• Latest News

    Sabtu, 18 Juli 2015

    Perilaku yang Fitri


    Setelah menunaikan puasa Ramadlan dengan sebaik-baiknya, orang Islam di hari raya Fitri ini kembali menjadi suci (bersih) dari dosa karena memperoleh ampunan Tuhan sebagaimana sabda Nabi yang artinya: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadlan karena iman dan mengharapkan pahala Allah maka diampuni dosanya yang telah lalu” (H.R. Ashabu Sunan dari Abu Hurairah). Karena itu jangan sia-siakan kesempatan emas yang utama seperti itu. Jangan kotori lagi jiwa dengan salah dan dosa, lalu kian tingkatkan tazkiat al-nafs atau penyucian diri dengan jalan serba kebaikan pasca Ramadlan.
    Apalah artinya puasa dan ibadah penuh di bulan Ramadlan manakala tak berbekas, sekadar ritual menahan lapar, haus, dan pemenuhan nafsu biologis belaka tanpa diikuti dengan perbuatanperbuatan ihsan di sebelas bulan berikutnya. Di sinilah Idul Fitri dapat dijadikan momentum untuk ber-mudawamah atau beribadah secara berkelanjutan. Aktualisasikan jiwa yang bersih untuk menjadi modal ruhaniah bagi pembersihan perilaku lisan dan tindakan pada hari-hari pasca Ramadlan.
    Idul Fitri merupakan gerakan kembali ke jiwa yang fihtrah (fitri, autentik, suci, bersih), selain makna lain yakni “hari raya atau pesta berbuka puasa” (ifthar/futhur). Kembali ke fitrah berarti menemukan kembali potensi diri manusia selaku makhluk Tuhan yang autentik, yang asli. Nabi bersabda, “kullu maulûdin yûladu ‘ala al-fihráh”, bahwa setiap anak manusia pada awalnya/dasarnya ialah suci. Manusia yang fitri, ialah sosok manusia yang selalu mendengarkan nuraninya yang jernih manakala berkata, bersikap, dan bertindak. Yakni nurani yang sensitif dan cinta serba kebaikan, sebaliknya benci pada serba keburukan. Dari jiwa yang autentik inilah lahir perilaku-perilaku terpuji yang juga asli dan tidak dibuat-buat. Orang yang autentik selalu mendengar matabatinnya yang bening, sehingga menjadi manusia yang jujur dan amanah. Bukan manusia yang bertopeng, yang perbuatan baiknya selalu disertai kepentingan-kepentingan sesaat, yang kata dan tindakannya sering tak selaras, serta menampilkan kepura-puraan dan kepalsuan.
    Kembali ke fitrah, berarti kembali pada ajaran Tuhan yang autentik, yakni Islam. Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Q.s. Ar-Ruum [30]: 30). Agama yang autentik ini, yakni Islam, jangan sekadar dijadikan pakaian luar dan formalitas. Jadikan Islam yang autentik untuk membentuk kesadaran keyakinan, pikiran, sikap, dan tindakan yang serba autentik seperti kejujuran, ketulusan, kerendahatian, dan serba kebaikan lainnya yang luhur dan utama. Jangan merasa paling beragama, paling Islami, jika  belum menunjukkan beragama dan ber-Islam secara autentik. Katanya berilmu agama dan merasa paling ber-Islam, tetapi suka menebar isu dusta, mendlalimi sesama dengan perbuatan menghalkan segala cara, dan tindakan penuh muslihat.
    Agama yang fitri (Islam), yakni agama yang mengajarkan Tauhid dengan benar (habl min Allâh), sekaligus mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan (habl min al-nâs) yang luhur dalam
    kehidupan. Tauhid yang benar bukan hanya lurus dalam berakidah kepada Allah, tetapi juga ihsan pada kemanusiaan. Agama Islam memerintahkan pemeluknya untuk menjadi hamba Allah yang taat (abdullah), sekaligus menjadi khalifah untuk memakmurkan alam raya ini (khalifah fi al-ardl). Agama yang mengjarkan keseimbangan dan sikap moderat (tawashut, iqtishad) dalam kehidupan para pemeluknya, bukan bersikap “ghulul” (berlebihan) dan ekstrem. Itulah agama yang menebarkan salam (kedamaian, lurus, dan benar), yang membuahkan rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil-‘alamin).
    Jika Idul Fitri ditarik ke makna “hari raya berbuka puasa”, maka marilah kita syukuri kebahagiaan pasca Ramadlan ini dengan bersikap dan beramal shalih lebih baik lagi, serta tidak larut dalam kegembiraan lahiriah apalagi menjadi tamak atau berlebihan. Bulan Syawwal bukan bulan untuk berlebihan. Sikap berlebihan akan menjurus pada tamak atau rakus, sedangkan kerakusan atau ketamakan merupakan penyakit yang dapat merusak tatanan kehidupan di muka bumi ini. Kerasuksan itulah yang sering menghancurkan kehidupan sebuah bangsa sebagaimana diperingatkan Allah dalam Al-Qur’an yang artinya: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya” (Q.s. Al-Israa’ [17]: 16).
    Karena itu, sebagai wujud aktual beridul-fitri, jangan terjebak pada dunia yang serba rendahan, yang al-adna. Melakukan yang serba dilarang Allah seperti membunuh, mencuri, berzina, berbuat dlalim, minum-minuman keras, dan memakan hal-hal yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya merupakan perbuatan rendahan yang nista. Demikian pula korupsi, merusak alam, memeras dan menindas sesama, tindakan menghalalkan segala cara, serta segala kejahatan kemanusiaan merupakan bentuk perbuatan rendahan yang berlawanan dengan jiwa dan agama yang fitrah. Idul Fitri pasca Ramadlan jangan dijadikan sekadar momentum dan slogan formal, tapi jadikan perilaku yang serba autentik dalam kehidupan sehari-hari. Itulah perilaku yang fitri, yakni sikap dan tindakan yang serba utama dan menjauhi yang serba rendahan. [A. Nuha]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Perilaku yang Fitri Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top