• Latest News

    Senin, 22 Juni 2015

    Ibadah di Bulan Ramadhan



    Oleh: H. Sholahuddin Sirizar, M.A

    A.    Pendahuluan
    Puasa adalah salah satu dari rukun Islam yang lima. Karena puasa adalah bentuk ibadah mahdhah maka dalam melaksanakannya harus sesuai dengan tuntunan langsung dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Kita tidak boleh dengan sengaja mengurangi dan menambahi hal-hal yang berhubungan dengan ibadah tersebut.
    Saat ini (khususnya di Indonesia) banyak terjadi tatacara – tatacara baru (bid'ah) dalam pelaksanaan ibadah puasa. Contohnya di dalam mempersiapkan datangnya bulan Ramadhan, banyak orang Islam yang melaksanakan upacara ritual seperti padusan, yaitu mandi bersama dalam suatu tempat tertentu yang di anggap sacral, dsb. Amalan tersebut selain tidak ada tuntunannya (bid'ah), juga menyimpang dari aqidah Islam yang lurus, sehingga harus ditinggalkan oleh seluruh ummat Islam. Bahkan biasanya padusan itu dilakukan bersama-sama antara laki-laki dan perempuan, sehingga melanggar aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menjaga dan menutup aurat.
    Begitu juga upacara sadranan, yang dilakukan dalam bulan Sya'ban (Ruwah), selain amalan itu, adalah amalan yang bersumber dari agama ardhi (Hindu dan Budha) yang penuh dengan kemusyrikan, amalan itu sama sekali tidak ada tuntunanya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga bisa di sebut dengan amalan yang bid'ah. Dan semua yang bid'ah adalah sesat, dan semua yang sesat itu tempatnya adalah neraka. Memang di dalam Islam di sunnahkan bagi kaum laki-laki untuk berziarah kubur. Tetapi tidak ada tuntunan untuk mengerjakannya di bulan-bulan tertentu. Dan tujuan disyari'atkannya ziarah kubur juga sangat jelas, yaitu untuk mendoakan yang telah mati dan mengingat akan mati sehingga akan menambah ketebalan iman dan taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan untuk meminta sesuatu kepada yang telah mati, yang sering di sebut "ngalap berkah".
    Untuk itu, sekali lagi agar kita mampu melaksanakan ibadah puasa ini dengan cara yang sesempurna mungkin sesuai dengan yang telah dituntunkan oleh Baginda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, maka perlu adanya panduan praktis yang dapat memudahkan ummat Islam, khususnya warga besar Muhammadiyah di dalam melaksanakannya.


    A.  Pengertian Puasa

    Puasa ( الصوم) menurut bahasa berarti: (الإمساك) menahan. Sedang menurut istilah, menurut Jumhur Ulama adalah:
    الإمساك بنيّة التعبّد عن الأكل والشرب و غشيان النساء وسائر المفطرات من طلوع الفجر إلى غروب الشمس
    Artinya: Menahan diri dengan niat beribadah, dari makan, minum, berhubungan suami-istri dan semua yang membatalkannya, dari terbit fajar hingga tenggelam matahari, untuk mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. ( Minhaj Al-Muslim: 232, Shohih Fiqh As-Sunnah: 2:87 )

    B. Sejarah disyari'atkannya puasa dalam Islam

    Puasa mulai diwajibkan bagi Ummat Islam pada malam senin permulaan bulan Sya'ban, tahun 2 Hijriyah. Sampai wafat, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah melaksanakan ibadah tersebut sebanyak sembilan kali. Dan sebelumnya, Rasulullah hanya berpuasa 'Asyura' (tanggal 10 Bulan Muharram).
    Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari istri Rasulullah, 'Aisyah radhiallahu ‘anhuma :
    عن عائشةَ رضيَ اللهُ عنها: «أن قُريشاً كانت تَصومُ يومَ عاشوراءَ في الجاهليةِ، ثُمَّ أمرَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بصِيامهِ حتّى فُرِضَ رمضانُ، وقال رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مَن شاءَ فلْيَصُمْهُ، ومَن شاءَ أفطَرَه».  رواه البخارى

    Artinya: “Dahulu kaum Quraisy berpuasa 'Asyura' pada zaman jahiliyah, kemudian Rasulullah memerintahkan untuk berpuasa di hari itu sampai diwajibkannya puasa Ramadhan, lalu Rasulullah bersabda: Barang siapa yang ingin berpuasa, berpuasalah dan yang tidak ingin berpuasa, berbukalah.” ( H.R. Bukhari)

    Imam Bukhari juga telah meriwayatkan dari Shahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu:
    عنِ ابنِ عباَسٍ رضيَ اللهُ عنهما قال: «قَدِمَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم المدينةَ فرأى اليهودَ تَصومُ يومَ عاشوراءَ فقال: ما هذا؟ قالوا: هذا يومٌ صالحٌ، هذا يومٌ نَجَّى الله بني إسرائيلَ مِن عدُوِّهِم فصامَهُ موسى، قال؛ فأنا أحقُّ بموسىٰ منكم، فصامَهُ، وأمَرَ بصِيامهِ». رواه البخارى

    Artinya: Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam  mendatangi kota Madinah, lalu melihat orang Yahudi yang sedang berpuasa hari 'Asyura', maka beliau bersabda: “Apa ini?” mereka (orang-orang Yahudi ) menjawab: “Ini adalah hari yang baik. Hari ini, Allah telah menolong Bani Israil dari musuh-musuh mereka, karena itu Musa berpuasa. Nabi bersabda: Saya lebih berhak terhadap Musa daripada kalian,lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam  berpuasa dan memerintahkan (kepada ummatnya) untuk berpuasa. (H.R. Bukhari)

    Dua riwayat di atas menjelaskan bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam  belum pernah memerintahkan ummat Islam untuk berpuasa di hari 'Asyura', kecuali setelah beliau berhijrah ke Madinah. Itu juga berarti bahwa puasa di hari 'Asyura' diwajibkan pada tahun pertama hijriyah, kemudian di nasakh (di hapus kewajibannya) dengan diganti puasa Ramadhan yang datang setelahnya.
    Puasa tidak diwajibkan kecuali setelah keimanan benar-benar telah kuat tertanam di hati ummat Islam. Puasa juga tidak diwajibkan bagi ummat Islam kecuali setelah mereka mampu mengatasi hari-hari yang sangat sulit dan berat, juga setelah keadaan perekonomian mereka cukup baik. Dan datangnya kewajiban berpuasa pada periode setelah hijrah, merupakan jawaban yang sangat tegas untuk mementahkan tuduhan-tuduhan dari musuh-musuh Islam yang menyesatkan (yaitu yang mengatakan bahwa kewajiban puasa itu disyari'atkan karena umat Islam dalam posisi kelaparan dan kemiskinan).

