• Latest News

    Rabu, 08 Juli 2015

    Pribadi Islami Warga Muhammadiyah



    Oleh: Ahmad Nasri

    Menarik sekali membaca tulisan Dr. H. Syamsul Hidayat, M.A pada Majalah Tabligh edisi No. 7/XII Rajab-Syakban 1436 H dengan judul “Hifzu Al-Din dalam Gerak Dakwah Muhammadiyah”. Disana disebutkan oleh Ustadz Syamsul di antaranya tentang lemahnya ruh Islam yang melanda warga Muhammadiyah, baik generasi mudanya, maupun dari kalangan seniornya. Lemahnya akhlak yang disebutkan dalam tulisan tersebut menurut hemat kami (penulis artikel ini-red) sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari lemahnya pemahaman, pendalaman dan pengamalan kepribadian Islam secara umum yang dimiliki oleh warga Muhammadiyah.
    Padahal kalau kita cermati dalam teks-teks ideologi Muhammadiyah, kita akan dengan mudah menemukan panduan untuk memahami kepribadian yang Islami. Di antaranya dapat kita jumpai dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) yang merupakan hasil Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-44 di Jakarta pada tahun 2000. Dalam matan resmi persyarikatan yang sudah dibukukan dan diterbitkan oleh Penerbit Suara Muhammadiyah tersebut terdapat panduan lengkap agar warga Muhammadiyah dapat hidup secara Islami baik secara individu, keluarga, masyarakat, termasuk dalam hal berorganisasi.
    Untuk menjadi pribadi yang Islami, Muhammadiyah sudah memberikan panduan lengkap sesuai dengan bidang agama yang empat, yaitu aqidah, akhlaq, ibadah dan muamalah duniawiyah. Seperti yang dituliskan oleh Ustadz Syamsul bahwa warga Muhammadiyah perlu untuk melakukan ’reislamisasi’ baik secara individual (fardhiyah) maupun secara kolektif (jama’iyyah). Penguatan kepribadian Islam tersebut sebenarnya bisa dimulai dengan membaca kembali PHIWM dengan seksama. ‘Membaca’ dalam artian secara individu masing-masing, maupun bisa dijadikan bahan seminar atau kajian intensif (Darul Arqam dan Baitul Arqam) tentang kehidupan Islami oleh pimpinan Muhammadiyah maupun amal usahanya di berbagai tingkatan, termasuk juga mencakup warga Muhammadiyah secara umum, maupun pada tataran tokoh, pengurus dan pimpinannya.
    Untuk mewujudkan kehidupan yang Islami secara pribadi atau individu (fardhiyah) pada bidang aqidah, dalam teks PHIWM disebutkan bahwa, “setiap warga Muhammadiyah harus memiliki prinsip hidup dan kesadaran imani berupa tauhid kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang benar, ikhlas, dan penuh ketundukkan sehingga terpancar sebagai lbad ar-rahman yang menjalani kehidupan dengan benar-benar menjadi mukmin, muslim, muttaqin, dan muhsin yang paripurna.”
    “Setiap warga Muhammadiyah wajib menjadikan iman dan tauhid sebagai sumber seluruh kegiatan hidup, tidak boleh mengingkari keimanan berdasarkan tauhid itu, dan tetap menjauhi serta menolak syirk, takhayul, bid'ah, dan khurafat yang menodai iman dan tauhid kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.”
    Dua paragraf yang penulis cetak miring tersebut adalah teks yang penulis ambil dari PHIWM halaman 64. Andai saja warga Muhammadiyah secara pribadi mau memahami kalimat tersebut, sebenarnya sudah cukup. Dalam artian bahwa warga Muhammadiyah akan senantiasa berusaha untuk menjaga kemurnian tauhid dan keimanannya di hati dengan tidak menjerumuskan diri ke dalam syirik, takhayul, bid’ah dan khurafat dalam bentuk apapun. Meskipun untuk memahami secara lengkap bagaimana tauhid yang murni dan apa saja yang dapat mengotorinya tetap harus dikaji dengan lebih mendalam lagi.
    Dalam bidang Akhlaq, setiap warga Muhammadiyah dituntut untuk meneladani perilaku Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dalam mempraktikkan akhlaq mulia, sehingga menjadi uswah hasanah yang diteladani oleh sesama berupa sifat sidiq, amanah, tabligh dan fathanah.
