• Latest News

    Minggu, 20 September 2015

    Motivasi Ber-Islam dan Ber-Muhammadiyah




    Oleh: Dr. H. Samino, M.M.
    Dosen FKIP UMS dan Wakil Ketua Majelis Tabligh PWM Jateng

    Masuk dan memeluk Islam insya Allah karena kesadaran pribadi, bukan karena paksaan atau karena pengaruh negatif. Walaupun mungkin ada yang agak terlambat, karena setelah dewasa atau tua baru menyadari bahwa Islam adalah agama yang sempurna, agama yang kaaffah, dapat membawa ketentraman, keselamatan, dan kebahagiaan dunia-akhirat. Oleh karena itu, motivasi seseorang ber-Islam adalah untuk meraih kebahagiaan dunia-akhirat sesuai dengan tuntunan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi, harus disadari bahwa untuk meraih itu tidaklah mudah, karena dituntut untuk menjalankan tuntunan Islam secara menyeluruh, sementara syaitan selalu menggoda atau menjerumuskan manusia secara terus-menerus ke perbuatan dosa dan permusuhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Qur’an Surat Al Baqarah ayat 208 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
    Pada dasarnya, setiap manusia itu fitrahnya baik (Islam), tetapi karena godaan syaitan menjadi tergelincir hidupnya, tidak menjalankan yang semestinya dijalankan. Banyak yang diperintahkan justru tidak dikerjakan, banyak yang dilarang  justru malah dikerjakan. Disuruh damai yang dilakukan bermusuhan, disuruh sabar yang terjadi mengumbar amarah, disuruh saling menghormati yang terjadi saling menjelekkan, disuruh bersedekah justru merampas, disuruh merapatkan barisan justru saling berpecah-belah, dan seterusnya.
    Bersamaan dengan selesainya ibadah haji tahun ini perlu dingatkan termasuk diri kita (khususnya bagi yang telah melaksanakan ibadah haji). Bersyukur telah melaksanakan ibadah haji, ibadah yang cukup berat pelaksanaannya, menuntut kesungguhan dan kesucian lahir-batin, jasmani-rohani. Di samping itu, harus dilaksanakan di tanah suci. Oleh karena itu, meskipun banyak yang berkeinginan segera melaksanakan ibadah haji, juga ada yang terpaksa menunda pelaksanaan ibadah hajinya meskipun persyaratan telah mencukupi karena takut dengan gelar yang disandangnya sebagai seorang haji.
    Secara umum Pak/Bu haji dipandang orang yang cukup ilmu ke-Islam-annya, luas pandangannya, menjadi suri teladan di masyarakatnya, baik dalam beribadah sehari-hari, berzakat, infak dan shodaqohnya. Pendek kata Pak/Bu Haji menjadi pusat orang bertanya, baik hal ilmu maupun amalan ibadah khusus maupun ibadah umum. Semoga Jamaah haji yang baru pulang beberapa minggu atau beberapa bulan yang lalu dapat menjaga kemabrurannya, menjadi teladan dalam segala aspek kehidupan yang diridhoi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Seorang haji wajib berusaha meletakkan dirinya sebagai orang yang berada di garis depan di tengah-tengah masyarakat sekitar khususnya dan di tengah-tengah umat manusia pada umumnya. Hal tersebut semestinya dimiliki pula oleh para pimpinan Muhammadiyah di semua level sejak ranting sampai pusat termasuk amal usahanya. Orang bijak bilang “berpikir besar untuk meraih sesuatu yang besar”. Abdul Kohar dan Abdul Azis dalam buku Dahsyatnya Spiritual Hipnosis (2010:  56) menulis sebuah ungkapan berikut ini: “Berpikirlah yang besar dan biarkan mekanisme bekerja dengan sendirinya, yang penting yakinlah pada apa yang Anda lakukan, dan jangan lupa syukuri setiap hasil yang Anda raih walaupun sedikit.”
