• Latest News

    Jumat, 25 September 2015

    Permohonan Maaf dan Harapan Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal pada Muhammadiyah


    Beberapa hari ini, kami atas nama akun pribadi Facebook Muhammad Abduh Tuasikal dan website Rumaysho.Com, mengkritik Muhammadiyah. Nasihat itu bukanlah timbul dari rasa benci. Nasihat kami didasari karena mengasihi dan menyayangi saudara muslim lainnya.
    Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Daari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    (( الدِّينُ النَّصِيحةُ )) قلنا : لِمَنْ ؟ قَالَ : (( لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأئِمَّةِ المُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
    Agama adalah nasehat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim no. 55).
    Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
    لا يُؤمِنُ أحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحبُّ لِنَفْسِهِ
    Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”  (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45).
    Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Sesungguhnya hamba yang dicintai di sisi Allah adalah yang mencintai Allah lewat hamba-Nya dan mencintai hamba Allah karena Allah. Di muka bumi, ia pun memberi nasehat pada orang lain.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 224).
    Ada kalimat kami yang barangkali kurang pas sehingga beberapa orang menyampaikan kritik balasan pada kami, ada yang santun dan ada yang kasar. Kami yakin tanggapan kami beberapa keliru dan kami mengajukan permintaan maaf kami pada Muhammadiyah, warga Muhammadiyah dan simpatisan Muhammadiyah.
    Ini kalimat yang keliru ketika kami menanggapi salah satu simpatisan Muhammadiyah: “Banyak orang Muhammadiyah yang sudah ingin melepaskan ketaqlidan karena ingin mengikuti dalil”.
    Kami manusia, bisa saja luput dan keliru. Barangkali kalimat ini yang membuat marah warga Muhammadiyah.
    Maksud kami dengan kata-kata melepaskan ketaklidan adalah kami ingin Muhammadiyah tidak mengikat jama’ah dan simpatisannya dengan satu pendapat dari Muhammadiyah saja, apalagi memberi sanksi pada anggota jika sampai berbeda. Dakwahilah umat cukup untuk mengikuti Nabi Muhammad sebagai panutan. Dakwah yang benar bukanlah mengajak umat untuk ikut kita, ikut organisasi kita, namun dakwahilah umat supaya kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Salaful Ummah (para sahabat).
    Adapun tulisan kami di website Rumaysho.Com: “Puasa Arafah, Berbeda yang Dulu dan Kini” sudah kami hapus agar tidak terjadi konflik berkepanjangan dengan warga Muhammadiyah.
    Selain permintaan maaf, ada beberapa harapan dari kami pada Muhammadiyah:
    • Muhammadiyah tetaplah terus memperjuangkan Tauhid dan Sunnah serta mendakwahkan umat untuk terus menjauhi Syirik, Bid’ah dan Khurafat sebagaimana misi dakwah Muhammadiyah sejak awal.
    • Muhammadiyah hendaknya memberi kebebasan pada anggota, jama’ah dan simpatisan untuk bisa berbeda dari pendapat organisasi jika mereka meyakini ada pendapat yang benar karena dalilnya lebih kuat atau istidlalnya lebih kuat.
    Contohnya, para ulama saja kadang berbeda dengan pengikutnya. Imam Nawawi yang kita tahu sebagai ulama besar Syafi’iyah masih berbeda pendapat dengan imamnya, Imam Syafi’i dalam beberapa masalah. Imam Nawawi tidak dinyatakan keliru atau membelot atau menyimpang karena yang ingin diikuti oleh Imam Nawawi adalah dalil yang ia nilai lebih kuat.
    Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Setiap yang aku katakan, kemudian ada hadits shahih yang menyelisihinya, maka hadits Nabi tersebut lebih utama untuk diikuti. Janganlah kalian taqlid kepadaku.” Nasihat ini sangat berharga sekali bagi kami sendiri maupun yang lainnya.
    • Muhammadiyah bisa bersatu dengan pemerintah dalam berhari raya. Karena bersatu selalu mendatangkan maslahat lebih besar. Imam Ahmad berkata, yadullahi ma’al jama’ah, pertolongan Allah terus hadir jika kita bersatu dalam al-jama’ah (dengan pemerintah). Semua pun merasa tidak enak jika mesti berbeda dalam berhari raya. Mayoritas negara di dunia ini tatkala berpuasa dan berhari raya selalu satu suara dengan pemerintah mereka. Silakan lihat di Saudi Arabia, Mesir, Malaysia dan negara Islam lainnya. Kami selalu menanti Muhammadiyah bersatu dengan pemerintah. Itu pun yang selalu kami doakan.
    • Muhammadiyah bisa menimbang-nimbang lagi metode penentuan hisabnya. Saudi Arabia sama dengan Muhammadiyah dalam menggunakan metode Wujudul Hilal. Namun metode hisab Saudi Arabia hanya untuk menyusun Kalender Sipil yang digunakan dalam setahun. Adapun untuk ibadah, Saudi Arabia tetap menggunakan rukyatul hilal (penglihatan hilal) karena ingin menjalankan perintah Rasul untuk melihat hilal. Perintah Rasul lebih baik dipahami secara tekstual daripada kita banyak mentakwil (memalingkan) ke makna lainnya. Karena sejak dahulu pun para ulama termasuk ulama madzhab menekankan untuk menggunakan metode rukyatul hilal sebagai standar penentuan awal bulan. Kami yakin Muhammadiyah bisa kembali mengikuti sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Manusia tak luput dari salah, manusia tak luput dari dosa. Lebih-lebih kami yang lemah ini, yang masih terus ingin belajar dan menambah ilmu. Moga terus menjadi perbaikan diri kami.
    فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ
    Maka barang siapa mema’afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)

    Kami cinta Muhammadiyah, kami dukung dakwah Muhammadiyah, kami juga peduli pada warga Muhammadiyah.

    Kami ingin jadi simpatisan namun tak ingin terkungkung dengan satu pendapat Muhammadiyah. Kami ingin menjadi Muhammadiyah sejati yang mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah, ingin mengikuti Islam yang murni yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ingin jauh dari fanatik pada manusia, cukup fanatik pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saja. Semoga nasihat berharga Imam Malik berikut jadi renungan kita bersama,
    كُلٌّ يُؤْخَذُ مِنْهُ وَيُرَدُّ إِلاَّ صَاحِبُ هَذَا القَبْرِ
    “Setiap orang boleh diterima dan boleh ditolak pendapatnya kecuali pemilik kubur ini.” Lalu Imam Malik berisyarat pada kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Wallahu waliyyut taufiq. Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

    @ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, Jumat pagi, 11 Dzulhijjah 1436 H


    *) Tulisan ini sebelumya dimuat di website pribadi  Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    3 komentar:

    1. Orang sombong macam abduh tuasikal baiknya dibubarkan majelisnya, nggak ada guna majelis penuh kesombongan dan tanpa akhlaq !!!

      BalasHapus
    2. Orang sombong macam abduh tuasikal baiknya dibubarkan majelisnya, nggak ada guna majelis penuh kesombongan dan tanpa akhlaq !!!

      BalasHapus

    Item Reviewed: Permohonan Maaf dan Harapan Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal pada Muhammadiyah Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top