• Latest News

    Jumat, 10 April 2015

    Inilah Alasan Pakistan dan Turki Ragu Gabung Koalisi Teluk



    Ankara – Turki dan Pakistan, dua dari kekuatan militer terbesar di dunia Muslim, telah meluncurkan sebuah inisiatif diplomatik untuk mencegah konflik di Yaman semakin meluas menjadi konflik regional.
    Inisiatif ini dimulai pada Jumat, (03/04) di ibukota Turki, Ankara. Pada pertemuan itu, Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu dan PM Pakistan, Nawaz Sharif, menyuarakan keprihatinan atas tersingkirnya pemerintah Yaman oleh milisi Syiah Hautsi yang disebutnya sebagai “aktor-aktor non-negara”. Milisi pemberontak yang didukung Iran itu kini menduduki ibukota Yaman dan menekan serangan untuk mengambil kota terbesar kedua negara itu, Aden.
    Pertemuan diplomatik ini semakin padat akhir-akhir ini di antaranya ialah: kunjungan ke Ankara pada Senin (06/04) untuk konsultasi dengan wakil putra mahkota Saudi dan menteri dalam negeri, Mohammed bin Nayef. Kemudian, kunjungan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, ke Teheran pada Selasa (07/04), di mana ia akan bertemu dengan Presiden Iran Hassan Rouhani dan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Dilanjutkan dengan kunjungan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif, ke Islamabad pada Rabu (08/04). Kemudian dalam sepekan ke depan, menteri luar negeri Turki diharapkan di Islamabad.
    Konsultasi intensif berseri ini terjadi dua minggu setelah Koalisi Teluk meluncurkan kampanye pemboman atas Yaman yang bertujuan menghentikan ekspansi Syiah Hautsi.
    Arab Saudi meminta Turki dan Pakistan untuk bergabung dengan koalisi, yang saat ini termasuk Mesir, Yordania, Maroko dan tiga emirat Teluk Persia, Bahrain, Qatar dan Uni Emirat Arab. AS memberikan dukungan teknis dan intelijen untuk kampanye militer ini.
    Tapi Turki dan Pakistan, dengan hampir 1 juta personil militer aktif dan jumlah tentara cadangan yang melimpah jika diperlukan, sejauh ini keberatan akan kampanye Koalisi Teluk. Pasalnya, mereka berdua memiliki perbatasan dengan Iran dan takut akan pembalasan dari Negara Syiah itu jika mereka bergabung dengan Arab Saudi.
    Kedua negara telah menyelaraskan posisi diplomatik mereka dengan mengatakan serangan di wilayah Saudi dan unit sekutu militer Yaman oleh Syiah Hautsi akan mendorong mereka untuk mengerahkan pasukan untuk membela Arab Saudi.
    Pakistan dan Turki sepakat untuk menunda keputusan mereka untuk bergabung dengan koalisi yang dipimpin Saudi sehingga mereka bisa bekerja untuk mencegah krisis di Yaman yang memecah dunia Muslim ke dalam opsi mendukung Riyadh atau Teheran, yang seolah menjadi simbol kepemimpinan Muslim Sunni dan sekte Syiah.
    Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Mohammed Asif, merinci inisiatif diplomatik dalam presentasi hari Senin, (06/04) kepada parlemen negaranya, yang mengadakan sidang khusus untuk memperdebatkan permintaan bantuan militer dari Saudi.
    Mayoritas partai politik besar di Pakistan mendukung posisi pemerintah membela Saudi jika diserang namun mereka menentang Pakistan terlibat secara aktif dengan mengirimkan pasukan dalam konflik Yaman, karena takut memburuknya kekerasan Muslim Sunni-Syiah dalam negeri Pakistan.
    Pakistan juga khawatir bahwa buntunya jalan diplomatik dengan Teheran atas konflik Yaman akan memaksa mereka untuk mengalihkan pasukannya ke perbatasan Pakistan-Iran, yang sekarang dijaga hanya oleh penjaga perbatasan paramiliter.
    Opini publik di Pakistan sangat menentang keterlibatan apapun, terutama karena cemas pada konflik Muslim Sunni-Syiah di Timur Tengah.
    Perdana Menteri Pakistan juga mengatakan kepada parlemen pada hari Selasa, (07/04) bahwa ia sedang menunggu hasil pembicaraan diplomatik mengenai krisis Yaman yang difasilitasi oleh presiden Turki. “Kami telah berhubungan konstan dengan pemimpin Turki untuk menyelesaikan krisis Yaman,” kata Sharif, yang mengadakan pembicaraan dengan Erdogan dan Perdana Menteri Turki Ahmed Davutoglu di Ankara pekan lalu.
    Asif sudah mengatakan kepada Arab Saudi dalam kunjungannya ke Riyadh pekan lalu bahwa Pakistan tidak bisa mengalihkan salah satu dari 172.000 tentara yang terlibat dalam memerangi gerilyawan Taliban di daerah suku yang berbatasan dengan Afghanistan timur. Adapun, sisa kekuatan militer Pakistan dikerahkan di sepanjang perbatasan timur dengan India, yang telah pecah menjadi perang sebanyak enam kali sejak merdeka tahun 1947.
    Raja Salman juga telah menelepon Perdana Menteri India Narendra Modi pada 30 Maret untuk meyakinkannya permintaan Riyadh atas dukungan militer Pakistan tidak akan melemahkan hubungan mereka dengan New Delhi.
    Sumber: Kiblat.id
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Inilah Alasan Pakistan dan Turki Ragu Gabung Koalisi Teluk Rating: 5 Reviewed By: Anonim
    Scroll to Top