• Latest News

    Selasa, 10 Maret 2015

    Pendidikan ulama Muhammadiyah [1]


    PADA 19 Februari 2015, saya bersama Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi mendapat undangan untuk menyampaikan presentasi tentang kaderisasi ulama di depan peserta halaqah Pendidikan Ulama tarjih Muhammadiyah (PUTM) di Yogyakarta. Saya menyampaikan paparan tentang perjalanan Program Kader Ulama (PKU) Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Sedangkan Dr. Hamid Zarkasyi memaparkan perjalanan Program Kader Ulama di Pesantren Gontor.
    Kesempatan berbagi tentang pendidikan kader ulama sangatlah penting dan bermakna. Sebab, tidak sedikit di kalangan umat Islam yang bertanya-tanya, siapakah yang sebenarnya layak disebut ulama dan bagaimana harus bersikap terhadap para ulama? Tidak sedikit pula yang mengkhawatirkan semakin langkanya ulama yang memiliki ilmu dan integritas akhlak yang tinggi. Bahkan, di lingkungan Muhammadiyah, suara-suara yang mengkhawatirkan kelangkaan ulama itu pun sering terdengar.
    Muhammadiyah didirikan oleh seorang ulama, KH Ahmad Dahlan, tahun 1912. Dalam sejarahnya, Muhammadiyah juga memiliki jajaran ulama-ulama yang tangguh, seperti Ki Bagus Hadikusumo, Buya Malik Ahmad, Buya AR Sutan Mansur, KH AR Fachrudin, Buya Hamka, dan sebagainya. Tentu saja, saat ini, Muhammadiyah juga masih banyak menyimpan ulama-ulama senior dan juga calon-calon ulama muda potensial, yang insyaAllah ke depan akan menjadi ulama-ulama yang tangguh.
    Menyadari akan arti penting kedudukan ulama di tengah umat Islam, maka sudah sekitar 15 tahun lalu, Muhammadiyah menyelenggarakan satu program khusus kaderisasi ulama, yaitu Program Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM). Program ini setara dengan pendidikan strata-1, yang dikemas secara khusus dengan sistem pesantren. Pesertanya merupakan utusan dari berbagai daerah yang dipilih secara ketat dan dibebaskan dari segala biaya pendidikan. Diharapkan, lulusan program ini akan menjadi ulama-ulama muda yang mampu mengembangkan dakwah Islam di berbagai daerah di Indonesia.
    Kita bersyukur, masih banyak di kalangan umat Islam yang peduli dengan Program Kader Ulama semacam ini. Sebab, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam sudah berpesan, bahwa ulama adalah pewaris Nabi (al-‘ulama’ waratsatul anbiya’). Kita memahami sabda Nabi itu seperti perintah kepada umat Islam, bahwa di tengah mereka, harus ada senantiasa ulama-ulama dalam jumlah yang cukup. Jadi, keberadaan ulama dalam jumlah yang memadai – sesuai dengan prinsip kifayah – adalah wajib.
    Karena misi dan tugas utamanya adalah melanjutkan kepemimpinan para Nabi, yakni menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran, maka ulama harus memenuhi kualifikasi: mampu memimpin perjuangan menegakkan misi kenabian tersebut. Dua kualifikasi unggulan yang wajib dimiliki ulama adalah kualifikasi ilmu dan akhlak. Untuk itu, seorang ulama harus memahami misi kenabian dengan baik; paham ulumuddin dengan baik; paham pemikiran Islam; paham pemikiran-pemikiran kontemporer; dan paham strategi serta taktik perjuangan di zamannya. Sebagaimana para nabi, ulama sepatutnya mendapatkan hikmah dari Allah, sehingga dia bukan hanya paham ilmu-ilmu keislaman dengan baik, tetapi dia juga bisa menerapkannya dengan penuh hikmah.
    Maka, kualifikasi akhlak yang wajib dimiliki ulama adalah sikapnya yang hanya takut kepada Allah, tidak hubbud-dunya, apalagi sampai gila jabatan dan gila hormat. Aneh kalau ulama sampai punya ambisi pribadi untuk menjadi pemimpin umat atau organisasi, padahal ia tahu, betapa beratnya pertanggungjawaban dia di akhirat nanti. Memang, al-Quran surat al-Ahzab ayat 72 menggambarkan sifat kebanyakan manusia yang zhalim dan bodoh, terkait dengan kemauan manusia untuk mengemban amanah. Logika sehat kita mengatakan betapa bodohnya manusia yang memaksakan diri mengemban amanah yang sangat berat, padahal, ia tahu ada orang lain yang lebih baik dan lebih mampu memimpin dibandingkan dirinya.
    Kita membayangkan, dengan ribuan sekolah dan kampus yang dimilikinya, sungguh berat amanah yang dipikul pimpinan Muhammadiyah. Untuk mengurus satu Program Studi di UIKA dan satu sekolah saja, saya merasakan begitu berat amanah yang saya pikul. Untuk memimpin satu istri dengan tujuh anak pun, bukan amanah ringan bagi saya. Apalagi, di zaman kebebasan informasi seperti saat ini. Bagaimana nanti kita semua bertanggung jawab di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala? Kita ingat, bagaimana kisah yang sangat mengagumkan dari seorang Imam Abu Hanifah ketika beliau lebih memilih dipenjara dan dicambuk setiap hari daripada menerima jabatan sebagai qadhi negara atau kepala perbendaharaan negara.
    Karena itu, ulama sejati, tidak mungkin gila jabatan dan gila kehormatan. Apalagi, sampai gila harta. Sebab, semakin banyak harta, semakin berat pula amanah yang diembannya. Ulama pasti sadar, bahwa semakin banyak nikmat yang diterima seseorang, maka akan semakin berat pula tanggung jawabnya di akhirat. Tsumma latus-alunna yawmaidzin ‘anin-na’im.
    Ulama tidak turun dari langit. Ulama juga tidak dilahirkan. Tetapi,  ulama lahir dari sebuah proses pendidikan. Buya Hamka, misalnya, lahir dari sebuah proses pendidikan yang sangat ideal. Ia dididik langsung oleh ulama-ulama hebat di lingkungan keluarga dan masyarakatnya. Ia diajar dan dididik langsung oleh ayahnya. Ia belajar kepada Haji Agus Salim, Buya Malik Ahmad, dan sebagainya. Hamka juga muncul dan teruji sebagai ulama setelah terjun ke tengah masyarakat. Menurut Hamka, ia sempat dicegah Haji Agus Salim ketika bermaksud tinggal bertahun-tahun untuk belajar di Arab Saudi. Tujuannya agar Hamka langsung terjun ke tengah masyarakat.
    Guru-guru yang hebat semacam Haji Agus Salim itulah yang sepatutnya dihadirkan dalam program-program kader ulama kita. Guru harus memiliki ilmu yang memadai dan akhlak yang terpuji supaya bisa menjadi teladan bagi murid-muridnya. Pendidikan dalam Islam bukan bertujuan utama untuk meraih gelar akademis dan meraih pujian manusia, tetapi untuk meraih ilmu yang bermanfaat yang dapat membawa si empunya ilmu pada kedekatan diri kepada Allah dan meningkatkan semangat berjuang menegakkan kebenaran.*/ (Bersambung)

    Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan (CAP) hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Pendidikan ulama Muhammadiyah [1] Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top