, sang revolusioner sejati dan pelopor gerak perjuangan kemanusiaan, yang merubah peradaban Baduy Arab Jahiliyah menjadi salah satu peradaban tertinggi umat manusia.

    51 Tahun yang lalu 14 Maret 1964 29 Syawal 1384 H.
    Engkaulah kelahiran yang dinanti tak pernah berhenti meski kerap tertatih. Merah marun tak pernah lekang oleh sengat matahari meski patah tumbuh silih berganti generasi… Ya… disini, di bawah langit bumi pertiwi mawar merekah menyambut mentari.
    Berdiri tegak panji-panji Engkaulah cendikiawan berpribadi. Dengan pena dan tinta menyemai amal bhakti… 

    Hadirin Yang Berbahagia
    Immawan dan Immawati di seluruh Indonesia…
    51 Tahun. Sejak IMM didirikan pada tanggal 29 Syawal 1384 H bertepatan dengan tanggal 14 Maret 1964 M di Yogyakarta. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang hingga saat ini telah melewati umur setengah abad, tetap menyisakan cerita masa lalu yang hingga saat ini sangat menarik untuk diulas. Karena dengan mempelajari dan memahami sejarah berdirinya IMM, kita akan mengerti bagaimana IMM berjuang dan berkembang  pada saat itu, dengan menilik sejarah tersebut harapannya kita dapat benar-benar memahami apa itu IMM dan bagaimana pola perjuangan IMM itu sendiri, sehingga dapat bertahan sampai dengan hari ini. Namun mengulas masa lalu IMM tentu tidak untuk mengajak kita larut dalam nostalgia dan berkutat pada sejarahnya saja. Pada usia yang telah setengah abad IMM harus mengambil garis tengah untuk berpisah dengan masa lalu, menjadikannya sebagai tolak ukur untuk menjemput dan menatap tantangan masa depannya.
    Sebagai organisasi yang sudah lama eksis di kalangan pergerakan mahasiswa Indonesia, sudah barang tentu eksistensi dan kapabilitas IMM dalam mengawal bangsa tidak diragukan lagi di kalangan pergerakan mahasiswa Indonesia, bergerak melintasi zaman, dari semenjak zaman orde lama, orde baru, reformasi, dan kini pasca reformasi IMM masih eksis, tengah dan terus berkembang dalam memberikan gagasan-gagasan tentang perubahan dan tentunya tetap dengan memegang teguh prinsip-prinsip kebenaran. Terlahir dari dinamisasi situasi politik yang sedang memanas, dimana adanya isu-isu dari rezim pada saat itu yang ingin membius organ-organ gerakan agar menjadi tumpul dalam mengontrol kebijakan-kebijakan pemerintah, membuat pergerakan IMM pada saat ini semakin dinamis dalam menghadapi situasi apapun, ciri khas pergerakan inilah yang membuat IMM berbeda dengan organ-organ pergerakan lainnya di Indonesia.
    Bahwa kelahiran IMM dan kehadirannya di tengah derap langkah kepemudaan dan kemahasiswaan Indonesia serta di tengah umat dan bangsa, sungguh bukanlah suatu peristiwa kebetulan dalam sejarah (an historycal accident), melainkan satu sejarah yang berproses dan bertumbuh serta bertumpu dari perwujudan sikap dan kesadaran akan makna dan tanggung jawab perjuangan dalam melaksanakan dan mengemban misi Rabbani. Makna kesadaran dan tanggung jawab berkaitan dengan sejarah kelahiran IMM, juga mempunyai ruh pertalian dengan kesadaran untuk memenuhi tugas suci yakni turut memelihara martabat dan membela kejayaan bangsa Indonesia. Sebuah organisai kemahasiswaan harus mampu mewarnai lukisan sejarah dengan tinta-tinta emas para pelaku sejarahnya. Sebuah organisasi adalah kumpulan dari beberapa orang untuk mencapai misi bersama, sehingga tidak bisa dikendalikan oleh seorang saja walau sehebat apapun, organisasi akan hancur kalau dianalogikan tukang bakso, dia membuat, dia melayani, mencuci bahkan jadi kasir. Terkait dengan hal itu, DPP IMM mencoba merumuskan dan mengkolaborasikan pandangan-pandangan praksis sebagai peran substansial dalam menggerakkan roda organisasi, rumusan dan elaborasi tersebut pada rapat koordinasi nasional di Banjarmasin 1bulan yang lalu meretifikasi pembagian kerja konseptual praksis untuk 1 periode kepemimpinan dan jangka panjang yang kemudian diharapkan mampu menjadi acuan ikatan untuk menghadapi tangtangan zaman. Untuk itulah, pada Milad ke 51 ini, IMM berupaya menggelorakan semangat “Mencerahkan umat, menduniakan gerakan, mengabdi untuk bangsa, demi Indonesia Berkemajuan”.

