• Latest News

    Sabtu, 20 Juni 2015

    Hidup Bersama Al-Qur'an


    "(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasn mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)... " 
    (Qs Al-Baqarah [2] : 185)

    Salah satu sebutan yang diberikan kepada bulan Ramadhan adalah syahrul Qur'an (bulan Al Qur'an). Penyebutan ini erat kaitannya dengan diturunkannya Al-Qur'an pertama kalinya pada bulan Ramadhan. Penamaan ini pada hakikatnya adalah untuk mengingatkan kita bahwa sebagai muslim ada sejumlah kewajiban kita kepada Al-Qur'an yang harus kita penuhi, bila tidak, dikhawatirkan kita termasuk ke dalam kelompok orang yang mengabaikan nilai-nilai Qur'ani, bahkan bila kewajiban ini terabaikan, bisa jadi kita termasuk orang yang sesat.
    Bila kewajiban terhadap Al-Qur'an telah kita tunaikan, maka kita termasuk ke dalam kelompok orang yang hidup bersama Al-Qur'an, dan ini berarti kewajiban terhadap Al-Qur'an memang mutlak dipenuhi. Ada beberapa kewajiban yang harus kita tunaikan kepada Al-Qur'an.
    1.    Mengimani
    Beriman kepada kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan suatu keharusan bagi setiap muslim, bahkan dengan beriman kepada Al-Qur'an, seseorang akan memiliki ciri-ciri muslim yang bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana firmanNYA dalam (QS 2: 2&4).
    Yang dimaksud dengan mengimani Al-Qur'an adalah meyakini bahwa Al-Qur'an itu memang benar-benar wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan karangan nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Karena Al-Qur'an kita yakini sebagai wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka kitapun yakin bahwa kebenaran Al-Qur'an itu memang mutlak sehingga tidak ada sedikitpun dari Al-Qur'an yang kita ragukan kebenarannya.
    Keyakinan kaum muslimin terhadap Al-Qur'an harus diperlihatkan secara keseluruhan, bukan sebagian diimani lalu sebagian yang lain diingkari. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam (QS 2: 85) atas ketidaksukaan umat terdahulu yang percaya kepada Taurat tidak secara keseluruhan.
    Orang-orang kafir terus berupaya agar kaum muslimin ragu akan kebenaran Al-Qur'an, maka mereka mencoba menyelewengkan maksud dari kandungan Al-Qur'an bahkan bisa jadi diantara kaum muslimin sendiripun diperalat oleh mereka guna menyelewengkan maksud dari Al-Qur'an sehingga muslimin yang lain menjadi ragu akan kebenaran Al-Qur'an itu.
    Bila ada dari kaum muslimin yang meragukan kebenaran Al-Qur an, maka dia tidak antusias lagi untuk membawa serta mengamalkannya dalam kehidupan sehiri-hari. Meskipun begitu bila seorang muslim, mau berpegang pado kebenaran, dia akan temukan bahwa cara-cara yang dilakukan oleh kaum kafir hanyalah tipu daya belaka.
    2.    Membaca
    Setelah mengimani, kewajiban lain dari kaum muslimin terhadap Al-Qur'an adalah membacanya. Karena itu setiap muslim wajib bisa membaca Al-Qur'an dengan baik dan tak pantas rasanya kalau ada muslim yang tidak bisa membaca Al-Qur'an dengan baik. Karena itu bila ada diantara muslim yang belum bisa membacanya dengan baik, Ramadhan tahun ini tentu harus dijadikannya sebagai momentum untuk bisa membaca Al-Qur'an dengan baik.
    Bagi yang sudah membaca Al-Qur'an, tentu saja dia harus rajin membacanya sesering mungkin, bahkan semestinya jangan sampai ada hari-harinya yang lewat begitu saja tanpa diisi dengan membaca Al-Qur'an. Itu pula sebabnya mengapa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam  berwasiat dalam satu haditsnya :"Sinari rumah-rumahmu dengan shalat (sunat) dan membaca Al-Qur'an" (HR. Baihaqi dari Anas radhiallahu ‘anhu).
