• Latest News

    Sabtu, 24 Oktober 2015

    Tadzkirah MUI Pusat Terkait Kemarau Panjang

     
    Mengingat kondisi perubahan iklim dan pemanasan global di sebagian besar wilayah Republik Indonesia yang mengalami kekeringan berkepanjangan sehingga berdampak pada gagal panen, krisis air bersih, dsb, maka Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia menyerukan kepada umat Islam di Indonesia untuk:

    1.    Bertaubat dan memohon ampun kepada Allah ‘Azza wa Jalla dari segala macam maksiat (at-taubah min al-ma‘ashi), meninggalkan perilaku dzalim (al-khuruj min al-madhalim), memperbanyak sedekah (iktsar as-shadaqah), dan meninggalkan permusuhan (mashalahah al-a’daa). Karena kekeringan berkepanjangan yang melanda negeri ini bisa jadi merupakan peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas perbuatan kita, sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam:

    ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
    “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar Rum: 41)

    }لَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ .وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا {رواه ابن ماجه
    “Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali akan ditimpa paceklik, susahnya penghidupan dan kezaliman penguasa atas mereka. Tidaklah mereka menahan zakat (tidak membayarnya) kecuali hujan dari langit akan ditahan dari mereka (hujan tidak turun), dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, niscaya manusia tidak akan diberi hujan.” (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim)

    2.    Melaksanakan shalat memohon hujan (shalah al-istisqa), dengan didahului puasa selama tiga hari, memperbanyak istighfar, berperilaku sopan santun dan berkehidupan sederhana, serta memohon doa pada para shalihin, sesuai yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan para Sahabat:


    عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: }خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَاضِعًا, مُتَبَذِّلًا, مُتَخَشِّعًا مُتَرَسِّلاً, مُتَضَرِّعًا, فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَمَا يُصَلِّي فِي الْعِيدِ, لَمْ يَخْطُبْ خُطْبَتَكُمْ هَذِهِ{. رواه الخمسه
    “Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma berkata: Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam keluar dengan tawadhu’, berpakaian sederhana, khusyu’, tenang, berdoa kepada Allah, lalu beliau shalat dua rakaat seperti shalat hari raya, beliau tidak berkhutbah seperti khutbahmu ini.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai dan Ibnu Majah)

    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ إِذَا فَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ: }اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِيْنَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا{ قَالَ: فَيُسْقَوْنَ. رواه البخاري
    “Dari Anas ibnu Malik Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya ‘Umar ibnu al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu ketika dilanda kekeringan dia meminta doa memohon hujan kepada ‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib, ia berdoa, “Ya Allah, kami dahulu pernah meminta hujan kepada-Mu dengan perantaraan Nabi kami, kemudian Engkau menurunkan hujan kepada kami. Maka sekarang kami memohon kepada-Mu dengan perantaraan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan untuk kami.” Anas Radhiyallahu ‘anhu berkata, kemudian turunlah hujan.” (HR. Al-Bukhari)

    3.    Menyerukan kepada pemerintah untuk mengambil kebijakan tegas dan strategis yang berimplikasi pada penghentian, atau setidaknya pengurangan, dari berbagai dampak buruk kemarau panjang, antara lain dengan menegakkan hukum yang menjerakan kepada setiap pelaku pembakaran dan pemilik lahan yang menyebabkan bencana asap, melancarkan kebijakan ekonomi yang pro rakyat kecil yang semakin berat akibat dampak buruk kemarau panjang, dsb.

    Wallahu al-Musta’an, wa Ilaihi at-Tuklan.


    Jakarta, 20 Oktober 2015

    DEWAN PIMPINAN

    MAJELIS ULAMA INDONESIA

    Ketua Umum,
    Sekretaris Jenderal,

    TTD

     TTD


    DR. KH. MA’RUF AMIN
    DR. H. ANWAR ABBAS, M.M, M.A
      

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Tadzkirah MUI Pusat Terkait Kemarau Panjang Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top