• Latest News

    Jumat, 22 Januari 2016

    Majalah Suara Muhammadiyah: “Meneguhkan dan Mencerahkan”


    Sejarah Singkat
    Suara Muhammadiyah merupakan majalah tertua di Indonesia. Majalah ini secara resmi didirikan oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah pada bulan Januari 1915/Dzulqa’dah 1333 H (terbitan pertama), tepatnya sekitar tiga tahun setelah Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tanggal 18 Nopember 1912 M atau 18 Dzulhijjah 1330 H. Pendirian Majalah SM diprakarsai dan dipimpin langsung oleh KH. Ahmad Dahlan (1915-1923) dengan inisiatornya salah satu murid beliau yaitu Haji Fachrodin.
    Pada awal  berdirinya majalah ini bernama Sworo Moehammadijah, berukuran 13x20 cm dengan durasi terbitan belum rutin. Di tahun  tersebut masih sangat jarang sebuah organisasi memiliki media massa sendiri. Kesadaran akan pentingnya dakwah melalui sebuah media massa, terutama media cetak, bagi sebuah organisasi adalah sebuah lompatan tersendiri. Majalah milik Muhammadiyah ini menjadi salah satu  surat kabar pada jaman itu bersama beberapa majalah lain yang sekarang sudah tidak eksis lagi seperti Sarotomo yang diterbitkan oleh Central Sarikat Islam, Ratna Doemilah milik Wahidin Sudirohusodo dan Medan Moeslimin terbitan SATV.
    Pada awal penyebarannya, SM hanya beredar di Jawa dan masih menggunakan bahasa Jawa dan Melayu. Baru setelah merambah wilayah luar Jawa bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Surat kabar milik Muhammadiyah ini pada awal penerbitannya didanai dari hasil penderma warga Muhammadiyah saja dan dibagikan secara gratis kepada warga Muhammadiyah. Karenanya, dalam sejarahnya surat kabar ini sempat berhenti terbit di era 1917-1918 akibat manajemen yang kurang profesional.
    Pada 1919, SM kembali terbit dengan manajemen yang lebih baik. Pada 1922 surat kabar Muhammadiyah ini mulai menggunakan bahasa Melayu meskipun masih ada rubrik dengan bahasa dan tulisan Jawa. Tahun 1925, pada halaman cover depan SM tertulis: “Dikeloearkan oleh perkoempoelan Moehammadijah Bg. Taman Poestaka (Indonesia)”. SM juga mengeluarkan halaman khusus untuk perempuan berupa “Isteri-Islam” yang merupakan cikal bakal berdirinya majalah Soeara 'Aisjijah. Karena kondisi politik yang cukup sulit di era 1940-1943 surat kabar Muhammadiyah ini hanya mampu terbit enam bulan sekali dengan jumlah cetakan terbatas. Bahan baku yang sulit dan sangat mahal serta kolonialisme Jepang telah membuat surat kabar lain tutup cetak, namun SM mampu bertahan meski dalam jumlah terbatas. Surat kabar  Muhammadiyah ini resmi terbit sebagai sebuah majalah mingguan pada 1951, meskipun hanya mampu terbit sebulan sekali.