    Hadirin Yang Berbahagia
    Immawan dan Immawati di seluruh Indonesia…
    Kita sudah lelah jalan ditempat, letih kita saling mengumpat, jenuh kita saling menghujat. IMM harus berhenti dari kejunuban berfikirnya, mengutuk kemelut ditubuh sendiri dan terjebak pada personafikasi persoalan.  Kita perlu menghindar dari stereotip atas fakta-fakta yang terjadi pada dunia aktifis sekarang, terutama pemilahan cukup tajam antara intelektual dan aktifis. Identifikasi gerakan yang bergerak pada isu lalu demonstrasi, membuat posko, dukung ini-dukung itu namun demikian instan dan tanpa pendiskusian terlebih dahulu. Kerangka gerakan studi aksi yang dibangun IMM diharapkan mampu menjawab dikatomi ini, tanpa pemilihan wacana dan praksis gerakan karena seharusnya dialektis dalam siklus diskusi ide-aksi-ide. Kerangka gerakan di atas meniscayakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah concern pada basis kaderisasi, yaitu Cabang dan Komisariat, lebih tegas lagi pada moment Milad kali ini mari bersama-sama kita hentakkan langkah, mengukuhkan tekad untuk terus bergerak lebih nyata, menduduki dan meramaikan masjid-masjid universitas, tegasnya kembali pada gerakan kampus sebagai basis gerakan. Kerja-kerja dedikatif seperti merekrut kader-kader potensial, membuka ruang diskusi, training dan pelatihan, menyiapkan mubaligh-muballigh muda, berkompetisi secara intelektual dan bersaing ketat dengan dunia yang lebih global, serta menyiapkan diri untuk terlibat di tengah masyarakat dengan mengembangkan dan memperbanyak desa binaan yang telah ada, hadir ditengah-tengah masyarakat, mengikuti kerjabhakti dilingkungan tempat tinggal, menjadi penceramah pada pengajian-pengajian dan khutbah jum’at, berada pada garis terdepan dalam mengadvokasi dan membela kepentingan masyarakat yang termarjinalkan. Untuk itulah perlu sinergitas serius dari pimpinan mulai ditingkat Komisariat sampai Pusat.

    Hadirin Yang Berbahagia
    Immawan dan Immawati di seluruh Indonesia…
    Izinkan saya membacakan penggalan sajak yang pernah saya tulis;

    Dibawah syahadah dua melingkar Gerakmu tak pernah guntai melintasi zaman
    Warnamu tak pernah pudar oleh cecar hujan panas menghujam
    Jalan fastabiqul khairat tak pernah kau ingkar
    Derap derup langkah mengibar geleparkan panji-panji
    Ribuan pengkaderan setiap tahun demi tercapainya cita-cita luhur Untuk Negeri indah, adil dan makmur…
    Sejarah melukis kiprahmu diawan, Bergema dijagad nusantara, Menggelora di garis katulistiwa, Lahirkan siswa teladan putra harapan… 

    Walau padi menguning disawah seperti senja yang temaram terbalut langit kelam
    Meski seribu goda datang merayu seperti lagu rindu yang mendayu
    Walau usia merentah didahan waktu Semangat tak pernah layu, gelora jiwa tetap menggebu…

    Setengah abad Sudah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
    Tetaplah berdiri diatas hamparan tanah usang, Tetaplah melebur bersama jerit tangis busung lapar
    Tetaplah membaur bersama keluh rintih kaum tertindas, Lalu siaga menghalau kepulan debu bersama kaum buruh… 

    Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah usia kini semakin menua
    Maka sadarilah bahwa Ketika kau rasakan desir angin yang berhembus pada ranting-ranting saat malam tiba. Sadarkah kau rahasia bumi yang kau pijak dan lapisan langit yang kau junjung?
    Ketika kau lihat anak kurus tak sekolah dan pemuda berijazah tak berkerja Pernahkah kau bertanya apa arti sebatang pena?

