• Latest News

    Selasa, 28 April 2015

    Fitnah Lawan Jenis

     
    Oleh: Dr. H. Agung Danarta, M.A
    Sekretaris Umum PP Muhammadiyah 

    Sumber fitnah bukan hanya wanita bagi laki-laki, tapi laki-laki pun juga akan menjadi sumber fitnah bagi perempuan.

    عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
    Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya dunia itu lahan yang manis lagi hijau. Sesungguhnya Allah telah menguasakannya kepadamu sekalian. Kemudian Allah menunggu (memperhatikan) apa yang kamu kerjakan (di dunia itu). Karena itu takutilah dunia dan takutilah wanita, karena sesungguhnya sumber bencana Bani Israil adalah wanita.”(HR. Muslim).

    PENGERTIAN FITNAH
    Kata fitnah dalam bahasa Arab berarti cobaan (ibtilâ), dan ujian (imtihân, ikhtibâr). Menurut istilah: “Perkara yang dilakukan untuk mengetahui kebaikan atau keburukan sesuatu”. Kata fitnah dalam al-Qur’an memiliki beberapa pengertian, yaitu:
    1. Fitnah berarti Syirik.
    Firman Allah :
    وَٱلۡفِتۡنَةُ أَشَدُّ مِنَ ٱلۡقَتۡلِ‌ۚ
    “Fitnah (syirik) lebih dahsyat dosanya daripada membunuh.” (QS. al-Baqarah: 191)
    وَقَـٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٌ۬
    Dan perangilah mereka supaya tidak berlakunya fitnah (syirik).” (QS.al-Baqarah:193)
    2. Fitnah dengan makna ujian dan cobaan.
    Firman Allah:
    وَفَتَنَّـٰكَ فُتُونً۬ا‌ۚ
    Dan kami uji kamu (Nabi Musa) dengan pelbagai ujian yang besar. (QS. Toha: 40)
    وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ‌ۖ
    “Dan sesungguhnya kami telah menguji (wa laqod fatannâ) ummat yang terdahulu.” (QS. al-Ankabut: 3)
    3. Fitnah berarti siksa
    Firman Allah:
    إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُواْ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَـٰتِ
    Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman lelaki dan perempuan … “ (QS. Al-Buruj: 10)
    Begitu juga makna fitnah pada ayat 10 surah al-Ankabut, ayat 14 surah az-Zariat dan ayat 110 surah an-Nahl.
    4. Fitnah berarti dosa.
    Firman Allah:
    وَمِنۡهُم مَّن يَقُولُ ٱئۡذَن لِّى وَلَا تَفۡتِنِّىٓ‌ۚ أَلَا فِى ٱلۡفِتۡنَةِ سَقَطُواْ‌ۗ
    Dan sebahagian mereka ada yang berkata “izinkanlah aku untuk tidak berperang dan janganlah menyebabkan aku berbuat dosa. Ketahuilah mereka telah terjebak dalam dosa (alâ fi al-fitnati saqothû).” (QS. at-Taubah: 49)
    5. Fitnah berarti kekufuran.
    Firman Allah:
    لَقَدِ ٱبۡتَغَوُاْ ٱلۡفِتۡنَةَ
    “Sesungguhnya mereka inginkan kekufuran (laqod ibtaghu al-fitnah).” (QS. at-Taubah: 48)
    Begitu juga fitnah dalam ayat 7 surah Ali imran.
    6. Fitnah berarti pembunuhan dan kebinasaan.
    Firman Allah:
    إِنۡ خِفۡتُمۡ أَن يَفۡتِنَكُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ‌ۚ
    Sekiranya kamu takut orang-orang kafir membunuh kamu (in khiftum an yaftinakum).” (QS. an-Nisa: 101)
    Begitu juga fitnah pada ayat 83 surah Yunus.
    7. Fitnah berarti berpaling dari jalan yang benar.
    Firman Allah:
    وَٱحۡذَرۡهُمۡ أَن يَفۡتِنُوكَ عَنۢ بَعۡضِ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَ‌ۖ
    Dan berwaspadalah dari mereka (wahdzarhum an yaftinûka) yang hendak memesonakan kamu dari jalan kebenaran.” (QS. Maidah: 49)
    Begitu juga dalam ayat 73 surah al-Isra.
    8. Fitnah berarti sesat.
    Firman Allah:
    4وَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ فِتۡنَتَهُ
    Dan sesiapa yang Allah hendak menyesatkannya (wa man yuridillahu fitnatahu).” (QS. al-Maidah:41)
    Begitu juga fitnah dalam ayat 162 surah as-Soffat.
    9. Fitnah berarti alasan.
    Firman Allah:
    ثُمَّ لَمۡ تَكُن فِتۡنَتُہُمۡ إِلَّآ أَن قَالُواْ وَٱللَّهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشۡرِكِينَ
    “Kemudian tidaklah ada alasan mereka (tsumma lam takun fitnatahum) melainkan mereka berkata “Demi Allah wahai tuhan kami, kami bukannya orang-orang musyrikin.” (QS. al-An’am: 23)
    10. Fitnah bermaksud gila
    فَسَتُبۡصِرُ وَيُبۡصِرُونَ (5) بِأَييِّكُمُ ٱلۡمَفۡتُونُ
    “Maka kamu akan lihat (hai Muhammad) dan mereka akan lihat siapakah yang gila (biaiyyikum al-maftûn).” (QS. al-Qalam: 5-6)