    Fase Baru
    Pada perkembangan selanjutnya, tepatnya pada tanggal 15 Juli 1965 SM memasuki fase baru. Fase ini ditandai dengan dikeluarkannya SIT Deppen Nomor 19/SK/DPHM/SIT/1965 tertanggal 2 September 1965 di Bandung. Pada tahun 1986, sesuai dengan peraturan baru, SIT diganti dengan SIUPP, dengan SK Menpen RI Nomor 200/SK/Menpen/SIUPP/D.2/1986, tertanggal 28 Juni 1986 SM berada di bawah naungan Yayasan Badan Penerbit Pers Suara Muhammadiyah. Pada tahun 1988, persisnya pada edisi nomor 13 tahun ke-68 Juli 1988, SM terdaftar di Pers Internasional dengan nomor ISSN: 0215-7381.
    Langkah-langkah menampilkan Soeara Moehammadijah gaya baru adalah sebagai berikut: 1) Pengelola redaksi, administrasi, dan pemasaran adalah orang-orang yang kompeten di bidangnya; 2) Pengadaan fasilitas kantor redaksi dan pemasaran secara memadai; 3) Tebal majalah ditambah menjadi 36 halaman. Durasi penerbitan menjadi dua kali sebulan (dwi mingguan); 4) Tiras penerbitan ditentukan antara 3.000-5.000 eksemplar; 5) Isi majalah mencakup tema-tema keislaman yang lebih luas dan rubrik-rubrik diperbanyak; 6) Penerapan sistem honor bagi pengarang; 7) Penentuan harga langganan; 8) Kerjasama dengan lembaga-lembaga yang bergerak di bidang jurnalistik.
    Soeara Moehammadijah gaya baru terbit mulai edisi nomor 1 tahun 1965 memuat gambar cover Bung Karno sebagai anggota istimewa Muhammadiyah. Terhitung mulai nomor ini, ejaan nama sudah berubah menjadi: Suara Muhammadijah. Format dan gaya baru mulai tampak dengan ukuran majalah diperbesar menjadi 20x27 cm.

    Corong Persyarikatan
    Sejak berdirinya, SM konsen pada empat hal, yaitu ketablighan (Islam yang kemajuan), pencerdasan umat (lewat bagian pendidikan), kesejahteraan umat, dan bagian pustaka sebagai representasi semangat keilmuan. Dalam konteks kekinian, SM telah menjadi corong Muhammadiyah untuk menyebarkan gagasan pikiran Islam  untuk kemajuan bangsa dan negara. Dan seiring dengan perkembangan jaman SM juga menyadari kemajuan pandangan Islam bagi umat, bangsa dan  negara.
    Hingga usianya yang lebih dari 100 tahun ini SM bisa tampil sebagai corong Muhammadiyah baik secara pemikiran maupun pandangan organisasi secara keseluruhan. SM sudah mampu menjadi corong Muhammadiyah bukan hanya bagi warga Muhammadiyah saja tetapi  untuk masyarakat secara luas. Dalam perkembangannya, SM bukan hanya menyalurkan informasi terkait organisasi Muhammadiyah semata, namun  beberapa informasi di luar Muhammadiyah juga mampu memberikan pencerahan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. SM bukan hanya bisa memberikan warna secara organisasi tetapi juga memberikan manfaat secara luas bagi bangsa dan negara.
    Karena itulah SM juga melakukan revitalisasi tema dan gagasan dalam penyebaran pemikiran Islam tersebut dari tema “dakwah amar makruf nahi munkar”, menjadi “meneguhkan dan mencerahkan”. Revitalisasi ini dilakukan seiring  dengan gerakan Muhammadiyah kekinian yang membawa spirit pemurnian Islam dalam akidah dan ibadah namun aktualisasi dalam akhlak dan muamalah.