    Saat kau pandang Ibu tua dengan sebongkah mangkuk yang menengadah diperempatan jalan Pernahkah kau bertanya dari rahim siapa setiap anak Bangsa Negeri ini dilahirkan?
    Ketika kau lihat para penguasa merajalela dengan kesewenang-wenangan diatas singgasana lalu terlena oleh ketamakan, kepastian hokum yang tidak menentu, sementara para petani berkubang lumpur dibawah terik matahari mengetam padi disawah.
    Pernahkah kau bertanya untuk apa Panca Sila dirumuskan?

    Ketika kau saksikan para koruptor bebas lepas tanpa hukuman, kaum kapitalis merajalela menjarah hak si papa, serta perusahaan asing berkedok kontrak menjajah dan merampok hasil bumi negeri ini sementara tuan rumah mati dilumbung padi.
    Pernahkah kau bertanya mengapa dahulu para Pahlawan rela menumpahkan darah dan mengorbankan nyawa demi anak, cucu dan pewarisnya?
    Lalu engkau bertanya bagaimana mungkin isan lemah seperti ku dapat menebus segala jasa pejuang kemerdekaan?

    Bagaima mungkin aku Mahasiswa biasa tak memiliki kuasa dan bala tentara dapat meneruskan perjuangan mereka, apakah mampu Pemuda sederhana sepertiku berbuat untuk Bangsa ini?
    Ketika jiwamu bergetar, darahmu mendidih, air matamu berurai melihat ketidkadilan dan ketertindasan. Ketika kau rasakan deru ombak yang mengguncang, gemuruh langit yang menggelegar dan kau dengar genderang perang telah ditabuh. Maka kau tidak perlu lagi bertanya apa yang harus kau lakukan? Kecuali Bangkit dan Lawan!!! 

