• Latest News

    Rabu, 12 Agustus 2015

    Mengenal Ormas Islam Mathla'ul Anwar





    A.  Kondisi Umum Masyarakat Banten
    Masyarakat wilayah Banten sebelum datangnya agama Islam adalah Daerah Kadipaten di bawah Kerajaan Padjajaran yang berpusat di Bogor. Kerajaan Padjajaran adalah sebuah kerajaan hindu di Jawa Barat sebagai kelanjutan kerajaan Hindu sebelumnya, yang disebut kerajaan Tarumanagara, kerajaan ini didirikan oleh Purnawarman kurang lebih abad kelima Masehi. Masyarakat Banten sendiri pada waktu tidak banyak diketahui menganut agama apa, karena tidak ditemukan adanya bekas tempat peribadatan/pemujaan.
    Wilayah ini dipimpin oleh seorang adipati yang bernama Pucuk Umun dengan dibantu oleh dua punggawa senopati yang bernama Mas Jong dan Agus Ju. Ketika Banten ditaklukan oleh Sultan Maulana Hasanuddin putra Sultan Maulana Syarif Hidayatullah sultan Cirebon. Setelah takluknya Pucuk Umum lari ke sebelah selatan dan Mas Jong serta Agus Ju menyerahkan diri kepada Sultan Maulana Hasanudin dan kemudian memeluk agama Islam. Sebagai muallaf, mereka diperlakukan dengan baik oleh Sultan Maulana Hasanudin, mereka diajari ilmu Islam hingga menjadi mubaligh. Masing-masing diberi gelar kehormatan sebagai Ratubagus Ju dan Kimas Jong serta mendapat kedudukan penting dalam pemerintahan Kesultanan Islam di Banten.
    Sejak dihancurkannya Kesultanan Banten pada tahun 1813 H oleh Gubernur Jenderal Deandeles, praktis Banten dinyatakan daerah jajahan Belanda. Kekuatan Belanda memaksa perubahan, dan sejak itu seluruh daerah di Banten mengalami guncangan. Sebab ketika penetrasi kolonial secara intensif menyentuh kehidupan sehari-hari rakyat melalui pajak yang berat, pengerahan tenaga buruh yang berlebihan, dan peraturan yang menindas, serta tekanan militer yang represif.
    Kolonialisme sebagai bentuk penguasaan wilayah memiliki sistem administrasi yang sistematis dengan mengatur segala kewenangan organisasi sosial dan politik di kawasan kolonial sesuai dengan keperluan negara jajahan. Sistem itu bertentangan dengan apa yang diharapkan dalam bentuk harmoni sosial.
    Lebih dari itu kehadiran kolonialisme Belanda bukan hanya menghancurkan tata niaga masyarakat pribumi, sistem ekonomi dan politik tradisional, tetapi juga menghancurkan sistem idiologi negara sebagai pemersatu bangsa, sehingga kesatuan rakyat di negara jajahan bercerai berai, yang juga mengakibatkan terjadinya konflik dan peperangan antar golongan serta politik adu domba yang dilancarkan Belanda menyebabkan terjadinya perselisihan politik antar elite.
    Setelah runtuhnya Kesultanan Banten dan kekacauan politik serta diikuti kemerosotan ekonomi, sebagian  para kyai/guru atau penduduk dengan ramai-ramai ‘uzlah meninggalkan keramaian kota kesultanan Banten  dan masuk ke pedalaman, akhirnya mereka membuka lembaran baru dengan cara bertani sambil mengajarkan ilmu agama Islam secara mandiri, dan disinilah pendidikan agama Islam dikembangkan dengan fasilitas yang seadanya dan dengan orientasi anti kolonialisme.
    Ketika tata kehidupan tradisional yang membentuk harmoni sosial masyarakat mengalami penghancuran, sebagian dari elite agama membentuk fron perlawanan terhadap penjajahan belanda tanpa henti. Guru agama/kyai tidak hanya mengambil jarak dengan pemerintah kolonial, tapi juga menjadikan kegiatan-kegiatan sosial keagamaan itu dinyatakan sebagai jalan jihad melawan kolonialisme Belanda. Mereka memilih menjadi buronan yang selalu diawasi dan dikejar-kejar oleh pemerintah. Karena itu sering terjadi pemberontakan dan perlawanan walau banyak diantara para tokoh dan pimpinan agama Islam di Banten yang tertangkap dan kemudian dibuang ke negeri orang.

