• Latest News

    Minggu, 27 September 2015

    Shalat Nggak Bolong, Hati Plong



    Rajin shalat dibilang sok alim,
    Kalau lewat dibilang, “hemm.... bau surga.”
    Nggak pernah shalat dibilang penjahat,
    Jarang shalat dibilang nggak punya pendirian,
    Jadi, pilih mana hayo?!

    Kalian pasti pernah mendengar istilah Islam KTP, kan? Artinya seseorang yang mengaku beragama Islam, tapi hanya sebatas status di KTP saja. Lalu dalam kesehariannya bagaimana seseorang bisa disebut Islam atau bukan? Biasanya seseorang biasa dikatakan Islam KTP bila ia mengaku beragama Islam namun dalam keseharian jarang atau tidak pernah mendirikan ibadah shalat. Ia hanya shalat dua kali dalam setahun, yaitu shalat ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha saja. Atau shalatnya hanya satu kali dalam sepekan, yaitu shalat Jumat, itupun juga kadang-kadang. Padahal seseorang bisa dikatakan beragama Islam, salah satunya ditandai dengan shalatnya.
    Kita juga sering melihat orang-orang melakukan hal-hal aneh ketika shalat. Satu contoh, orang yang mengerjakan shalat sedemikian cepat seolah sedang senam aerobik. Ada juga yang shalat disamping televisi yang menyala dengan volume suara yang keras pula. Ada juga yang shalatnya buru-buru karena mendengar HP-nya berdering. Atau ada yang shalat namun matanya berputar mengamati rumah dari depan hingga belakang, dari atas sampai bawah. Ada juga nih orang yang gerakan shalatnya jauh lebih cepat dari patukan ayam, di mana ia melakukan sujud namun kepalanya hampir tidak menyentuh lantai sama sekali. Ini merupakan contoh yang tidak bisa dijadikan teladan!
    Muslim yang jarang shalat tentu tidak akan bisa menemukan ketenangan hati. Ia akan selalu merasa resah dan hidupnya juga akan terasa hampa. Sedangkan muslim yang selalu mendirikan shalat tidak pernah merasa putus asa dari segala permasalahan hidup. Hatinya akan selalu plong, lega rasanya. Ia akan selalu memiliki solusi dari segala masalah, yaitu Allah Ta’ala. Berbeda dengan orang kafir, ia tidak memiliki tujuan hidup untuk akhirat. Hidupnya akan selalu terasa hampa dan putus asa.
    Setiap orang memiliki masalah dalam hidup. Dalam shalat, seorang hamba meminta kepada Rabb-nya. Mengadukan segala permasalahan hidup, memohon, merintih dan menangis atas beratnya ujian yang dihadapi. Indahnya hamba yang mukmin itu saat ia tak sanggup lagi menahan beratnya cobaan, lalu ia berdoa kepada Rabb-nya, maka menjadi tenang hatinya. Tak terasa lagi beratnya cobaan yang dihadapi.
    Shalat sebagai wujud ketaatan seorang hamba kepada Rabb-nya. Shalat sebagai bukti cinta kepada Rabb-nya. Dengan menjaga shalat, menyempurnakan ruku’ dan sujudnya maka Allah Ta’ala pun akan menjaganya sebagaimana ia menjaga shalatnya. Shalat sebagai cermin kepribadian seseorang. Bila shalatnya sempurna maka akan tercermin dari akhlak yang mulia.
    Shalat juga sebagai wujud rasa syukur kita atas nikmat dan karunia Allah Ta’ala. Rasa syukur atas lengkapnya anggota tubuh, atas kelebihan yang Allah Ta’ala berikan dari yang lain. Sebagai seorang hamba, sudah selayaknya kita menunjukkan rasa syukur kita pada Sang Pencipta, Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Kerena kita harus menyadari sepenuhnya, hamba siapakah kita? Apakah kita hamba dari diri kita sendiri? Apakah kita hamba dari syahwat kita sendiri? Milik siapakah kita? Apakah tujuan kita hidup di dunia? Betapa malangnya penduduk dunia yang keluar dari dunia tanpa sempat merasakan manis di dalamnya, yaitu mencintai Allah ‘Azza wa Jalla.
    Setiap kita mengaku mencintai Allah Ta’ala. Orang bilang bahwa cinta butuh pengorbanan dan pembuktian. Lalu pengorbanan apa yang sudah kita berikan untuk membuktikan cinta kita? Bagaimana mungkin orang yang mengaku mencintai Allah Ta’ala namun tidak membuktikan cintanya?
    Sungguh dunia ini begitu rapuh, namun penghuninya begitu keras untuk merengkuh. Kita semua tahu bahwa hidup ini singkat. Namun apa yang membuat diri kita selalu larut dalam kubangan maksiat?
    Kenyataan bahwa setiap diri akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukan selama hidup di dunia. Kenyataan bahwa setiap diri tak ada yang bersih dari dosa. Kenyataan hanya ada dua tempat kembali yaitu surga dan neraka. Lalu apa yang telah kita persiapkan? Dan di mana tempat kembali yang pantas untuk kita akhirnya?
    So, remaja yang bersyukur, jangan pernah lelah untuk lebih dekat kepada Allah Ta’ala, agar Allah tak pernah lari darimu! [Tri Ayu Ningsih]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Shalat Nggak Bolong, Hati Plong Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top