• Latest News

    Sabtu, 18 Juli 2015

    Refleksi Milad IPM ke-54: “Berkarya Tiada Henti Menginspirasi Negeri”


    DALAM peran kebangsaan di Indonesia, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) mampu menjadi pionir dan berada du garda terdepan kepentingan pelajar. Wacana gerakan dalam tubuh IPM banyak ditorehkan, mulai Tiga Tertib (Ibadah, Belajar dan Organisasi), Kritis-Transformatif, Pelajar Kreatif, dan Pelajar Berkemajuan. Semuanya itu dilakukan untuk menjadi agent of change dan agent of social control. Gerakan berarti bergerak berkarya untuk melakukan aktivisme sejarah. Oleh karena itu Milad ke-54 mengankat tema “Berkarya Tiada Henti Menginspirasi Negeri”. Senafas dengan hari kemanangan umat Islam idul fitri. Ramadhan penuh inspirasi pun kita lalui untuk menggapai hidup yang suci menuju ketawaan sejati.

    Kesyukuran
    Goresan karya nyata IPM untuk menginspirasi pelajar di negeri ini, tentu berada di lika-liku arus kehidupan. Keberadaani IPM mengalami dinamika tersendiri.Tak bisa dinafiikan, prestasi dan karya IPM telah mewarnai kehidupan bangsa dengan tintas sejarah emasnya. Paling tidak IPM terus berusaha menampilkan sosok pelajar kritis-kreatif-berkemajuan untuk merespons perubahan alam pikiran, prilaku, dan lain-lain, yang telah memberikan artikulasi-reflektif-transformatif bagi kemajuan bangsa.
    Dalam konteks itu, Muktamar XIX IPM 2015 di Jakarta menjadi tonggak sejarah yang penting bagi IPM. Perjuangan IPM akhirnya memperoleh pengakuan masyarakat luas sebagai gerakan pelajar menorehkan tinta emas pergerakan di Indonesia. Bahwa IPM telah menjadi OKP (Organisasi Kepemudaaan) terbaik tingkat nasional, bahkan ASEAN. Paling tidak, IPM telah melahirkan kader-kader excellent, clean, yang tidak terkontaminasi oleh arus pembusukan moral bangsa, tetapi kita harus yakin untuk menjadi organisasi pergerakan keilmuan dan moralitas. Lantas di usia yang ke-54, apa yang sudah diperbuat IPM? Apa pula yang hendak dilakukan (what next)? Jawabannya adalah kita semua, yang senantiasa harus bercermin dari realitas yang ada, untuk meyakini bahwa diri kita bukan entitas yang paling eksistensial, bahkan mungkin kalau mau jujur kita mungkin masih tertinggal dari yang lain.
    Masa renaissance (pencerahan) IPM telah datang. Sudah saatnya IPM menjadi bagian terpenting dalam usaha “reaktualisasi Islam yang berkemajuan” dalam konteks pergerakan pelajar. Gerakan ilmu tidak boleh ditunda, karena misi peradaban utama mengharuskan gerakan ilmu. Kesyukuran itu disertai kesadaran bermuhasabah diri atas kekurangan dan kelemahan yang harus diperbarui dengan seksama guna mengukir kisah sukses yang lebih utama di masa depan.

    Refleksi Gerakan
    IPM sejak berdiri tahun 1961 menegaskan diri sebagai gerakan pelajar yang berjuang menyebarluaskan dan memajukan ajaran Islam di Indonesia yang disemangatioleh firman Allah SWT dalam surat QS. Al-Qalam ayat 1.
    Berangkat dari Muktamar XIX IPM 2014 di Jakarta yang bertemakan “Spirit Keilmuan untuk Gerakan Pelajar Berkemajuan”. Gerakan pelajar menjadi spirit dan etos yang menggerakkan dan memotivasi gerak langkah perjuangan IPM. Tiga gradasi utama yang harus terus digelorakan adalah Pencerdasan, Pemberdayaan, dan Pembebasan. Senada dengan Muktamar ke-47 Muhammadiyah, mengusung tema besar “Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan”. Gerakan pencerahan telah dimulai sejak Kyai Haji Ahmad Dahlan. Gerakan pencerahan (tanwir) merupakan praksis Islam yang berkemajuan untuk membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan. Berkemajuan menyiratkan adanya keberlangsungan, dan bahkan progress, sebagai perwujudan dari usaha yang terus menerus untuk mencapai tujuan inovasi berkelanjutan yang bermakna (sustainable innovation with meaning). “Gerakan Pencerahan” sebagai metode “Islam berkemajuan” sebagai nilai, etos, dan spirit, menuju “Indonesia Berkemajuan”.
    Transformasi teologi al-‘Al-Qalam di adalah keniscayaam. IPM harus melakukan berbagai hal berikut: pertama, perkuat tradisi keilmua, belajar dan menuntut ilmu ke berbagai negara maju dan berkemajuan. Sebagaimana ajaran Nabi Saw yang menganjurkan ummatnya menuntut ilmu walau ke negeri China. Kedua, pemberdayaan kemandirian sejak dini. Tanpa kemandirian, IPM tak akan mampu menjalankan gerakan al-Ma’un yang bernafaskan ajaran Wal-‘Ashri. Program-program IPM harus inklusif yang mampu menampung keanekaragaman pelajar. Ketiga, penguatan komunitas sebagai masyarakat ilmu sangat penting bagi pembangunan kemajuan bangsa.