    B. Kondisi Pendidikan Masyarakat Banten
    Di bawah kekuasaan Belanda rakyat Banten bukan bertambah baik malah semakin melarat dan terbelakang. Kondisi ini hampir dialami oleh seluruh rakyat di seluruh nusantara. Guna mengatasi permasalahan tersebut pemerintah Belanda memberlakukan politik etis. Program politik etis yang di jalankan oleh pemerintah Belanda diantaranya membuat irigasi dengan tujuan untuk mendukung pertanian rakyat dan menyelenggarakan sekolah bagi bumiputra. Ternyata program tersebut gagal memberikan manfaat bagi penduduk desa. Hal ini terjadi karena yang bisa menikmati sekolah itu hanya sebagian kecil rakyat saja terutama orang-orang yang berada di kota dan siap menjadi calon ambtenar (pegawai Belanda).
    Sedangkan pada waktu itu di kalangan rakyat kebanyakan tidak terjangkau oleh sisitem pendidikan ini, disamping jumlah yang sangat sedikit (hanya di kota-kota kewadanaan saja yang disediakan sekolah), juga syarat untuk dapat belajang sangat berat, dan cenderung sengaja dipersulit dengan berbagai macam alasan-alasan.
    Tujuan Belanda menyelenggarakan sekolah ini, seperti dikatakan di atas adalah untuk menyiapkan calon pekerja ambtenar yang jumlahnya tidak banyak. Sebagian besar rakyat bumi putera hanya dibutuhkan sebagai pekerja kasar yang tidak memerlukan pengetahuan yang tinggi, yang penting asal bertenaga kuat.
    Pendidikan islam pada waktu itu yang masih ada ialah pondok pesantren yang diselenggarakan oleh para kyai secara individual dan tradisional. Pendidikan ini penuh dengan segala keterbatasan, baik dalam hal sarana, dana, maupun manajemennya, ditambah pula dengan kondisi yang tidak aman dari berbagai pengawasan oleh pemerintah Belanda. Pihak penjajah beranggapan bahwa kharisma keagamaan yang tersimpan dalam jiwa para kyai itu masih mengundang semangat anti kafir/penjajah, yang bila ada peluang pasti meletuskan api pemberontakan terhadap pemerintah penjajah.
    Keadaan tersebut menggelisahkan masyarakat dan mematikan semangat umat dan pada gilirannya akan menghilangkan ajaran islam yang telah ditanamkan oleh para pejuang terdahulu. Oleh karenanya orang-orang yang baru saja pulang menunaikan ibadah haji atau mukim di Mekkah yang lama menimba agama Islam, sudah tentu merupakan sesuatu yang sangat menarik perhatian bagi masyarakat Banten.

