• Latest News

    Kamis, 21 Mei 2015

    Saya Akan Terus Berjuang Walau Sendiri!


    Presiden BEM UNS 2005

    Kedatangan teman-teman mahasiswa ke istana negara yang diawali dengan santap malam lalu melakukan press conference mengingatkanku 10 tahun yang lalu saat saya menjadi presiden BEM UNS Solo. Begini kisahnya:
    Waktu itu BEM Seluruh Indonesia menolak naiknya harga BBM yang memang direncanakan oleh rezim saat itu yakni rezim SBY. Seluruh Kampus melakukan aksinya di kampus masing-masing sebagai bagian dari gerakan penolakan. Di UNS Solo saya mengirimkan sms kepada Rektor UNS yang waktu itu dijabat oleh Prof. DR. Syamsulhadi, Spkj isi smsnya: "sudah saatnya sikap Mahasiswa sama dengan sikap pimpinan UNS untuk menolak kenaikan harga bbm!" Tak terduga, sms saya dibalas oleh beliau dengan sungguh elegan: "mas Ikhlas saya tunggu di rumah saya untuk diskusikan hal ini dilihat dalam perspektif data dan kajian ilmiah, mas Ikhlas bisa bawa kabinetnya dan saya akan mengundang juga beberapa doktor di bidang ekonomi, sosiologi politik dan komunikasi."
    Dengan antusias saya jawab sms pak rektor tersebut dengan: "baik pak, saya dan kementrian luar negeri saya akan ke rumah nanti malam..."
    Malamnya, dengan menunggangi mobil katana milik seorang aktivis di Fakultas Kedokteran UNS pula yang teryata kelak menjadi istri saya, saya dengan Menteri Luar Negeri, dan dua staf tiba di rumah Pak Rektor dan ternyata beliau sudah siap untuk diskusi dengan di dampingi oleh 3 doktor di UNS.... Kami salaman dan terlebih dahulu makan sajian sate ayam dan soto yang telah disajikan...
    Tak berselang lama, pak rektor membuka diskusi yang sangat egaliter ini tentang kajian perlukah BBM dinaikkan atau tidak, lalu pak rektor mempersilahkan pakar ekonomi untuk menyampaikan pandangannya dengan beragam data dan kajian khas seorang pakar, lalu dilanjutkan pakar sosiologi dan politik untuk menyampaikannya... Kesimpulannya adalah bahwa di tengah naiknya harga minyak global di luar asumsi dalam postur APBN maka menaikkan harga BBM adalah keniscayaan yang harus diambil oleh pemerintahan waktu itu. Setelah itu Pak Rektor menyampaikan dan mempersilahkan pandangan dari kami.
    Waktu itu, kami memang sudah mempersiapkan data dan bahan kajian kami serta beberapa dokumen yang kami dapatkan dari kunjungan kami ke DPR RI waktu itu. Kami menyampaikan pandangan mulai dari posisi pasal 33 UUD yang menjadi pedoman bernegara, dengan terlebih dahulu kami nyatakan bahwa BBM ini adalah termasuk domain Publik Good bukan Consumer Good, karena domain publik good maka amanat UUD dasar adalah subsidi menjadi keniscayaan persis saat pendidikan diletakkan juga sebagai tanggung jawab negara. Kami katakan bahwa pencabutan subsidi BBM adalah sebuah pengkhianatan atas konstitusi dasar kita dan jika subsidi dicabut maka seyogyanya adalah revisi dulu konstitusi dasar kita! Karena sejak awal pendiri republik kita menginginkan demokrasi ekonomi Pancasila yang artinya meletakkan prinsip ekonomi didasarkan pada kemaslahatan rakyat dan negara memiliki tanggung jawab terhadap kekayaan negara yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak, dan BBM adalah salah satunya, jadi subsidi BBM adalah sesungguhnya mandat dari UUD dasar kita, republik ini tidak menganut liberalisasi ekonomi yang meletakkan total pada mekasisme pasar! Ini dasar kami menolak kenaikkan BBM pak!