    Hadirin Yang Berbahagia
    Immawan dan Immawati di seluruh Indonesia…
    Tantangan IMM kedepan tidak hanya menyikapi kondisi internal dan permasalahan keummatan pada sekala nasional. IMM sebagai generasi muda menjadi bagian dari warga dunia. Sudah saatnya IMM bertindak global, berwawasan internasional dan mengembangkan kiprah yang meluas. Anggun dalam moral dan unggul dalam intelektual kini tidak lagi hanya berkonotasi sebagai selogan yang kerap kita dengang-dengungkan tetapi pengaruh dan dampaknya semakin mendunia. Globalisasi begitu banyak menyita perhatian masyarakat dan akademisi. Terbukti, dari sebagaian besar hasil penelitian oleh para akademisi dimotivasi atas besarnya ketertarikan dan kecemasan publik terhadap globalisasi. Secara garis besar, bila kita ingin membedah persoalan globalisasi, setidaknya dapat dianalisis se­cara budaya, ekonomi, politik, dan institusional. Me­nu­rut George Ritzer, dalam masing-masing kasus, kunci perbedaannya: apakah seseorang melihat peningkatan homogenitas atau heterogenitas? Pada satu titik ekstrem, globalisasi kultur telah dijadikan sebagai sebuah medan yang dipersiapkan oleh transnasional untuk membentuk ruang dan waktu percumbuan kultur global dan lokal yang pada akhirnya mengarah pada pencangkokan kultur (heterogenitas). Bertambahnya pengaruh internasional (trans­nasional), diasosiasikan akan menciptakan homo­genitas kultur. Karena, kuatnya dominasi negara-negara pusat kapitalisme global pada persoalan kultur berimbas pada semakin menghilangnya karakter lokal.
    Kita patut berbangga karena tahun 2013 lalu Indonesia berkesempatan menjadi tuan rumah Pertemuan Pemuda Se-Asean, International Youth Conference 2013.Acara yang mengambil tempat di Jakarta dan IMM selaku penggagas sekaligus fasilitator dalam kegiatan ini, menjadi catatan prestasi sepanjang sejarah setengah abad ikatan ini berdiri. Bahwa ternyata IMM memiliki pengaruh yang cukup besar di dunia internasional. Roy Suryo Mentri Pemuda dan Olahraga RI yang pada saat itu berkenan membuka acara di Glora Bung Karno Senayan, di Jakarta,”Program pertemuan ini memberikan kesempatan untuk mengembangkan diri menjadi generasi muda yang lebih tangguh dalam menghadapi tantangan peradapan (civilization) di masa mendatang”.
    Melalui paparan internasional dan pengalaman dalam berinteraksi dengan berbagai situasi dan karakter, peserta diharapkan mampu bersikap lebih arif dengan menghindari arogansi dan salah penilaian (misjudgement) serta tetap berpegang teguh pada akar budaya dan nilai-nilai kebenaran serta memiliki pemikiran yang lebih matang, terbuka dan jernih dalam memandang berbagai problematika dunia yang berkembang dewasa ini juga turut memperluas persahabatan dengan pemuda dari berbagai belahan dunia. Peserta yang hadir dari Seluruh Negara Asean tersebut adalah Cambodia, Philiphines, Thailand, Brunei, Laos, Myanmar, Singapure, Malaysia, Vietnam,  belahan dunia lain yang juga mengutus pemuda dan mahasiswa dari luar negeri seperti: Palestina, Algeria, Banglades, Tunisia dan Pakistan. Momentum ini harus dijadikan sebagai peristiwa bersejarah yang kita jadikan acuan dalam mengembangkan berbagai kebijakan yang mendukung pemberdayaan pemuda. IMM telah membuktikan bahwa ide dan gagasan IMM mampu mendunia.
    Tahun ini dan tahun mendatang nampaknya menjadi tahun-tahun emas kegemilangan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Baru-baru ini kita telah banyak mengirim kader-kader kita untuk belajar dan berdiaspora ke beberapa Negara, bukan untuk sekedar jalan-jalan ke luar negeri, jauh daripada itu. Namun untuk menuntut ilmu. Ada yang study dengan beasiswa ada pula yang lolos mengkuti program-program pertukaran pemuda antar Negara dan tidak sedikit merupakan undangan langsung untuk mengikuti forum-forum seminar internasional. Secara besar-besaran DPP IMM mengirimkan kader-kader terbaiknya untuk menyebar ke berbagai belahan dunia guna menyumbangkan ide dan gagasannya pada forum-forum internasional. Diantaranya :
    31 Agustus 2014, kita melepas kepergian salah satu kader terbaik, Immawan Rijal Ramdani yang merupakan Ketua Korps Instruktur dan Sekretaris Bidang Kader DPD IMM DIY, untuk pergi ke India mengikuti program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN). Bertemu dengan perwakilan pemuda dari 10 Negara Asean yang diselenggarakan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga RI bekerjasama dengan Confederation of Indian Industry (CII).
    Selain Rijal. Dalam rangka merayakan usia IMM yang ke-51 tahun, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM juga memberangkatkan salah satu kader terbaiknya menuju Seoul Korea dalam acara International Youth Conference, yakni Ajar Pradika A. Tur yang aktif di Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IMM Yogyakarta.  Keikutsertaan IMM dalam konferensi bertajuk “New Understanding of History in East Asia: From History of Conflict to the History of Shared Understanding” merupakan bentuk tanggungjawab dan dukungan IMM sebagai organisasi kepemudaan untuk ikut serta merancang dan menyelenggarakan perdamaian dunia di wilayah Asia Timur. “Sebanyak 53 pemuda yang berasal dari berbagai negara di dunia berkumpul di Seoul sejak 17 Agustus hingga 21 Agustus 2014 untuk membahas dan mendukung niat perdamaian di Asia Timur”, tutur Ajar Pradika. Peserta konferensi ke Demilitarized Zone (DMZ) yang memisahan Korea Utara dan Korea Selatan merupakan bentuk kesungguhan Korean National Commission for UNESCO dalam mengusung rencana rekonsiliasi seajarah ini. “Kami pun diberi kesempatan untuk berkunjung ke DMZ dan menyapa penduduk yang tersebar pada tujuh desa untuk mengetahui secara langsung kondisi konflik di sana. Pengawalan sangat ketat dan tidak diizinkan adanya kamera”, tambahnya. Pada acara tersebut, Prof. Filomeno V. Aguilar dari Filipina pun menyatakan bahwa acara ini diharapkan menunjang keberhasilan ASEAN Community yang telah kami rancang. Semata-mata untuk kejayaan Asia. Selain untuk menunjang rekonsiliasi sejarah, output forum ini adalah mengajak pemuda di seluruh dunia untuk peduli terhadap perdamaian dunia danmenginisiasi aksi-aksi nyata kepemudaan di kawasan Asia.
    Tidak hanya India dan Korea. Tahun 2012 kita menjadi peserta aktif kegiatan Asean-India Youth Exchange Program di New Delhi, Mumbai dan Jaipur. Tahun 2013 IMM diminta oleh kemenpora RI mengikuti kegiatan ASEAN-China youth Camp di nanning China. Pada tahun yang sama IMM diundang oleh Pemerintah kerajaan Bahrain untuk mempresentasikan  tema seminar “PEACE AND SOCIAL JUSTICE” dan mendapatkan Nobel Perdamaian Dunia pada acara International Youth Conference, yang dihadiri oleh pemuda dari seluruh dunia di Negeri semenangjung arab tersebut. Pun ditahun yang sama mengikuti kegiatan Malasya-Indonesia youth Exchange Program. Tahun 2014 kita turut serta dalam ajang bergengsi “Model United Nations G-20 Summit” di Belanda, jerman dan paris, memaparkan materi seminar mengenai solusi mengatasi pengangguran pemuda. IMM harus mampu bersaing dikancah internasional untuk menduniakan ide dan gagasannya. Pada tanggal 13 Agustus 2014 enam diantara kader terbaik IMM juga diberangkatkan ke Penang Malasya untuk mengikuti kegiatan  Final Youth Jam Mereka adalah : Qahfi Romula Siregar (Ketum DPD IMM Sumut), Immawan Muhammad Amiri (Kader IMM DKI), Agus Salim Lamusu (Kader IMM Gorontalo), Nofri Julimet ( Kader iMM Sumbar ), Shiva Nur Azizah ( Kader IMM Banten ), Rifka Nurullita ( Kader IMM DKI ). Immawan Fajar dan Wilson pada acara “Young enterpreneurs Assembly 2014” di Bangkok - Thailand. Dan lain-lain yang tidak dapat saya sebutkan satu-persatu pada pidato ini.
    Baru-baru ini Immawati Ela Nofitasari ketua Bidang hubungan Luar Negeri DPP IMM, menyambet juara III dalam The 5th ASEAN Frontier Forum di Busan Korea – Selatan 23-29 November 2014. Ela sekaligus dinobatkan menjadi Duta Pariwisata (Turism Industry) Indonesia untuk ASEAN setelah mempresentasikan makalahnya dengan judul ASEAN as a Single tourism Destination.
    Pada kongres pemuda OKI atau yang dikenal dengan OIC diadakan di Istanbul Turki dan Indonesia hadir sebagai bagian keanggotaan peserta OIC. Saya selaku Ketua Umum DPP IMM didaulat oleh forum untuk memimpin proses sidang OIC yang mengambil tema : 2nd GENERAL ASSEMBLY. Islamic Conference Youth Forum for Dialogue & Corporation. “Preserving Values Rendering Vuture Better”. 9 – 11 0ktober 2014.

