• Latest News

    Rabu, 05 Agustus 2015

    Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan


    Oleh: Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc, M.A
    Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah

    Kurang lebih sejak 1975, ada pola tempat penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah, yakni tiga kali diadakan di Pulau Jawa dan sekali di luar Jawa. Pada 1975, Muktamar Muhammadiyah ke-39 digelar di Kota Padang, Sumatra Barat. Setahun berikutnya, muktamar ke-40 diadakan di Surabaya, Jawa Timur. Sementara itu, muktamar ke-41 yang diadakan pada 1985 dihelat di Surakarta dan muktamar berikutnya di Yogyakarta. Pada 1995, muktamar kembali diadakan di luar Jawa, yaitu muktamar ke-43 yang diselenggarakan di Aceh. Kemudian, tiga muktamar berikutnya diadakan di Jawa, yakni Jakarta (2000), Malang (2005) dan muktamar ke-46 di Yogyakarta (2010). Untuk tahun ini, muktamar ke-47 kembali diadakan di luar Jawa, yaitu di Makassar, Sulawesi Selatan.
    Sebenarnya tidak ada aturan tertulis tentang pola 3:1 ini. Bahkan, dalam rapat-rapat penentuan tempat muktamar pun, baik di tingkat pimpinan pusat maupun di sidang tanwir (permusyawaratan tertinggi kedua setelah muktamar), tema itu tidak pernah dibicarakan karena tidak relevan untuk membahas Jawa dan luar Jawa. Muhammadiyah ialah gerakan yang bersifat nasional jauh sebelum Indonesia sebagai negara terbentuk.
    Muktamar ke-47 di Makassar ialah muktamar pertama pada abad kedua perjalanan dakwah Muhammadiyah. Kalau Muktamar Satu Abad 2010 yang diadakan di Yogyakarta mengambil tema “Gerak Melintas Zaman: Dakwah dan Tajdid Menuju Peradaban Utama”, muktamar di Makassar 3-7 Agustus 2015 mengambil tema “Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan”.
    Di kalangan pengurus dan warga Muhammadiyah, organisasi ini biasa disebut persyarikatan. Hal itu boleh jadi karena sebelum mendirikan Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan sudah mendirikan beberapa organisasi dalam bentuk majelis taklim dengan berbagai nama, seperti “Wal-Fajri” dan “Wal-‘Ashri”. Kemudian semua bersatu dalam Muhammadiyah, termasuk juga organisasi yang didirikan tokoh lain, seperti “Sendi Aman Tiang Selamat” di Maninjau, Sumatra Barat, yang didirikan Dr. Abdul Karim Amrullah (ayah Buya HAMKA-red).

    Ide Pencerahan
    Di samping persyarikatan, julukan populer lainnya (bagi Muhammadiyah-red) ialah gerakan. Hal tersebut menunjukkan bahwa organisasi ini selalu bergerak dinamis, tidak pernah berhenti berjuang, berdakwah dan beramal shalih untuk umat, bangsa dan kemanusiaan. Dilihat dari segi struktur dan jaringan, Muhammadiyah bersifat “jam’iyyah” (organisasi) dan kalau dilihat dari segi keanggotaan dan hubungan antar anggota dan pimpinan sebagai sebuah keluarga besar, Muhammadiyah disebut “jama’ah”.
    Ide pencerahan atau dalam bahasa Arab disebut tanwir didapat dari pemahaman Al-Qur’an Surat Al-Baqarah [2] ayat 257.
    “Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”
    Ayat itu menjelaskan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala membawa orang-orang yang beriman keluar dari berbagai macam kegelapan menuju satu cahaya (yukhrijukum minazh-zhulumat ilan-nur). Nur berarti cahaya. Memberi cahaya disebut tanwir, atau dalam terjemah bebasnya pencerahan. Pencerahan mempunyai tiga unsur: pembebasan, pemberdayaan, dan memajukan. Sebagai gerakan pencerahan, tugas pertama Muhammadiyah ialah membebaskan manusia dari penyembahan sesama makhluk menuju penyembahan Khalik semata. Itulah misi utama dakwah Islam, yaitu membebaskan umat manusia dari penyembahan sesama makhluk menuju penyembahan Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata.
    Dengan ungkapan lain, membawa manusia dari kemusyrikan menuju tauhid, dari kedurhakaan menuju ketaatan, dari kebohongan menuju kejujuran, dan dari perbuatan mungkar menuju perbuatan makruf. Tauhid inilah yang menjadikan manusia bertindak rasional, efektif, efisien, selalu mengerjakan kebaikan, dan ingin memberikan manfaat bagi orang lain. Dengan semangat pembebasan itulah, Muhammadiyah sejak awal berdiri berjuang tanpa kenal lelah membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan, kebodohan dan kemiskinan.
    Setelah pembebasan, unsur pencerahan yang kedua ialah pemberdayaan. Aspek yang kedua itu dilakukan Muhammadiyah melalui dakwah, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Sejarah sudah mencatat kiprah Muhammadiyah satu abad mendidik anak bangsa sehingga dari rahim organisasi ini lahir puluhan ribu sekolah, ratusan perguruan tinggi, rumah sakit, dan panti-panti asuhan yatim dan jompo. Tidak dapat dihitung sudah berapa juta anak bangsa yang telah dididik Muhammadiyah dan sudah berapa banyak tokoh yang disumbangkan Muhammadiyah untuk bangsa ini. Sebagian dari mereka sudah dihargai pemerintah sebagai pahlawan nasional dan sebagian lagi hanya menjadi pahlawan di hati anak bangsa yang mengenalnya.
    Setelah pemberdayaan, unsur ketiga dari pencerahan ialah memajukan. Maju dalam segala aspek, baik ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, politik, maupun budaya. Gerakan pencerahan yang dilakukan Muhammadiyah terus-menerus itu ialah dalam rangka memajukan bangsa dan negara.
    Muhammadiyah dengan ideologi dan manhaj moderatnya (washathiyah) ingin membawa Indonesia menjadi negara yang tidak hanya aman, damai, toleran, sejahtera, tetapi juga maju. Bagi Muhammadiyah, Indonesia dengan ideologi Pancasila merupakan negara hasil konsensus seluruh komponen bangsa. Oleh sebab itu, Muhammadiyah bersama seluruh komponen bangsa berkewajiban menjaganya. Di samping itu, bagi Muhammadiyah, Indonesia juga negara tempat kita menjadi syuhada’ (menjadi saksi dalam pengertian memberikan yang terbaik sehingga menjadi teladan, rujukan, referensi bagi siapa saja). Dalam bahasa Arab, bagi Muhammadiyah, Indonesia merupakan “darul ‘ahdi wa asy syahadah”.
    Oleh sebab itu, Muhammadiyah berjuang dengan sungguh-sungguh dan sepenuh kekuatan untuk membawa Indonesia sebagai “darul ‘ahdi wa asy syahadah” itu menuju “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”. Yakni negara yang aman, damai, tenteram, sejahtera, adil, makmur dan diridhai Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar ingin meneguhkan hal itu, meneguhkan peran yang sudah diambil Muhammadiyah sejak awal berdirinya.


    *) Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di Media Indonesia 31 Juli 2015
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan Rating: 5 Reviewed By: Anonim
    Scroll to Top