• Latest News

    Jumat, 05 Juni 2015

    Muhammadiyah di Tengah Masyarakat Jepang



    Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Jepang (PCIM Jepang) berdiri pada tanggal 8 Mei 2008, bertempat di sekretariat Japan Muslim Assosiation kota Tokyo yang diikuti sebagian besar masyarakat Indonesia dan Muslim Jepang yang tergabung dalam Japan Muslim Assosiation. Bahkan mantan Presiden Japan Muslim Assosiation, Professor Khalid Higuchi Mimasaka juga dan beberapa anggota Muslim Jepang lainnya telah menjadi anggota Muhammadiyah dengan mempunyai Nomor Baku Muhammadiyah.
    Hal sangat menggembirakan adalah ketika PCIM Jepang yang merupakan duta dakwah Muhammadiyah di luar negeri berhasil merekrut Muslim asing seperti Muslim Jepang di tengah arus budaya Jepang dan globalisasi yang begitu kuat. Bahkan Muhammadiyah Jepang berusaha bernegosiasi dengan pemerintah setempat agar praktik keberagamaan Islam atau pengamalan ajaran Islam yang dilakukan oleh komunitas Muslim khususnya Muslim Indonesia di Jepang dan proses negosiasi untuk mengamalkan ajaran Islam tersebut di tengah masyarakat Jepang yang secara umum masih asing dengan praktik keberagamaan Islam tesebut.
    Bagaimana praktik shalat lima waktu bagi para pekerja asing yang Muslim dan mahasiswa Muslim di tengah masyarakat Jepang yang sebagian besar asing dan belum mengenal Islam secara menyeluruh. Seperti halnya praktik keberagamaan di kalangan trainee Indonesia di beberapa tempat yakni di Numazu, Yashio, Tokyo, Nagoya, Ibaraki, Gunma, Kawaguchi dan lain-lain.
    Dakwah Muhammadiyah di Jepang difokuskan pada lokasi-lokasi yang komunitas masyarakat Indonesianya terbanyak, yaitu Ibaraki, Nagoya, Numazu, Kawaguchi dan Ebina. Sebenarnya komunitas masyarakat Indonesia di Jepang tersebar hampir di seluruh Jepang. Mayoritas mereka adalah pekerja atau trainee yang datang ke Jepang untuk “bekerja” dengan kontrak kerja selama 3 tahun, legal dan illegal. Disusul kemudian adalah pelajar dan setelah itu ibu rumah tangga yang menemani para suami belajar, peneliti, profesional dll.
    Di Oarai, Ibaraki Prefecture terdapat sekitar 600-1000 komunitas Indonesia yang mayoritas mereka adalah pendatang dari Manado, Sulawesi Utara yang beragama Kristen Protestan. Di Numazu, Shizuoka Prefecture terdapat komunitas pekerja Indonesia yang bekerja di sektor perikanan dan konstruksi dengan jumlah sekitar 25-40 orang.
    Berikut ini beberapa pengalaman proses negosiasi dalam praktik keberagamaan dan pengamalan ajaran agama yang telah kami lakukan di Jepang.

    Mengadakan pengajian
    Pengajian dapat diartikan salah satu aktivitas untuk belajar dan mempelajari isi Al-Qur’an, baik secara perorangan maupun berkelompok. Di Numazu pengajian diadakan secara rutin setiap bulan. Mereka mengundang student Indonesia untuk memberikan materi/berceramah apa pun tentang Islam.
    Awalnya kegiatan ini dapat dilaksanakan sekalipun diadakan malam hari (20.00-22.00), dihadiri 30-40 orang, bersuara keras tanpa protes dari tetangga orang Jepang yang merasa terganggu aktivitas ini. Namun belakangan, acara ini dilarang diadakan setelah ada komplain dari masyarakat Jepang. Agen broker melarang acara pengajian ini diadakan di Apato. Belakangan seluruh acara kumpul-kumpul dalam bentuk apa pun juga dilarang. Untuk menyiasati larangan ini, para trainee bernegosiasi dengan broker kaisya agar larangan ini dicabut. Akhirnya, pihak broker kaisya mengizinkan kegiatan pengajian ini dengan syarat; tidak boleh dilakukan malam hari, tidak boleh berisik/mengganggu tetangga Jepang dan tidak boleh parkir sepeda sembarangan.
    Tetapi, pihak broker kaisya kembali mendapat pengaduan/komplain berisik/ramainya kegiatan pengajian ini beberapa hari kemudian. Karena komplain yang kedua ini, pihak broker kaisya memutuskan melarang kegiatan kumpul-kumpul dalam bentuk apa pun termasuk pengajian. Akibat pelarangan ini, kini kegiatan pengajian tetap dilakukan walaupun dengan diam-diam dan menyewa ruangan di Kuyakusho.

