• Latest News

    Kamis, 30 Juli 2015

    Mengenal Syaikh Dhiya’urrahman

    Muhaddits Besar yang Dulunya Beragama Hindu



    Dia adalah Prof. Dr. Muhammad Dhiya'urrahman Al A'dzamy. Berikut biografi singkat beliau yang berhasil kami himpun dari berbagai sumber dan berdasarkan wawancara kami dengan beliau setahun yang lalu.
    Beliau dilahirkan di India pada tahun 1362 H/1943 M dari sebuah keluarga Hindu yang taat. Beliau tidak ingat pasti kapan tanggal lahirnya. Semua data tentangnya hilang saat melarikan diri dari India. Terlahir dari keluarga yg berkecukupan membuatnya mampu melanjutkan pendidikan hingga tingkat tsanawy (SMU). Sejak usia dini, minat bacanya cukup tinggi. Banyaknya agama dan kepercayaan di India mendorong rasa ingin tahunya untuk mempelajari berbagai agama, mulai dari Yahudi, Kristen, Budha dan agama-agama lainnya. Hingga kemudian Allah membukakan hatinya untuk memeluk Islam.
    Interaksinya dengan berbagai macam literatur keagamaan mendorongnya menulis berbagai makalah ilmiah di bidang perbandingan agama. Di antara karya beliau di bidang perbandingan agama adalah "Dirasat fi Al-Yahudiyah wa An-Nashraniyah wa Adyaan Al-Hindi. Buku ini dicetak dalam jilid besar oleh "Maktabah Ar-Rusyd".
    Perjalanan spiritualnya hingga memeluk Islam sangat panjang. Semuanya beliau tuangkan dalam sebuah risalah yang berjudul "Min Dzulumaat Al Watsaniyyah Ila Dhiyaa' Al-Islam". Saat menyatakan masuk Islam, keluarga menolak keras perpindahan yang dilakukannya. Berbagai cara ditempuh agar menyurutkan iman keislamannya. Puncaknya, mereka berencana untuk membunuhnya. Karena tekanan dan penindasan yang dialaminya, demi mempertahankan keyakinan barunya, beliau melarikan diri ke negara tetangga Pakistan. Di Pakistan beliau ikut sebuah lembaga pendidikan asuhan Jamaah Islamiah (JI) yang diketuai oleh Abul A'la Al Maududy. Disanalah beliau mempelajari dan mendalami Madzhab Hanafy. Hingga akhirnya Allah membimbing beliau untuk sepenuhnya mengikuti dalil dan meninggalkan fanatik madzhab serta JI. Kisahnya bersama JI bisa dibaca pada bagian terakhir dari buku beliau "Marwiyaat Abu Hurairah" cetakan Maktabah Al ghuraba' Madinah.
    Agar keilmuannya semakin mantap, beliau memutuskan untuk pindah ke negeri Haramain. Di tempat barunya, beliau melanjutkan pendidikan strata satu di Universitas Islam Madinah (UIM). Setelah menyelesaikan pendidikan strata satu, beliau melanjutkan pendidikan pada program pasca sarjana Universitas Al Azhar Kairo di bidang hadits. Setelah meraih predikat Doktor dengan nilai terbaik beliau kembali dan diberi tugas sebagai dosen di UIM.
    Beberapa tahun kemudian beliau dipercaya untuk menjalankan amanah sebagai Dekan Fakultas Hadits UIM. Selain pakar di bidang Hadits, Beliau juga sangat mumpuni di bidang perbandingan agama dan theologi, beliu sering diminta untuk menjadi pembimbing terhadap sejumlah disertasi di bidang ini. Sebagai penghormatan atas kerja keras dan pengabdiannya terhadap Islam, Kerajaan Saudi Arabia memberinya kewarganegaraan.
    Kini beliau -hafidzahullah- tinggal menetap di Madinah Al Munawwarah. Di usianya yang tak lagi muda beliau menghabiskan waktunya untuk menulis pada berbagai disiplin ilmu. Tiga hari dalam sepekan (Senin, Selasa, Rabu ba'da Isya) beliau rutin menyampaikan ta'lim di Masjid Nabawi As-Syarief dengan materi Ilmu Hadits(*).
    Saya pernah bertanya, "Mengapa anda lebih banyak waktu menulis ketimbang memberi pelajaran..?" Beliau menjawab "Bila aku mati, karyaku adalah kehidupan yang kedua bagiku".
    Diantara Karya beliau: Al jaami" al kamil (insyaallah akan dicetak dalam 20 jilid(**), Mu'jam Mustholsh Al-Hadits, Dirasaat fil jarh watta'dil, Dirasat fi Al Yahudiyah wa An Nashraniyah wa Adyaan Al-Hindi, Minnatul Kubro Syarh & Takhrij Sunan As-Shughro (9 jilid), Aqdhiah Rasulillah sallallahu alaihi wasallam karya Ibn al-Thalla' al-Qurtubi (wafat 497 h) (dirosah & tahqiq), dan Masih banyak lagi.

