• Latest News

    Senin, 20 April 2015

    Mengenang KH. Muammal Hamidy, Kyai Belajar Lintas Kelompok

     
    Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Pada hari Selasa 14 April 2015 M pukul 08.20 wib, kyai kharismatik Jawa Timur KH. Muammal Hamidy, Lc berpulang ke rahmatullah pada usia 75 tahun. Kyai yang dikenal dengan sikap tegasnya ini wafat setelah menjalani perawatan di sebuah rumah sakit kota Surabaya. 
    KH. Muammal Hamidy, Lc dikenal sebagai ulama yang teguh dalam prinsip, akan tetapi luwes dalam usaha berdakwahnya. Beliau pernah dicekal karena dituduh terlibat jaringan Kelompok Komando Jihad pada era 80-an. Kedekatannya dengan Tokoh Masyumi M. Natsir, membuat gerak-geriknya selalu diawasi aparat. Benarkah dirinya terkait dengan kelompok Islam garis keras yang ingin mendirikan Negara Islam di Indonesia?
    Dirinya menampik tuduhan tersebut. Sebab beliau meyakini, bahwa kelompok Islam garis keras seperti Komando Jihad, DII maupun NII adalah bentukan atas kepentingan pihak tertentu. “Keberadaan kelompok Islam semodel ini, malah bertujuan untuk melemahkan Islam sendiri,” tukasnya serius.
    Kyai Muammal Hamidy terlahir di Desa Sedayu Lawas, Kecamatan Brondong Lamongan, 1 September 1940 silam. Mental dan sikap keagamaannya terbentuk dari lingkungan keluarganya yang santri. 
    Muammal kecil menghabiskan lebih banyak waktunya untuk belajar ngaji di langgar. Sejak menginjak usia SD, bersama bocah-bocah desa lainnya, Muammal sudah mulai tidur di langgar. “Hanya ketika bulan puasa, saya pulang untuk sahur. Setelahnya, ya kembali lagi ke langgar,” ujarnya. Dengan membaca oncor (obor), Muammal meniti jalan setapak desa yang gulita itu. 
    Waktu itu, langgar adalah pusat kegiatan bocah-bocah di kampungnya. Selain aktif belajar di Langgar Kyai Basyarun, dia juga aktif di Langgar Kyai Khudlori. “Ngaji, belajar ilmu umum, mandi dan tidur pun di langgar,” terangnya. “Kalau tidak mengaji di langgar, saya pasti dipukul orangtua,” tambahnya. Karena tiap hari hidup di langgar, maka wajib baginya untuk ikut merawat. “Kami semua mendapat giliran jadwal mengisi bak mandi,” tutur putra pasangan H. Munawar dan Mariyah ini.
    Muammal juga bersekolah di SR (Sekolah Rakyat). Ketika terjadi Agresi Militer Belanda kedua di akhir tahun 1948, sekolahnya terhenti. Seusai perang, Muammal pindah ke MI yang baru berdiri. Muammal Hamidy pun mulai mengenal dan belajar ilmu alat (nahwu dan shorof). Juga balaghah, fiqh dan muntakhobat (kata mutiara).
    Di usia ini, Muammal pun mulai belajar pola Kemuhammadiyahan dari pamannya, Mahfudz Ihsan, pendiri Muhammadiyah di Lamongan. Karena itu, Hadits Arbain Nawawi wajib dihafalkannya.
    Setamat MI tahun 1955, anak ke delapan dari sepuluh bersaudara ini meneruskan studi agamanya ke MTs Tebuireng sambil nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Dengan hanya berbekal 3 lembar pakaian dan 2 sarung yang dia bawa dalam tumbu yang terbuat dari daun lontar, ia berangkat mondok. “Karena minim baju ganti, saya kadang hanya mencuci kerahnya saja,” ujarnya sambil senyum dikulum.
    Untuk mengirit biaya, Muammal Hamidy memasak sendiri. Dia pun membawa cowek dari rumah dan berbekal banyak ikan asin. “Tapi ikan asinnya tidak digoreng pakai minyak, tapi dibakar pakai lampu teplok,” terangnya. “Wadah makan saya, ya cowek itu,” tambahnya. Bahkan untuk lebih mengirit, dirinya harus makan dengan banyak minum air putih. “Jadi kenyang air, bukan nasi,” selorohnya diiringi tawa.