    C.  Keutamaan dan manfaat  puasa

    Puasa merupakan salah satu bentuk ketaatan yang sangat besar untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setiap muslim yang melakukannya dengan cara yang benar menurut syari'ah, maka pahalanya tidak terbatas, karena dengan melakukannya, terhapus dosa-dosanya yang telah lewat. Dan dengannya akan terhindar dari api neraka, serta dapat masuk ke dalam surga dengan melewati pintu yang khusus disediakan Allah bagi yang melakukannya. Dan dengannya pula, setiap hamba mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua itu dapat diketahui lewat hadits-hadits sebagai berikut:
    1.   Sabda Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam:
    عن أبى هُريرةَ رضيَ اللهُ عنه يقول: قال رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «قال الله: كلُّ عملِ ابنِ آدمَ لهُ، إلاّ الصِّيامَ فإنهُ لي وأنا أجْزي به، والصِّيامُ جُنَّة، وإِذا كانَ يومُ صومِ أحدِكم فلا يَرفُثْ ولا يَصخَب، فإِن سابَّهُ أحدٌ أو قاتَلهُ فلْيَقُلْ إِني امرؤٌ صَائِم. والذي نَفسُ محمدٍ بيدِه لَخُلُوفُ فمِ الصائمِ أطْيَبُ عندً اللهِ من رِيحِ المِسْكِ. للصائمِ فًرْحًتانِ يَفرَحُهما: إِذا أفطَرَ فرِحَ، وإِذا لَقِيَ ربَّهُ فَرِحَ بصَوْمهِ». رواه البخارى

    Artinya: Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  bersabda: Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Setiap amal yang dilakukan oleh bani adam untuknya kecuali puasa, sesungguhnya ia untukKu, dan Aku akan memberinya sendiri, dan puasa itu tameng, maka apabila telah datang saatnya berpuasa bagi kalian, janganlah berkata keji dan kotor, dan janganlah berteriak-teriak/gaduh (saling mencaci). Maka apabila ada yang memakinya atau memusuhinya, hendaknya ia berkata: Sesungguhnya saya sedang berpuasa. Demi (Allah) yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, bau mulutnya orang yang berpuasa itu benar-benar lebih baik di sisi Allah daripada bau minyak kasturi (wangi). Dan orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan, yang ia berbahagia dengan keduanya,  Apabila berbuka ia merasa bahagia, dan apabila bertemu Rabbnya ia berbahagia dengan puasanya. (H.R. Bukhari)

    2.   Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:
    عن أبي هريرةَ رضيَ اللهُ عنه عنِ النبيِّ صلى الله عليه وسلم قال: «مَن قامَ ليلةَ القَدْرِ إِيماناً واحْتِساباً غُفِرَ لهُ ما تَقَّدمَ مِن ذَنْبهِ، ومَن صامَ رمضانَ إِيماناً واحتِساباً غُفِرَ لهُ ما تَقدِّمَ مِن ذَنْبه». رواه البخارى
    Artinya: Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam , bersabda: Siapa saja yang bangun (beribadah) di saat Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan keikhlasan, diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu. Dan siapa saja yang berpuasa ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu. (H.R. Bukhari)

    3.  Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:
    عن سَهلٍ رضيَ اللهُ عنه عنِ النبيِّ صلى الله عليه وسلم قال: «إنَّ في الجنَّةِ باباً يُقالُ لهُ الرَّيّانُ، يَدخُلُ منهُ الصائمونَ يومَ القِيامةِ لا يَدخُلُ منه أحدٌ غيرُهم، يقال: أينَ الصائمون؟ فَيقومونَ، لا يَدخلُ منهُ أحدٌ غيرُهم، فإذا دَخلوا أُغلِقَ، فلم يَدخُلْ منهُ أحد». رواه البخارى
    Artinya: Dari Sahl radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pintu yang di sebut Ar Rayyan, masuk melaluinya pada hari kiamat, orang-orang yang berpuasa. Dan selain mereka tidak ada satupun yang bisa masuk. Dikatakan: Mana orang-orang yang berpuasa ? maka merekapun berdiri (memasukinya), tidak bisa masuk selain mereka, dan apabila mereka telah masuk semua, pintunya tertutup, tidak ada satupun yang bisa memasukinya. (H.R. Bukhari).
    Di antara manfaat spiritual, bahwa puasa membiasakan orang yang berpuasa untuk bersabar, menguatkan kesabarannya, mengajarkan pengendalian diri, membantunya dalam mengendalikan diri, memunculkan sifat taqwa dalam diri dan mengembangkannya. Apalagi sifat taqwa adalah alasan utama diwajibkannya puasa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    {ياٰأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ}
    Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa. (QS. Al Baqarah: 183)
    Di antara manfaat sosialnya adalah, puasa membiasakan ummat Islam teratur, bersatu, cinta keadilan, cinta persamaan, membentuk perasaan kasih sayang, akhlaq berbuat baik, dan melindungi masyarakat dari keburukan dan kerusakan.
    Di antara manfaat kesehatannya adalah, puasa membersihkan usus-usus, memperbaiki lambung, membersihkan badan dari kotoran-kotoran, dan meringankan badan dari kegemukan.

    D. Macam-macam Puasa

    Di lihat dari hukum melaksanakannya, puasa di bagi menjadi dua:
    1.    Puasa Wajib
    2.    Puasa Sunnah / tathawwu'
    Adapun puasa wajib, di bagi menjadi 3 macam:
    a.       Yang diwajibkan karena telah datang waktunya. Yaitu puasa Ramadhan. Dan puasa ini yang akan dijadikan sebagai obyek pembahasan.
    b.      Yang diwajibkan karena ada 'Illatnya, yaitu puasa Kaffarat
    c.       Yang diwajibkan karena seseorang telah mewajibkannya untuk dirinya sendiri, yaitu puasa Nazar.

    F.  Puasa Ramadhan

    Puasa Ramadhan hukumnya wajib 'ain / fardhu 'ain bagi setiap muslim yang sudah baligh, berakal, sehat, dan tidak bepergian. Dia merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima. Hal itu ditunjukkan lewat Al Qur'an, Al Hadits dan Ijma' para ulama.
    Adapun dari Al Qur'an, adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al Baqarah: 183-185
    }ياأيـــــها الذيـن ءامنوا كـتب عليكم الصـــيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون  (183) أياما معدودات فمن كان منكم مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين فمن تطوع خيرا فهو خير له وأن تصوموا خير لكم إن كنتم تعلمون(184) شهر رمضان الذي أنزل فيه القرءان هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان فمن شهد منكم الشهر فليصمه ومن كان مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ما هداكم ولعلكم تشكرون(185){
    Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa ( 183 ) (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.( 184 ) (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. ( 185 ).