    Adapun dalam hadis, kata fitnah mengandung beberapa pengertian:
    1. Fitnah berarti perselisihan dan peperangan
    Nabi saw bersabda: “Akan berlaku fitnah (perselisihan dan peperangan), orang yang melihatnya lebih baik dari orang yang menyebabkannya ia berlaku.” (Hr Bukhari dan Muslim)
    2. Fitnah berarti ujian dan cobaan
    Nabi saw bersabda: “Maka hendaklah kamu waspada terhadap dunia dan waspada terhadap wanita, sesungguhnya fitnah yang mula2 menimpa bani Israel adalah wanita.” (Hr Muslim)
    3. Fitnah berarti melalaikan
    Hadis Nabi saw: “Bila nabi saw mendengar tangisan bayi, nabi akan meringankan sholatnya karena khawatir ibunya akan terlalaikan dengan tangisan anaknya.” (Hr Bukhari)
    4. Fitnah berarti penyiksaan dan pembunuhan
    Nabi saw bersabda: “Dahulu seorang lelaki di siksa karena mempertahankan agamanya, sampai orang-orang kafir membunuhnya atau menyiksanya.” (Hr Bukhari)
    5. Fitnah berarti berlaku kemungkaran dan kemaksiatan.
    Nabi saw bersabda: “Apabila datang seorang lelaki yang baik agama dan akhlaknya melamar anakmu maka hendaklah kamu kawinkan dengan anak mu. Kalau tidak, akan berlaku fitnah (kemungkaran dan kerusakan) yang besar di muka bumi.” (HR. Ibnu Majah)
    6. Fitnah berarti memaksa untuk kembali kufur.
    Nabi bersyair ketika menggali parit di peperangan Khandak: “Sesungguhnya musuh-musuh telah menganiaya kami. sekiranya mereka hendak memaksa kami kembali kufur, kami enggan.(Idza arâdû fitnatan abainâ)” (Hr Bukhari dan Muslim)
    7. Fitnah berarti menjauhkan dari agama
    Nabi saw bersabda kepada Muadz ra: “Wahai Muadz adakah engkau hendak menyebabkan manusia lari dari ajaran agamanya?” (Hr Bukhari dan Muslim).