    Selanjutnya, mereka memberikan contoh dahsyatnya kekuatan iman dalam memperjuangkan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, Nabi Musa alaihis salam dalam menghadapi jalan buntu karena berhadapan dengan laut, umat nabi Musa alaihis salam berkata: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”, Musa berkeyakinan dan berkata: “Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. Begitu juga Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, sewaktu ditekan, diancam dan diteror kaum kafir Quraisy, selanjutnya lewat Abu Thalib diminta berhenti dengan berbagai tawaran kemewahan. Keyakinan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mampu mengalahkan semua bentuk arogansi dan kesombongan lawan tersebut dengan berkata: “Demi Allah, andaikan matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan agama ini, maka aku tidak akan meninggalkannya, hingga Allah memenangkannya atau aku ikut hancur karenanya…”.
    Itulah harta paling mahal, yaitu: agama (Islam) yang bernilai paling tinggi, tidak dapat dibandingkan dengan apapun yang ada di dunia ini, bahkan dunia seisinya. Islam itu diyakini, dipeluk, dipertahankan, dan diperjuangan sampai mati (baca: Q.S. Ali Imran ayat 102).  Hal tersebut yang dilakukan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan ikuti oleh para sahabatnya, insya Allah para pengikutnya sampai akhir jaman nanti. Untuk itu, marilah kita ikuti segala jejak dan langkah Nabi, karena beliau adalah teladan utama dan sempurna sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Q.S. Al Ahzab ayat 21 yang artinya, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
    Berkaitan dengan strategi perjuangan atau dakwah, perhatikan hadits di bawah ini, sewaktu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengajari Muadz bin Jabal dalam berdakwah. “Pada suatu ketika Rasulullah mengutus Muadz ke Yaman. Muadz berkata: “Aku diutus oleh Rasulullah ke Yaman”, Beliau berkata kepadaku: “Sungguh engkau akan mendatangi penduduk Yaman yang mayoritasnya adalah ahli kitab. Serulah mereka untuk mengucapkan syahadat bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan aku adalah utusan Allah. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka shalat lima kali dalam sehari semalam. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka untuk bersedekah yang diambil dari orang-orang kaya dan dibagikan untuk orang miskin. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu, maka hati-hatilah engkau dengan harta mereka yang berharga. Hati-hatilah engkau dengan do’a orang yang terdholimi, karena antara mereka dengan Allah tidak ada penghalang sama sekali.” (H.R. Bukhari dan Muslim, dalam Farid Al-Anshari pada buku Hidup Bahagia dengan Shalat. 2010: 41-42)
    Mengakhiri kajian ini, perlu diingatkan bahwa dakwah adalah kewajiban setiap insan muslim, walaupun hanya mampu sepotong ayat. Akan tetapi, harus disadari bahwa Muhammadiyah telah meletakkan dirinya sejak awal berdirinya sebagai gerakan Islam, da’wah amar makruf dan nahi munkar.
    Oleh karena itu, sudah semestinya warga Muhammadiyah, lebih-lebih pimpinannya harus mengedepankan pentingnya dakwah. Motivasi ber-Islam harus tulus dari hati untuk mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, demikian juga motivasi kita ber-Muhammadiyah harus tulus dari hati untuk senantiasa berdakwah. Dengan kata lain, bukan karena jabatan apalagi minta jabatan dan lebih parah lagi kalau berebut jabatan dan termasuk berebut hal-hal lain yang senada dengan itu. Apabila masih ada orang-orang seperti di atas, berarti perlu di-Muhammadiyah-kan, maka perlu gerakan me-Muhammadiyah-kan orang-orang Muhammadiyah. Itulah yang sering disampaikan Pak AR Fakhruddin di akhir-akhir periode jabatannya sebagai Ketua PP Muhammadiyah. Wallahu a’lam bishshowab. [tabligh]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Motivasi Ber-Islam dan Ber-Muhammadiyah Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top