    C. Proses Berdirinya Mathla’ul Anwar
    Di tengah hiruk pikuknya dan galaunya kemungkaran di dalam masyarakat yang dilanda kemiskinan, kebodohan dan kejumudan yang diselimuti pula oleh kabut kegelapan dan kebingungan (poek mongkleng) muncullah seberkas sinar harapan yang di diharapkan akan membawa perubahan di hari kemudian.
    Tersebutkan K.H. Entol Moh. Yasin yang baru kembali dari menghadiri rapat yang diselenggarakan di Bogor oleh para ulaman yang tujuannya mendambakan kehidupan umat yang lebih baik. Gerakan ini dipelopori oleh H. Samanhudi dalam rangka mendirikan  Syarikat Dagang Islam (SDI) pada tahun 1908 M. Beliau mendatangi rekan-rekan ulama yang ada di sekitar Menes, antara lain K.H.Tb. Moh. Sholeh dari Kampung Kananga dan beberapa orang kyai lainnya. Tujuan pertemuan tersebut adalah untuk bermusyawarah dan bertukar pikiran yang akhirnya melahirkan kata sepakat untuk membentuk suatu majelis pengajian yang diasuh bersama. Pengajian ini juga dijadikan lembaga muzakarah dan musyawarah dalam menanggulangi dan memerangi situasi gelap itu ialah dengan harapan muncul seberkas sinar, yang kemudian menjadi nama MATHLA’UL ANWAR (bahasa Arab yang artinya tempat lahirnya cahaya).
    Militansi K.H. Entol Moh. Yasin dari Kaduhawuk Menes ini tak pernah memudar dalam keinginan untuk memajukan umat melalui pendidikan, beliau menghendaki kemajuan umat hanya mungkin melalui pendidikan. Bukankah Nabi Muhammad SAW bersabda : “barang siapa yang menginginkan dunia haruslah dengan ilmu, barang siapa menginginkan akhirat haruslah dengan ilmunya, dan barang siapa yang keduanya haruslah dengan ilmu” dan hadits yang lain : “ilmu itu adalah cahaya”.
    Beranjak dari sinilah akhirnya melahirkan sebuah kata sepakat untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam yang dikelola dan diasuh secara jama’ah dengan mengkordinasikan berbagai disiplin ilmu terutama ilmu Islam yang dianggap merupakan kebutuhan yang mendesak.
    Perjuangan mengangkat dan membangkitkan umat dari lembah kegelapan dan kemiskinan yang menimbulkan keterbelakangan, tidak cukup sekedar dengan mengadakan pengajian bagi generasi tua saja. Untuk itu dituntut langkah lebih lanjut lagi, yaitu lahirnya generasi berikutnya yang justru merupakan sasaran utama yang diharapkan mampu mengubah situasi (min al zhulumati ila al nur).

    D. Berdirinya Mathla’ul Anwar
    Guna mencari pemecahan masalah tersebut, para kyai mengadakan musyawarah di bawah pimpinan K.H. Entol Moh. Yasin dan K.H.Tb. Moh. Sholeh serta para ulama yang ada di sekitar Menes bertempat di Kampung Kananga. Akhirnya, setelah mendapatkan masukan dari para peserta musyawarah, adanya kata sepakat untuk Mukarramah. Ia tengah menimba ilmu Islam di tempat asal kelahiran agama Islam kepada seorang guru besar yang juga berasar dari Banten yaitu Syekh Moh. Nawawi al Bantani.
    Ulama besar ini diakui oleh seluruh dunia Islam tentang kebesarannya sebagai seorang fakih, dengan karya-karya tulisnya dalam berbagai cabang ilmu Islam. Siapakah pemuda itu? Dialah K.H. Mas Abdurrahman  bin K.H. Mas Jamal, yang lahir pada tahun 1875 di Kampung Janaka, Kecamatan Jiput, Kawedanaan Caringin, Kabupaten Pandeglang, Karesidenan Banten.
    K.H. Mas Abdurrahman bin K.H. Mas Jamal kembali dari tanah sudi sekitar tahun 1910 M. Dengan kehadiran seorang pemuda yang penuh semangat untuk berjuang mengadakan pembaharuan semangat Islam bersama kyai-kyai sepuh, dapatlah diharapkan untuk membawa umat Islam keluar dari alam gelap gulita ke jalan hidup yang terang benderang, sesuai dengan ayat al-Qur’an “yukhriju hum min al dzulumati ila al nur”.
    Pada tanggal 10 bulan Ramadhan 1334 H, bersamaan dengan tanggal, 10 Juli 1916 M, para kyai mengadakan suatu musyawarah untuk membuka sebuah perguruan Islam dalam bentuk madrasah yang akan dimulai kegiatan belajar mengajarnya pada tanggal 10 Syawwal 1334 H / 9 Agustus 1916 M. Sebagai Mudir atau Direktur adalah K.H. Mas Abdurrahman dan Presiden Bistirnya K.H. Entol Moh. Yasin, serta dibantu oleh sejumlah kyai dan tokoh masyarakat di sekitar Menes.
    Selengkapnya para pendiri Mathla’ul Anwar :
    1.     K.H.Tb. Moh. Sholeh
    2.     K.H. Entol Moh. Yasin
    3.     K.H. Mas Abdurrahman
    4.     Kyai Tegal
    5.     K.H. Abdul Mu’ti
    6.     K.H. Soleman Cibinglu
    7.     K.H. Daud
    8.     K.H. Rusydi
    9.     E. Danawi
    10.  K.H. Mustaghfiri
    Adapun tujuan didirikannya Mathla’ul Anwar ini adalah agar ajaran Islam menjadi dasar kehidupan bagi individu dan masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka disepakati untuk menghimpun tenaga-tenaga pengajar agama Islam, mendirikan madrasah, memelihara pondok pesantren dan menyelenggarakan tabligh ke berbagai penjuru tanah air.