    Berkarya Dalam Diam
    Setelah pensiun dari jabatannya sebagai Dekan Fakultas Hadits & dosen di UIM, beliau mendedikasikan seluruh waktunya untuk menulis dan meneliti di berbagai disiplin ilmu baik hadits, sejarah dan perbandingan agama.
    Prof. DR. Anis Thohir mengatakan, "Setelah pensiun dia seolah ditelan bumi. Bertahun-tahun lamanya kami hampir tak pernah bertemu dengannya. Tiba-tiba ia muncul kembali dengan sebuah karya yang besar".
    Iya, "Al-Jami' Al-Kamil" merupakan hadiah terbesar beliau untuk umat Islam. Di dalamnya terkumpul semua hadits nabi shallallahu alaihi wassalam dari berbagai referensi baik yang sudah dicetak maupun yang masih dalam bentuk manuskrip. Setiap hadits diteliti baik sanad maupun matannya. Hasilnya terkumpullah kurang lebih 12 ribu hadits sohih tanpa pengulangan dan 3 ribu hadits dhoif. Rencananya buku akan terbit dalam 20 jilid besar.
    Syaikh Anis mengatakan, "Mendengar tentang beliau aku teringat dengan As-Suyuthi. Dimana ia lebih banyak menutup diri dari manusia, dan buah dari kesendirian beliau adalah 900 karya diberbagi disiplin ilmu. Kadang terbersit dalam hati ini keinginan untuk bisa seperti mereka. Tapi melihat kebutuhan ummat terhadap dakwah rasa-rasanya tidak mungkin bagiku untuk itu. Tapi aku bersyukur ada orang seperti beliau. Jujur kami para dosen dibuat takjub dengan karya beliau ini. Terlebih lagi beliau menyelesaikan karya ini seorang diri dan merahasiakannya dari orang banyak. Sehingga kami baru mengetahuinya setelah semuanya rampung. Semoga Allah menjaga beliau"
    Suatu hari saya pernah bertanya, "Mengapa setelah sekian lama anda baru berkenan mengajar di Masjid Nabawi?” Beliau menjawab, "Tawaran itu sudah ada sejak dulu, tapi aku sudah bertekad untuk mendedikasikan waktuku untuk Al-Jami' Al-Kamil. Kini setelah hampir dua puluh tahun lamanya, akhirnya semuanya rampung. Insyaallah ramadhan ini akan dicetak oleh penerbit Darussalam, tinggal merubah font saja."
    Beliau pernah mengatakan, "Mimpiku selanjutnya adalah membuat ensiklopedi yang memuat biografi semua perawi (narator) hadits. Adanya khilaf dalam hal menghukumi kredibilitas seorang rowi disebabkan kurangnya kelengkapan data yang berkaitan dengan rowi tersebut, sehingga kita perlu menghimpun semua data yang berkaitan dengannya, berikut penilaian para ulama dari seluruh referensi yang ada. Untuk itu aku sudah membuat khuttoh (proposal penelitian) tinggal siapa yang mau melanjutkannya. Aku telah menghitung seluruh buku yang memuat biografi ulama, semuanya ada sekitar 300 san. Sementara jumlah perawi tidak lebih dari 50.000 orang.
    Semoga beliau dan seluruh karyanya diberkahi Allah

    Catatan:
    * Saat ini beliau fokus pada qiroah & ta'liq terhadap Shohih Bukhory
    ** Kabar itu kami terima dari beliau beberapa pekan sebelum kami meninggalkan Madinah, wallahu a'lam apakah ada perubahan atau tidak.

    Ternyata kita belum berbuat apa-apa
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Mengenal Syaikh Dhiya’urrahman Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top