• Latest News

    Sabtu, 19 Desember 2015

    Etika Terhadap Rasulullah SAW


    H. Sholahuddin Sirizar, Lc, M.A
    Direktur Pondok Pesantren Imam Syuhodo Sukoharjo,
    Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Jateng,
    Dosen Fakultas Syariah IAIN Surakarta

    Pada bulan Desember 2015 M bertepatan dengan datangnya bulan Rabi’ul Awwal 1437 H. Kalau melihat kembali sejarah, ada peristiwa yang sangat penting yang terjadi pada 12 Rabi’ul Awwal, yaitu lahirnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Meskipun sebenarnya para sejarawan muslim berbeda pendapat mengenai tanggal kelahiran beliau. Ada yang menyebut  tanggal 2, ada yang menyebut tanggal 9. Namun mayoritas dari mereka berpendapat bahwa beliau lahir pada hari senin, tanggal 12 Rabi’ul Awwal, tahun Gajah.
    Perbedaan tersebut tidaklah penting bagi kita. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mendalami sejarah dakwah dan perjuangan beliau serta meneladaninya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (٢١)
    Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.(Q.S. Al-Ahzab [33]: 21)
    Setiap muslim harus mengetahui dan meyakini bahwa beretika yang baik terhadap Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam hukumnya wajib. Dan setiap muslim baru benar-benar dikatakan memiliki etika yang baik terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila telah melakukan hal-hal berikut ini:
    1.  Taat kepada semua syari’at yang di bawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٣١) قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ (٣٢)
    Katakanlah (Hai Muhammad!): "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah (Hai Muhammad!): "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (Q.S. Ali Imran [3]: 31-32)
    Ayat tersebut menjelaskan bahwa tanda cinta seorang muslim kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah apabila dia selalu mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan kalau seseorang menentang syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dia sudah pantas disebut sebagai orang kafir.
    2.  Mencintainya dengan sepenuh hati di atas semua makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (٢٤)
    Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (Q.S. At Taubah [9]: 24)
    Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    وَالَّذِى نَفْـسِى بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُـمْ حَتَّى أَكُـوْنَ أَحَـبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَـدِهِ وَوَالِـدِهِ وَالنَّـاسِ أَجْمَعِـيْنَ (متّفق عليه)
    Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, salah seorang kalian tidak beriman hingga aku lebih dicintai daripada anaknya, ayahnya dan seluruh manusia.(Muttafaqun 'alaihi)
    Bukan berarti kita tidak boleh mencintai orang tua, suami, istri,  anak-anak, harta benda dan sesama makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya haruslah lebih tinggi dari semua itu. Sehingga apabila terjadi pertentangan antara syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala  dan Rasul-Nya di satu sisi, dan harapan atau permintaan dari orang-orang yang kita cintai, kita harus memilih dan mendahulukan syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.
    Termasuk bukti mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah beliau wafat adalah dengan  mempelajari dan menteladani sirah perjuangan beliau, mencontoh akhlaq dan adab beliau, dan juga ikut serta membantah (baca: meluruskan) berbagai tuduhan bohong yang dilemparkan para musuh dan penentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
    3.  Mencintai siapa saja yang dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, memusuhi siapa saja yang memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ridha dengan apa yang diridhai beliau dan marah dengan apa yang  membuat beliau marah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ .... (٢٩)
    Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…” (Q.S. Al Fath [48] :29)
    4.  Mengagungkan nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersikap santun terhadap beliau, menghormati beliau ketika nama beliau disebutkan dan menghormati semua kelebihan beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ (٢) إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ (٣)
    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Q.S. Al Hujurat [49]: 2 - 3)
    5.  Membenarkan apa yang dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan kehidupan dunia maupun akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَإِنْ تُكَذِّبُوا فَقَدْ كَذَّبَ أُمَمٌ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلا الْبَلاغُ الْمُبِينُ (١٨)
    Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebelum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya." (Q.S. Al 'Ankabuut [29]: 18)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (٨) لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلا (٩)
    Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama) Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.(Q.S. Al Fath [48]: 8)
    6.  Menghidupkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menegakkan syari'at beliau, menyampaikan dakwah beliau dan melaksanakan wasiat-wasiat beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلا قَلِيلٌ مِنْهُمْ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا (٦٦)
    Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: "Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu", niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).(Q.S. An Nisaa' [4]: 66)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    يَا أَيُّـهَا الَّذِينَ آمَنُـوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُـولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيـعٌ عَلِيمٌ (١)
    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al Hujurat [49]: 1)
    Jadi mempunyai etika yang baik kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah sekedar mengadakan acara-acara khusus dalam rangka memperingati kelahiran beliau, kemudian setelah itu tidak melaksanakan syari’at yang beliau bawa. Bahkan di dalam  acara khusus tersebut, sering kali di campur dengan kepercayaan-kepercayaan yang  justru menyimpang dari ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Na’udzu billahi min dzalik.
    Jadi beberapa point di atas adalah bentuk yang sebenarnya dari beretika yang baik terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setiap muslim harus berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan etika-etika tersebut. Karena kesempurnaan dirinya terkait erat dengan pelaksanaan etika tersebut dan kebahagiaannya baik di dunia maupun di akherat tergantung kepadanya.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Etika Terhadap Rasulullah SAW Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top