    Lalu, saat pemerintahaan kita dikatakan kehabisan dana untuk subsidi BBM dan lebih baik dana subsidi di alihkan ke infrastruktur juga hal ini sebagai kebohongan publik! Kami katakan bahwa postur APBN kita tidaklah pernah defisit karena daya serap APBN waktu itu juga tak terlalu optimal, dan juga dalam pembiayaan insfrastruktur selalu saja menggunakan swasta. Kami menyampaikam beberap data waktu... Dan kami sajikan semuanya....
    Diskusi ini cukup dinamis, tapi dengan sangat egaliter itu yang kami rasakan... Dan tiba akhirnya pak rektor menyampaikam sebuah kebijakannya: "besok kita jumpa pers di ruangan rektor dengan satu keputusan, kenaikan bbm tidak perlu, dan mas Ikhlas buatkan releasnya dan kita jumpa pers besok, baik ini sudah malam dan kita akhiri diskusi malam ini.."
    Sungguh saya terharu, inilah pemimpin sejati begitu kata hati saya...
    Besoknya kami mengadakan jumpa pers, dan menteri luar negeri saya, rektor dan disaksikan banyak wartwan... Dan sejarah tertulis rektor dan mahasiswa memiliki sikap yang sama menolak kenaikkan harga BBM!
    Esoknya kami mengadakam aksi di depan boulevard UNS denagn tuntutan menolak kenaikan harga BBM dan di uar dugaan ternyata aksi ini juga diikuti oleh 4 guru besar UNS mereka jalan kaki dari gedung pasca sarjana UNS menuju boulevard UNS untuk bersatu dengan aksi mahasiswa, 4 guru besar itu sambil membawa spanduk bernada penolakan kenaikan BBM, dan saya lagi lagi dibuat terharu dengan hadirnya beliau... Dan ini semakin menguatkan bahwa kenaikkan harga BBM adalah harus dibatalkan! Aksi itu adalah aksi untuk membesarkan tensi penolakan sebelum kami bertolak ke Jakarta untuk bergabung dengan mahasiswa seluruh indonesia yang akan aksi di depan istana....
    Malam sebelum berangkat, saya di telpon dari seorang polisi, dan beliau berpesan, "Mas Ikhlas hati-hati ke Jakarta, saya dukung BEM UNS menolak kenaikkan harga BBM, itu perjuangan untuk rakyat, walaupun saya polisi dan aparat negara yang tidak boleh demo seperti mas Ikhlas, tapi saya adalah rakyat juga yang akhirnya saat BBM naik maka sembako naik semua, saya punya keluarga saya harus kasi makan apa mas? Karenanya saya dukung mas Ikhlas, lanjutkan perjuangan mas!"
    Kali ini tak terasa air mata saya menetes mendengar cerita tulus dari aparat negera itu, dan saya katakan, "terimaksih pak...doakan perjuangan ini berhasil..."
    Esoknya saya bersama ribuan mahasiswa mengepung istana negara, menolak kenaikan harga BBM, silih berganti kami orasi....hawa panas tak menjadi halangan, ini tentang perjuangan...dan akhirnya kami pun mendekat ke istana negara. Kami katakan ingin ketemu presiden SBY secara langsung untuk menyampaikan tuntutan ini, dan tak ada kata kompromi kenaikan BBM harus dibatalkan!
    Kami bernegosiasi dengan apaarat untuk masuk ke istana negara...dan akhirnya kami diizinkan masuk ke istana negara tapi hanya 5 orang...akhirnya kami berembug...dan kami putuskan presiden BEM UNS, UI, UGM, UNPAD, dan UNJ yang mewakili Mahasiswa... tapi di luar dugaan aparat tidak mengizinkan media juga untuk meliput... lalu akhirnya kami pun menolak jika media tidak dilibatkan, presiden BEM UI waktu itu menyatakan media harus ada agar rakyat tahu bahwa kami mahasiswa punya sikap dan sikap ini harus dijawab oleh SBY secara langsung. Akhirnya setelah negosiasi, beberapa media nasional diizinkan untuk masuk.
