• Latest News

    Kamis, 22 Oktober 2015

    Keragaman Umat Pasca Wafatnya Rasulullah


    Oleh: Zaenal Arifin

    Setelah wafatnya Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam pemahaman keagamaan umat semakin beragam. Masa Khulafaur Rasyidin sebagai penerus kepemimpinan sang revolusioner Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam masih menjadi rujukan utama. Kemudian Daulah Umayyah di Damaskus, dan berlanjut Daulah Abbasiyah di Baghdad mulai muncul sekte-sekte, bukan hanya tujuan religius tapi juga tujuan politik. Pengaruh Yunani dan Kristen masih besar di 2 daulah terakhir tersebut. Para ahli sejarah mengatakan Khulafaur Rasyidin merupakan bentuk kekhalifahan republik, artinya khalifah tidak ada hubungan kekeluargaan dengan penerusnya, dari khalifah Abu Bakar As Sidiq sampai khalifah Ali bin Abi Thalib. Yang menjadi perekat para sahabat adalah ukhuwah islamiyah, karena Islam mereka bersatu. Prinsip inilah sebenarnya yang menjadi pendobrak kultur Arab yang menjadikan persamaaan suku sebagai pemersatu. Di Hijjaz (Mekkah dan Madinah) suku menjadi kekuatan primordial yang mampu mengantar pada kekacauan tanpa henti, ashabiyah (fanatisme) adalah prinsip untuk mempertahankan harga diri. Pada masa Daulah Umayyah klan keluarga mulai dihidupkan, sang khalifah akan menyerahkan kekuasaan kepada keturunannya. Menurut pakar sejarah, Daulah Umayyah dengan Muawiyah bin Abu Sufyan sebagai pendiri dan khalifah pertama sudah keluar dari prinsip Islam, karena Islam tidak pernah atas nama keluarga sebagai perekat, tetapi di atas landasan Islamlah seharusnya sebagai pemersatu. Begitu pula Daulah Abbasiyah sistem kekeluargaan menjadi prinsip kepemimpinan daulah. Walau demikian berdirinya daulah tetap mempunyai tujuan positif untuk menyebarkan Islam dengan cara menaklukkan wilayah yang masih kafir.

    SEKTE-SEKTE DALAM ISLAM
    Muktazilah, gerakan puritan Islam yang sangat kaku, dan dalam perkembangannya muktazilah ini menjadi gerakan rasio yang sangat dominan. Di antara prinsip ajarannya yaitu mengatakan "Al Quran adalah makhluk", dan keraguan adalah keniscayaan untuk mendapatkan pengetahuan. Sampai kepada pemikiran bahwah akal manusia melebihi Tuhan. Kemudian untuk mengembalikan ajaran ortodoks Islam muncullah gerakan Asy'ariyah, gerakan yang ingin mengembalikan pemahaman Islam ke ajaran yang semestinya.
    Tasawuf, gerakan personal untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tasawuf mempunya inti ajaran tentang asketis (Zuhud) sebagai bentuk mencela ketamakan terhadap anugerah Tuhan di dunia, dan selalu mencari jalan kebenaran Tuhan dan kebenaran Agama. Pada akhir abad keduabelas, tasawuf sudah mulai terlembagakan sebagai gerakan komunal. Tokoh pentingnya yaitu Al Farabi dan Al Ghazali. Dan di akhir abad ke 7 sampai 8 ada Al Hallaj dengan pernyataannya "ana al haq" (akulan kebenaran Tuhan) dan Rabiah al Adawiyah (kecintaannya kepada Allah tidak menyisakan sedikitpun kapada yang lain) sebagai sufi utama. Di wilayah yang nan jauh dari Arab pun, tepatnya di tanah Jawa muncul tokoh semacam Al Hallaj yang mempunyai keyakinan "manunggaling kawulo gusti" ala Sheikh Siti Jenar.

    MAZHAB SYIAH
    Yang membedakan dengan mazhab lain adalah keyakinan terhadap imamah. Syiah mempunyai keyakinan dengan imam dua belas, yang dalam perjalanannya Syiah pun akhirnya terpecah ketika imam ketujuh adalah Musa bukan Ismail yang ditunjuk oleh Ja'far, padahal Ismail adalah anak tertua. Kemudian muncul Syiah Ismailiyah. Dalam perkembangannya Syiah menjadi kaum yang ditindas oleh penguasa, sehingga mereka menerapkan prinsip taqiyah (berhati-hati), artinya dalam keadaan darurat keyakinan Syiah tidak boleh diucapkan, dan mereka mengakui keyakinan lain. Selain taqiyah, Syiah juga mempercayai tentang Imam Mahdi dan nikah mut'ah. Inilah prinsip Syiah. Namun yang menarik di dalam Syiah sendiri ternyata juga terdiri dari banyak sekte, ada Syiah utama dengan imam duabelasnya, dan Syiah ekstrim (Ismailiyah, Qaramithah, Nusairiyah) yang menurut sekte Syiah utama sudah sesat, karena menafikan keagungan Tuhan dan mengaburkan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai khatamul anbiya’. Pemahaman yang paling sesat dari sekte Syiah ekstrim yaitu Jibril sudah salah orang dalam menyampaikan wahyu, seharusnya untuk Ali bukan Muhammad. Dari sekian sekte Syiah yang dekat dengan sunni adalah sekte Zaidiyah, sekte ini tidak mempercayai Imam Mahdi, tidak menjalankan nikah mut'ah dan tidak menggunakan prinsip taqiyah.
    Perbedaan khilafiyah yang muncul setelah wafatnya Nabi Muhammad memang menjadi hal yang wajar, asalkan bukan perbedaan yang menyangkut prinsip keyakinan Islam, yang sudah terkandung di dalam sumber hukum Islam yaitu Al Qur’an dan Sunah Shahihah Maqbullah. Wallahu a’lam bish shawab
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Keragaman Umat Pasca Wafatnya Rasulullah Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top