• Latest News

    Selasa, 26 Mei 2015

    “Islam Nusantara” Bersifat Jawanisasi


    Oleh: Fadh Ahmad Arifan
    Alumni S2 Studi Islam di Sekolah Pascasarjana UIN Malang

    A.    Pendahuluan
    Tempo hari saya melihat tayangan ulang kontes Muslimah di salah satu TV swasta. Mirip kontes “Muslimah beauty” yang digelar Detik.com. Kebetulan pas giliran Yenny Wahid yang mengajukan pertanyaan kepada seorang kontestan. Inti pertanyaannya mengenai apa itu Islam nusantara. Yang ditanya tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan gamblang.
    Baru baru ini muncul polemik di Media sosial tentang tilawah al-Quran dengan langgam Jawa. Peristiwa yang terjadi pada peringatan Isra’miraj di Istana Negara ini menuai Pro dan kontra. Namun sang penggagasnya yaitu Menteri Agama, Lukman Hakim Saefuddin mengatakan "Tujuan pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa adalah menjaga dan memelihara tradisi Nusantara dalam menyebarluaskan ajaran Islam di tanah air," kata Lukman melalui akun Twitter resminya, Minggu (17 Mei 2015). Harus kita akui kalangan NU cukup militan dalam urusan menjaga Tradisi Islam Nusantara. Islam Nusantara sudah menjadi “trademark” tersendiri bagi mereka. Atas dasar inilah, artikel ini mencoba mengulas konsep Islam Nusantara. Bagaimana maksudnya, merujuk kepada siapa dan apa tujuan akhirnya.