    Selama tiga tahun di Tebuireng, Muammal belajar kitab Tafsir Jalalain kepada Kyai Adlan Cukir. Bersama Kyai Bisri Sansuri, dirinya mendalami kitab Kifayatul Akhyar, Fathul Mu’in maupun Fathul Wahab. Khusus kitab Alfiah yang mempelajari ilmu Nahwu, dirinya berguru kepada Kyai Tahmid Brebes.
    Sepulang mondok dari Tebuireng, Muammal mendapati majalah Al-Muslimun tergeletak di meja tamu. “Kakak ketiga saya yang langganan, karena dia aktif di GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia) yang merupakan underbow Masyumi,” terangnya. Di majalah tersebut, Muammal melihat ada berita dan gambar tentang lulusan pesantren PERSIS Bangil yang dikirim ke Mesir. “Saya pun langsung tertarik dan sangat ingin pergi ke Mesir,” tukasnya. Waktu itu, pembelajaran di Pesantren PERSIS sudah berjalan setahun. “Pesantren PERSIS hanya membuka penerimaan angkatan santri tiap lima tahun sekali,” ujar suami Zainab itu. Tak patah arang, kakaknya melakukan pendekatan dengan pengurus GPII Bangil. Setelah melihat latar belakang pendidikan Muammal yang jebolan Pesantren Tebuireng dan kemampuannya dalam membaca kitab kuning, Pemimpin Pesantren PERSIS waktu itu, Ustadz Abdul Kadir Hasan pun bersedia menerima Muammal. “Saya langsung masuk kelas 2,” kata ayah empat anak ini.
    Di Pesantren PERSIS, Muammal Hamidy juga bergabung di organisasi P3P (Persatuan Pelajar Pesantren PERSIS) dan pernah menjadi ketuanya. Sebagai Ketua P3P, dirinya pun banyak menjalin komunikasi dan semakin akrab dengan pemimpin pesantren. Seusai merampungkan studinya di Pesantren PERSIS, Muammal langsung ditunjuk untuk mengajar di pesantren putra pada tahun 1963.
    Setahun berselang, Muammal mempersunting gadis asal Bangil. Setelah menikah, dia diperbolehkan mengajar di Pesantren Putri. “Di Pesantren ini, ustadz yang belum menikah dilarang mengajar di pesantren putri,” terangnya. Muammal pun semakin mendapat kepercayaan dari pemimpin pesantren dan diangkat sebagai Sekretaris pesantren.
    Tahun 1968, M. Natsir, tokoh Masyumi yang baru dibebaskan dari penjara, diundang oleh Raja Faishol, penguasa Kerajaan Saudi waktu itu. Dalam pertemuan itu, Raja Faishol bertanya kepada M. Natsir tentang apa keinginannya. “Saat itu Pak Natsir tidak minta kekuasaan atau jabatan. Juga tidak menginginkan kekayaan. Beliau hanya meminta agar ada pelajar Indonesia yang mendapat beasiswa ke Saudi,” ujarnya penuh takjub. Permintaan itu pun dikabulkan. Muammal menjadi salah satu dari delapan pelajar yang mendapat beasiswa dan ditempatkan di Al-Jami’ah Al-Islamiyah Al-Madinah Al-Munawarah (Islamic University Madinah). Muammal lulus tahun 1972 dan berkesempatan melanjutkan studi ke Mesir. “Tapi Pak Natsir tidak memperbolehkan dan saya harus kembali untuk mengajar ngaji di PERSIS,” tuturnya.
    Tahun 1984, M. Natsir menggagas berdirinya Pesantren Tinggi yang mencetak kader ulama fiqh. “Gagasan itu muncul, karena setelah Buya Hamka, Kyai Munawar Kholil Semarang dan Kyai Imam Ghozali Solo meninggal, belum ada penggantinya,” terangnya. “Selain itu, Pak Natsir sangat prihatin karena banyak kyai yang mulai meninggalkan desanya dan masuk ke ranah politik,” tambahnya.
    Maka di tahun itu pula, di Masjid Manarul Islam Bangil, didirikanlah Pesantren Tinggi yang lantas dikenal dengan sebutan Al-Ma’had Aly Lil Fiqh Wa Al-Dakwah. “Dengan menanamkan ruhul ijtihad dan ruhul jihad, diharapkan akan melahirkan kader ulama fiqh yang mumpuni untuk menyelesaikan persoalan di masa depan,” ujarnya. Muammal Hamidy pun ditunjuk menjadi pemimpin (Mudir Ma’had Aly) hingga sekarang. “Saya terima amanat itu sebagai balas jasa,” terangnya.