    Hadirin Yang Berbahagia
    Immawan dan Immawati di seluruh Indonesia…
    Kita berharap bahwa “Pemuda Indonesia khususnya kader-kader IMM Se-Nusantara tidak boleh solorun berkutat di internal. Kita harus maju, jangan hanya merasa besar didalam. Bagaikan katak dalam tempurung. IMM harus menyebar ke berbagai belahan dunia. Berfikir besar, bermimpi dan bercita-cita besar lalu kembali ke tanah air dengan segudang pengalaman untuk membangun Bangsanya”. Secara khusus untuk melakukan koneksi dengan kader Muhammadiyah yang sedang belajar di luar negeri sehingga bisa menjadi langkah awal untuk melakukan rintisan pembentukan Pimpinan Cabang Istimewah IMM di luar negeri. Disinilah pentingnya membangun jejaring dengan Pemuda-Pemuda perwakilan dari Negara-Negara di Regional ASEAN dan kawanasan internasional lainnya. Semuanya itu perlu untuk dilakukan sebagai bentuk aktvitas progresif yang dilakukan oleh IMM untuk mengembangkan jejaring dan membuka cakrawala pengetahuan sehingga ide, gagasan dan nilai-nilai perjuangan Ikatan bisa mendunia.
    Bagi Immawan Rijal Ramdani sendiri, seperti dituturkannya paska mengikuti program ke india; “ketertarikannya mengikuti kegiatan internasional tidak terlepas dari keberhasilan India di dalam membangun perekonomiannya, sehingga dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi mencapai 7 – 8 persen banyak ekonom Dunia menyebut India sebagai the Second Giant kekuatan Ekonomi di ASIA setelah Cina. Di sisi lain secara demografis jumlah muslim di India pun merupakan yang terbesar kedua setelah Indonesia (Sebanyak 177 Juta Jiwa), sehingga tidak menutup kemungkinan dengan pertumbuhan penduduk mencapai 1,3 persen per tahun dan sebagai Negara dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di Dunia (1,2 milyar), dalam rentan waktu 10 – 20 tahun India akan menjadi Negara dengan penduduk Muslim terbanyak di Dunia. Selama kurang lebih 11 hari Immawan Rijal Ramdani mengunjungi beberapa Perusahaan dan beberapa Kampus Ternama di India, seperti; Perusahaan Infosys, Bosch, dan TVS di Bangalore Negara Bagian Karnataka; Prasad Group of Companies, Tata Consultancy Sevices, dan Harsha Engginering di Ahmedabad Negara Bagian Gujarat, dan Hero Honda di New Delhi Ibu Kota India. Perusahaan – perusahaan tersebut ada yang bergerak dalam bidang Softwar, Manufactur Onerdil Mobil, Motor, dll. Sementara untuk kampus yang dikunjunginya adalah Indian Institute of Management di Bangalore dan Gujarat; keduanya merupkan kampus yang melahirkan CEO – CEO perusahaan besar di Dunia. Dan sebagai penyempurna Immawan Rijal Ramdani pun diajak berekreasi mengunjungi Icon Negara India, Taj Mahal, yang merupakan salah satu dari Tujuh keajaiban di Dunia peninggalan terbesar kerajaan Mughal Islam”.
    Dari perjalanannya ke India tersebut Immawan Rijal Ramdani bisa mengambil kesimpulan bahwa India sedang mengalami tahapan menuju tingkat kedewasaan dalam industrialisasi. Hal itu bisa dilihat dari perusahaan-perusahaan India yang hampir bisa dipastikan semuanya memiliki jaringan global. Keberhasilan Industrialisasi di India tidak terlepas dari kemajuan Teknologi dan Ilmu Pengetahun karena semakin banyaknya putra-putri terbaik India yang mengenyam pendidikan di kampus-kampus ternama dunia. Hal lainnya yang patut dicontoh dari industrialisasi di India adalah seluruh perusahaan di India berdasarkan peraturan perudangan yang berlaku memiliki kewajiban untuk membayar Corporate Social Responsibility (CSR) sebesar 6 persen dari total keuntungannya. Bahkan perusahaan Tata Services Consultan (TVS) sebagai perusahaan terbesar di India menghabiskan 25 persen dari keuntungannya untuk CSR. Sehingga dengan CSR yang begitu besar itulah bisa menjadi alat untuk menutup kesenjangan dan membangun jejaring pengaman bagi masyarakat misikin untuk bisa mendapatkan jaminan social. Dengan CSR yang begitu mengsankan itulah Peter Casey (2008) mengatakan bahwa TSV merupakan contoh terbaik dalam pendekatan kaptalisme baru yang ramah terhadap masyarakat miskin. Namun bagi Negara Indonesia patut untuk dicurigai bahwa India akan menjadikan Indonesia dan Negara-Negara di regional ASEAN lainnya sebagai pasar dari hasil produksi industrialisasinya. Walaupun di saat yang bersamaan Indonesia memiliki peluang untuk menjadi eksportir terbesar untuk menutupi kebutuhan dasar material dan bahan mentah sebagai penopang proses industrialisasi di India.
    Disinilah peranan pemuda di Indonesia khususnya IMM dalam menghadapi tantangan sekaligus peluang untuk mengupayakan kesejahteraan bersama. Fakta bahwa jumlah penduduk dunia saat ini sudah mendekati angka 7 miliar penduduk, dan separuhnya adalah usia pemuda, menjadi tantangan sekaligus peluang bagi kita untuk memaksimalkan potensi yang ada dalam menghadapi Persoalan-seperti pengangguran, narkoba dan kriminalitas, serta kemiskian. Oleh karena itu, kerja sama internasional mutlak dilakukan guna mengatasi tantangan tersebut Secara umum, KTT itu membahas tentang rencana strategis kerja sama Internasional dalam menghadapi isu pemberdayaan pemuda. Momentum ini harus dijadikan sebagai peristiwa bersejarah yang kita jadikan acuan dalam mengembangkan berbagai kebijakan yang mendukung pemberdayaan pemuda.