    FITNAH WANITA
    Rasulullah mengajarkan agar kaum muslimin berhati-hati terhadap dunia dan terhadap wanita. Berhati-hati bukan berarti dengan menjauhinya dan memandangnya hina, tetapi dengan mengelola sebaik-baiknya agar memberikan manfaat yang maksimal dalam kehidupan ummat manusia. Bila tidak dikelola dengan baik, maka kehidupan duniawi akan membawa bencana dan malapetaka. Demikian juga halnya dengan wanita. Bila hubungan antara laki-laki dan wanita tidak diatur dan dilakukan dengan baik akan membawa bencana. Sebagaimana sabda Rasulullah saw berikut ini:
    عَنْ أَسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا تَرَكْتُ بَعْدِي عَلَى أُمَّتِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ هَذَا حَدِيثٌ مُتَّفَقٌ عَلَى صِحَّتِهِ
    Usamah bin Zaid berkata, bersabda Rasulullah saw: “Sepeninggalku, tidak ada (sumber) bencana yang lebih besar bagi laki-laki selain dari pada wanita” (Hadis Shahih riwayat Bukhari dan Muslim).
    Menurut hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan imam Muslim dari Usamah ini memberitahukan bahwa fitnah yang paling besar bagi laki-laki adalah dari wanita. Fitnah disini berarti cobaan atau ujian. Fitnah ini terjadi bukan semata disebabkan karena si wanitanya, tetapi juga disebabkan karena laki-laki memiliki nafsu syahwat kepada wanita. Dalam al-Qur’an surat Ali Imron ayat 14 Allah berfirman:
    زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٲتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ
    Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, … (QS. Ali ‘Imran: 14)
    Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya mengemukakan suatu kisah yang dengan baik menggambarkan fitnah wanita terhadap laki-laki yang disebabkan oleh godaan syetan yang berhasil membangkitkan nafsu syahwat laki-laki.
    KISAH TRAGIS TERGODA FITNAH
    Dalam kitab Tafsir al-Qurtubi, 1: 5556. Dikemukakan kisah yang bersumber dari Wahab ibn Munabbih.
    Dikalangan Bani Israil ada seorang ahli ibadah. Ia mempunyai tiga orang bersaudara yang mempunyai adik gadis yang perawan. Tiga bersaudara tersebut tidak mempunyai saudara wanita kecuali ia satu-satunya. Suatu saat ketiga orang itu bermaksud melakukan perjalanan jihad di jalan Allah. Mereka sulit mencari orang yang dapat dititipi saudara wanitanya dan dapat dipercaya untuk menjaganya.
    Akhirnya, mereka sepakat menitipkan adik gadisnya kepada seorang ahli ibadah yang paling sholih di negeri mereka. Mereka percaya sepenuhnya kepada ahli ibadah tersebut. Ketiganya mendatangi ahli ibadah itu dan meminta kepadanya agar berkenan untuk dititipi adik gadis mereka. Mereka mengharapkan agar saudara wanita mereka berada di dekatnya sampai mereka pulang dari perjalanan perang. Namun, si ahli ibadah itu menolaknya.
    Tak henti-hentinya tiga bersaudara tersebut meminta kepada si ahli ibadah ini untuk menerimanya. Akhirnya, ia pun mau menerima. Ia berkata kepada tiga orang tersebut, “Tempatkan saja ia di rumah yang berdampingan dengan tempat ibadahku ini!” Mereka menempatkan wanita itu di rumah tersebut sebagaimana saran dari si ahli ibadah. Sehingga jadilah mereka pergi untuk melakukan perang di jalan Alloh.
    Wanita itu sudah cukup lama berada di kediaman dekat tempat ahli ibadah. Si ahli ibadah biasanya meletakkan makanan di bawah tangga tempat dirinya beribadah supaya diambil oleh wanita itu. Ia tidak mau mengantar makanan ke rumah yang ditempati wanita itu. Ia meminta agar si wanitalah yang mengambilnya. Wanita tersebutlah yang keluar dari tempatnya untuk mengambil makanan setiap hari.
    Setan terus berusaha membujuk si ahli ibadah. Ia tidak henti-hentinya melukiskan kebaikan si ahli ibadah tersebut. Setan mewanti-wanti kepada ahli ibadah bahwa kalau wanita itu terus-terusan keluar dari rumahnya di waktu siang untuk mengambil makanan, nanti ada orang yang melihat dan menyergapnya.
    Setan berbisik kepadanya, “jika engkau yang pergi sendiri untuk mengantarkan makanan dan meletakkannya di pintu rumahnya, itu akan lebih baik dan lebih besar pahalanya bagimu.” Setan tak henti-hentinya membisikkan suara tersebut sampai akhirnya sang ahli ibadah mau melakukan hal tersebut.
    Ia sendiri yang meletakkan makanan di dekat pintu perempuan tadi. Namun, ketika meletakkan makanan di depan pintu, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Ia cukup lama melakukan kegiatan itu.
    Setan datang lagi kepada sang ahli ibadah dan menganjurkan agar dirinya mau menambah kebaikan. Setan berbisik kepadanya, ‘jika engkau mengajak ngobrol kepadanya, ia akan merasa tentram dengan obrolanmu. Sebab ia sedang kesepian sekali.” Setan tak henti-hentinya merayu sang ahli ibadah sehingga ia mau melakukan apa yang dibisikkan oleh setan itu. Ahli ibadah ini terkadang mengajak bercakap cakap kepada wanita tersebut dari atas tempat ibadahnya. Ia tidak mau turun ke bawah karena takut terkena dosa.
    Selanjutnya setan datang lagi kepada ahli ibadah dan berkata, ‘jika engkau turun ke bawah dan duduk di atas pintu tempat ibadahmu untuk bercakap-cakap dengannya dan diapun tetap berada di atas pintu rumahnya, ini lebih baik dan menambah rasa tenang kepadanya.” Setan tak henti-hentinya merayu sang ahli ibadah sehingga mau melakukannya. Ia duduk di atas pintu tempat ibadahnya begitu juga sang wanita pun di atas pintunya mau bercakap-cakap dengannya.
    Cukup lama dua orang tersebut terus-terusan kebiasaan bercakap-cakap di atas pintu masing-masing Seperti biasanya setan datang lagi untuk membujuk si ahli ibadah agar melakukan kebaikan yang lebih banyak. Setan berbisik kepadanya, “Jika engkau keluar dari tempat ibadahmu lalu mendekati ke pintu rumahnya dan engkau berbicara dengannya, ia akan lebih tentram dan lebih merasa senang. Itu kan kebaikan besar. Ia tidak harus keluar rumahnya. Biarlah ia berada di dalam rumahnya dan engkau di luar.”
