• Latest News

    Selasa, 14 April 2015

    Sikap Orang Kafir Terhadap Al-Qur'an



    Tafsir Surat al-Baqarah ayat 6-7

    Allah swt. mengungkapkan keadaan orang-orang kafir dengan menggunakan isti’arah (metafora), yaitu menggambarkan bahwa hati orang-orang kafir bagaikan suatu wadah yang terkunci, maksudnya bahwa hati orang-orang kafir tidak mungkin menerima cahaya iman dan cahaya kebenaran karena telah tertutup.

    ayat 6-7 albaqarah
    Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup dan bagi mereka siksa yang amat berat. (Q.s. al-Baqarah, [2]: 6-7)
    Dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang sama substansinya, yang jumlahnya kurang lebih 50 ayat, antara lain ialah:
    وَمَثَلُ ٱلَّذِينَ ڪَفَرُواْ كَمَثَلِ ٱلَّذِى يَنۡعِقُ بِمَا لَا يَسۡمَعُ إِلَّا دُعَآءً۬ وَنِدَآءً۬‌ۚ صُمُّۢ بُكۡمٌ عُمۡىٌ۬ فَهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ
    Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (Q.s. al-Baqarah [2]: 171)
    وَسَوَآءٌ عَلَيۡہِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ
    Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. (Q.s. Yasin [36]: 10)
    إِنَّ شَرَّ ٱلدَّوَآبِّ عِندَ ٱللَّهِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ
    Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman. (Q.s. al-Anfal [8]: 55)
    وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَڪَذَّبُواْ بِـَٔايَـٰتِنَآ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَحِيمِ
    Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka. (Q.s. al-Maidah [5]: 86)

    Tafsir Mufradat
    اَلْكُفْرُ (al-Kufru), bentuk masdar, berasal dari kata كَفَرَ (kafara), sebagaimana digunakan pada surat al-Baqarah ayat 6, menurut bahasa berarti menutup sesuatu dan merahasiakannya. Sedangkan menurut istilah syar’iyah berarti mengingkari Allah atau ketauhidan-Nya, atau kenikmatan-Nya, atau sifat-sifat-Nya. (Rasyid Ridha, al-Manar, II: 137)
    Dalam al-Qur’an, kata اَلْكُفْرُ dengan berbagai derivasinya diulang sebanyak 526 kali, dengan makna yang berbeda-beda sesuai dengan konteksnya, antara lain berarti:
    Pertama, ingkar terhadap ketauhidan (ke-Esaan) Allah swt., sebagaimana disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 6.
    Kedua, menyangkal atau membantah terhadap penjelasan Allah swt.. seperti disebutkan dalam firman-Nya:
    وَلَمَّا جَآءَهُمۡ كِتَـٰبٌ۬ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِ مُصَدِّقٌ۬ لِّمَا مَعَهُمۡ وَكَانُواْ مِن قَبۡلُ يَسۡتَفۡتِحُونَ عَلَى ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَلَمَّا جَآءَهُم مَّا عَرَفُواْ ڪَفَرُواْ بِهِۦ‌ۚ فَلَعۡنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلۡكَـٰفِرِينَ
    Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. (Q.s. al-Baqarah [2]: 89)
    Ketiga, kufrun-ni’mah; mengingkari kenikmatan yang dikaruniakan Allah swt, seperti diungkapkan dalam firman-Nya:
    فَٱذۡكُرُونِىٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡڪُرُواْ لِى وَلَا تَكۡفُرُونِ
    Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Q.s. al-Baqarah [2]: 152)
    Keempat, bebas (lepas) seperti diungkapkan dalam firman-Nya:
    إِنَّا بُرَءَٲٓؤُاْ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرۡنَا بِكُمۡ
    Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu (Q.s. al-Mumtahanah [60]: 4).
    (Sa’ad, 2000. Ma’ani al-Qur’an: 290).