    E.  Program Pendidikan Mathla’ul Anwar
    Kegiatan belajar pertama kalinya untuk sementara diselenggarakan di rumah seorang dermawan di Kota Menes, beliau merelakan tempat tinggalnya digunakan untuk tempat belajar bagi umat. Tokoh ini adalah K.H. Mustaghfiri.
    Selanjutnya setelah mendapatkan sebidang tanah yang di wakafkan oleh Ki Demang Entol Djasudi, yang terletak di tepi jalan raya dibangunlah sebuah gedung madrasah dengan cara gotong royong oleh seluruh masyarakat Islam Menes. Sampai kini gedung tersebut masih berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah. Gedung tersebut tidak lain ialah pusat perguruan Islam Mathla’ul Anwar yang terletak di Cimanying, Menes, Pandeglang.
    Mengenai program pendidikan diselenggarakan program 9 (sembilan) tahun, yaitu mulai dari kelas A, B, I, II, III, IV, V, VI, dan VII pada waktu itu belum ada pemisahan tingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah. Disamping pendidikan dengan sistem klasikal dalam bentuk madrasah, sebagai langkah modernisasi juga dibuka lembaga pendidikan dengan sistem pesantren, model ini tetap dihidupsuburkan, bahkan dikorelasikan dengan sistem sekolah.
    Santriwan dan santriwati yang telah menyelesaikan masa pendidikan selama 9 tahun, yaitu tamat kelas VII, dikirim ke berbagai tempat/daerah untuk menda’wahkan ajaran Islam dalam bentuk baru, yaitu mendirikan Madrasah Mathla’ul Anwar cabang Menes, dengan diantar oleh Pengurus Perguruan Mathla’ul Anwar Menes. Mereka diberi bisluit atau surat tugas mengajar dari Presiden of Bestur Mathla’ul Anwar dengan semangat iman dan keyakinan terhadap janji Allah SWT, yang berbunyi : “in tashuru Allah yanshuru kum (artinya : jika dengkau menolong agama Allah, pasti Allah akan menolong mu). Maka tidaklah mengherankan jika pada tahun 1922-an sampai dengan 1930-an, di Lampung, Lebak, Serang (kepuh), Bogor, Tangerang, Karawang, dan tempat-tempat lain sudah berdiri Madrasah Mathla’ul Anwar Cabang Menes, pada waktu itu penyelenggaraan Madrasah cabang hanya diijinkan sampai dengan kelas IV (empat), sedangkan untuk kelas V, VI dan VII harus belajar di Menes.
    Pada tahun 1929 didirikan Madrasah Putri Mathla’ul Anwar dengan tiga tokoh yang menjadi pimpinannya yaitu :
    1.  Nyi H. Jenab
    2.  Nyi Kulsum
    3.  Nyi Aisyah
    Disamping kegiatan belajar mengajar di madrasah dan pesantren juga setiap hari Kamis setiap pekan seluruh guru diwajibkan mengikuti pengajian yang diselenggarakan di Masjid Soreang, Menes. Disana K.H. Mas Abdurrohman menetap dan sekaligus sebagai pengajian pusat. Adapun tujuan dari pengajian tersebut adalah dalam rangka memperluas dan memperdalam ilmu Islam, dengan cara itulah kyai-kyai pimpinan Mathla’ul Anwar dapat berfikir dan berwawasan luas, tidak mengurung diri dalam satu pendapat seorang ulama saja.
    Untuk membangun dan memelihara madrasah Mathla’ul Anwar, diusahakan dengan cara gotong royong baik tenaga manusia maupun dananya. Untuk itu dihimpun shodaqoh jariyah, wakaf dan jimpitan (beras remeh), yang diselenggarakan oleh jama’ah Majlis Ta’lim ibu-ibu. Caranya, setiap kali hendak memasak nasi diambil satu sendok makan dari beras yang akan dimasak dan ditampung dalam termpat tersendiri.
    Selanjutnya, beras dihimpun oleh petugas yang biasanya terdiri dari seorang janda miskin dengan mendapat imbalan sepuluh persen dari hasil pungutannya. Para janda miskin ini kemudian menyetor kepada para kader yang mengikuti pengajian pada setiap hari Kamis dan menyerahkan lagi kepada Koordinator Pusat Mathla’ul Anwar. Usaha yang tidak terasa namun nyata ini, akhirnya mampu menghimpun suatu kekuatan yang tidak kecil. Diantara sekian tanda bukti yang tidak bisa dilupakan ialah adanya beberapa bidang tanah yang dibeli dari hasil pungutan beras jimpitan (beras remeh) dan hingga kini tempat itu dinamakan “kebon remeh”, milik Mathla’ul Anwar.

