• Latest News

    Selasa, 21 April 2015

    Surat-surat Kartini: Menuju Transformasi Religius



    Oleh: Dra. Hj. Shoimah Kastolani

    Sebelum bertemu dengan Kyai Umar Shaleh atau yang terkenal Kyai Darat, Kartini pernah mengalami keraguan terhadap rasa keber-agama-annya, terbaca dari suratnya ke Stella 1899, "Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa Islam melarang umatnya mendiskusikan agamanya dengan umat lain, lagi pula aku Islam, karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku? Jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahami? Al-Qur'an terlalu suci untuk diterjemahkan ke dalam bahasa apapun agar dapat dipahami setiap muslim. Di sini tidak ada yang dapat bahasa Arab. Di sini orang belajar al-Qur'an tetapi tidak memahami yang dibaca. Aku pikir adalah gila orang diajar membaca tetapi tidak diajar maknanya. Itu sama saja seperti aku disuruh menghafal bahasa Inggris tapi tidak diberitahu artinya. Aku pikir tidak jadi orang shalihpun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati, begitu kan Stella?"
    Demikianpun surat ke Ny. Abendanon, "Dan pada waktu itu saya tidak mau lagi melakukan apa-apa yang tidak perlu dan tidak ada manfaatnya. Aku tidak mau lagi belajar al-Qur'an, belajar menghafal petumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya. Jangan-jangan guruku pun tidak tahu artinya. Kitab ini terlalu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya."
    Menurut penuturan Nyai Fadhilah, cucu Kyai Darat, keadaan Kartini berubah, setelah seijin Ramandanya mengikuti pengajian di pendapa Kabupaten. Mata Kartini tidak terlepas dari Kyai Umar Shaleh/Kyai Darat yang sedang mengupas makna surat al-Fatehah. Setelah usai minta ijin kepada Ramandanya untuk menemui Kyai Darat. "Kyai, apa hukumnya orang yang menyembunyikan ilmu? Selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat al-Fatehah. Isinya begitu indah dan menggetarkan sanubari."
    "Kyai, bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah, namun aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras menerjamahkan al-Qur'an ke dalam bahasa Jawa? Bukankah al-Qur'an himbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?" Begitu banyaknya ungkapan Kartini membuat Kyai Darat tidak dapat menjawab, namun dia akan berbuat sesuatu.
    Sejak itu Kartini menjadi murid Kyai Darat, dan Kyai Darat menerjemahkan al-Qur'an ke dalam bahasa Jawa. Sayang baru mencapai 13 juz, Kyai Darat wafat. Dan terjemahan itu diberi nama "Kitab Suci Faidur Rochman". Sesuai wasiatnya kitab itu dipersembahkan kepada Kartini saat menikah. Komentar Kartini, "Selama ini al-Fatehah gelap bagi saya. Saya tidak mengerti sedikitpun maknanya. Hari ini menjadi terang benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerjemahkan ke dalam bahasa Jawa yang saya fahami." Mungkin jika dimaknai ucapan Kartini ini "yuhrijuhum min adzulumati ila nnur" (Q.S. al-Baqarah 257) yang artinya "Habis Gelap Terbitlah Terang".
    Sejak itu surat Kartini sudah nuansa tauhid. Dapat dibaca surat kepada Van Kohln tahun 1902, "Saya bertekad dan berupaya akan memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah, sampai kami mendapat rahmat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama yang disukai."
    Surat kepada Ny. Abendanon, "Yakinilah nyonya, kami akan tetap memeluk agama kami yang sekarang ini. Serta dengan nyonya kami berharap dengan senangnya, moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang agama Islam disukai... Allahu Akbar! Kita katakan sebagai orang Islam dan bersama kita juga semua insan yang percaya kepada satu Allah, Gusti Allah pencipta alam semesta."
    Surat kepada Tuan Abendanon Oktober 902, "Dan saya menjawab tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah, dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentulah akan memuja kepada manusia bukan kepada Allah". (Penulis: kira-kira jawaban Kartini menerima ajakan apa ya? Silahkan pembaca menebak dan menjawabnya)
    Kepada Tuan dan Nyonya Abendanon tahun 1903, "Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu 'hamba Allah'.
    Adakah surat-surat Kartini setelah bertemu dengan Kyai Darat akan terus disembunyikan? Apakah Kartini memperjuangkan emansipasi? Lihat surat Kartini kepada Prof. Anton di Belanda, "Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali kepada kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya. Kewajiban yang diserahkan alam sendiri kepada tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. (Penulis: mungkinkah Kartini memahami "al-um madrasatu al-ula?”)
    Sayang Kartini wafat masih muda, berusia 25 tahun (17 September 1904), 4 hari setelah melahirkan bayinya yang diberi nama RM Susalit.
    Sebenarnya Kartini terlahir bukan sebagai perancang mode, tapi mengapa diperingati dengan bersanggul dan berkain kebaya? Mengapa tidak mengambil sisi yang lain yang dapat dinternalisasikan, seperti kegemaran baca, tulis, diskusi, mencari ilmu dan semangatnya serta tekadnya bekerja untuk mengangkat citra Islam, agar Islam disuka... Masih inginkah bersanggul? Masih inginkah berkain kebaya? Selamat mengambil semangat Kartini.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Surat-surat Kartini: Menuju Transformasi Religius Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top