    Setan tak henti-hentinya membisikkan hal tersebut sampai akhirnya sang ahli ibadah mau melakukan apa yang dibisikkannya itu.
    Sang ahli ibadah kemudian mendekat ke pintu rumah wanita tadi. Ia bercakap-cakap dengannya. Padahal, selama ini ia tak pernah beranjak dari tempat ibadahnya. Kalaupun untuk mengajak berbicara kepada si wanita itu, ia melakukannya dari atas dan tidak mau turun ke bawah. Cukup lama kebiasaan yang dilakukan oleh sang ahli ibadah tersebut. Selanjutnya setan datang kepada sang ahli ibadah dan berbisik, “jika engkau masuk ke dalam rumahnya, lalu engkau bercakap-cakap dengannya, itu lebih baik. Sebab, jika engkau ada di dalam, wanita itu tidak harus kelihatan oleh orang lain”.
    Ahli ibadah ini mengikuti saran setan sehingga ia pun masuk ke dalam rumah perempuan itu. Hampir seharian penuh, setiap hari, si ahli ibadah bercakap-cakap dengan wanita. Ketika waktu telah menjelang sore, ia baru naik ke atas tempat ibadahnya untuk meneruskan ibadahnya.
    Tiap saat iblis datang kepada ahli ibadah untuk merayunya. Akhirnya, si ahli ibadah sampai dapat memegang paha wanita tersebut dan menciumnya. Iblis tak henti-hentinya mengganggu ahli ibadah dan wanita tersebut sampai terjadilah perzinahan.
    Selang beberapa lama wanita tersebut hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki. Iblispun datang kembali kepada si ahli ibadah dan berkata kepadanya.” Bagaimana kalau nanti saudara-saudara wanita ini datang sementara ia melahirkan anak darimu? Apa yang engkau lakukan? Sudah barang tentu mereka akan mencela dan menghajarmu. Oleh sebab itu, bunuh saja anak itu lalu kubur olehmu. Wanita itu akan mau menutupinya. Sebab, ia juga takut kepada saudaranya kalau-kalau mereka mengetahuinya.” Maka si ahli ibadah melakukan apa yang disarankan oleh setan tersebut, yaitu membunuh anak itu.
    Setelah dia membunuh anak laki-laki itu, setan berkata kepadanya, “Apakah engkau yakin wanita itu akan menyembunyikan apa yang dilakukan olehmu? Sudah, bunuh saja dia!” maka si ahli ibadah tersebut membunuh wanita tersebut dan dikubur bersama anaknya. Ia meletakkan batu besar di atas kuburan anak dan ibunya tersebut. Setelah melaksanakan tugasnya, ia naik ke atas tempat ibadahnya untuk meneruskan ibadah.
    Selang beberapa waktu kemudian, saudara wanita yang dibunuh tadi datang dari tempat perang. Mereka langsung menuju ke tempat sang ahli ibadah. Mereka bertanya kepadanya tentang kabar adik mereka.
    Mendengar pertanyaan tersebut, si ahli ibadah menangis dan menceritakan kejadian yang mengerikan. Ia menyebutkan bahwa saudara wanita mereka meninggal karena penyakit. “saya sangat tahu bahwa dia adalah perempuan baik-baik dan di daerah anu kuburannya, “ Kata si ahli ibadah sambil menunjukkan sebuah kuburan yang agak jauh dari tempat ibadahnya. Sesampainya di sana mereka menangis. Beberapa hari mereka tak henti-hentinya menziarahi kuburan adiknya. Setelah itu mereka pulang ke tempat keluarganya
    Ketika malam tiba dan mereka telah tertidur, setan datang dalam mimpi mereka. Dalam mimpi tersebut setan muncul dalam bentuk laki-laki yang sedang melakukan perjalanan. Setan memulai dengan mendatangi orang yang paling tua di antara mereka dan bertanya mengenai saudara wanitanya. Sang kakak yang paling besar menyebutkan berita yang diterima dari ahli ibadah. Ia memberitahukan bahwa dirinya telah mengunjungi kuburannya. Setan menyatakan bahwa kabar tersebut bohong. Ia berkata, “Apa yang dikabarkan oleh dia tentang saudara wanitamu hanya bualan. Justru ia telah menghamilinya dan adikmu melahirkan anak laki-laki. Karena takut terungkap oleh kalian, ia membunuhnya dan membunuh pula ibunya. Ia memasukkan keduanya ke dalam sebuah lubang yang telah digali dibalik pintunya, yaitu sebelah kanan, silahkan engkau datangi tempat tersebut dan buktikan di sana. Kalian akan menemukan keduanya sebagaimana saya beritahukan!”.
    Selanjutnya setan pun datang juga kepada saudara yang lainnya dan menyampaikan kabar yang sama. Semuanya merasa kaget atas mimpi itu sebab mereka memimpikan hal yang sama. Saudara yang paling besar berkata, “Ah itu kan hanya mimpi. Tidak ada apa-apanya. Sudah jangan kalian hiraukan dan kita biarkan saja!” Saudara yang paling kecil berkata, “Demi Tuhan, saya tidak akan tenang kecuali setelah membuktikan tempat yang ditunjukkan itu.” Maka ketiganya berangkat untuk mendatangi rumah bekas hunian adik wanita mereka. Mereka membuka pintu rumah tersebut dan mencari tempat yang disebutkan oleh setan kepada mereka di dalam mimpi.
    Ternyata, mereka menemukan saudara wanita dan anaknya disembelih dan diletakkan di tempat itu. Selanjutnya mereka datang kepada sang ahli ibadah dan bertanya kepadanya tentang keadaan sebenarnya. Maka ia membenarkan apa yang dikatakan oleh setan tadi, yaitu dirinyalah yang membunuhnya. Selanjutnya, tiga saudara wanita tersebut mengadukan masalahnya kepada raja mereka. Mereka membawa turun si ahli ibadah dari kediamannya. Sang ahli ibadah dituntut untuk dibunuh dan disalib.
    Ketika si ahli ibadah sudah diikat di atas kayu untuk dibunuh, datanglah setan kepadanya dan berkata, “Saya ini sahabatmu yang mengujimu dengan perempuan yang engkau hamili dan bunuh itu.
    Jika engkau ikuti perintahku hari ini dan kafir kepada Allah yang telah menciptakan dan membantumu, saya akan menyelamatkanmu dari bahaya yang sedang engkau hadapi ini.” Si Ahli ibadah itu mengiyakan anjuran setan, yaitu kufur kepada Allah. Ketika ia telah kafir, setan meninggalkannya dan orang-orang membunuhnya. Maka matilah si ahli ibadah sebagai orang KAFIR su’ul khotimah ahli neraka.
    Dalam kisah tersebut, fitnah terjadi bukan disebabkan karena eksistensi wanita, tetapi disebabkan oleh relasi (hubungan) antara laki laki dan perempuan yang dibalut oleh nafsu syahwat dan di[erparah oleh godaan syetan.