    Sedang dari Al Hadits, adalah sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:
    عن طلحةَ بنِ عُبيدِ اللهِ: «أنَّ أعرابيّاً جاءَ إلى رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ثائرَ الرأسِ فقال: يا رسولَ اللهِ، أخبِرْني ماذا فَرَضَ اللهً عليَّ منَ الصلاة؟ فقال: الصلواتِ الخمسَ إِلاّ أن تَطَّوَّعَ شيئاً. فقال: أخبِرْني بما فَرضَ اللهُ عليَّ منَ الصيامِ؟ فقال: شهرَ رمضانَ إِلاّ أن تَطَّوَّعَ شيئاً. فقال: أخبِرْني ما فرضَ اللهُ عليَّ منَ الزكاةِ؟ قال: فأخبرَهُ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم شرائعِ الإِسلام. قال: والذي أكرمَكَ بالحقِّ، لا أتَطَوَّعُ شيئاً ولا أنقُصُ مما فرَضَ اللهُ عليَّ شيئاً. فقال رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: أفلحَ إن صدق. أو: دخلَ الجنةَ إن صدق».
    Artinya: Dari Thalhah bin 'Ubaidillah radhiallahu ‘anhu bahwa ada seorang a'rabi datang menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  dengan rambut yang acak-acakan, lalu bertanya: Wahai Rasulullah, terangkan kepadaku, apa yang diwajibkan Allah kepadaku dari shalat ? Maka Rasul menjawab: shalat lima waktu kecuali kalau kamu ingin menambah dengan yang sunnah. Lalu ia bertanya lagi: terangkan kepadaku, apa yang diwajibkan Allah kepadaku dari puasa ? Maka Rasul menjawab: Puasa bulan ramadhan, kecuali kalau kamu ingin menambah dengan yang sunnah. Lalu ia bertanya lagi: terangkan kepadaku, apa yang diwajibkan Allah kepadaku mengenai zakat ? Maka Rasul menerangkan kepadanya mengenai syari'at Islam. Lalu dia berkata: Demi yang telah memuliakanmu dengan haq, aku tidak akan mengerjakan yang sunnah-sunnah, dan tidak mengurangi sedikitpun yang telah diwajibkan Allah kepadaku. Maka Rasulullah bersabda: Beruntung jika benar demikian, atau: masuk surga, jika benar.
    Dan para ulama telah sepakat ( ijma' ) bahwa puasa Ramadhan merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima, yang harus diketahui oleh setiap muslim. Dan yang mengingkarinya di sebut kafir.

    G.  Keutamaan bulan Ramadhan

    Bulan Ramadhan mempunyai banyak keutamaan dan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya. Hal itu dapat diketahui dari dalil-dalil berikut ini:
    1. Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:
    عن أبي هريرةَ رضيَ اللهُ عنه عنِ النبيِّ صلى الله عليه وسلم قال: «مَن قامَ ليلةَ القَدْرِ إِيماناً واحْتِساباً غُفِرَ لهُ ما تَقَّدمَ مِن ذَنْبهِ، ومَن صامَ رمضانَ إِيماناً واحتِساباً غُفِرَ لهُ ما تَقدِّمَ مِن ذَنْبه». رواه البخارى
    Artinya: Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: Barang siapa yang bangun (beribadah) di saat Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan keikhlasan, diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa yang berpuasa ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu. ( H.R. Bukhari ).

    2. Sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:
    عن أبي هريرةَ رضيَ اللهُ عنهُ يقول: قال رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «إذا دخَل شهرُ رَمضانَ فُتِحَتْ أبوابْ السَّمَاءِ، وغُلِّقتْ أبوابُ جهنَّمَ، وسُلسِلَتِ الشَّياطينُ». رواه البخارى
    Artinya: Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  bersabda:  Apabila telah masuk bulan Ramadhan, maka pintu langit dibuka, dan pintu Jahannam di tutup, dan syetan-syetan diikat / dibelenggu.      ( H.R. Bukhari )

    H.  Keutamaan berbuat baik di bulan Ramadhan

    Karena keutamaan bulan Ramadhan, maka semua perbuatan baik yang dikerjakan di bulan tersebut juga dilebihkan, diantaranya adalah sebagai berikut:

    1. Shadaqah, yaitu berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:
    عن ابنَ عبّاسٍ رضيَ اللهُ عنهما قال: «كان النبيُّ صلى الله عليه وسلم أجْوَدَ الناسِ بالخير، وكان أجْوَدَ ما يكون في رمضانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبريلُ، وكان جِبريلُ عليهِ السلامُ يَلقاهُ كلَّ ليلةٍ في رمضانَ حتّى يَنْسَلِخَ، يَعرِضُ عليهِ النبيُّ صلى الله عليه وسلم القُرآنَ، فإذا لَقِيَهُ جِبريلُ عليه السلامُ كان أجْوَدَ بالخيرِ منَ الِّريح المرسَلَةِ». رواه البخارى       و مسلم
    Artinya: Dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhuma  beliau berkata: Nabi Muhammad adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril menemui beliau. Dan malaikat Jibril biasa menemui beliau setiap malam di bulan Ramadhan, sampai akhir bulan. Nabi memperdengarkan bacaan Al Qur'an beliau kepadanya, maka jika malaikat Jibril menemuinya, beliau lebih dermawan dari angin yang bertiup ( maksudnya malaikat ). 

    2. shalat Tarowih, atau Qiyam Al Lail atau Qiyam Ramadhan, berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:
    عن أبي هُريرةَ رضيَ الله عنهُ أن رسولَ الله صلى الله عليه وسلم قال: «مَن قامَ رمضانَ إِيماناً واحتِساباً غُفِرَلهُ ماتَقدَّمَ مِن ذَنْبهِ». رواه البخارى و مسلم
    Artinya: Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  bersabda: Barang siapa yang melakukan Qiyam Al Lail dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.
    Jumlah raka'at shalat tarawih adalah 11 raka'at. Hal itu sesuai dengan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  seperti yang disampaikan oleh 'Aisyah radhiallahu ‘anhuma.  Adapun cara pelaksanaannya bisa menggunakan salah satu dari dua cara yang dituntunkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
    a. Empat raka'at, di tambah empat raka'at, dan diakhiri dengan shalat witir tiga raka'at. Rumusnya : 4 + 4 + 3 = 11. Cara ini didasarkan pada riwayat dari 'Aisyah radhiallahu ‘anhuma sebagai berikut:
    عن أبي سَلمةَ بنِ عبدِ الرحمنِ أنهُ: «سألَ عائشةَ رَضيَ الله عنها: كيف كانت صلاةُ رسولِ الله صلى الله عليه وسلم في رمضانَ؟ فقالت: ماكان يَزيدُ في رمضانَ ولافي غيرِهِ على إحدى عشرةَ ركعةً، يُصلِّي أربعاً فلا تَسْألْ عن حُسنِهنَّ وطُولِهنَّ، ثمَّ يصلِّي أربعاً فلا تسألْ عن حُسنهِنَّ وطولِهنَّ، ثم يُصلي ثلاثاً. فقلتُ: يارسولَ الله أتَنامُ قبلَ أن تُوتِرَ؟ قال: ياعائشةُ إِنَّ عَينيَّ تَنامانِ، ولايَنَامُ قلبي». رواه البخاري و مسلم
    Artinya: Dari Abi Salamah bin 'Abdurrahman, bahwa beliau bertanya kepada 'Aisyah radhiallahu ‘anhuma. Bagaimana cara shalat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  di bulan Ramadhan ( tarawih ) ? 'Aisyah radhiallahu ‘anhuma menjawab: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  tidak pernah menambah (shalat lail ) baik itu di bulan Ramadhan maupun selain bulan tersebut, lebih dari 11 raka'at. Beliau shalat 4 raka'at, dan jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat 4 raka'at, dan jangan kamu tanya  tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat ( witir ) 3 raka'at. Maka aku ( 'Aisyah ) bertanya: Wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum shalat witir ? Beliau bersabda: Wahai 'Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, namun hatiku tidak tidur. ( HR. Bukhori dan Muslim )

