• Latest News

    Selasa, 18 Agustus 2015

    Keutamaan Manusia Karena Ilmu

     
    Tafsir Surat al-Baqarah 31-33

     وَعَلَّمَ آَدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ -البقرة/31
    Artinya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” [Q.s. al-Baqarah (2): 31].

    (وَعَلَّمَ) Wa allama: dan Dia (Allah) mengajarkan, (آَدَمَ) Adam: Nabi Allah a.s., Bapak seluruh umat manusia. Apabila ada orang bertanya: mengapa satu keturunan bisa warna kulitnya dan sifatnya berbeda-beda? Maka salah satu jawabannya ada di dua hadits berikut:
    حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ أَنَّ يَزِيدَ بْنَ زُرَيْعٍ وَيَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ حَدَّثَاهُمْ قَالَا حَدَّثَنَا عَوْفٌ قَالَ حَدَّثَنَا قَسَامَةُ بْنُ زُهَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ مِنْ قَبْضَةٍ قَبَضَهَا مِنْ جَمِيعِ الْأَرْضِ فَجَاءَ بَنُو آدَمَ عَلَى قَدْرِ الْأَرْضِ جَاءَ مِنْهُمْ الْأَحْمَرُ وَالْأَبْيَضُ وَالْأَسْوَدُ وَبَيْنَ ذَلِكَ وَالسَّهْلُ وَالْحَزْنُ وَالْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ زَادَ فِي حَدِيثِ يَحْيَى وَبَيْنَ ذَلِكَ وَالْإِخْبَارُ فِي حَدِيثِ يَزِيدَ
    Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Musaddad bahwa Yazid bin Zurai dan Yahya bin Said menceritakan kepada mereka, keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Auf ia berkata: telah menceritakan kepada kami Qasamah bin Zuhair, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Musa al-Asyari, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Allah menciptakan Adam dari segenggam tanah dari semua jenis tanah. Kemudian keturunannya datang beragam sesuai dengan unsur tanahnya. Ada di antara mereka yang berkulit merah, putih, hitam, dan antara warna-warna itu ada yang lembut dan ada yang kasar, ada yang buruk dan ada yang baik. Dan ada tambahan dalam hadits Yahyadan ada pula di antara (sifat) itu, adapun lafadz (redaksi) hadits di atas adalah riwayat Yazid”. [HR. Abu Dawud: 4073]. Al-Albani berkata hadits ini shahih.
    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ وَابْنُ أَبِي عَدِيٍّ وَمُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ وَعَبْدُ الْوَهَّابِ قَالُوا حَدَّثَنَا عَوْفُ بْنُ أَبِي جَمِيلَةَ الْأَعْرَابِيُّ عَنْ قَسَامَةَ بْنِ زُهَيْرٍ عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى خَلَقَ آدَمَ مِنْ قَبْضَةٍ قَبَضَهَا مِنْ جَمِيعِ الْأَرْضِ فَجَاءَ بَنُو آدَمَ عَلَى قَدْرِ الْأَرْضِ فَجَاءَ مِنْهُمْ الْأَحْمَرُ وَالْأَبْيَضُ وَالْأَسْوَدُ وَبَيْنَ ذَلِكَ وَالسَّهْلُ وَالْحَزْنُ وَالْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
    Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Said dan Ibnu Abu Adi dan Muhammad bin Jafar dan Abdul Wahhab, mereka berkata: telah menceritakan kepada kami Auf bin Abu Jamilahal-Arabi dari Qasamah bin Zuhair dari Abu Musa al-Asyari ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan Adam dari genggaman yang diambil dari seluruh bumi, lalu anak keturunan Adam datang sesuai dengan kadar bumi (tanah), di antara mereka ada yang (berkulit) merah, putih, hitam. Dan di antaranya pula ada yang ramah, sedih, keji dan baik Abu Isa berkata: hadits ini hasan shahih. [HR. Tirmidzi: 2879]. Al-Albani berkata hadits ini shahih.
    (الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا) Al-asma’a kullaha: nama-nama (jenis benda) seluruhnya, seperti: air, tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia. Ketika disebut kata “nama”, maka yang dimaksud adalah suatu benda yang diberi nama. Bahwa yang dimaksud nama-nama itu, menurut Ibnu Katsir dan Imam Al-Qurthubi di dalam kitab tafsirnya, adalah nama segala sesuatu. Sebab, ada hadits riwayat Imam Bukhari yang menguatkan pendapat ini:
    حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و قَالَ لِي خَلِيفَةُ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَجْتَمِعُ الْمُؤْمِنُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُونَ لَوْ اسْتَشْفَعْنَا إِلَى رَبِّنَا فَيَأْتُونَ آدَمَ فَيَقُولُونَ أَنْتَ أَبُو النَّاسِ خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ وَأَسْجَدَ لَكَ مَلَائِكَتَهُ وَعَلَّمَكَ أَسْمَاءَ كُلِّ شَيْءٍ فَاشْفَعْ لَنَا عِنْدَ رَبِّكَ حَتَّى يُرِيحَنَا مِنْ مَكَانِنَا هَذَا ….
    Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Hisyam, telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Anas r.a. dari Nabi SAW, demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, dan Khalifah berkata kepadaku, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai, telah menceritakan kepada kami Said dari Qatadah dari Anas r.a.dari Nabi SAW, Beliau bersabda: Pada hari kiamat orang-orang yang beriman berkumpul lalu mereka berkata; ‘Sebaiknya kita meminta syafa’at kepada Rabb kita azza wajalla sehingga kita dapat pindah dari tempat kita sekarang juga. Lalu mereka mendatangi Adam a.s. seraya mengatakan; Wahai Adam, engkau adalah bapaknya manusia, Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya sendiri dan menjadikan malaikat-malaikat-Nya sujud kepadamu, serta diajarkan pula kepadamu nama-nama segala sesuatu, maka mintakanlah syafa’at kepada Rabb kami azza wajalla agar Dia memindahkan kami dari tempat kami ini!….” [HR. Bukhari: 4116].
    (ثُمَّ عَرَضَهُمْ) Kemudian atau setelah itu, Allah mengemukakan nama-nama itu kepada para malaikat. Kata هُمْ pada Q.s. al-Baqarah (2) ayat 31 di atas dipakai untuk kata ganti nama-nama benda. Dalam ayat berikut, kata yang sama dipakai untuk kata ganti binatang:
    وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِنْ مَاءٍ فَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى بَطْنِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى رِجْلَيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى أَرْبَعٍ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ -النور/45
    Artinya: “Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian mereka (hewan) itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian mereka berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” [Q.s. an-Nuur (24): 45].
    (عَلَى الْمَلَائِكَةِ) kepada para Malaikat. (أَنْبِئُونِي) anbi’uuni: kabarkanlah (beritahukanlah) kepada-Ku. (هَؤُلَاءِ) haa-ulaa’i: mereka (hal-hal tadi). (إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ) in kuntum shaadiqiin: jika kamu memang orang-orang yang benar. Maksudnya adalah benar dalam perkataan dan dugaan.
    قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ   -البقرة/32
    Artinya: “Mereka menjawab: Maha Suci Engkau, tidak ada ilmu yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” [Q.s. al-Baqarah (2): 32].
    (قَالُوا سُبْحَانَكَ) qaaluu subhaanaka: mereka (para malaikat) menjawab, “Maha Suci Engkau (Ya Allah).” Maksudnya, kami (para malaikat) mensucikan Engkau dari apa yang kami katakan tentang khalifah (Nabi Adam). Kata subhaanaka ini digunakan untuk mensucikan Allah ‘azza wa jalla. Ungkapan-ungkapan Subhaan-Allah (Maha Suci Alah) Subhaanaka Allahumma (Maha Suci Engkau Ya Allah), Subhaana Rabbiyal ‘Adhiim (Maha Suci Rabb-ku yang Maha Agung) serta lainnya yang memakai Subhaanadinamakan Tasbiih.
    (لَا عِلْمَ لَنَا) laa ‘ilma lanaa: tidak ada ilmu yang kami ketahui. (إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا) illaa maa ‘allamtanaa: selain dari apa (ilmu) yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Kata مَا bisa berarti “apa yang”, dan yang dimaksud di sini adalah “ilmu” sebagai kata ganti (badal) dari kata (لَا عِلْمَ لَنَا) laa ‘ilma lanaa: tidak ada ilmu yang kami ketahui.
    (إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ) innaka anta al-‘aliimul hakim: sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (الْعَلِيمُ)al-‘aliim: Maha mengetahui. Allah Maha mengetahui segala sesuatu dalam seluruh aspeknya. Bagi Allah, tidak ada yang tidak diketahuinya, juga tidak ada yang terlupakan meskipun itu hal-hal yang sangat kecil atau remeh, baik yang ada di langit maupun di bumi.