    Hadirin Yang Berbahagia
    Immawan dan Immawati di seluruh Indonesia…
    Kedepan IMM harus mampu memaksimalkan posisi strategis dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia, terlebih dalam menghadapi era persaingan global IMM harus melahirkan kader-kader yang kritis, progresif, dinamis dan implementatif demi memainkan peran sebagai kader umat, kader bangsa dan kader perserikatan demi dan untuk mewujudkan kedaulatan rakyat yang memberikan warna terhadap pembangunan identitas nasional.
    Masih relevan dengan apa yang pernah ditulis Hendra Setiawan pada catatannya yang berjudul Kaum muda Muhammadiyah di tengah arus globalisasi dan krisis kebangsaan; “Jadi disini kaum muda Muhammadiyah dalam hal ini Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) haruslah menjadi motor penggerak komunikatif dalam ruang public. Terutama bagaimana perjuangan komunikatif dengan rakyat adalah untuk memengaruhi kebijakan politik pemerintah agar kebijakannya menguntungkan rakyat bukan sebaliknya membela kaum modal raksasa. Jadi, demokratisasi ekonomi sebagai manifestasi dari sila ke lima pancasila harus diperjuangkan terus-menerus melalui mobilisasi social dengan pendidikan politik rakyat. Dan secara structural kaum muda Muhammadiyah harus menyiapkan dirinya untuk menjadi pemimpin politik, karena melihat kondisi pemimpin bangsa hari ini yang semakin mudah diintervensi kaum modal maupun kekuasaan asing. Implikasinya karakter idealisme nasional dan karakter kebangsaan yang anti-imperialis seperti Tan Malaka, Syahrir, Soekarno, maupun Hatta menjadi penting untuk dihidupkan kembali spiritnya dalam jiwa kaum muda.