    b. dua raka'at, sebanyak empat kali, kemudian diakhiri dengan tiga raka'at witir. Rumusnya: 2 + 2 + 2 + 2 + 3 = 11. Cara ini didasarkan pada riwayat dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma:
    عن إبن عمر قال : قام رجل فقال: يا رسول الله كيف صلاة الليل ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: صلاة الليل مثنى مثنى فإن خفت الصبح فأوتر بواحدةٍ  ( رواه البخاري و مسلم )
    Artinya: Dari Ibn Umar, beliau berkata: Ada seorang ( shahabat ) yang berdiri dan bertanya: Bagaimanakah caranya shalat lail ?  Maka beliau bersabda: shalat lail itu dua raka'at, dua raka'at. Maka apabila kalian khawatir kedahuluan subuh, shalat witirlah dengan satu raka'at ( sebagai penutup ).               ( HR. Bukhori dan Muslim )

    PENJELASAN:
    1). Hadits tentang jumlah rokaat shalat tarowih yang 11 rokaat sangat kuat, karena diriwayatkan oleh dua Imam Muhadditsin ( Ahli Hadits ), yang menurut para ulama, riwayat beliau berdua tidak perlu diragukan lagi keshohihannya.
    2). Pada hadits (a) secara dhohir, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  shalat dengan 4+4+3, baik di dalam Ramadhan (tarowih) maupun di luar Ramadhan. Jadi sangat tidak benar orang yang mem-bid’ah-kan cara ini.
    3). Kemudian pada hadits (b), Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  juga menganjurkan untuk shalat 2 rokaat salam, meskipun di sini tidak menyebutkan jumlah rokaatnya. Bahkan kalau kita khawatir telah masuk waktu subuh, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  menganjurkan shalat witirnya cukup satu rokaat. ( jadi kalau melihat dhohirnya, sebaiknya cara shalat seperti ini (dua-dua) dilakukan pada 1/3 malam terakhir ).
    4). Di dalam Himpunan Putusan Majelis Tarjih (HPT) Muhammadiyah Hal:184, dua cara ini (empat/dua rokaat) bisa dilakukan, karena memang ada dalilnya. Karena di dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah disebutkan bahwa Al-Jam’u: الجمع ( mengumpulkan beberapa hadits yang kelihatannya berbeda, untuk dikompromikan ), itu lebih didahulukan daripada At-Tarjih:    الترجيح ( mengambil salah satunya dan membuang yang lainnya )
    5). Terakhir, perlu diketahui bahwa ini adalah hasil IJTIHAD yang sudah dilakukan oleh para ulama di Muhammadiyah. Maka kalau ada yang berbeda pendapat dalam berijtihad, tentunya perlu adanya saling menghormati.

    3.  Membaca Al Qur'an Al Karim, berdasarkan riwayat dari 'Aisyah radhiallahu ‘anhuma:
    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ لاَ أَعْلَمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ الْقُرْآنَ كُلَّهُ فِي لَيْلَةٍ وَ لاَ قَامَ لَيْلَةً حَتَّى الصَّبَاحِ وَلاَ صَامَ شَهْرًا كَامِلاَ قَطُّ غَيْرَ رَمَضَانَ (رواه النسائى)
    Artinya: Dari 'Aisyah radhiallahu ‘anhuma berkata: Saya tidak mengetahui, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  membaca Al Qur'an semuanya dalam satu malam, dan  melakukan Qiyam Al Lail sampai datangnya subuh, dan berpuasa sebulan penuh, selain di bulan Ramadhan. ( H.R. An Nasa'i )

    4.  I'tikaf, yaitu menetap di masjid untuk beribadah, mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  selalu beri'tikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan hingga Allah memanggilnya ( wafat ), seperti yang  diriwayatkan oleh Abdullah bin 'Umar radhiallahu ‘anhuma:
    عَنْ عَبْدِاللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّه عَنْهمَا قَال:َ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ ( رواه البخارى )
    Artinya: Dari Abdullah bin 'Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  selalu beri'tikaf  pada sepuluh          ( hari ) terakhir dari bulan Ramadhan. ( HR. Bukhori )
    Adapun keterangannya secara lebih detail akan  di bahas dalam tuntunan khusus I'tikaf.
    5. 'Umrah. Berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam  yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma:
    عمرة في رمضان تعدل حجّةً معى ( متفق عليه )
    Artinya: 'Umrah di bulan Ramadhan sama dengan haji bersamaku. ( Muttafaqun 'Alaih ).

    I.  Rukun Puasa

    Ada dua rukun yang harus dipenuhi oleh setiap orang yang berpuasa, yaitu:
    1. Niat. Yaitu keinginan hati untuk berpuasa karena ingin melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaqarrub kepadaNya. Sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al Bayyinah: 5
    }وما أمروا إلاّ ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفآء... {
    Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus…
    Dan juga sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:
    إنما الأعمال باانيّات و إنما لكلّ امرئٍ ما نوى ... ( متفق عليه )
    Artinya: Sesungguhnya setiap amal itu ada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya….( Muttafaqun 'Alaih )
    Dan niat tersebut harus dilakukan pada malam hari ( waktunya di mulai sejak tenggelamnya matahari, sampai sebelum terbit fajar ), hal ini sesuai dengan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam  yang diriwayatkan dari Hafshah radhiallahu ‘anhuma, istri beliau:
    من لم يجمع الصيام قبل الفجر فلا صيام له ( رواه أصحاب السنن و أحمد)
    Artinya: Barang siapa yang tidak mengumpulkan ( berniat ) puasa sebelum fajar, maka puasa tersebut tidak sah baginya ( H.R. Ashab As Sunan dan Ahmad )
    Niat sebelum terbitnya fajar itu khusus untuk puasa wajib, sedang untuk puasa sunnah niat boleh dilakukan di siang hari asalkan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Hal ini sesuai dengan riwayat dari 'Aisyah radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata: Suatu hari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam  masuk ke rumahku, lalu bertanya: Apakah kamu memiliki sesuatu ( makanan atau minuman ) ?, maka aku ( 'Aisyah radhiallahu ‘anhuma ) menjawab: tidak, lalu beliau bersabda:

    فإنّي إذن صائم ( رواه مسلم )

    Artinya: Kalau begitu, aku berpuasa saja. ( H.R. Muslim )

    2. Imsak. Yaitu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum dan berhubungan seksual, yang di mulai sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.
    Hal itu sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al Baqarah: 187
    }... فالآن باشروهن وابتغوا ما كتب الله لكم وكلوا واشربوا حتى يتبين لكم الخيط الأبيض من الخيط الأسود من الفجر ثم أتموا الصيام إلى الليل...{
    Artinya: …Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam…

    J.  Syarat wajib Puasa

    Para ulama sepakat bahwa puasa hanya diwajibkan bagi yang telah memenuhi persyaratan sebagai berikut:
    1. Muslim / mukmin. Puasa hanya diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang-orang yang beriman. Hal itu bisa dipahami dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al Baqarah: 183 yang di mulai dengan kalimat: " Hai orang-orang yang beriman………..". Maka puasa tidak diwajibkan bagi orang kafir.