    Namun karena banyak dari kaum muslimin yang tidak bisa membaca Al-Qur'an, jangankan di rumahnya, di masjidnya saja hampir tidak ada yang membaca Al-Qur'an. Kalau sebelum waktu shalat tiba sudah terdengar ada yang membaca Al-Qur'an di masjid-masjid, ternyata yang membaca Al-Qur'an bukan anggota jamaahnya, tapi yang terdengar bacaan Al-Qur'an itu hanya dari kaset. Bahkan tidak sedikit masjid atau mushalla, kita dapati imamnya tidak fasih dalam membaca Al-Qur'an, itupun sudah yang terbaik dari anggota jamaah yang ada. Kita tentu amat prihatin kalau kondisi ini terus berlangsung.
    Manakala ada orang yang membaca Al-Qur an, bila kita ada di tempat itu, maka kewajiban kita adalah diam dan mendengarkannya, bukan berbicara atau melakukan kesibukan yang lain. Sebagaimana firmah Allah Subhanahu wa Ta’ala  dalam (QS. 7 :204).
    3.    Memahami
    Salah satu fungsi Al-Qur'an adalah sebagai petunjuk. Hidup ini adalah perjalanan dan ibarat orang yang berada di jalanan, maka dia memerlukan petunjuk agar tidak tersesat dan petunjuk itu bukan sekedar di perlukan tapi juga harus dipahami. Meskipun petunjuknya sudah ada tapi bila seseorang tidak memahaminya, maka dia tidak bisa mengikuti petunjuk itu. Karena itu setiap muslimpun wajib/mutlak memahami kandungan isi Al-Qur'an sebagai peraturan hidup, (lihat QS.l3:37).
    Agar kita bisa memahami Al-Qur'an, tentu saja kajian terhadap kandungan Al-Qur'an harus kita lakukan secara intensif , baik sendiri maupun bersama-sama. Kita bisa kaji kandungan apa saja yang terdapat di dalam Al-Qur'an. Pendekatan memahami Al-Qur'an bisa dilakukan dengan memahami istilah-istilah, tema-tema, kasus-kasus, sejarah dan berbagai persoalan lain yang di sorot di dalam Al-Quran.
    4.    Mengamalkan
    Mengamalkan pesan-pesan yang terdapat dalam Al-Qur'an merupakan inti atau puncak dari persoalan hidup bersama Al-Qur'an. Bila pengalaman sudah kita lakukan maka jadilah kita Al-Qur'an yang hidup, Al-Qur'an yang berjalan dan berbagai sebutan lainnya. Doktrin Al-Qur'an tentu tidak kita inginkan kalau hanya sekedar terdapat di dalam lembaran mushafnya, tapi yang kita dambakan adalah doktrin-doktrin yang agung itu terealisir dalam kehidupan yang nyata, apalagi Al-Qur'an memang bukan sesuatu yang khayali untuk bisa diamalkan.
    Kalau mengamalkan pesan-pesan Al-Qur'an sudah bisa kita laksanakan dengan sebaik-baiknya, maka kemurnian Al-Qur'an dapat kita jaga, tidak hanya dari segi bacaan atau kalimatnya, tapi juga dari segi pcngamalannya. Disamping itu dengan melaksanakan pesan-pesan Al-Quran kita termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang bertaqwa, bukan orang-orang yang sesat dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala (lihat QS. 6:153 dan 155).
    5.    Memasyarakatkan Al-Qur'an
    Hidup bersama Al-Qur'an tentu tidak bisa kita laksanakan dengan seorang diri, karena memang ada banyak ajaran Islam yang terdapat di dalam Al-Qur'an harus kita laksanakan secara berjamaah. Oleh karena itu hidup bersama Al-Qur'an harus melibatkan orang lain dan bekerjasama dalam menerapkan ajaran Al-Qur'an. Ke arah itu, setiap muslim yang mendambakan hidup bersama Al-Qur'an harus berusaha semaksimal mungkin memasyarakatkan nilai-nilai Al-Qur'an, baik dengan mcnda'wahkan kepada orang lain secara lisan, tulisan maupun dengan perilaku sehari-hari. Manakala nilai-nilai Al-Qur'an telah kita masyarakatkan dengan da'wah Islamiyah, maka kita akan termasuk ke dalan kelompok orang-orang yang beruntung (lihat QS. 3:104).
    Semoga Ramadhan tahun ini betul-betul bisa kita jadikan sebagai momentum untuk lebih dekat dan terikat kepada Al-Qur'an sehingga pantaslah kalau Ramadhan kita sebut sebagai syahrul Qur'an (bulan Al-Qur'an).
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Hidup Bersama Al-Qur'an Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top