• Latest News

    Selasa, 07 Juli 2015

    Ganteng-Ganteng Shalih


    Seringkali kita salah karena menilai sesuatu hanya dengan timbangan manusia. Bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala ganteng bukanlah yang berwajah rupawan tapi dialah yang bertakwa kepada-Nya. Maksudnya ialah orang yang pandai menjauhkan dirinya dari segala larangan-Nya dan gemar melakukan ketaatan kepada-Nya. Semakin tinggi ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semakin tinggi pula tingkat kegantengan kita di hadapan-Nya. Ini poinnya.
    Shalih artinya baik. Sekali lagi, baik menurut Allah Subhanahu wa Ta’ala tentunya. Ia merupakan sebuah karakter yang melekat pada diri seseorang karena amalan-amalan baik yang senantiasa ia lakukan dan menjadi habbit baginya. Keshalihan bagi seorang muslim ibarat pakaian. Ketiadaannya akan menjadi sesuatu yang aneh dan tak sedap dipandang. Lantas apa saja amalan yang membuat karakter ini bisa menjadi jubah indah seorang muslim?

    SHALAT TANPA SYARAT
    Ibarat baju, inilah kainnya. Tidak ada kain tidak ada baju. Tidak ada shalat tidak ada Islam. Manusia shalih akan rewel dengan waktu-waktu shalatnya. Ia tidak rela jika waktu shalatnya terganggu oleh kegiatan lain. Shalat baginya adalah profesi utama sedang yang lain adalah pekerjaan sampingan. Shalat bukan menjadi beban justru tempat menumpahkan segala beban, rumah curhat dan keluh kesahnya, padepokan istirahatnya, dan istana berisi jamuan dari sang Pencipta, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagi orang shalih, bagaimana pun kondisinya shalat is number one.
    Tidak hanya 5 waktu wajib namun sunnah-sunnahnya menjadi menu setiap hari, terutama shalat malamnya. Renungkan sekarang, Nabi yang sudah jelas masuk surga saja tidak pernah meninggalkan sekali pun shalat malam bahkan hingga kaki beliau bengkak-bengkak karenanya, lalu bagaimana dengan kita? Dalam banyak atsar disebutkan inilah shalat yang menjadi ciri khas orang-orang shalih jaman dahulu. Inilah rahasia kedekatan mereka dengan Rabb-Nya. Di saat orang-orang terbuai dalam mimpinya, mereka berdiri di tengah dinginnya malam berasyik masyuk dengan Rabb-Nya.   
        
    ZUHUD DAN WARA’ PERHIASAN TERINDAHNYA
    Zuhud adalah engkau memandang dunia sebagai sesatu yang kecil artinya engkau tidak terlalu bergembira dengan kedatangannya dan tidak bersedih lantaran kepergiannya. Zuhud bukan berarti miskin dan engkau berpaling dari dunia. Zuhud bukan tergambar ketika engkau memakai baju yang sobek-sobek, kucel, dan lusuh tetapi ia akan tampak ketika harta tidak lekat di hatimu meskipun engkau menggenggamnya. Sifat zuhud yang melekat pada diri seseorang akan membuatnya tidak terobsesi pada dunia. Ia akan menjaganya dari sifat riya’ (pamer) dan sum’ah (membicarakan amal-amal) serta hal-hal yang syubhat.
    Wara’ artinya menjaga diri dari hal yang haram dan menjauhi hal yang syubhat (samar). Semoga saja kalian masih ingat kisah seorang fulan penjaga kebun apel. Ketika sang majikan memintanya untuk memetikkan apel yang manis tapi yang diterima sang majikan adalah apel yang masam hingga diulangi beberapa kali. Tak ayal sang majikan pun geram dan menghardiknya. Akan tetapi dengan polosnya si fulan berkata, “Maafkan saya tuan, aku hanya mendapat upah untuk menjaga kebun ini dan bukan untuk mencicipinya.” Subhanallah, inilah gambaran nyata sebuah kewara’an. Ia tidak berani menerjang hal-hal yang masih syubhat apalagi yang haram.
    Saya kira tidak ada lagi perhiasan yang lebih indah bagi seseorang melainkan kedua sikap ini, zuhud dan wara’. Inilah gaya hidup para nabi dan orang-orang shalih terdahulu. Dan jalan pasti untuk menjadi shalih adalah dengan mengikuti pola hidup orang-orang shalih.

    LISAN TERJAGA HATI BAHAGIA
    Diam itu emas. Emas itu mahal harganya dan tidak semua orang punya. Memang, tidak semua orang pandai menjaga lisannya. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir, hendaknya ia berkata yang baik atau diam.” Sabda Nabi ini bukan hanya jargon saja tapi hendaknya menjadi sebuah prinsip yang dipraktekkan dalam keseharian kita.
    Orang itu dapat dinilai dari caranya berbicara. Ia dapat menjadi mulia dengan lisannya dan banyak yang celaka juga karena lisannya. Lisan seperti punya kekuatan magis. Hanya dengan satu kata seseorang bisa langsung cinta tapi tidak sedikit pula yang hanya dengan satu kata dapat benci setengah mati. Tepat sekali uangkapan ini, “Ucapan itu dapat menembus apa saja yang tidak bisa ditembus oleh jarum.” So, jagalah lisanmu. Kamu dinilai dari apa yang keluar dari mulutmu. Jika itu baik maka kamu baik dan sebaliknya.

    ALLAH KRASI
    Kekuasaan tertinggi ada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang shalih adalah dia yang yakin bahwa semua yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu ia selalu mengembalikan semua kepada-Nya. Ia yakin 100 % rizkinya datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, jodohnya di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bisnisnya ada dalam genggaman Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan mati adalah kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika demikian ia tidak risau dan khawatir rizkinya akan diambil oleh orang lain. Ketika jodoh tak kunjung datang ia tidak galau karena semua yang menentukan adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di saat bisnisnya berada di titik nadir ia tetap tabah dan yakin bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang menunjukkan hikmah-Nya.
    Keshalihan bukanlah sifat yang selayaknya hanya pastas dimiliki oleh para santri, ulama, atau kiai tapi sifat ini haruslah ada dalam setiap diri seorang Muslim. Apapun pekerjaan dan profesinya. Entah itu pelajar, pedagang, buruh, tukang bangunan, tukang becak, dan lain sebagainya. Betapa indah hidup ini jika masyarakatnya penuh dengan orang-orang shalih. [Muhammad Yahya]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Ganteng-Ganteng Shalih Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top