• Latest News

    Jumat, 04 September 2015

    Kenapa Tak Berkurban?


    Oleh: Musfi Yendra *)

    10 Zulhijjah 1436 H kian dekat. Kita akan laksanakan hari raya besar, Idul Adha. Ibadah haji dan berkurban sebagai penyempurnanya. Haji rukun Islam kelima. Wajib bagi yang mampu.
    Mampu secara materi dan niat yang kuat. Jika belum mampu berhaji, maka berkurbanlah. Menyembelih hewan sebagaimana diajarkan Nabi Ibrahim.
    Biaya berhaji lebih mahal dari berkurban. Tergantung dari mana berangkatnya. Kalau dari Indonesia tahun ini sekitar Rp37 juta. Kalau berangkat dari sekitar Arab tentu biaya semakin kecil. Walaupun mahal tapi lama juga antrinya.
    Biaya berkurban di Indonesia hanya sekitar Rp 2 juta seekor kambing, Rp 14 juta seekor sapi. Bisa kurang atau lebih tergantung daerah juga.
    Bagi yang beternak kambing atau sapi tinggal disembelih dengan niat kurban. Tapi banyak orang tak mengamalkannya. Padahal hanya sekali setahun diperintahkan.
    Kenapa tak berkurban? Beli rokok setiap hari Rp 15 ribu terasa sangat ringan. Setahun menghabiskan uang Rp 5.475.000. Tembakau hanya untuk dibakar dan diisap lalu habis. Kita dapat penyakit, begitu pun orang sekitarnya.
    Berkurban hanya Rp2 juta setahun malah enggan, padahal bisa selamatkan kita dari api neraka.
    Kenapa tak berkurban? Kadang mampu setiap tahun ganti gadget terbaru. Harga gadget dengan fitur lengkap mana ada yang murah. Keluarkan uang Rp 5 juta itu biasa. Yang penting bisa bergaya.
    Berkurban hanya Rp 2 juta mikir-mikir, Hari Tasyrik berakhir, kurban tak jadi. Padahal ibadah kurban adalah media komunikasi kita dengan Allah. Kepedulian terhadap sesama manusia.
    Kenapa tak berkurban? Beli pulsa untuk paket gadget sebulan mampu Rp 200 ribu. Setahun habis Rp 2,4 juta. Itu minimal. Digunakan pun kadang untuk yang tak bermanfaat. Nabung buat kurban sebulan cuma Rp 170 ribu mana pernah direncanakan.
    Kenapa tak berkurban? Padahal lu kan biasa nongkrong di coffee shop dua kali seminggu. Sekali nongkrong ya keluar duit setidaknya Rp 50 ribu. Kalau traktir teman tiga orang jadi Rp 200 ribu dong. Kalau itu rutin sepanjang tahun, udah berapa coba?
    Hanya buat ngopi doang. Nabung kurban malah gak pernah. Pas mau Idul Adha keluarin Rp 2 juta dibilang berat. Kita gak bawa kopi di hari akhir, bro!
    Simak nih hadits Nabi. “Tidak ada perbuatan yang paling disukai Allah pada hari raya haji selain berkurban. Sesungguhnya orang yang berkurban akan datang pada hari kiamat dengan membawa tanduk, bulu dan kuku binatang kurban itu. Dan sesungguhnya darah kurban yang mengalir itu akan lebih cepat sampai kepada Allah dari pada darah itu jatuh ke bumi, maka sucikanlah dirimu dengan berkurban.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
    Kenapa tak berkurban? Padahal kan bisa ke pusat kebugaran setiap pekan. Fitnes dan main golf, enteng aja bayarnya. Rutin juga ke tempat perawatan dengan alasan kecantikan. Spa, salon, facial dan message selalu siapkan uang.
    Belum lagi shopping baju setiap bulan. Pergi liburan tiap sebentar. Giliran mau bayar kurban alasannya tabungan sudah menipis.
    Kenapa tak berkurban? Beli bensin, solar atau pertamax buat motor dan mobil buat keluyuran lancar aja tiap hari. Padahal kalau mau nabung buat ikut ibadah kurban sehari hanya Rp 6.000. Tak terasa jika kalau konsisten setahun bakal terkumpul Rp 2 juta.
    Kadang hidup kita memang sangat konsumtif. Padahal rezeki datang dari Allah tanpa henti. Gaji dan bonus sebagai karyawan, keuntungan bisnis, penambahan aset dan bisa nabung. Semua adalah titipan Allah. Bukan seutuhnya milik kita.
    Memang kita yang mengusahakan dengan bekerja. Ketika kita diperintahkan beribadah dengan mengeluarkan sedikit harta saja kenapa sering mengelak? Seribu satu alasan.
    Kurban ibadah yang sudah dilakukan sejak Nabi Ibrahim. Esensi kurban bukan hanya sekedar menyembelih hewan, namun bagi pekurban menyembelih sifat kebinatangan/ego/hawa nafsu. Selain itu juga berbagi untuk orang lain. Bahwa hewan disembelih, dagingnya dibagikan ke orang lain. Bukan sepenuhnya dimakan sendiri.
    Ibadah kurban ini kembali kepada niat yang kuat. Buktinya Sahati, seorang pemulung di Sukabumi aja bisa berkurban setelah tujuh tahun menabung. Mak Yati, seorang pemulung di Jakarta menabung tiga tahun hingga akhirnya bisa berkurban dua ekor kambing.
    Rasanya sangat malu kita yang diberikan rezeki lebih tapi tak berkurban lagi di tahun ini. Bisa jadi ini kesempatan terakhir berkurban kita. Nah!


    *) Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di Hidayatullah.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Kenapa Tak Berkurban? Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top