• Latest News

    Rabu, 15 Juli 2015

    Regenerasi Imam Masjid dan Musholla


    Ketika ada tokoh Muhammadiyah ingin mengenalkan Muhammadiyah di masyarakat Aceh, ia tidak serta merta tampil di muka umum. Ia melakukan pengamatan lebih dahulu
    atas masyarakat yang dia masuki. Dengan menyamar menjadi tukang tambal sepeda di dekat masjid ia menjadi tahu siapa saja yang setiap hari datang shalat berjamaah di situ. Ia juga punya alasan untuk shalat berjamaah di situ. Dari percakapannya dengan orang yang datang menambalkan sepeda dan dengan jamaah masjid, ia mendapat begitu banyak informasi tentang karakter jamaah dan karakter pengelola masjid.
    Ternyata di masjid itu sudah dipraktikkan demokrasi kecilkecilan. Yaitu ketika masjid itu butuh imam. Maka diumumkanlah kepada jamaah, barangsiapa berkehendak ingin ikut mengabdi kepada Allah dengan menjadi imam masjid hendaknya mendaftar pada pengelola masjid. Banyak di antara jamaah yang mendaftar, termasuk tokoh Muhammadiyah ini. Lalu diadakan test kemampuan menjadi imam. Calon imam masjid ditanya soal hafalan surat-surat dalam Al-Qur’an dan tentang pengetahuan serta keterampilannya dalam menjalankan shalat.
    Test ini dilakukan secara obyektif. Hasilnya, siapa pun orangnya, apakah dia orang asli atau pendatang, asal memenuhi syarat akan diterima menjadi Imam masjid. Tidak ada praktik kolusi, korupsi dan nepotisme dalam hal penyaringan imam. Dan pengelola masjid terkejut ketika tahu kalau lelaki yang berbulan-bulan menjadi penambal sepeda di dekat masjid ternyata nilai atau skornya paling tinggi. Ia terpilih menjadi imam masjid yang baru. dan melihat gelagatnya pengelola masjid dan jamaah masjid itu juga menduga kalau yang bersangkutan memiliki bekal ilmu agama yang tinggi. Oleh karena itu, bukan saja kegiatan
    menjadi imam masjid yang ia lakukan, tetapi juga kegiatan tabligh. Pendengarnya lebih terkejut lagi ketika mendengar ceramahnya.
    Setelah waktu dirasa cukup, barulah tokoh ini mengaku siapa dirinya. Ia mengaku berasal dari Sumatera Barat dan kedatangannya ke bumi Aceh diutus oleh Muhammadiyah untuk merintis berdirinya Persyarikatan di situ. Karena selama ini dia sudah membuktikan kebaikannya, dan sudah membuktikan kemampuannya sebagai imam masjid dan sebagai ulama, dengan mudah warga sekitar masjid menerima kehadiran Persyarikatan di situ.
    Demikianlah kisah yang pernah penulis dengar waktu tahun 1970-an penulis merantau ke Jakarta dan hampir setiap hari nongkrong di Kantor Perwakilan Istimewa PP Muhammadiyah di Menteng Raya 62 Jakarta. Setiap Ahad pagi, di aula ada pengajian. Dari pengajian dan ngobrol dengan sesama hadirin, potongan perjuangan seorang tokoh besar Muhammadiyah ketika akan mengenalkan Persyarikatan lewat masjid pun terdengar. Kisah ini sungguh dapat menjadi teladan. Ada dua teladan dapat digali disini. Pertama, pengelola masjid yang demokratis dalam upaya regenerasi imam masjid, yaitu dengan melakukan pendaftaran terbuka dan mengetes secara obyektif para calon imam masjid. Apa pun hasilnya, dan siapa pun yang memiliki kemampuan membaca Al Qur’an dan kemampuan menjadi imam, dia yang akan dipilih. Pilihan dilakukan secara obyektif, demokratis dan tidak pilih kasih serta tidak membedakan apakah calon itu warga asli atau pendatang. Kedua, calon imam yang mendaftar pun dengan sportif menerima apa pun hasil seleksi itu. Sebab mereka percaya pada mekanisme pemilihan atau mekanisme seleksi yang obyektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, masjid itu akan selalu mampu memilih calon terbaik menjadi imam terbaik ketika mereka membutuhkan regenerasi imam.

    *) Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat pada Majalah Suara Muhammadiyah edisi 18 / 95 | 16 - 30 September 2010
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Regenerasi Imam Masjid dan Musholla Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top