• Latest News

    Senin, 18 Mei 2015

    Memvitalkan Kembali Fungsi Masjid




    (Sambungan dari artikel sebelumnya)

    Oleh: Awaluddin Mufti Efendi, M.Si
    Ketua Bidang Kader PC Pemuda Muhammadiyah Blimbing
    Kepala SMA Muhammadiyah PonPes Imam Syuhodo Sukoharjo

    Bila merujuk kembali ke sejarah masa lampau, akan kita temukan bahwa masjid menjadi pilar peradaban Islam. Bahkan salah satu kekuatan penyebaran Islam terletak pada masjid. Namun fungsi masjid dalam penyebaran Islam tidak hanya sekedar bangunannya saja namun diiringi dengan aktivitas pendidikan yang ada di dalamnya, sehingga antara masjid dengan pendidikan seiring dan sejalan dalam penyebaran Islam. Hal ini menunjukan bahwa masjid tidak hanya difungsikan sebagai tempat untuk beribadah namun juga sebagai pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan sehingga diharapkan mampu melahirkan para ulama, ilmuan, mujtahid dan mujaddid bagi agama islam ini.
    Hubungan sejarah pendidikan masyarakat Islam dengan masjid merupakan hubungan yang erat. Sebab masjid merupakan markas peradaban Islam,  salah satu tempat yang paling penting dalam pendidikan Islam. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjadikan Masjid Nabawi di Madinah sebagai tempat untuk pendidikan,  sarana berkumpul bersama para sahabat dan menyampaikan wahyu al Qur'an. Masjid juga digunakan sebagai sarana untuk melaksanakan risalahnya sampai zaman Khulafaur Rasyidun,  Bani Umayah,  Bani Abbasiyah dan sesudahnya.
    Oleh karenanya, semua masjid raya dilengkapi dengan sebuah perpustakaan besar yang menjadi referensi dan tujuan utama para penuntut ilmu dari segala penjuru negeri. Para ulama dan pelajar dari perpustakan-perpustakaan ini sering mengadakan pertemuan untuk mendiskusikan dan memperdebatkan berbagai isu dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Bahkan masjid di Damaskus menjadi pusat yang penting peradaban dan halaqah-halaqah ilmiah. di masjid Baghdad terdapat lebih dari 40 halaqah yang kemudian diringkas menjadi satu halaqah Imam Syafi'i.
    Sebagaimana yang juga telah dilakukan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, ketika menata kehidupan masyarakat Madinah untuk kali pertama yang dibangun bukan perkantoran, istana atau rumah pribadi, namun beliau memilih untuk mendirikan masjid. Beliau menjadikan masjid sebagai markas besar, kantor pemerintahan, balai pertemuan, màjelis taklim, dll. Bahkan rumah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pun berada disamping masjid. Masjid disamping sebagai tempat shalat juga sebagai tempat berkumpul untuk mendapatkan pelajaran dan pesan-pesan Islam juga sebagai tempat pertemuan antarberbagai kabilah yang saling bertikai karena ambisi jahiliyah dan perang-perangnya.
    Masjid juga sebagai basis operasional segala urusan dan tempat memulainya pergerakan dan juga majelis parlemen untuk berbagai musyawarah maupun implementasinya. Disamping itu semua, masjid juga menjadi tempat tinggal orang miskin yang mencari perlindungan. Bahkan ketika wahyu sholat hendak disampaikan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau juga diisrakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha. begitulah pemanfaatan masjid pada masa dahulu sesuai dengan petunjuk dari sang Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.
    Masjid juga merepresentasikan kesenian tingkat tinggi pada masa awal islam. Karena sejauh mengenai orang Arab muslim, kesenian menemukan ekspresinya yang tertinggi dalam arsitektur bangunan tempat ibadah. Para arsitek muslim telah mengembangkan struktur bangunan yang sederhana dan anggun atas dasar pola-pola sebelumnya tapi benar-benar melukiskan jiwa agama Islam. Jadi kita menemukan dalam masjid representasi sejarah perkembangan peradaban islam yang menunjukan hubungan antar-ras dan hubungan internasionalnya.