    Hadirin Yang Berbahagia
    Immawan dan Immawati di seluruh Indonesia…
    Akhirnya. Sejarah adalah apa yang kita torehkan hari ini untuk generasi mendatang, menulisnya dengan tinta emas atau catatan kelam. Usia 51 tentu saja bukan usia yang terbilang muda dan bukan pula senja untuk sebuah organisasi. Namun sudah lebih dari cukup untuk meneguhkan kedewasaan dan kematangan dalam menyikapi zaman. Agaknya petuah bijak perlu kita pegang. Bahwa Kita kini adalah kita nanti apa yang kita tulis kini dan dimasa lampau, akan menjadi cahaya kita nanti, di dunia atau di suatu tempat yang tak terbayangkan. Rentang usia ini adalah hari-hari pengabdian. Jangan takut untuk menitikkan keringat pengorbanan, jangan katakan habis untuk senantiasa memberi, jangan katakan lelah untuk senantiasa berkiprah. lakukan saja dan acuhkan letihmu. Biarkan sang Maha melihat sebagai penilai, karena kita kini adalah kita nanti.
    Percayalah. Tak ada perjuangan tanpa pengorbanan dan tak ada pengorbanan yang sia-sia Tetaplah optimis kita akan jadi pemenang, kendati nanti tak maksimal 100% yakinkan diri ukuran keberhasilannya tidaklah memlulu pada posisi. Perlu energy kuat untuk berlari sebab Sepuluh langkah pertama mungkin masih memiliki kekuatan tinggi, tetapi memasuki seratus langkah, sudah mulai tergopoh lalu jatuh, bahkan ada yang hanya melangkah satu kali, langsung mundur. Untuk itulah kita harus mempertahankan seribu langkah dengan prima… Agar 100% kita menjadi pemenangnya…
    "Untuk Ikatan Ku"
    Demikianlah yang dapat saya sampaikan, lebih dan kurang saya mohon maaf. Selamat Milad. Jayalah IMM…
    Wassalamu‘alaikum Warahmatullah Wabarakatuh...



    Menteng Raya 62 Jakarta, 14 Maret 2015
    Beni Pramula (Ketua Umum DPP IMM)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: NASKAH PIDATO MILAD IMM Ke 51 Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top