    (الْحَكِيم) al-hakiim: yang Maha Bijaksana. Maksudnya adalah Allah (Rabb) itu adalah dzat yang memiliki kebijaksanaan yang sempurna. Allah menciptakan sesuatu pastilah ada hikmahnya di balik itu. Demikian pula, ketika Allah memerintahkan sesuatu, maka pasti ada hikmah di balik itu. Hikmah adalah meletakkan sesuatu pada tempat yang sesuai.
    قَالَ يَا آَدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ -البقرة/33
    Artinya: “Allah berfirman: Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: Bukankah sudah Aku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?” [Q.s. al-Baqarah (2): 33].
    (قَالَ يَا آَدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ) qaala yaa Adamu anbi’hum bi-asmaa’ihim: Dia (Allah) berfirman: Ya Adam, beritahukan kepada para malaikat mengenai nama-nama benda. Perintah Allah kepada Nabi Adam untuk memberi tahu nama-nama benda yang para malaikat tidak tahu dan tidak bisa menyebut nama-nama benda. (فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ) falammaa anba’ahum bi-asmaa’hi: maka setelah Nabi Adam memberitahukan kepada mereka (para malaikat) nama-nama benda itu, sadarlah para malaikat atas keutamaan Adam dibandingkan mereka. Di sinilah letak hikmah atas penciptaan Adam sebagai khalifah.
    (قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ) qaala alam aqul lakum innii a’lam: Allah berfirman: Bukankah sudah Aku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui! Ini adalah penegasan bahwa Allah adalah mengetahui yang dalam konteks bunyi ayat selanjutnya adalah semua yang tersembunyi dan semua rahasia yang ada di langit dan bumi. (غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ) ghaibas samawaati wal-ardh: segala yang tidak tampak di langit maupun di bumi.
    (تُبْدُونَ) tubduuna: yang kamu tampakkan. Dalam kaitan ini adalah ucapan malaikat yang berbunyi: “apakah Engkau… akan menjadikan…”. (تَكْتُمُونَ) Taktumuun: yang kamu sembunyikan atau rahasiakan. Dalam kaitan ini terutama adalah apa yang disembunyikan Iblis di dalam hatinya yaitu menentang perintah, merasa sombong dan tidak mau melaksanakan perintah Allah.
    Allah SWT memberi penjelasan tentang kekuasaan-Nya, pengetahuan-Nya dan juga hikmah di balik firman atau atau ciptaan-Nya. Allah mencipta Adam itu mempunyai hikmah yang besar. Allah memberi ilmu kepada Nabi Adam nama-nama semua makhluk yang itu tidak diajarkan kepada para malaikat. Ketika makhluk-makhluk itu ditampilkan di hadapan para malaikat dan disuruh menyebutnya, maka para malaikat mengaku bahwa mereka tidak mengetahuinya.
    Ungkapan di atas adalah sebagai sanggahan Allah atas “pertanyaan” malaikat yang bernada protes terhadap penciptaan Adam sebagai khalifah. Dengan pertanyaan itu, sepertinya para malaikat menganggap dirinya sebagai makhluk yang paling mulia dan pandai, karena merasa sudah tahu atas apa yang akan terjadi pada Bani Adam, atau pada umat manusia. Dan, ternyata para malaikat tidak mampu menyebutkan nama-nama para makhluk yang dihadapkan pada mereka. Sedangkan Nabi Adam bisa dan mampu menyebutkan nama-nama itu. Di sinilah letak kemuliaan Adam di atas para malaikat, yaitu bahwa Adam dan anak turunnya itu diberi anugerah ilmu.
    Pelajaran yang dapat dipetik dari Q.s. al-Baqarah (2) ayat 31-33 di atas adalah: pertama, penjelasan kekuasaan Allah dengan ilmu-Nya yang mengajarkan kepada Nabi Adam nama-nama seluruh makhluk. Kedua, menjelaskan kemuliaan ilmu pengetahuan dan juga keutamaan orang berilmu. Ketiga, keutamaan orang yang mau mengakui ketidaktahuan, ketidakmampuan dan kekurangan dirinya. Keempat, diperbolehkannya memberi teguran terhadap orang yang merasa tahu, padahal tidak tahu.

    *) Narasumber artikel ini: M. Yusron Asrofie. Tulisan ini diambil dari web Tuntunan Islam
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Keutamaan Manusia Karena Ilmu Rating: 5 Reviewed By: Anonim
    Scroll to Top