    اَلْخَتْمُ (al-Khatmu), bentuk masdar, berasal dari kata يَخْتِمُ خَتَمَ (khatama-yakhtimu), yang berarti menutup, menamatkan, mencap, mengunci. Dalam al-Qur’an kata tersebut dengan berbagai bentuknya diulang sebanyak delapan kali dengan arti menutup atau mengunci.
    الْقُلُوْبُ (al-Qulub), bentuk jamak dari kata قَلْب (qalb), yang berarti hati, akal. Dalam al-Qur’an kata tersebut dengan berbagi bentuknya diulang sebanyak 168 kali dengan makna yang berbeda-beda sesuai dengan konteksnya.
    Tafsir Ayat
    Makna ayat secara ijmali (garis besar)
    Setelah Allah menjelaskan sikap orang-orang yang bertaqwa, yang beriman kepada yang gaib dan beriman kepada kitab yang diturunkan kepada Rasulullah saw. dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya, maka pada dua ayat ini (ayat 6 dan 7 surat al-Baqarah) Allah menjelaskan sikap orang-orang kafir. Mereka telah mencapai klimaks dalam kesesatannya, maka tidak ada faedahnya memberikan peringatan kepada mereka, diberi nasehat atau tidak sama saja! Cahaya yang bersinar tidak bermanfaat bagi mereka, karena hati nuraninya telah tertutup, maka mereka tidak dapat lagi membedakan antara cahaya dan kegelapan, antara yang bermanfaat dan yang berbahaya.
    Sudah menjadi sunnah Allah apabila kekafirannya telah mendarah daging, Allah mengunci hatinya, pendengarannya dan penglihatannya. Allah menetapkan bagi mereka adzab yang sangat pedih.
    Penjelasan per-ayat
    إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ
    Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. (Q.s. al-Baqarah [2]: 6)
    Yang dimaksud dengan orang-orang kafir pada ayat tersebut, ialah orang-orang yang kekafirannya telah merasuk dalam hati mereka sehingga tidak siap untuk beriman, karena mereka menentang Nabi saw. dan menentang agama yang dibawanya setelah beliau menyampaikannya kepada mereka disertai dengan dalil-dalil yang kuat, tetapi mereka menentang dan berpaling serta mengejeknya.
    Nasehat dan peringatan sama sekali tidak dapat menembus hati mereka. Perilaku mereka telah menyimpang jauh dari kebenaran, dari agama Allah, sehingga diberi peringatan atau tidak diberi peringatan, sama saja bagi mereka. Tidak bermanfaat bagi mereka cahaya dan sinar, sekalipun memancar dengan kuatnya, karena kedua mata mereka telah tertutup dan kebodohan mereka telah merusak hati nuraninya, sehingga tidak dapat membedakan antara cahaya dan kegelapan, antara yang bermanfaat dan yang berbahaya. (Al-Maraghi, I: 46).
    Pada ayat lainnya Allah menegaskan:
    وَسَوَآءٌ عَلَيۡہِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ
    Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. (Q.s. Yasin [36]: 10)
    Yang demikian itu Allah telah membuat sekat (dinding) di depan dan di belakang mereka, dan telah menutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.
