• Latest News

    Jumat, 31 Juli 2015

    Penguatan Kaderisasi Ulama Muhammadiyah


    Oleh: Dr. H. Syamsul Hidayat, M.A
    Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Dosen Unmuh Surakarta

    Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, gerakan dakwah amar makruf nahi mungkar, memerlukan kaderisasi berkesinambungan, khususnya kaderisasi ulama yang mumpuni. Sejak kepemimpinan AR Fakhruddin, keprihatinan akan krisis ulama di lingkungan Muhammadiyah hingga kini masih hangat dibicarakan.

    Keprihatinan akan krisis ulama yang mumpuni (tafaqquh) dalam ilmu-ilmu keislaman pertama kali dibahas pada "Seminar Nasional Muhammadiyah di Pengujung Abad 20" (1985) sebelum Muktamar 41 di Surakarta. Pada seminar ini, A Malik Fadjar (waktu itu rektor UM Malang) dan KH Sjahlan Rosyidi (ketua PWM Jawa Tengah sekaligus ketua MUI Jawa Tengah) mengemukakan perlunya dibentuk laboratorium ulama di Muhammadiyah.

    Dalam seminar yang sama, KH Ahmad Azhar Basyir, ketua Majelis Tarjih PP Muhammadiyah 1980-1990, mengatakan, ulama yang dibutuhkan Muhammadiyah tak sekadar cerdik cendekia dalam ilmu keislaman, ulama adalah rijaluddin, yakni ahli ilmu agama yang sekaligus mujahid dakwah dan pembimbing umat.

    Keprihatinan ini perlu dituangkan dalam konsep yang kemudian disusun dalam program kerja organisasi dengan terukur dan sistematis. Muhammadiyah mulai memetakan lembaga pendidikan Muhammadiyah untuk menjadi pilot project pusat pengaderan ulama mujtahid dan mujahid dakwah Muhammadiyah.

    Dimulailah pusat pengaderan ulama Muhammadiyah melalui Pondok Muhammadiyah Hajjah Nuriyah Shabran di Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) di Yogyakarta. Kini, disusul lahirnya beberapa pondok pesantren Muhammadiyah dan pesantren formula baru yang dikenal dengan Muhammadiyah Boarding School (MBS) di tingat pendidikan menengah (SLTP-SLTA) yang menjamur mulai Sabang sampai Merauke, yang jumlahnya 130 pesantren lebih.

    Lahir pula beberapa Ma’had Aly Muhammadiyah yang dikelola sendiri oleh Muhammadiyah, seperti di Lampung, Surabaya, Malang, Makassar, dan Jakarta, juga yang bekerja sama dengan Asia Muslim Charity Foundation (AMCF), yang kini menjamur di berbagai kota di Indonesia, yang menyediakan pendidikan bahasa Arab dan Studi Islam, serta Tahfidz al-Quran tingkat perguruan tinggi, yang jumlahnya 50 ma'had aly lebih.

    Menjamurnya pondok pesantren dan ma'had aly itu mendorong terbentuknya Perhimpunan Pondok Pesantren Muhammadiyah (Ittihadul Ma’ahid al-Muhammadiyah) atau ITMAM. Dalam Silaturrahim Nasional (Silatnas) I ITMAM, 8-10 Mei 2015, di Pondok Pesantren Imam Syuhodo, yang dihadiri pimpinan pondok pesantren dan ma’had aly Muhammadiyah seluruh Indonesia, yang kini berjumlah 180 pondok pesantren, MBS, dan ma'had aly, dengan jenjang pendidikan tingkat dasar, menengah, dan tinggi tidak tepat lagi untuk dibina oleh Majelis Dikdasmen Muhammadiyah karena majelis ini hanya kompatibel untuk menangani sekolah dan madrasah tingkat dasar dan menengah.

    Silatnas ITMAM merekomendasikan agar Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar dapat memutuskan dibentuknya Majelis Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Pendi-Pontren), akan mengoordinasikan dan membina pengembangan pendidikan diniyah (madrasah diniyah, TPA-TPQ), pondok pesantren (termasuk MBS) dan ma’had aly di lingkungan Muhammadiyah, yang jumlahnya 200 unit lebih.

    Terbentuk pula Majelis Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Muhammadiyah dapat mulai membangun komunikasi dengan lembaga pendidikan tinggi Islam di dunia Islam, khususnya Timur Tengah, seperti Universitas Islam Madinah, Univertas Ummul Qura Makkah, Universitas Imam Ibnu Saud Riyadh, Universitas Al-Azhar Kairo, dan beberapa perguruan tinggi di Sudan, Libya, Maroko, dan lainnya.

    Muhammadiyah memerlukan kader ulama hasil pendidikan tinggi Timur Tengah yang mendapat pendidikan langsung dari Kibarul Ulama, yang keilmuannya diakui dunia Islam. Tentu, komunikasi dan jaringan yang selama ini sudah dirintis secara terprogram dan terlembagakan dengan pusat-pusat pendidikan tinggi di Barat, khususnya untuk studi sains dan teknologi terus dilanjutkan oleh Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang).

    Untuk menampilkan peran Muhammadiyah sebagai agen perubahan Islami untuk Islam dan Indonesia Berkemajuan, dengan cara menggenjot kaderisasi ulama mujtahid dan mujahid dakwah dengan menyeimbangkan, mengelola, dan memadukan produk-produk kader ulama lulusan pusat pendidikan tinggi di dunia Islam (khususnya Timur Tengah) dan produk kader ulama cendekiawan dan teknolog hasil pendidikan tinggi di dunia Barat.

    Keseimbangan dan keterpaduan ilmu dan peradaban Timur dan Barat, yang dikendalikan dengan nilai ajaran Islam akan menghasilkan peradaban mulia yang dalam istilah Muhammadiyah dikenal dengan peradaban utama, sebagai ciri “Islam Berkemajuan”, yang selanjutnya akan menjadi kontribusi utama bagi terwujudnya Indonesia Berkemajuan.

    Keseimbangan dan keterpaduan peradaban Timur dan Barat, yang dikemudikan oleh nilai-nilai keislaman itu ditegaskan Alquran. “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas (rahmat-Nya) lagi Maha mengetahui. (QS al-Baqarah: 115).

    Muhammadiyah yang memiliki misi mengembangkan Islam Berkemajuan, yakni mengembangkan dakwah Islam untuk melahirkan peradaban yang maju dan utama berlandaskan Alquran dan sunah, harus membangun dialog antarperadaban dunia, dengan mencari titik temu peradaban Timur dan Barat sebagaimana pesan Alquran. Dan, ke manapun orientasi hidup ini harus diarahkan kepada wajah Allah. Artinya, peradaban Islam adalah peradaban yang menyeimbangkan dan memadukan adab dan budaya Barat dan Timur yang dilandasi nilai-nilai Alquran dan sunah untuk mengabdi kepada Allah. Nasrun minallah.


     *) Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di Republika
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Penguatan Kaderisasi Ulama Muhammadiyah Rating: 5 Reviewed By: Anonim
    Scroll to Top