    1. 'Aqil / berakal sehat. Maka puasa tidak diwajibkan bagi orang gila / hilang akal.

    1. Baligh / Dewasa. Maka puasa tidak diwajibkan bagi anak yang belum dewasa. Dasar hukum dari nomor dua dan tiga adalah sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:
    رفع القلم عن ثلاث: عن المجنون حتّى يفيق وعن النائم حتّى يستيقظ و عن الصبيّ حتّى يحتلم ( رواه أحمد و أبو داود والترمذى )
    Artinya: Pena di angkat atas tiga hal: dari gila hingga sadar / berakal, dan dari tidur hingga bangun, dan dari kecil hingga dewasa. ( H.R. Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi ).

    1. Mampu ( Kuat ). Maka puasa tidak diwajibkan bagi yang sedang sakit ( keras ), yang menjadikannya tidak mampu berpuasa. Dasar hukumnya dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala surah Al Baqarah: 184 yang sudah tertulis sebelumnya. Para ulama membagi keadaan orang yang sakit menjadi tiga macam:
    a.    Sakit ringan, yang sama sekali tidak memberatkan atau membahayakan jika tetap berpuasa. Seperti batuk ringan, pilek ringan, sidikit pusing, terkilir ringan dan yang semisalnya. Dalam keadaan seperti ini, maka, puasa tetap wajib baginya.
    b.    Jika dengan berpuasa, penyakitnya ( menurut keterangan dokter ) dikhawatirkan semakin parah, atau minimal menghambat proses kesembuhannya. Sehingga puasa tersebut sangat memberatkannya meskipun tidak sampai membahayakan nyawanya, maka disunnahkan untuk tidak berpuasa, dan mengqadhanya di waktu lain.
    c.    Sakit parah, yang jika nekat berpuasa, dikhawatirkan ( menurut keterangan dokter ) akan membahayakan nyawanya, maka wajib membatalkan puasanya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah An Nisaa': 29:
    }.... ولا تقتلوا أنفسكم إن الله كان بكم رحيما(29){
    Artinya: …..Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
    Kemudian para ulama sepakat bahwa bagi orang tua yang sudah lemah, yang tidak mampu lagi untuk berpuasa, sama hukumnya dengan orang yang dalam keadaan sakit parah, yang tidak ada harapan untuk sembuh, mereka mendapat rukhshah ( keringanan ) untuk tidak melaksanakan puasa, dan tidak perlu mengqadhanya di lain waktu. Tetapi cukup membayar fidyah, yaitu setiap hari ( dari puasa yang ditinggalkannya ) memberi makan satu orang miskin. Hal itu sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al Baqarah: 184…….. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin……
    Sedangkan masalah perempuan yang hamil atau menyusui, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Namun yang rajih ( paling kuat ) adalah pendapat dua ulama dari kalangan shahabat, yaitu Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma dan Abdullah bin 'Umar radhiallahu ‘anhuma, karena tidak ada satupun ulama di kalangan shahabat yang berbeda atau menentang pendapat beliau berdua. Dan hal itu sesuai dengan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:
    عن أنس بن مالك رضى الله عنه أن رسول الله صلّى الله عليه و سلّم قال : إن الله عزّ و جلّ وضع عن المسافر الصوم و شطر الصلاة و عن الحبلى و المرضع الصوم ( رواه الخمسة ) وكان ابن عبّاس يقول لأم ولد له حبلى : أنت بمنزلة الّذى يطيقه فعليك الفداء و لا قضاء عليك ( رواه البزّار و صحّحه الدار قطنى ).
    Artinya: Dari Anas Bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Maha Besar Dan Mulia telah membebaskan puasa dan separo shalat bagi orang yang bepergian, serta membebaskan puasa dari orang yang hamil dan menyusui ( H.R. Lima Ahli Hadits ) Dan Ibnu Abbas berkata kepada jariyahnya yang hamil: Kamu termasuk orang berat berpuasa, maka kamu hanya wajib berfidyah dan tidak usah mengganti puasa. ( H.R. Al Bazzar dan dishahihkan oleh Ad Daruquthni ).

    Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berpendapat: Pada mulanya orang tua yang mampu berpuasa, baik laki-laki maupun perempuan, boleh berbuka dan memberi makan untuk setiap hari ( dari puasa yang ditinggalkannya ) seorang miskin, dan tidak perlu mengqadhanya. Kemudian  hukum itu  di nasakh (hapus) oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al Baqarah:185…… Dan ditetapkan hukumnya bagi orang tua yang lemah ( tidak mampu ) berpuasa, baik laki-laki maupun perempuan, juga perempuan hamil atau menyusui yang takut ( atas dirinya atau anaknya ), bagi mereka cukup memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari (dari puasa yang ditinggalkannya ). (Diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi dan Ibn Al Jarud, dan Syeikh Al Albani menshahihkan sanadnya).