    FITNAH LAKI-LAKI
    Dalam hubungan relasi gender, fitnah bukan hanya bersumber dari wanita, tetapi laki-laki juga bisa menjadi sumber fitnah bagi wanita. Hal ini diisyaratkan secara jelas di dalam al-Qur’an surat at- Taghabun: 14:
    يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ مِنۡ أَزۡوَٲجِكُمۡ وَأَوۡلَـٰدِڪُمۡ عَدُوًّ۬ا لَّڪُمۡ فَٱحۡذَرُوهُمۡ‌ۚ وَإِن تَعۡفُواْ وَتَصۡفَحُواْ وَتَغۡفِرُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ
    Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara pasangan (suami/istri)mu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. at-Taghabun: 14).
    Kata alladzina amanu (orang-orang yang beriman) tidak menunjukkan jenis kelamin tertentu tetapi menunjuk kepada semua jenis, yaitu laki-laki dan perempuan. Kata azwajikum bentuk jamak dari zauj yang berarti pasangan, yang bisa jenisnya laki-laki (suami) atau perempuan (isteri) tergantung pada pasangannya.
    Berdasar ayat tersebut, maka sumber fitnah bukan hanya wanita bagi laki-laki, tapi laki-laki pun juga akan menjadi sumber fitnah bagi perempuan. Wallahu alam bish showab.

    Sumber:
    -al-Raghib al-Asfahani, Mujam al-Mufahrash li alfadz al-Quran
    -Tafsir al-Qurthubi Juz 1
    -Majalah Qiblati – Menyatukan hati dalam Sunnah Nabi
    -www.sirah.com
    [tuntunanislam]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Fitnah Lawan Jenis Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top