• Latest News

    Kamis, 04 Juni 2015

    Jadilah Master, Insinyur dan Profesional Lalu Kembalilah Kepada Muhammadiyah



    Oleh: Zakki Fitroni
    Aktivis Muda Muhammadiyah Kota Batu - Jawa Timur


    Tidak jarang kita dengar ada partai yang mengalami perpecahan karena dualisme kepemimpinan didalamnya, juga ada organisasi kemasyarakatan yang kisruh karena anggotanya saling berebut aset yang dimiliki, bahkan baru-baru ini seluruh liga sepak bola di Indonesia di stop karena permasalahan internal induk organisasinya. Segala permasalahan yang terjadi dalam sebuah organisasi, jika dirunut pada akar masalahnya pasti akan kembali lagi pada motif dan karakter tiap-tiap pengurus maupun  anggotanya dalam mengikuti sebuah organisasi. Teerkadang organisasi hanya dijadikan alat untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah saja, seringkali organisasi hanya dijadikan batu loncatan untuk mendapatkan posisi kekuasaan tertentu, atau hanya didasari untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain berupa cap keimanan, cap nasionalisme, maupun cap keintelektualan.
    Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi terbesar di Indonesia, dengan banyak sekali aset yang bergerak dalam berbagai bidang, pasti punya nilai tawar dalam kehidupan sosial kemasyarakatan maupun pemerintahan. Fakta tersebut tentu akan memunculkan berbagai motif pada kader-kadernya dalam bermuhammadiyah. Berbagai macam motif tersebut, jika mampu dikelola dengan baik akan punya nilai positif bagi dinamika organisasi ini. Seperti halnya ketika Muhammadiyah dijadikan sebagai sarana seseorang untuk memahami bermacam-macam karakter orang, atau digunakan sebagai sarana belajar bagaimana seseorang memposisikan diri dalam kehidupan sosial. Bahkan juga dapat dijadikan alat untuk mendekatkan diri pada sang Khaliq, jika bermuhammadiyah dengan Ikhlas karena mengharap ridha dan keinginan berjihad di jalan Allah. Tetapi ketika Muhammadiyah ditunggangi oleh kader-kader yang hanya ingin merusak dan memanfaatkannya demi kepentingan pribadi, seperti kepentingan politik sesaat atau ketenaran, maka akan sangat merugikan bagi kelangsungan organisasi ini.
    Mengaplikasikan ikhlas dan jihad di jalan Allah, Bukan berarti bahwa setiap kader muhammadiyah diharuskan berhenti pada urusan kemuhammadiyahan dan keislaman saja tanpa memikirkan aspek yang lain. Kader Muhammadiyah sudah seharusnya mengisi berbagai lini yang ada seperti politik, seni budaya, pendidikan, kesehatan dan sebagainya tetapi tetap dilandasi dengan ideologi Muhammadiyah. Sudah seharusnya kader Muhammadiyah merujuk kembali pesan KH Ahmad Dahlan “... hendaklah warga muda-mudi muhammadiyah terus menjalani dan menempuh pendidikan serta menuntut ilmu pengetahuan dimana dan kemana saja. Menjadilah dokter sesudah itu kembalilah kepada Muhammadiyah. Jadilah master, insinyur, dan profesional lalu kembalilah kepada Muhammadiyah sesudah itu”.
    Selain motif yang dimiliki, karakter kader dalam berorganisasi juga sangat berpengaruh dalam perkembangan Muhammadiyah baik di tingkat ranting, cabang, daerah, wilayah, maupun pusat. Didalam Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi, acapkali kita temui tiga macam karakter kader.

    Pertama, adalah tipe teoritis yaitu kader yang hanya pandai dalam beretorika dan berteori tanpa mampu mengaplikasikan konsep tersebut ke dalam organisasi atau masyarakat, alias hanya berhenti di bibir saja. Sebuah organisasi jika banyak diisi oleh kader tipe seperti ini, akan menjadi organisasi yang hanya sebatas punya nama tanpa mampu memberikan manfaat nyata pada masyarakat.

    Kedua, adalah tipe pekerja yaitu tipe kader yang giat bekerja dalam menerima perintah, dan menjadi pengikut tanpa punya pemikiran yang kritis. Kader seperti ini cenderung mengamalkan sesuatu tanpa didasari ilmunya. Ketika kebanyakan orang  mengikuti sesuatu yang belum dapat dipastikan kebenarannya, maka kader tipe kedua ini akan menjadi salahsatu diantara kebanyakan orang tersebut.

    Ketiga, adalah tipe kader yang ideal dalam Muhammadiyah. Yaitu kader yang tidak hanya pandai beretorika, berteori, dan mengkonsep tetapi jugamampu mengaplikasikannya dalam berorganisasi atau dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Kader tipe inilah yang punya potensi besar untuk mengantarkan Muhammadiyah menjadi sebuah organisasi yang berkembang dalam aspek ekonomi, politik, pendidikan atau kesehatan.
    Di masa ketika tantangan da’wah semakin kompleks seperti sekarang, maka kader-kader Muhammadiyah dituntut untuk punya karakter “cerdas pemikiran dan kerja cerdas”. Mampu mengembangkan semangat pembaharuan di Muhammadiyah, serta mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Kader Muhammadiyah harus berkiprah dalam berbagai profesi dan cabang keilmuan dengan membawa nilai-nilai Muhammadiyah yang merujuk pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

    Ketika terjun ke dunia politik, maka harus menjadi politikus Muhammadiyah yang jujur dan amanah. Jika menjadi dokter, maka jadi dokter Muhammadiyah yang  selalu ikhlas menolong sesama. Menjadi guru, akan jadi guru Muhammadiyah  yang selalu memberikan ilmu bermanfaat bagi anak didiknya. Jadi ilmuwanpun, akan tercipta Ilmuwan muhammadiyah yang mampu meneliti ayat-ayat kauniyah Allah SWT yang tersebar dalam alam semesta. Sehingga apapun profesinya, kader Muhammadiyah akan selalu membawa semangat Kemuhammadiyahan dan Keislaman dalam diri mereka.
    *) Tulisan ini sebelumnya dimuat di web Sangpencerah.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Jadilah Master, Insinyur dan Profesional Lalu Kembalilah Kepada Muhammadiyah Rating: 5 Reviewed By: Anonim
    Scroll to Top