    Dengan berbagai penjagaan dan prosuder kami lewati...tibalah di pintu dalam istana...memang salah satu presiden BEM ada yang tidak memakai sepatu...jadi aparat pun tidak boleh mengizinkan untuk masuk...akhirnya kami menyatakan lagi, satu presiden tidak masuk semua tidak akan masuk! Bersamaaan dengan itu, saya melihat ada perempuan yang memakai rok agak pendek dan menurutku seksi dan hanya sandal berhack tinggi, lalu secara refleks saya menyatakan, "oh standar moral istana seperti itu ya pak," sambil menunjuk perempuan itu...
    Akhirnya kami diizinkan masuk dan tibalah kami di salah satu ruangan...dan kami di suruh menunggu...
    Tiba tiba jubir SBY Andi Malarangeng dengan akrabnya mendatangi kami sambil mengajak salaman dan berucap halo bos bagaimana kabar? Kami yang sedang berdiskusi kecil, cukup kaget...dan akhirnya kami terima salamanya...dan akhirnya sang jubir menyatakan bahwa bapak SBY tidak bisa menemui..tanpa panjang panjang lebar Presiden BEM UI langsung memotong bahwa kedatangan presiden BEM seluruh Indonesia ini hanya mau menemui presiden SBY bukan dengan anda... kalo memang tidak ada kami langsung pamit, kami mewakili rakyat menyampaikan penolakan kenaikan bbm...dan kami ingin langsung mendengar tanggapan langsung dari SBY bukan dari pikiran sang jubir!
    Setelah itu, kami langsung keluar dari ruangan dan nampaknya sang jubir agak terkejut dengan respon kami dari para presiden BEM....
    Cerita ini aku ceritakan ulang saat aku lihat para perwakilan bem di undang ke istana negara sebelum aksi besar besaran berlangsung yang katanya 20 Mei ini tanpa ada liputan media saat pertemuan, dan mengadakan jumpa pers layaknya seorang pejabat saja...dan yang lebih ironis sikap BEM berubah total.... ada apa dengan gerakan mahasiswa saat ini?
    Kami datang ke istana dalam satu kesatuan aksi massa....dan kami harus katakan hitam jika itu adalah hitam, kami katakan putih jika itu memang putih, itulah karakter gerakan mahasiswa sejati, ia harus tegak lurus dalam bersikap, bukan berkompromi!!!
    kami temui rektor untuk sampaikan penolakan kenaikan bbm dan akhirnya rektor menerima sikap kami, kami diskusi dengan kajian yang mendalam terhadap sikap mahasiswa....karena mahasiswa sejatinya adalah kaum intelektual yang bersikap penuh dengan idealita... yang harus merasakan denyut masyarakat...merasakan realita...gap antara idealita dan realita yang dirasakan masyarakat itu adalah yang saya sebut dengan kegelisahaan....jadi akar perlawanan gerakan mahasiswa adalah kegelisahaan atas situasi dan kondisi bangsa nya....
    Kini saat naiknya bbm sudah tak ada perlawanan dari mahasiswa, kondisi liberalisasi ekonomi yang semakin liar, spbu asing yang banyak diserbu oleh rakyat kita hingga akhirnya Indonesia ini semakin tak memiliki daulatnya...yang membuat saya sedih adalah tak ada perlawanan mahasiswa...tak ada perlawanan sama sekali...semuanya diam saat diajak makan ke istana negara!!!!
    Walau sendiri...saya mantan presiden BEM UNS Solo tahun 2005 akan terus bergerak....melawan! Siapa yang mau ikut!
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Saya Akan Terus Berjuang Walau Sendiri! Rating: 5 Reviewed By: Muhammad Nasri Dini
    Scroll to Top