    Agenda Gerakan
    Dalam menghadapi perkembangan kemanusiaan universal IPM mengembangkan wawasan keislaman yang bersifat kosmopilitan. Kosmopolitanisme merupakan kesadaran tentang kesatuan masyarakat seluruh dunia dan umat manusia yang melampaui sekat-sekat etnik, golongan, kebangsaan, dan agama. Kosmopolitanisme secara moral mengimplikasikan adanya rasa solidaritas kemanusiaan universal dan rasa tanggungjawab universal kepada sesama manusia tanpa memandang perbedaan dan pemisahan jarak yang bersifat primordial dan konvensional.
    Dari pergumulan tersebut Pimpinan Pusat IPM 2012-2014 merumuskan visi gerakannya, yaitu “Menjadikan IPM sebagai Rumah Inspiratif Pelajar Indonesia” sebagai penurunan dari Gerakan Pelajar Berkemajuan. Dari visi tersebut diturunkan menjadi lima (5) misi: 1). Menciptakan sistem gerakan IPM yang maju, unggul dan profesional dilandasi dengan nilai-nilai keikhlasan dan komitmen gerakan yang disertai dengan pamahaman ideologi dan paradigma gerakan yang kuat; 2) Membentuk manajemen dan kepemimpinan organisasi yang kuat dengan prinsip kolektif-kolegial didasari dengan keteladanan yang transformatif; 3) Mengembangkan jaringan organisasi IPM, baik pada level internal maupun eksternal dilandasi prinsip-prinsip trust dan kejujuran; 4) Mengelola sumber daya organisasi IPM baik pada sisi manusia, finansial, dan infrastruktur yang berkualitas; 5). Meningkatkan aksi dan program IPM yang sesuai dengan kebutuhan pelajar ditataran basis masa. Semua itu akan terwujud dengan IPM harus memproduksi wacana untuk rekayasa sosial, androidisasi gerakan, internasionalisasi, menguasai media, aksi-aksi kreatif.
    Nah, (IPM) sebagai organisasi gerakan dakwah di kalangan pelajar memiliki etos yang kuat terhadap dua hal, yang pertama adalah keislaman, dan yang kedua adalah kemajuan. Subjek yang memiliki etos tersebut adalah pelajar. Maka dari itu, IPM berada dalam posisi mendialogkan masa lalu (tradisi, dogma dan khazanah Islam), kekinian (realitas sosial-ekonomi-kebudayaan yang melingkupi pelajar) dan masa depan (cita-cita sosial Muhammadiyah merealisasikan “Masyara-kat Islam Sebenar-benarnya” yang substansinya ialah “Peradaban Utama”.
    Selanjutnya IPM berkomitmen kuat untuk melakukan gerakan ilmu. Gerakan ilmu dalam Muhammadiyah disebut Gerakan pencerahan (tanwir, pencerdasan) merupakan praksis Islam yang berkemajuan untuk membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan. Gerakan ilmu, IPM berjuang membentuk masyarakat ilmu yang diproyeksikan bagi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar- yang melahirkan peradaban utama.


    Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah 2014-2016

    Ketum: M. Khoirul Huda dan Sekjend: Azaki Khoirudin
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Refleksi Milad IPM ke-54: “Berkarya Tiada Henti Menginspirasi Negeri” Rating: 5 Reviewed By: Anonim
    Scroll to Top