    Orang-orang kafir bagaikan orang tuli, bisu dan buta, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:
    وَمَثَلُ ٱلَّذِينَ ڪَفَرُواْ كَمَثَلِ ٱلَّذِى يَنۡعِقُ بِمَا لَا يَسۡمَعُ إِلَّا دُعَآءً۬ وَنِدَآءً۬‌ۚ صُمُّۢ بُكۡمٌ عُمۡىٌ۬ فَهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ
    Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja, mereka tuli, bisu dan buta, Maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (Q.s. al-Baqarah [2]: 171)
    Bahkan Allah swt. menggambarkan bahwa orang-orang kafir adalah makhluk Allah yang paling buruk, sebagaimana difirmankan:
    إِنَّ شَرَّ ٱلدَّوَآبِّ عِندَ ٱللَّهِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ
    Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman. (Q.s. al-Anfal [8]: 55)
    Sunnah Allah telah berlaku bagi orang-orang kafir, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:
    خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ وَعَلَىٰ سَمۡعِهِمۡ‌ۖ وَعَلَىٰٓ أَبۡصَـٰرِهِمۡ غِشَـٰوَةٌ۬‌ۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٌ۬
    Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup dan bagi mereka siksa yang amat berat. (Q.s. al-Baqarah [2]: 7)
    Pada ayat 7 surat al-Baqarah tersebut Allah swt. menegaskan bahwa Allah mengunci hati mereka, sehingga tidak ada kesempatan bagi mereka kecuali kufur. Allah mengunci pendengaran mereka, sehingga tidak dapat lagi melihat tanda-tanda kekuasaan Allah di alam raya ini dan tidak dapat melihat bahaya yang mengancam mereka, seakan-akan mereka tidak dapat melihat sesuatu pun. Oleh karena itu Allah menetapkan azab bagi mereka di hari akhir nanti, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:
    لَهُمۡ فِى ٱلدُّنۡيَا خِزۡىٌ۬ وَلَهُمۡ فِى ٱلۡأَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ۬
    …..mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat. (Q.s. al-Baqarah [2]: 114)
    Adapun sebab-sebab kekafiran mereka, antara lain ialah:
    1. Takut kehilangan pengaruh dalam masyarakat, maka mereka menentang kebenaran, padahal mereka telah mengetahuinya. Hal ini telah terjadi pada sejumlah orang musyrik dan orang Yahudi pada masa Nabi Muhammad saw, seperti Abu Lahab (‘Abdul-‘Uzza bin Abi Thalib, paman Nabi saw.), Abu Jahal (tewas dalam perang Badar), al-Walid bin al-Mughirah al-Makhzumi (meninggal pada tahun 622 M) dan para pendeta Yahudi.
    2. Sombong dan menolak kebenaran. Orang-orang yang bersikap demikian dapat ditemukan dimana saja dan kapan saja. Apabila datang kepada mereka seorang da’i, mereka selalu bersikap sombong. (al-Maraghi, I: 47)
    Pendapat tersebut berdasarkan firman Allah:
    إِنَّ شَرَّ ٱلدَّوَآبِّ عِندَ ٱللَّهِ ٱلصُّمُّ ٱلۡبُكۡمُ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡقِلُونَ 22 وَلَوۡ عَلِمَ ٱللَّهُ فِيہِمۡ خَيۡرً۬ا لَّأَسۡمَعَهُمۡ‌ۖ وَلَوۡ أَسۡمَعَهُمۡ لَتَوَلَّواْ وَّهُم مُّعۡرِضُونَ 23
    Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). (Q.s. al-Anfal [8]: 22-23)
    Rasyid Ridha, dalam tafsirnya menjelaskan bahwa orang kafir terbagi menjadi beberapa golongan, antara lain ialah:
    1. Orang yang mengetahui kebenaran tetapi ia mengingkarinya, golongan ini jumlahnya tidak banyak dan tidak mempunyai pendukung, seperti golongan kafir yang hidup pada masa Nabi saw. yang terkenal dengan golongan musyrikin dan Yahudi, dan eksistensi mereka hanya sebentar.
    2. Orang yang tidak mengetahui kebenaran, tidak berminat dan tidak menghendakinya serta tidak ingin mengetahuinya. Pikiran mereka selalu kacau, dan apabila datang kepada mereka seorang da’i, mereka meninggalkannya dengan sombong. Sebenarnya hati nurani mereka mengakui kebenaran, tetapi jiwa mereka selalu goncang. Setiap datang kepada mereka cahaya kebenaran, mereka berusaha menutupi mata mereka dengan tangannya. Sebab mereka tidak menggunakan nalar untuk mengetahui kebenaran, dan mereka khawatir jika menggunakan nalar mereka akan kehilangan sesuatu yang disangka kebenaran dan khawatir menjadi ragu-ragu terhadap keyakinan yang mereka terima dari nenek moyang mereka.