    F.  Lahirnya Statuten Mathla’ul Anwar
    Peristiwa pemberontakan rakyat terhadap pemerintahan Belanda pada tahun 1926 di Menes dan Labuan, tanpa disadari oleh para tokoh dan pimpinannya, telah membuat Mathla’ul Anwar bertambah besar dan meluas. Pemberontakan yang oleh belanda disebut sebagai pemberontakan komunis menyebabkan para tokoh dan pimpinan Mathla’ul Anwar selalu dicurigari dan diawasi oleh aparat pemerintahan, terutama pihak polisi rahasia kolonial Belanda sering disebut P.I.D. hal ini terjadi karena pemberontakan terdapat tokoh dan orang-orang Mathla’ul Anwar, meskipun mereka tidak dalam kapasitasnnya sebagai tokoh dan warga Mathla’ul Anwar tetapi dalam kedudukannya sebagai anggota Serikat Islam? Sebagian dari mereka bahkan ada pula yang dibuang ke Boven Degul, Tanah Merah, Irian antara lain : K. Abdulhadi Bangko, Khusen Cisaat dan lain-lain.
    Dengan adanya pengawasan dan kecurigaan yang amat ketat di Pandeglang, khususnya di Menes dan Labuan, aktivitas para pimpinan Mathla’ul Anwar di daerah tersebut menjadi berkurang dan terpaksa harus berhati-hati sekali. Para kyai dan para ulama Mathla’ul Anwar kemudian bergerak menyebar luaskan Mathla’ul Anwar ke luar daerah, mengirimkan kader-kader di luar Pandeglang. Kader yang diutus diantaranya ke Kabupaten Lebak, Serang, Tangerang, Bogor, Karawang dan di Kresidenan Lampung.
    Pada tahun 1936 jumlah madrasah Mathla’ul Anwar sudah mencapai 40 buah yang tersebar di tujuh daerah tersebut di atas. Pada waktu itu perhatian terhadap Mathla’ul Anwar tidak lagi terbatas pada masyarakat awam dan kaum santri tetapi dari kalangan kaum pelajar (intelektual) pun mulai ikut berpartisipasi aktif. Karena itu dan sesuai pula perkembangan Mathla’ul Anwar, maka timbullah gagasan-gagasan untuk meningkatkan kualitas perkembangan organisasinya, baik yang bersifat teknis maupun administratif organisasi dan keanggotaannya.

