• Latest News

    Selasa, 19 Mei 2015

    Perempuan dan Airmata




    Airmata adalah salah satu karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala yang dilimpahkan kepada setiap makhluk hidup yang diciptakan-NYA. Ia merupakan benda yang tersembunyi di dalam tubuh manusia. Ia bisa keluar setiap saat ketika hati terluka, ketika hati bersedih, ketika hati tersentuh oleh keadaan atau lain sebagainya. Namun  tak jarang airmata bisa keluar karena ekspresi kebahagiaan. Menurut ilmiah, airmata adalah kelenjar yang diproduksi oleh proses lakrimasi untuk membersihkan dan melumasi mata.
    Seringkali airmata diidentikkan dengan kelemahan, dan kelemahan sering diidentikkan dengan perempuan. Memang Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan seorang perempuan dengan perasaan yang lebih lembut. Namun ini tidak berarti bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah. Kita bisa lihat bahwa di balik kesuksesan seorang pemimpin, ada seorang ibu yang notabene adalah perempuan yang melahirkan dan merawatnya. Di balik seorang suami yang sukses, ada seorang istri yang notabene adalah perempuan yang mendampingi dan memotivasi setiap langkah suami. Dari rahim seorang perempuan lah akan lahir generasi generasi yang akan melanjutkan perjuangan kedua orangtuanya di dunia. Bahkan, jika anak yang dilahirkan adalah seorang anak shalih, maka ia akan menjadi amal jariyah bagi kedua orangtuanya, meskipun kedua orangtuanya telah tiada.
    Seorang perempuan meskipun lemah lembut dalam hal perasaan, tapi ia telah dilatih oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk kuat. Sejak beranjak dewasa, perempuan sudah ditempa oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui rasa sakit ketika haid. Banyak di antara perempuan yang dalam masa haidnya mengalami sakit yang luar biasa. Rasa sakit yang kelak akan menguatkan rahim perempuan untuk kuat ketika mengandung calon bayi nantinya. Kemudian ketika berumahtangga, seorang perempuan menjadi istri yang memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, menjadi istri yang harus mampu melayani semua kebutuhan suami. Perjuangan perempuan tak berhenti sampai disini, jika Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengizinkan janin di rahim seorang istri, maka seorang perempuan pun masih harus berjuang, berjuang mempertahankan dan menjaga calon buah hati nya agar tetap aman berada di rahim, tempat yang kata Allah Subhanahu wa Ta'ala paling kokoh di dunia. Selama 9 bulan 10 hari membawa calon bayi kemanapun pergi, tak sedikitpun ditinggalkan. Tak lelah meski fisik mulai melemah karena berat badan yang melonjak seiring bertambahnya umur kandungan dalam rahimnya.
    Setelah sekian bulan mengandung, saat melahirkan pun butuh perjuangan yang tak kalah hebat nya, bahkan nyawapun menjadi taruhannya. Melalui proses yang panjang dan mungkin melelahkan. Namun ketika seorang bayi lahir, rasa lelah dan sakit berganti dengan kebahagiaan. Betapa tidak bahagia sebagai seorang perempuan, perempuan menjadi perantara akan lahirnya seorang bayi mungil ciptaan-NYA. Menjadi IBU, kini begitulah julukannya. Perempuan yang telah berhasil melahirkan anak, kemudian wajib menjadi madrasah pertama bagi anaknya tersebut. Mengajarinya ilmu-ilmu agama yang kelak akan menjadi bekal si anak ketika dewasa, menanamkan pondasi yang kuat pada anak agar anak mampu membentengi diri dalam kehidupan dunia yang sekarang semakin deras arus ancamannya.
    Sebuah proses kehidupan yang begitu berarti. Dengan serentetan episode kehidupan itu, perempuan menjadi makhluk yang kuat. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengajarkannya dengan pelajaran yang sangat indah dan sempurna.
    Lalu, bagaimana perempuan bisa diidentikkan dengan kelemahan dan airmata? Setelah semua perjalanan hidupnya yang begitu luar biasa? Perempuan dan airmata. Dan dengan itulah kekuatannya.
    Semoga kita semua, mampu menjadi perempuan-perempuan yang kuat dan hebat dalam segala hal di mata Allah Subhanahu wa Ta'ala. Meskipun dalam perjalanannya harus mengalami jatuh bangun dalam menjalani kehidupan. Wallahu a'lam.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Perempuan dan Airmata Rating: 5 Reviewed By: bias nuansa jingga
    Scroll to Top