    Sebagai sebuah ilustrasi, pada seni kubah yang merupakan fenomena penting dari perkembangan peradaban Islam dalam seni bangunan yang berkembang pesat dan bermacam-macam, kaum muslimin telah mencapai kemajuan dalam membangun kubah-kubah besar. Mereka berhasil membuat hitungan-hitungan yang rumit berdasarkan atas analisis pembangunan kulit (shells) dan tentunya membutuhkan ilmu Matematika yang rumit. Kubah-kubah seperti, kubah Ash Shakhrah di Baitul Maqdis dan kubah masjid Astanah, Kairo dan Andalusia serta masjid Sultan Ahmad di Istambul, Kubah masjid jami’ Qairawan, Az Zaitunah di Tunis. Kubah-kubah tersebut memancarkan pemandangan yang indah terhadap masjid-masjid.
    Bila melihat fakta sejarah terkait masjid, ada sebuah masjid yang sangat terkenal di Cordova  yaitu masjid Jami’ Cordova yang dalam istilah Spanyol dikenal dengan Mezquita. Masjid ini, menurut penulis kitab “Ar Raudh Al Mi’thar”, adalah masjid terbesar di dunia dari segi keluasan, teknik yang canggih, bentuk yang indah dan bangunan yang sempurna. Namun kini tinggalah sebuah sejarah, masjid tersebut berubah menjadi gereja Katerdal, meskipun bangunanya tetap, namun menara yang menjulang tinggi berubah menjadi tempat lonceng kebaktian gereja untuk menyembunyikan karakter Islamnya. Di bagian dalam bangunan dihiasi ukiran-ukiran bercorak Kristen dan sepanjang empat penjuru masjid dipasang altar yang diatasnya berdiri beberapa salib dan patung orang “suci” menurut ajaran Kristiani.
    Sebagai ulasan terakhir, bahwa sejarah telah menjelaskan bahwa masjid adalah bagian terpenting dalam peradaban Islam dengan semua peranya yang ada. Pada masjid terpancar karakteristik peradaban Islam yang universal, berlandaskan tauhid, adil dan moderat serta sentuhan akhlak yang mulia. Mekipun peradaban Islam telah mengalami pasang surut, namun selama masjid masih menjadi dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan serta menjadi karakteristik khusus bagi kehidupan manusia, lambat laun namun pasti peradaban Islam akan kembali menampakan kegemilanganya.
    Peristiwa yang terjadi di alam semesta ini merupakan sunatullah yang akan selalu dipergilirkan diantara manusia. Kesabaran, keteguhan dan pengorbanan untuk kebangkitan selalu dibutuhkan untuk mewujudkanya. Beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sangat yakin akan pertolongan-Nya, persaudaraan, persatuan, kekompakan dan menghindari perpecahan, adil antara penguasa dan rakyat, sebarkanlah ilmu ditengah-tengah masyarakat dan persiapkan diri dan memahami hukum sebab akibat adalah sebagaian kecil dari faktor kegemilangan peradaban Islam. Semoga masjid-masjid di negara muslim mampu melahirkan para mujaddid yang mujtahid sekaligus mujahid untuk kembali menggemilangkan peradaban Islam. Dan akhirnya, janji Allah Subhanahu wa Ta’ala akan selalu ditepati tentang datangnya seorang mujaddid umat ini di setiap penghujung seratus tahun setelah keruntuhan peradaban Islam di Turki.   

    Referensi
    Ahmad Mansur Suryanegara. 2010. Api Sejarah. Bandung: Salamadani Pustaka Semesta
    Philip K Hitti.  2002. History of the Arabs. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta
    Prof. Dr. Raghib As Sirjani. 2009. Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia. Jakarta: Pustaka al Kautsar
    Prof. Dr. Ahmad Fuad Basya. 2015. Sumbangan Keilmuan Islam pada Dunia. Jakarta: Pustaka al Kautsar
    Syeikh Munir Muhammad al Ghadban. 1992. Manhaj Haroki Strategi Pergerakan dan Perjuangan Politik dalam Siroh Nabawiyah. Jakarta: Robbani Press
    Tata Septayuda Purnama. 2011. Khazanah Peradaban Islam. Solo: Tinta Medina
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Memvitalkan Kembali Fungsi Masjid Rating: 5 Reviewed By: Anonim
    Scroll to Top