    Kedekatannya dengan M. Natsir ternyata berbuntut panjang. Sebab sejak keakraban di antara mereka terjalin, Muammal tak jarang dikaitkan dengan kelompok Islam garis keras yang ingin mendirikan negara Islam di Indonesia. Bangil pun lantas dianggap sebagai pusat pemerintah Negara Islam Indonesia. Kakek sepuluh cucu ini beberapa kali sempat ditangkap dan diinterogasi, meski akhirnya dilepaskan sebelum dipenjara akibat dituduh terlibat dengan Kelompok Komando Jihad. “Hanya karena saya menjenguk paman yang juga dituduh terlibat, saya ditangkap. Semua tuduhan yang dialamatkan kepada saya maupun paman adalah tidak benar,” ujarnya. Maka untuk menetralisir anggapan tersebut, oleh KH. M. Misbach – Ketua MUI Jatim saat itu, Muammal Hamidy lantas dimasukkan dalam jajaran mubaligh di Masjid Al-Falah Surabaya di tahun 1985. Sejak saat itulah, Ustadz Muammal mulai mengisi ceramah di instansi pemerintah maupun lembaga perusahaan.
    Meski demikian, hal itu sepertinya belum cukup bagi Muammal untuk melepaskan diri dari frame Islam garis keras yang dialamatkan kepadanya. Sebab suatu ketika, dia bertemu seorang jamaah yang berasal dari perusahaan Freeport Papua. Tertarik dengan ulasan ustadz Muammal, ia pun mengundangnya untuk mengisi pengajian di perusahaan Freeport Papua. Tak disangka, Muammal kena cekal disana. “Saya dilarang berceramah, hanya karena saya dari Bangil,” tukasnya heran. Namun berkat rekomendasi Takmir Masjid Al-Falah Surabaya waktu itu, Mayor Jendral Polisi H. Syamsuri Mertoyoso yang juga seorang Kepala Polda Jatim, Muammal akhirnya diperbolehkan berceramah.
    Tak hanya berhenti sampai di situ dirinya berurusan dengan aparat. Sebab Ustadz Muammal pun sempat dipanggil lagi oleh aparat karena terlalu keras memprotes keberadaan SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah). “Saat itu saya bilang. Anda tahu judi itu haram dan itu berarti neraka. Anda mau masuk neraka,” ujarnya kepada aparat dengan nada tanya. “Saya pun dilepaskan, karena mereka memang tahu itu haram dan tak mau masuk neraka,” seloroh Konsultan Keluarga Sakinah Masjid Al-Falah Surabaya ini. Muammal Hamidy mengaku bersyukur bisa tumbuh dan belajar dalam lintas kelompok agama yang berbeda. Belajar Kemuhammadiyahan di saat kecil, NU di usia remaja, PERSIS saat menginjak dewasa dan Salafi ketika belajar di Madinah.
    Meskipun pada akhirnya alur pemikirannya banyak dipengaruhi oleh pemikiran Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, dirinya sangat menghormati perbedaan pendapat antar madzhab. “Saya melihat, perpecahan di antara umat Islam yang semakin parah ini, hanya karena masalah furu’iyah yang difanatiki,” ujar mantan Pengurus Majelis Tarjih PP Muhammadiyah tahun 2005-2010 ini prihatin. Maka untuk mengurangi ketegangan itu, dia menyarankan agar umat Islam lebih banyak belajar dan mendalami lagi tentang Muqarranah Fiqhiyah (Perbandingan Madzhab). Di Ma’had Aly Bangil, dia pun mengajari para santri kitab Al-Fiqhul Muqarin (Fiqh Perbandingan). Ustadz Muammal juga mengajarkan kitab Maa laa yajuuzu fiihi al-Ikhtilaf Baina al-Muslimin (Sesuatu yang tidak boleh dipertentangkan) yang dikarang oleh Abdul Jalil Isa, seorang pengajar dari Al-Azhar Kairo. “Kita perlu mempelajari sabab ikhtilaf, agar tidak terlalu fanatik,” tukasnya. “Beda ya beda, tapi jangan terlalu dipertentangkan. Perbedaan fiqh masih bisa dikompromikan,” tandas Wakil Ketua PWM Jatim itu. [red/sp]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    1. Untuk mengenang Jasa- jasanya Aula/ ruang rapat PDM Lamongan, atau PWM Jawa Timur, diberi nama : " Aula/ Ruang Muammal Hamidy ".

      BalasHapus

    Item Reviewed: Mengenang KH. Muammal Hamidy, Kyai Belajar Lintas Kelompok Rating: 5 Reviewed By: Muhammad Nasri Dini
    Scroll to Top