    1. Muqim / tidak dalam perjalanan jauh. Maka barang siapa yang dalam perjalanan jauh (yang diperbolehkan dengannya mengqashar dan menjama' shalat) mendapatkan rukhshah (keringanan) untuk tidak mengerjakan ibadah puasa, tapi mengqadhanya di waktu yang lain.
    Para ulama membagi kondisi orang yang dalam perjalanan jauh, menjadi tiga macam:
    a.    yang memberatkan baginya untuk berpuasa, dan menghambatnya untuk dapat melakukan perbuatan baik, maka lebih baik ia membatalkan puasanya, hal ini dapat dipahami dari sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam  kepada para shahabatnya ketika dalam peperangan:
    إنّكم مصبحو العدو غداً والفطر أقوى لكم ( رواه مسلم )
    Artinya: sesungguhnya kalian besuk akan menghadapi musuh, dan tidak berpuasa akan menjadikan kalian lebih kuat.
    b.    tidak ada hal yang memberatkan baginya untuk tetap berpuasa, dan puasa tersebut tidak menghalanginya untuk berbuat baik. Dalam kondisi seperti ini sebauknya ia tetap berpuasa, hal ini dapat dipahami dari firman Allah dalam surah Al Baqarah: 184, …… Dan berpuasa lebih baik bagimu….. karena berpuasa ketika dalam keadaan mudah, lebih cepat dalam memenuhi perintah Allah dan lebih mudah baginya daripada melaksanakannya di lain waktu, sendirian.
    c.    Puasa tersebut sangat memberatkannya sehingga dapat mengamcam keselamatan jiwanya, dalam kondisi seperti ini maka ia diharamkan untuk berpuasa. Hal ini dapat dipahami dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah An Nisaa':29 yang sudah tertulis sebelumnya dan dapat dipahami dari sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam  yang lain, sebagaimana diriwayatkan dari shahabat Jabir radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  pernah melakukan perjalanan jauh menuju Makkah ( pada tahun fathu Makkah ). Ketika beliau sampai di daerah yang bernama Kuraa' Al Ghamim bersama para shahabat beliau. Lalu beliau menawarkan satu gayung air kepada mereka, lalu beliau mengangkatnya sehingga para shahabat melihatnya. Kemudian beliau minum. Dan setelah itu dikatakan kepada beliau: sebagian shahabat tetap berpuasa, maka beliau bersabda:
    أولئك العصاة , أولئك العصاة ( رواه البخارى و مسلم )
    Artinya:  Mereka itu pembangkang, mereka itu pembangkang. ( H.R. Bukhari dan Muslim )

    Dan khusus wanita, di tambah syarat syah, yaitu:
    1. Suci dari haid dan nifas. Dasar hukumnya adalah riwayat dari 'Aisyah radhiallahu ‘anhuma:
    قالت عائشة رضى الله عنها: كان يصيبنا ذلك [ تعنى: الحيض ] فنؤمر بقضاء الصوم ولانؤمر بقضاء الصلاة ( رواه  مسلم و أبو داود )
    Artinya: Dahulu kami biasa mengalami hal itu ( haid ), dan kami diperintah (Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam) untuk menqadha puasa dan tidak di perintah untuk mengqadha shalat. ( H.R. Muslim dan Abu Dawud ).

    K.  Etika ( adab ) dan hal-hal yang disunnahkan saat berpuasa:
    1.  Sahur. Berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam  dari shahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:
    تسحّروا فإنّ فى السحور بركة ( رواه البخارى و مسلم )
    Artinya: Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu ada barakahnya. ( H.R. Bukhari dan Muslim ).

    1. Mengakhirkan sahur. Berdasarkan tuntunan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam  yang diriwayatkan shahabat Anas bin Malik dari shahabat Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu:
    تسحّرنا مع النّبيّ صلّى الله عليه و سلّم ثمّ قام إلى الصلاة , قلت: كم بين الأذان و السحور ؟ قال: قدر خمسين آية ( رواه البخارى و مسلم )
    Artinya: Kami ( Zaid ) pernah sahur bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam  , lalu beliau berdiri ( bersiap-siap ) untuk shalat ( subuh ), Aku ( Anas ) bertanya: Berapa lama jarak antara sahur dan adzan ? ( Zaid ) menjawab: Kurang lebih bacaan sebanyak 50 ayat. ( H.R. Bukhari dan Muslim ).

    3.  Menyegerakan berbuka. Berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam  dari Sahl bin Sa'ad:
    لايزال الناس بخير ما عجّلوا الفطر ( رواه البخارى و مسلم )
    Artinya: Orang-orang ( yang berpuasa ) akan selalu dalam keadaan baik selama mereka menyegerakan berbuka. ( H.R. Bukhari dan Muslim ).

    4.  Berbuka puasa dengan kurma ( baik yang basah maupun yang kering ) atau air. Hal itu sesuai dengan yang telah diriwayatkan oleh shahabat Anas radhiallahu ‘anhu:
    كان رسول الله صلّى الله عليه و سلّم يفطر على رطبات قبل أن يصلّى , فإن لم تكن رطبات فعلى تمرات و فإن لم تكن حسا حسوات من الماء ( رواه أبو داود و الترمذى)
    Artinya: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  biasa berbuka puasa dengan dengan beberapa kurma basah, sebelum shalat maghrib, jika tidak mendapatkan kurma basah, beliau berbuka dengan kurma kering, dan jika tidak mendapatkan kurma kering, beliau meneguk beberapa tegukan air. ( H.R. Abu Dawud dan At Tirmidzi )

    5.  Berdo'a ketika berbuka puasa. Karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  berdo'a setiap berbuka puasa:
    ذهب الظّمأ وابتلّت العروق و ثبت الأجر إن شاء الله (  رواه أبو داود )
    Artinya: Telah hilang rasa haus, dan basah ( segar ) kerongkongan, dan semoga sudah ditetapkan pahalanya, jika Allah berkehendak. ( H.R. Abu Dawud )

    6.  Meninggalkan hal-hal yang dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan pahala puasa ( yang berupa perbuatan maksiat baik yang dhahir maupun yang bathin ). Setiap orang yang berpuasa seharusnya menjaga lisannya dari berkata kotor, berdusta, memfitnah, ghibah, mengumpat, mencaci maki orang lain dan lain sebagainya. Di samping itu seharusnya juga menjaga anggota badannya dari hal-hal yang diharamkan agama termasuk mengumbar syahwat. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:
    عن أبي هُريرةَ رضيَ اللهُ عنه قال: قال رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «مَن لم يَدَعْ قولَ الزُّورِ والعملَ بهِ فليسَ للهِ حاجةٌ في أن يَدَعَ طعامَهُ وشَرابَه». رواه البخارى و أبو داود والترمذى
    Artinya: Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  bersabda: Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan kotor/dusta ( maksiat ), maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memerlukan mereka untuk meninggalkan makanan dan minumannya.(H.R.Bukhari,Abu Dawud dan At -Tirmidzi).

    7.  Apabila di caci maki atau dimusuhi, hendaknya berkata: Sesungguhnya saya sedang berpuasa. Hal itu sesuai dengan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:
    ...., فإن شاتمه أحد أو قاتله فليقل : إنّى صائم ( رواه البخارى و مسلم )
    Artinya: ….Maka jika di caci atau di musuhi seseorang ( sedang ia dalam keadaan berpuasa ), hendaknya berkata: Sesungguhnya saya sedang berpuasa. (H.R. Bukhari dan Muslim)