    G. Khithah Mathla’ul Anwar
    Yang dimaksud dengan Khithah Mathla’ul Anwar adalah garis-garis yang dijadikan landasan oleh Organisasi Mathla’ul Anwar dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai Ormas Islam yang bergerak dalam bidang pendidikan, dakwah dan sosial. Adapun garis-garis pokok (khithah) Mathla’ul Anwar sebagai berikut :
    1.  Al-Qur’an sebagai sumber utama dan pertama dalam menggali kebenaran iman dan ilmu pengetahuan.
    2.  As-Sunnah dan Rasulullah SAW, sebagai pedoman operasional dalam kehidupan beragama Islam.
    3.  Ijma’ Shohabat merupakan rujukan pertama dalam memahami isi kandungan al-Qur’an dan As-Sunnah.
    4.  Ijtihad merupakan upaya yang sangat penting dalam menanggapi perkembangan sosial budaya yang selalu berkembang di kalangan umat dan masyarakat.
    5.  Mathla’ul Anwar bersikap tasamuh terhadap semua pendapat para ulama mujtahidin.
    Untuk makdus tersebut di atas maka dibuatlah Khithah Mathla’ul Anwar sebagai pedoman warga Mathla’ul Anwar dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.

    H. Tugas dan Fungsi Organisasi Mathla’ul Anwar
    1.  Bidang Pendidikan
    Mencetak generasi muslim yang sadar akan tanggung jawabnya sebagai kholifah Allah di muka bumi untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya dalam rangka ibadah kepada Allah SWT. Karenanya Mathla’ul Anwar mendidik putra putrinya dengan :
    a.  Menanamkan dan memantapkan aqidah Islamiyah yang benar
    b.  Membiasakan ibadah-ibadah yang disyariatkan
    c.   Membekali pengetahuan keislaman serta berbagai disiplin ilmuu dan skill yang berguna sesuai dengan tuntunan zaman
    d.  Menanamkan kesadaran agar dapat hidup mandiri membangun lingkungan dan masyarakat serta membentengi diri dan lingkungannya darii pengaruh-pengaruh budaya negatif (yang bertentangan denggan ajaran Islam)

    2.  Bidang Dakwah
    Mathla’ul Anwar sebagai Ormas Islam menjalankan tugasnya dalam bidang dakwah yaitu melaksanakan “amar ma’ruf nahi munkar” dengan memperhatikan kondisi dan sasaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan dakwah itu sendiri.

    3.  Bidang Sosial
    Mathla’ul Anwar sebagai Ormas Islam bergerak dalam bidang sosial dengan berbagai usaha dan cara yang islami agar masyarakat terhindar dari kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan.

    I.    Landasan Operasional Organisasi Mathla’ul Anwar
    1.  Dalam Bidang Pendidikan
    يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
    Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS : Almujadalah : 11)
    وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

    Artinya: “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS : Attaubat : 122)
    2.  Dalam Bidang Dakwah
    وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

    Artinya: “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (QS : Ali Imran : 104)
    3.  Dalam Bidang Sosial
    a.  Taat kepada para pemimpin yang beriman setelah taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

    Artinya: “Hai orang – orang yang beriman taatilah Allah dan Rasul-Nya dan ulul amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikan kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasulnya (Assunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.” (QS : An-Nisa : 59)
    b.  Bersatu dan berpegang teguh kepada wahyu Allah.
    وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ

    Artinya: “Dan perpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS : Ali Imran : 103).
    c.   Tidak hidup bergolong-golong dan memulah-milah dinul Islam.
    فَرِحُونَ تَكُونُواْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ - مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمْ وَكَانُواْ شِيَعاً كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ وَلاَ

    Artinya : “Janganlah kamu menjadi orang-orang musyrikin, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS : Ar-Rum : 31-32)
    d.  Tolong menolong dalam kebajikan dan takwa.
    وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ
    Artinya: “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS : Al-Maidah : 2)
    e.  Usaha bertahkim dengan syari’at Islam
    فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

    Artinya: “Maka demi tuhanmu mereka (pada hakekat) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihan kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hari mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS : An-Nisa : 65).
    f.    Mengikuti ahli sunnah wal jama’ah dalam aqidah (usuluddin), syariah, siasah (pemerintahan) dan ibadah (fiqh).
    g.   Memperhatikan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi Mathla’ul Anwar.


    *) Tulisan ini diambil dari blog Fakultas Hukum Unma Banten
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Mengenal Ormas Islam Mathla'ul Anwar Rating: 5 Reviewed By: Anonim
    Scroll to Top