    Setiap warga Muhammadiyah dalam melakukan amal dan kegiatan hidup harus senantiasa didasarkan kepada niat yang ikhlas dalam wujud amal-amal shalih dan ihsan, serta menjauhkan diri dari perilaku riya’, sombong, ishraf, fasad, fahsya dan kemunkaran.
    Setiap warga Muhammadiyah dituntut untuk menunjukkan akhlaq yang mulia (akhlaq al-karimah) sehingga disukai/diteladani dan menjauhkan diri dari akhlaq yang tercela (akhlaq al-madzmumah) yang membuat dibenci dan dijauhi sesama.
    Setiap warga Muhammadiyah di mana pun bekerja dan menunaikan tugas maupun dalam kehidupan sehari-hari harus benar-benar menjauhkan diri dari perbuatan korupsi dan kolusi serta praktik-praktik buruk lainnya yang merugikan hak-hak publik dan membawa kehancuran dalam kehidupan di dunia ini. (PHIWM hlm. 65)
    Kalau empat sifat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam (sidiq, amanah, tabligh dan fathanah) benar-benar diaplikasikan oleh warga persyarikatan, sungguh kita telah menjadi Muhammadiyyah (pengikut Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam) yang lengkap dan paripurna. Meski tidak dapat dipungkiri, tentu akan teramat berat untuk mewujudkannya. Sebagian di antara kita warga Muhammadiyah ada pula yang enggan membaca dan mengkaji sirah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Lalu bagaimana kita mau meneladani pribadi beliau jika tidak tahu (atau tidak mau tahu) bagaimana pribadi Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam?!
    Termasuk halnya dalam hal-hal yang sering dianggap sepele, semisal makan dengan tangan kanan, berdoa ketika masuk kamar mandi, tersenyum jika bertemu sesama saudara, dll. Kalau Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam makan dengan menggunakan tangan kanan itu disebut sebagai akhlakul karimah, maka jika kita yang mengaku sebagai umatnya ini melakukan yang sebaliknya, yaitu makan dengan tangan kiri, otomatis kita telah berakhlakul madzmumah. Karena selain tidak meneladani Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, kita juga telah meniru perilaku syetan yang makan menggunakan tangan kiri. Kita juga baru bisa disebut sebagai Muhammadiyah sejati jika tersenyum saat bertemu dengan saudaranya sesama muslim, karena hal tersebut adalah perilaku mulia yang memang dicontohkan langsung oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, pribadi sempurna yang kita telah mengaku sebagai pengikutnya. Masih teramat banyak contoh lain tentang akhlakul karimah yang merupakan keteladanan dari Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam yang tidak disebutkan dalam tulisan ini, semoga pembaca dapat menggalinya di tempat lain.
    Dalam bidang Ibadah, Setiap warga Muhammadiyah dituntut untuk senantiasa membersihkan jiwa/hati ke arah terbentuknya pribadi yang mutaqqin dengan beribadah yang tekun dan menjauhkan diri dari jiwa/nafsu yang buruk, sehingga terpancar kepribadian yang shalih yang menghadirkan kedamaian dan kemanfaatan bagi diri dan sesamanya.
    Setiap warga Muhammadiyah melaksanakan ibadah mahdhah dengan sebaik-baiknya dan menghidup suburkan amal nawafil (ibadah sunnah) sesuai dengan tuntunan Rasulullah serta menghiasi diri dengan iman yang kokoh, ilmu yang luas, dan amal shalih yang tulus sehingga tercermin dalam kepribadian dan tingkah laku yang terpuji. (PHIWM hlm. 66)
    Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. H. Din Syamsuddin, M.A dalam suatu kesempatan pernah menyampaikan, bahwa Muhammadiyah itu adalah Islam proporsionalis. Artinya, warga Muhammadiyah mengamalkan syariat ibadah secara proporsional, sesuai dengan porsi yang semestinya, hanya hal-hal yang dituntunkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam saja yang dilakukan. Sedangkan hal-hal yang meragukan, semisal yang berasal dari hadits yang dianggap tidak maqbul (baik dhaif maupun maudhu’) oleh Majelis Tarjih, maka warga Muhammadiyah seyogyanya tidak mengamalkannya. Ibadah yang berasal dari hadits lemah saja tidak diamalkan oleh Muhammadiyah, apalagi yang jelas-jelas tidak ada sumbernya sama sekali. Tapi jika ada dalil kuat yang mendasarinya, maka warga Muhammadiyah dituntut untuk giat mengamalkannya.
    Pengamalan ibadah yang paripurna juga tidak terlepas dari ‘efek samping’ positif pada kehidupan sehari-hari yang menjangkiti para pelaku dan pengamalnya. Belum disebut sebagai ahli ibadah sejati, jika rajin dan tekun  menjalankan berbagai amalan ibadah, tetapi ternyata dalam amal kesehariannya tidak bisa menghadirkan kemanfaatan bagi sesama manusia dan bahkan malah berbuat hal-hal yang menimbulkan kemadharatan atau kerusakan. Dalam hal shalat misalnya, belum benar-benar ‘mendirikan’ shalat, jika shalatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar pada kesehariannya. Dalam hal puasa, belum sempurna puasanya, jika setelahnya tidak menjadi pribadi bertakwa yang bermanfaat bagi sesama manusia. Demikianlah bisa digali dan dikaji lebih lengkap tentang ‘manfaat’ ibadah ini bagi pembentukan pribadi Islam pada waktu dan tempat yang lain.
    Dalam bidang Mu’amalah Duniawiyah, Setiap warga Muhammadiyah harus selalu menyadari dirinya sebagai abdi dan khalifah di muka bumi, sehingga memandang dan menyikapi kehidupan dunia secara aktif dan positif serta tidak menjauhkan diri dari pergumulan kehidupan dengan landasan iman, Islam, dan ihsan dalam arti berakhlaq karimah.
    Setiap warga Muhammadiyah senantiasa berpikir secara burhani, bayani, dan irfani yang mencerminkan cara berpikir yang Islami yang dapat membuahkan karya-karya pemikiran maupun amaliah yang mencerminkan keterpaduan antara orientasi habluminallah dan habluminannas serta maslahat bagi kehidupan umat manusia.
    Setiap warga Muhammadiyah harus mempunyai etos kerja Islami, seperti: kerja keras, disiplin, tidak menyia-nyiakan waktu, berusaha secara maksimal/optimal untuk mencapai suatu tujuan. (PHIWM hlm. 66-67)
    Inilah panduan yang telah diberikan oleh Muhammadiyah untuk segenap warganya dalam bermuamalah, intinya bahwa semuanya harus dalam naungan frame keislaman, mencakup akhlakul karimah, dan tidak hanya mementingkan hubungan baik dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala (habluminallah) semata, tetapi juga diimbangi dengan baiknya hubungan dengan sesama manusia (habluminannas).
    Jika kehidupan Islami yang dituntunkan oleh Muhammadiyah dalam PHIWM tersebut dapat benar-benar diamalkan dan diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh segenap warga Muhammadiyah, mulai dari warga biasa, termasuk pimpinan dan tokoh-tokohnya secara pribadi, maka otomatis akan menjalar kemashlahatan pada kehidupan disekitarnya, manusianya maupun makhluk lainnya. Akan terwujud apa yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemenangan akan semakin dekat (fathun qariib). Dan seperti harapan Ustadz Syamsul dalam mengakhiri tulisannya, akan turun pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala (nasrun minallah) untuk dapat mewujudkan negeri Indonesia yang baldatun tayyibatun wa rabbun ghafuur. Negeri yang baik, gemah ripah loh jinawi, dan dinaungi ampunan dari Rabbnya. Semoga! Wallahul musta’an.

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Pribadi Islami Warga Muhammadiyah Rating: 5 Reviewed By: Anonim
    Scroll to Top