    3. Orang yang jiwa dan hati nuraninya sakit, sehingga tidak dapat merasakan kenikmatan kebenaran dan tidak mempunyai rasa cinta kepada kebenaran, bahkan suka membelokkan hatinya kepada kesibukan-kesibukan lain yang dapat melupakan agama dan akal sehat, seperti memburu harta dan kesenangan jasmani serta memenuhi syahwat, sehingga tertutuplah semua jalan, kecuali jalan menuju kerusakan dan kecelakaan. Jika diberi peringatan mereka selalu menjawab: kami tidak membenarkan dan tidak pula mendustakan. Orang kafir dari golongan ini jumlahnya sangat banyak, dapat ditemukan dimana saja terutama dalam suatu umat yang telah dikuasai oleh kebodohan, dan telah menyimpang dari fitrahnya serta tidak peduli terhadap kemuliaan akhlak sehingga seperti binatang ternak yang hanya ingin memenuhi kebutuhan perut dan syahwatnya. (Rasyid Ridha, I:142).
    Mereka sama saja, baik diberi peringatan maupun tidak diberi peringatan, mereka tidak akan beriman. Mereka tidak mungkin beriman, sebab kekafiran mereka sudah mendarah daging dalam diri mereka, sehingga tidak dapat membedakan antara cahaya dan kegelapan, antara yang haq dan yang bathil, antara yang bermanfaat dan berbahaya, sekalipun cahaya dan sinar di pancarkan kepada mereka.
    Terkuncinya akal dan tertutupnya penglihatan bukanlah berarti bahwa mereka diciptakan dalam keadaan demikian sejak awal, melainkan melalui proses. Mula-mula mereka melakukan kejahatan yang kecil, kemudian bertambah sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya melakukan kejahatan yang besar, dan akhirnya tertutuplah hati dan akal mereka.
    Mazhab mu’tazilah mempunyai teori yang terkenal dengan ta’wil. Mereka berpendapat bahwa tertutupnya penglihatan dan terkuncinya akal serta pendengaran mereka adalah di akhirat nanti. Pada ayat tersebut dipergunakan bentuk madhi (kata kerja yang menunjuk waktu lampau) untuk memberikan kepastian bahwa janji Allah tersebut pasti terlaksana, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah:
    وَمَن يَہۡدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلۡمُهۡتَدِ‌ۖ وَمَن يُضۡلِلۡ فَلَن تَجِدَ لَهُمۡ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِهِۦ‌ۖ وَنَحۡشُرُهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ عُمۡيً۬ا وَبُكۡمً۬ا وَصُمًّ۬ا‌ۖ مَّأۡوَٮٰهُمۡ جَهَنَّمُ‌ۖ ڪُلَّمَا خَبَتۡ زِدۡنَـٰهُمۡ سَعِيرً۬
    Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahannam. tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya. (Q.s. al-Isra’ [17]: 97) (al-Qasimi, II: 40)
    Macam-macam orang kafir tersebut tidaklah memberikan peringatan bahwa siksaan bagi mereka berbeda-beda. Dosa kekafiran itu sama, maka siksaanya pun sama juga sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:
    وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَڪَذَّبُواْ بِـَٔايَـٰتِنَآ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَحِيمِ
    Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka. (Q.s. al-Maidah [5]: 86)
    Kesimpulan
    Dari uraian tersebut dapatlah ditarik kesimpulan sebagai berikut:
    1. Orang-orang kafir yang kekafirannya telah melekat atau telah mendarah daging, tidak mungkin beriman, diberi peringatan atau tidak diberi peringatan, sama saja.
    2. Allah swt. mengungkapkan keadaan orang-orang kafir dengan menggunakan isti’arah (metafora), yaitu menggambarkan bahwa hati orang-orang kafir bagaikan suatu wadah yang terkunci, maksudnya bahwa hati orang-orang kafir tidak mungkin menerima cahaya iman dan cahaya kebenaran karena telah tertutup.
    [Tuntunan Islam]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Sikap Orang Kafir Terhadap Al-Qur'an Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top