    L.  Yang membatalkan puasa

    Yang membatalkan puasa di bagi menjadi  dua macam.
    1. Yang mewajibkan qadha' saja. Yaitu:
    a.  Makan dan minum di siang hari dengan sengaja. Adapun yang makan dan minum tanpa sengaja / karena lupa, tetap meneruskan puasanya ( puasanya tetap sah ), dan tidak perlu mengqadhanya. Hal itu berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:
    من نسى و هو صائم فأكل أو شرب فليتمّ صومه فإنما أطعمه الله و سقاه ( رواه البخارى و مسلم )
    Artinya: Barang siapa yang lupa dan dia dalam keadaan puasa, lalu makan atau minum, maka hendaknya ia menyempurnakan ( meneruskan ) puasanya, karena Allahlah yang telah memberinya makan dan minum tersebut. ( H.R. Bukhari dan Muslim )
    b.  Menyengaja untuk muntah. Adapun yang muntah dengan tidak sengaja, maka puasanya tetap sah dan tidak perlu mengqadhanya. Hal itu sesuai dengan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:
    من ذرعه القيء فليس عليه قضاء ومن استقاء عمداً فليقض ( رواه أبو داود و الترمذى وابن ماجه و أحمد )
    Artinya: Barang siapa yang muntah dengan tidak sengaja, maka tidak perlu mengqadha (puasanya, karena tidak batal), dan barang siapa yang muntah dengan menyengaja, maka dia harus mengqadhanya ( karena puasanya batal ). ( HR. Abu Dawud, At-tirmidzi, Ibn Majah dan Ahmad ).
    c.  Melakukan istimna' dengan sengaja. Yang di maksud dengan istimna' adalah: menyengaja mengeluarkan air mani tanpa melakukan hubungan suami istri, baik dengan tangan ( yang biasa di sebut onani ), menyentuh lawan jenis dan semisalnya dengan syahwat ( nafsu ). Maka jika air mani keluar dengan melakukan hal-hal tersebut, dengan sengaja, puasanya batal. Hal itu berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam hadits qudsi, yang berkaitan dengan orang yang berpuasa:
    يدع طعامه و شرابه  و شهوته من أجلى ( رواه البخارى و مسلم )
    Artinya: ia membiarkan ( meninggalkan ) makanannya, minumannya dan syahwatnya karena Aku ( berniat mencari ridhaKu ). ( H. R. Bukhari dan Muslim ).
    d.    Haid dan nifas. Maka barang siapa yang kedatangan darah haid atau nifas, meskipun sudah di akhir siang ( namun belum maghrib ), puasanya rusak / batal, dan dia wajib mengqadhanya. Hal itu sesuai dengan hadits yang berkenaan dengannya, yang sudah tercantum sebelumnya, dan juga berdasarkan Ijma' ( kesepakatan ) para ulama.
    Bagi wanita yang sudah berhenti darah nifas / haidnya ( suci ) sebelum fajar dan sudah berniat sebelum fajar, maka puasanya sah meskipun belum sempat mandi wajib sampai siang harinya.
    Dan bagi wanita yang sucinya dari nifas / haid setelah fajar / di siang hari, maka boleh makan dan minum seperti pada hari-hari biasa, dan apabila suaminya waktu itu kebetulan juga baru pulang dari safar dan juga tidak berpuasa, boleh berhubungan badan dengannya dan tidak berdosa.
    Kemudian bagi wanita yang dalam keadaan istihadhah, tetap wajib melaksanakan puasa.
    Kemudian masalah haid adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah pada wanita, tetapi memang di zaman Rasulullah, tidak ada satupun shohabat wanita yang berusaha menunda haid agar bisa melaksanakan ibadah puasa secara sempurna seperti laki-laki. Maka menurut para ulama hal itupun saat ini juga tidak disunnahkan. Akan tetapi apabila ada wanita yang berusaha menunda haid dengan obat, sedang obat tersebut tidak membahayakannya, hukumnya mubah. Dan apabila dengan obat tersebut dia dalam kondisi suci, maka wajib baginya berpuasa dan sah hukumnya, tidak perlu mengulangnya di lain hari.  ( Shohih Fiqh As-Sunnah: 2: 127-128 ).
    e.  Berniat membatalkan puasa. Maka barang siapa yang berniat membatalkan puasanya dengan sengaja dan ingat bahwa dirinya sedang berpuasa, meskipun tanpa melaksanakannya dengan perbuatan, seperti makan dan minum, puasanya tetap batal. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam: …..Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya….seperti yang sudah tertulis sebelumnya.
    f.   Keluar dari agama Islam ( murtad ). Hal ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala  dalam surah Az- Zumar: 65
    }ولقد أوحي إليك وإلى الذين من قبلك لئن أشركت ليحبطن عملك ولتكونن من الخاسرين(65){
    Artinya: Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.

    2.  Yang mewajibkan qadha dan membayar kafarat. Hanya satu hal, yaitu melakukan hubungan suami istri di siang hari dengan sengaja tanpa paksaan dari siapapun. Berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam  :
    عنِ الزُّهريِّ قال: أخبرَني حُمَيدُ بنُ عبدِ الرحمٰنِ أن أبا هريرةَ رضيَ الله عنهُ قال: «بَينما نحنُ جُلوسٌ عندَ النبيِّ صلى الله عليه وسلم إِذ جاءه رجلٌ فقال: يارسولَ الله هَلَكتُ، قال: ما لكَ؟ قال: وَقَعتُ على امرأتي وأَنا صائمٌ. فقال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: هل تَجِدُ رَقبةُ تُعْتِقُها؟ قال: لا. قال: فهل تَستطِيع أن تَصومَ شَهرَيْنِ مُتتابِعَينِ؟ قال: لا. قال: فهل تَجدُ إطعام سِتينَ مِسْكِيناً؟ قال: لا. قال: فمكَثَ النبيُّ، فبَينا نحنُ على ذلكَ أُتِيَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم بعَرَقٍ فيها تَمْرٌ ـ والعَرَقُ: المِكْتَل ـ قال: أينَ السَّائلُ؟ فقال أنا. قال: خُذ هذا فتصدَّقْ بهِ. فقال الرجلُ: أَعَلَى أفْقرَ مني يا رسولَ الله؟ فوالله مابَينَ لابَتَيْهَا ـ يُرِيدُ الحَرَّتَينِ ـ أهلُ بيتٍ أفقرُ من أهلِ بيتي. فضَحِكَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم حتّى بَدَتْ أنيابهُ ثم قال: أطْعِمْهُ أهلَكَ». متفق عليه
    Artinya: Dari Az Zuhri, berkata: Humaid bin Abdurrahman memberitakan kepadaku, bahwa Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Seseorang dating kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  kemudian berkata: Wahai Rasulullah, aku telah binasa. Beliau bersabda: Apa yang membinasakanmu? Orang tersebut menjawab: Aku telah menggauli istriku di ( siang ) bulan Ramadhan.Beliau bersabda: Apakah engkau mempunyai kekayaan untuk memerdekakan satu budak? Orang tersebut menjawab: Tidak. Beliau bersabda: Apakah engkau sanggup berpuasa dua bulan berturut-turut? Orang tersebut menjawab: Tidak sanggup. Beliau bersabda: Apakah mempunyai uang untuk memberi makan orang miskin? Orang tersebut menjawab: Tidak. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  duduk dan tidak lama kemudian tempat berisi kurma didatangkan kepada beliau. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  bersabda: Ambillah dan bersedekahlah dengannya.Orang tersebut berkata: Apakah kepada orang yang lebih fakir dariku? Demi Allah, tidak ada keluarga di antara dua tanah yang tidak berpasir ( Madinah ) yang membutuhkannya daripada saya. Beliau tertawa sehingga terlihat gigi gerahamnya, kemudian bersabda: Ambillah ini dan berilah makan keluargamu dengannya.  ( Muttafaqun 'Alaih )