    B.    Pembahasan
    “Islam Nusantara itu apa? Kalau masih nggak jelas konsepnya kok dikoarkan ke publik? Publik butuh jawaban, bukan diskusi, terkait dengan aksi ISIS. Islam Nusantara yang belum jelas ini justru bisa membuat orang-orang yang bingung berpaling ke radikalisme, karena bisa jadi radikalisme lebih jelas konsepnya.” – Begitulah kata mas Binhad nurohmat dalam akun facebooknya. Saya baru berteman dengan Mas Binhad. Beliau ini pernah kuliah di STF Driyarkara. Sebagai Muslim yang dibesarkan dalam kultur NU, anggaplah demikian. Tetapi beliau ini kritis terhadap wacana-wacana keislaman. Tidak taklid buta seperti yang lain.
    Istilah Islam nusantara ini sudah ada dimasa lampau. Istilah ini sudah diadopsi menjadi nama Kampus swasta di Jawa Barat, yaitu Universitas Islam Nusantara (UNINUS). Istilah ini juga diadopsi menjadi nama Jurnal di STAINU, Jakarta.  Jurnal ini bentuk sarana komunikasi dan informasi dalam dalam rangka mengembangkan kajian Islam Nusantara di Indonesia. Puluhan kali digelar dialog, workshop dan seminar untuk membicarakan konsep ini.
    Dalam catatan saya, pada 16 Mei 2015 digelar seminar Islam Nusantara bersama para guru yang tergabung di Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) tingkat MAN Kabupaten Jombang, Jawa timur. Digelarnya acara ini didasarkan atas kesadaran memelihara sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Karena, menurutnya, kini telah berkembang paham Islam garis keras yang cendrung memakai media paksaan dan kekerasan sebagai jalan dakwahnya. Di samping itu, diharapkan para guru di MGMP SKI tersebut lebih berhati-hati dan kritis dalam merumuskan materi-materi SKI, sehingga semua materi yang akan dibukukan dan diajarkan pada siswanya bersih dari ajaran-ajaran yang berbau radikal atau garis keras itu. (islamnusantara.com, 14 Mei 2015)
    Semenjak KH. Said Aqil siraj terpilih menjadi Ketum PBNU, Istilah ini gencar dipromosikan ke tengah umat. "Islam Nusantara adalah gabungan nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, dan adat istiadat di Tanah Air. Ini bukan barang baru di Indonesia," kata Ketum PBNU Prof KH Said Aqil Siraj. Sebagaimana diberitakan Republika, beliau mengatakan,  konsep Islam Nusantara menyinergikan ajaran Islam dengan adat istiadat lokal yang banyak tersebar di wilayah Indonesia (Republika online, 10 Maret 2015).
    Seringkali konsep Islam nusantara dinisbatkan kepada Walisongo. Konon menurut cerita sejarah yang diyakini kalangan NU termasuk dalam hal ini ayah saya, para wali tersebut melakukan Islamisasi dengan pendekatan budaya. Tradisi Slametan, Kupatan dan sejenisnya merupakan kreasi para Wali khususnya Sunan berdarah jawa seperti Sunan Kalijaga.
    Terkait hal itu, saya berpendapat tradisi ini sifatnya temporal, bukan sakral. Akan tetapi hingga kini masih jadi hal yang sakral. Seakan-akan wajib! Bahasa vulgarnya, menjadi Rukun Islam ke 6. Ambil contoh, bila ada sebuah keluarga di kampung atau pedesaan tidak melestarikan tradisi Slametan, kupatan dan sejenisnya, akan mendapat 2 resiko. Pertama, jadi bahan pergunjingan tetangga bahkan bisa pula dikucilkan. Kedua, dicap sebagai pengikut Wahabi.
    Satu lagi, wilayah Nusantara ini luas. Bukan hanya bicara Jawa saja, masih ada Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali, Irian Jaya dan lain-lain. Baik saya maupun pembaca akan paham bahwa konsep Islam nusantara yang diusung kalangan NU sifatnya Jawa sentris. Di Jawa itu Islam menyesuaikan dengan budaya lokal. Apakah jika elit-elit NU mempromosikan Islam Nusantara ke pulau Sumatera akan laku? Sedangkan disatu sisi, secara garis besar Sumatera itu Adat dan budaya menyesuaikan dengan Islam (Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah). Belum lagi di Sumatera sudah menjadi basisnya Muslim Modernis seperti Muhammadiyah. Bahkan di daerah tertentu kepala daerahnya dari Partai dakwah yang dianggap beberapa elit NU sebagai partainya wahabi.
    Sebetulnya siapa yang mensponsori konsep “Islam nusantara”? Apakah murni dari NU ataukah ditungggangi pihak Asing. Sebut saja Ford foundation, The Asia Foundation, USAID dan sejenisnya. Sudah lama diketahui, wacana-wacana nyeleneh dan keblinger dibiayai oleh Asing. Mulai dari Proyek Pluralisme agama, Multikulturalisme, Gender, hingga Deradikalisasi teroris. Saya ingin kalangan yang mengusung konsep ini transparan kepada umat.
    Selanjutnya saya penasaran dengan tujuan akhir dari konsep “Islam nusantara”. Ingin memperkuat eksistensi agama Allah kah? Membidik kalangan yang dicap Radikal? Ataukah memperkuat ladang kehidupan para elit NU dari serbuan purifikasi kalangan Muhammadiyah, Persis, Hidayatullah dan kawan-kawan. Bukankah tradisi-tradisi Slametan, Tingkepan, Maulid dan sejenisnya juga menyangkut hajat hidup elit-elit NU. Apa jadinya bila tradisi seperti itu musnah?

    C.    Kesimpulan
    Jika ditarik sebuah kesimpulan, Pertama, Konsep Islam Nusantara membuat agama Islam mengalami “jawanisasi”. Harusnya berdakwah itu melakukan “Islamisasi Jawa” dengan menghilangkan hal-hal yang mengandung bid’ah, khurafat dan Tahayul. Hal serupa terjadi di Eropa. Di sana ada kebijakan Eropanisasi Islam. Alasannya agar Islam tak dipandang sebagai ancaman. Contoh praktek Eropanisasi Islam yakni meninggalkan cadar (Republika online, 7 juni 2011).
    Kedua, konsep Islam Nusantara hanya menghasilkan praktek beragama yang sinkretik. Konsep Islam nusantara mengingatkan saya akan teori Clifford Geertz: “Abangan, Santri, dan Priyayi”. Teori ini benar-benar menggambarkan realita masyarakat Jawa yang telah mengalami sinkretisasi dengan nilai-nilai budaya dan tradisi lokal setempat.
    Ketiga, Saya menyarankan daripada sibuk menggarap Proyek Islam nusantara, mendingan elit-elit NU menggarap entrepreneurship. Karena sebentar lagi akan bergulir MEA 2015. Saya tidak yakin apakah pesantren sebagai basis utama NU siap menghadapi serbuan tenaga kerja dan produk-produk Asing. Wallahu’allam bishowwab
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: “Islam Nusantara” Bersifat Jawanisasi Rating: 5 Reviewed By: Muhammad Nasri Dini
    Scroll to Top