    Pelaksanaan Ibadah Puasa Ramadlan
    Ibadah puasa dilakukan satu kali setahun selama satu bulan. Sekalipun para trainee bekerja berat setiap hari, namun mereka selalu berusaha untuk melaksanakan puasa sejak pagi hingga sore selama satu bulan. Hal ini sering membuat majikan mereka khawatir bila mereka bekerja di Kaisya akan terganggu karena puasa. Namun, mereka “menjawab” kekhawatiran sang majikan dengan tetap bekerja seperti biasa, sehingga mereka tetap diberi izin untuk berpuasa. Bahkan, saat berbuka puasa, majikan juga sering memberi makanan untuk berbuka puasa. Puasa di bulan Ramadlan tidak lagi menjadi sesuatu yang asing.

    Merayakan Idul Fitri

    Idul Fitri adalah hari raya yang dirayakan oleh umat Islam satu hari setelah puasa Ramadlan selesai. Bagi trainee Indonesia di Jepang, juga di Numazu, sekalipun menghadiri Shalat Idul Fitri bukanlah suatu kewajiban, tetapi mereka selalu berusaha untuk datang ke Meguro untuk melaksanakan shalat Idul Fitri ini. Selain untuk merayakan Idul Fitri juga untuk bertemu/bersilaturrahmi dengan orang Indonesia dari prefecture lain.
    Permasalahannya, Idul Fitri terjadi pada tanggal yang berbeda setiap tahun dan tidak bisa ditetapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Sehingga menyulitkan pihak kaisya untuk menetapkan hari libur Idul Fitri bagi Indonesia trainee. Jalan keluarnya, memberi libur trainee tahun ke 2 dan ke 3, tapi tidak bagi trainee tahun pertama. Atau, pihak kaisya pada akhirnya memberi libur bagi trainee Indonesia, tetapi hari kerja yang hilang diganti dihari lain. Atau, pada hari libur tersebut, upah mereka tidak dibayar.

    Memakai hijab di kaisya bagi wanita

    Di Numazu, memakai hijab bagi wanita juga dilarang, tidak hanya oleh kaisya, tetapi juga kaisya pengirim tenaga kerja. Sebelum pemberangkatan ke Jepang, Indonesian trainee harus menandatangani surat pernyataan untuk tidak melakukan aktivitas keagamaan. Seperti shalat, puasa, pengajian dan memakai simbolsimbol agama sepeti hijab ini.
    Namun, setelah trainee wanita berinteraksi dengan komunitas Muslim Indonesia di Jepang, khususnya pelajar dan ibu rumah tangga di even-even pengajian bulanan untuk belajar Islam, mereka merubah penampilan dan cara berpakaian dengan memakai hijab. Sekalipun dilarang oleh “okusan” disaat bekerja karena khawatir jilbab itu mengganggu pekerjaan, tetapi mereka tetap memakai hijab dan menyiasatinya dengan memakai topi untuk menutup jilbabnya. Mereka juga lebih bersemangat bekerja untuk membantah bahwa spemakaian hijab dapat mengganggu pekerjaan mereka.

    Pelaksanaan Shalat Tarawih saat Ramadlan

    Shalat Tarawih dilakukan saat bulan Ramadlan. Dilakukan mulai pukul 20.00 hingga selesai. Sekalipun trainee di Numazu tetap bekerja setiap hari di bulan Ramadlan, namun mereka selalu berusaha melaksanakan shalat tarawih setiap hari. Pada tahun sebelumnya, kegiatan tarawih ini dilakukan secara bergiliran dari satu apoto ke apato lain. Namun, sejak pelarangan kegiatan kumpul-kumpul, mereka melaksanakan shalat tarawih di apato masing-masing.

    Perihal Makanan Haram
    Kami memohon kepada pemerintah setempat agar menyajikan makanan yang tidak mengandung babi dan minuman yang tidak beralkohol pada even-even tertentu. Ini dilakukan saat diundang untuk menghadiri acara semacam bonenkai, undokai dan nomikai. Mereka berusaha untuk mendapatkan makanan yang halal.

    =============================================================


    Dilaporkan Oleh: Muhammad Kustiawan, M.A.,
    Ketua Umum Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jepang 2010-2012, Kandidat Doktor Ilmu Politik Kokushikan University, Tokyo Japan. Diambil dari Majalah Suara Muhammadiyah 20 / 95 | 16 - 31 Oktober 2010.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    1. boleh minta alamat/kontak teman2 yg di numazu gk mas? kirim ke bsects@gmail.com kalau boleh, terima kasih sebelumnya :)

      BalasHapus

    Item Reviewed: Muhammadiyah di Tengah Masyarakat Jepang Rating: 5 Reviewed By: Muhammad Nasri Dini
    Scroll to Top