    Kemudian muncul pertanyaan, apakah mengqadha puasa Ramadhan itu wajib disegerakan? Para ulama berpendepat bahwa mengqadha puasa Ramadhan itu tidak wajib segera dilakukan / mudhayyaq, namun wajib muwassa’. Hal itu berdasarkan riwayat dari ‘Aisyah:
    كان يكون علىّ الصوم من رمضان فما أستطيع أن أقضيه إلاّ فى شعبان ( أخرجه إبن أبى شيبة: 9784)
    Artinya: Dahulu saya mempunyai kewajiban (mengqadha) sebagian dari puasa Ramadhan, lalu saya tidak bisa mengqadhanya kecuali di bulan sya’ban. Namun demikian, menurut para ulama disunnahkan untuk segera mengqadhanya. Hal itu sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam surah Al-Mukminun: 61
    { أولئك يسارعون في الخيرات وهم لها سابقون }
    Artinya: mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.

    M.  Hal-hal yang tidak merusak puasa

    1.  Bangun di pagi hari dalam keadaan junub. Para ulama sepakat bahwa barang siapa yang tidur kemudian mimpi basah, puasanya tidak rusak ( tetap sah ). Demikian juga jika seseorang yang berpuasa, bangun di pagi hari dalam keadaan junub, maka puasanya tetap sah. Hal ini sesuai dengan yang diriwayatkan oleh 'Aisyah radhiallahu ‘anhuma dan Um Salamah radhiallahu ‘anhu:
    أنّ رسول الله صلّى الله عليه و سلّم كان يدركه الفجر و هو جنب من أهله ثمّ يغتسل و يصوم . )  رواه البخارى و مسلم (
    Artinya: Bahwa Rasulullah pernah bangun setelah fajar dan beliau junub dari keluarga  ( istri ) nya, kemudian beliau mandi dan berpuasa. ( H.R. Bukhari dan Muslim )

    2.  Mencium atau menyentuh istri, jika tidak khawatir keluar mani ( aman dari junub). Sesuai dengan yang diriwayatkan oleh 'Aisyah radhiallahu ‘anhuma:
    عن عائشةَ رضيَ الله عنها قالت: «كان النبيُّ صلى الله عليه وسلم يَقبِّلُ ويباشِرُ وهو صائمٌ، وكان أمْلَكَكُمْ لإِرْبهِ». ( رواه البخارى )
    Artinya: Dari 'Aiyah radhiallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  pernah mencium dan menyentuh istrinya, sedang beliau dalam keadaan berpuasa. Dan beliau adalah orang yang paling bisa menjaga syahwatnya.    ( H.R. Bukhari ).
    3.   Mandi dan mengguyur kepalanya dengan air untuk menyegarkan badan. Berdasarkan yang telah dilakukan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam  , seperti yang diriwayatkan 'Aisyah radhiallahu ‘anhuma dan Um Salamah radhiallahu ‘anhuma sebelumnya.

    4.  Madhmadhah ( berkumur ), serta Istinsyaq dan istintsar ( memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya kembali ) yang tidak berlebihan. Sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:
    .... و بالغ فى الاستنشاق إلاّ أن تكون صائماً ( رواه الخمسة وصحّحه الترمذى ) و فى رواية الدولابىّ وصحّح ابن القطّان إسنادها : إذا توضّأت فبالغ فى المضمضة والإستنساق ما لم تكن صائماً .
    Artinya: …..Dan bersungguh-sungguhlah  dalam menghisap air ke hidung kecuali kalau kamu dalam keadaan berpuasa. ( H.R. Al Khamsah dan dishahihkan oleh At Tirmidzi ). Dan menurut riwayat Ad Daulaabi yang sanadnya dishahihkan oleh Ibnu Qaththan: apabila kamu berwudlu, maka keraskanlah dalam berkumur dan menghisap air ke hidung, asalkan kamu tidak berpuasa.

    5.  Mencicipi makanan karena ada kebutuhan, asalkan tidak masuk ke perut. Sesuai dengan riwayat dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata: Tidak mengapa untuk mencicipi cuka atau sesuatu, asalkan tidak masuk ke tenggorokan, meskipun dalam keadaan puasa. ( Riwayat dari Ibn Abi Syaibah dan Al Baihaqi ). Demikian juga pendapat Syeikh Ibn Taimiyyah: ….mencicipi makanan ( bagi yang berpuasa ) hukumnya makruh apabila tidak ada kebutuhan, tetapi tidak membatalkannya, dan jika ada kebutuhan, hukumnya sama dengan berkumur. ( Majmu' Al Fatawa: 25: 266 ).

    6.  Al Hijamah ( Berbekam ), dan donor darah, asalkan tidak khawatir menjadi lemah ( tidak mampu berpuasa ). Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma:
    أنّ النبيّ صلّى الله عليه و سلّم إحتجم و هو صائم ( رواه البخارى و أبو داود و الترمذى )
    Artinya: Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam  pernah berbekam ketika sedang berpuasa. ( H.R. Bukhari, Abu Dawud dan At Tirmidzi ).
    Adapun yang menjadi dalil bahwa berbekam itu hukumnya makruh jika menjadikan tidak mampu berpuasa adalah riwayat dari Tsabit, beliau bertanya kepasa Shahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu: Apakah kalian tidak menyukai ( memakruhkan ) berbekam ketika berpuasa pada zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  ?Beliau menjawab:
    لا , إلاّ من أجل الضعف ( أخرجه البخارى )
    Artinya: Tidak, kecuali kalau menjadikan lemah ( tidak mampu berpuasa ). ( H.R. Bukhari ).

    7.  Makan dan minum dalam keadaan lupa. Berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam  yang sudah tertulis sebelumnya.

    8.   Muntah dengan tidak sengaja. Berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam  yang sudah tertulis sebelumnya.

    N.  Penutup

    Demikianlah tulisan sederhana tentang ibadah puasa di bulan Ramadhan ini kami paparkan, dengan harapan agar kita dapat melaksanakan amaliyah ibadah di dalam bulan Ramadhan ini dengan tatacara yang benar dan berdasarkan dalil yang maqbul.
    Karena setiap amal ibadah yang dilakukan oleh orang yang beriman, hanya akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila memenuhi dua syarat, yaitu ikhlash (ibadah itu dilakukan hanya untuk mencari ridha dari Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan benar  (yaitu sesuai dengan tuntunan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam).
    Tentunya tulisan yang sederhana  ini masih jauh dari sempurna, maka harapan kami, mudah-mudahan tulisan ini, mendapat tanggapan-tanggapan dan masukan-masukan dari para pembaca. Wassalaam.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Ibadah di Bulan Ramadhan Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top