    Redaksi dari Masa ke Masa
    Pemimpin redaksi (hoofdredacteur) pertama SM adalah Haji Fachrodin. Dia murid KH. Ahmad Dahlan yang merupakan adik kandung Kiai Syuja’ dan kakak kandung Ki Bagoes Hadikoesoemo. Pemimpin redaksi SM kedua adalah A.D. Hanie, seorang intelektual asal Karangkajen. Setelah berhenti terbit (1917-1918), SM dihidupkan kembali oleh A.D. Hanie dengan pembenahan keredaksian, terutama mengganti bahasa dan huruf Jawa menjadi bahasa Jawa huruf Latin.
    Soemodirdjo atau yang akrab dipanggil “Pak Mantri”, adalah pria kelahiran Probolinggo yang memimpin redaksi SM selanjutnya. Ia seorang guru negeri di Ambarawa yang memilih pensiun untuk menjadi anggota Muhammadiyah dan berjuang bersama KH. Ahmad Dahlan. Dalam diri Pak Mantri tertanam jiwa nasionalisme yang kental sehingga mewarnai tulisan-tulisan di SM pada waktu itu. Sepeninggal Soemodirdjo menjadi masa-masa paling sulit bagi SM. H. Abdulaziz N.W., M. Amdjad, dan M. Junus Anies secara bergantian mengelola penerbitan SM hingga akhirnya ditemukan kader yang handal untuk memimpin redaksi SM. Adalah S Tjitrosoebono, kader intelektual Muhammadiyah asal Pekalongan yang menjadi pemimpin redaksi SM mulai tahun 1928. Di tangan Tjitrosoebono, SM menjadi majalah resmi Persyarikatan (orgaan officieel Muhammadiyah).
    Memasuki masa penjajahan Jepang, SM hampir gulung tikar, tetapi sosok HM. Junus Anies dibantu adik kandungnya, Ridha Anies, telah menyelamatkan SM sekalipun hanya terbit beberapa edisi dalam setahun. SM memasuki peta politik nasional baru pasca kemerdekaan Indonesia di bawah kepemimpinan H. Mh. Mawardi. SM menjadi pendukung setia rezim Orde Lama. Namun seiring dengan perubahan sikap dan kebijakan rezim Orde Lama, SM berbalik mengritik secara tajam kebijakan NASAKOM.
    SM kembali hadir dengan wajah baru pada masa kepemimpinan KH. Faried Ma’ruf yang merupakan tokoh Muhammadiyah lulusan Mesir. Pasca kepemimpinan Faried Ma’ruf, secara berturut-turut redaksi SM dikendalikan oleh H. Ahmad Basuni, Adjib Hamzah dan Syukrianto AR. Memasuki tahun 2003, redaksi SM dikendalikan oleh seorang kader intelektual Muhammadiyah kelahiran Bandung. Dialah Haedar Nashir, Doktor Sosiologi Universitas Gajah Mada (UGM) yang saat Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar Agustus tahun lalu terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

    Sasaran Dakwah

    Setelah melewati beberapa tahap yang sulit dalam perjalanannya, SM mulai tumbuh dan berkembang di era 1990-an dan hingga usia lebih dari satu abad ini, majalah dua mingguan tersebut sudah memiliki tiras yang mencapai 40 ribu eksemplar naik 300  persen dari terbitan 1980-an yang hanya beroplah 8 ribuan eksemplar dan 12 ribuan eksemplar di 1995-an. Peredaran Majalah SM meliputi DKI, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Riau, Jambi, Lampung, Sumatera Selatan, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTB, NTT, Maluku dan Papua bahkan sampai ke luar negeri seperti Malaysia, Brunei, Cina dan bahkan sampai ke daratan Eropa.
    Pada saat ini, SM sudah lebih maju dan senantiasa berusaha memahami dan memenuhi kebutuhan umat. Hal ini disebabkan karena pada masa sekarang masyarakat Islam sudah membutuhkan pers yang profesional, baik di bidang pengelolaan dan penyajiannya. Sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Islam yang tidak terjaring dalam organisasi keagamaan manapun, maka SM membulatkan niatnya untuk menjadi milik semua umat tanpa membedakan kelompok dan tingkatan kualitas agamanya. Hal ini dibuktikan dengan penyebaran SM yang tidak hanya terbatas pada kalangan pengurus dan anggota Muhammadiyah saja melainkan mencakup seluruh umat tanpa terkecuali. Di antara sasaran dakwah SM terdiri atas beberapa elemen, yaitu: 1) Pimpinan dan pengurus Muhammadiyah; 2) Karyawan amal usaha Muhammadiyah; 3) Warga atau anggota Muhammadiyah; dan 4) Masyarakat secara umum, khususnya umat Islam.
    Ada beberapa alasan mengapa SM tidak hanya ditujukan untuk kalangan warga Persyarikatan saja melainkan juga mencakup seluruh umat manusia. Di antarany adalah pertama, agar masyarakat tahu bahwa Muhammadiyah bukan hanya milik dan untuk warga Muhammadiyah saja melainkan juga untuk seluruh umat manusia.
    Kedua, sebagai bentuk komitmen dan kepedulian terhadap penyelenggaraan aktivitas dakwah yang dikembangkan oleh Muhammadiyah yang ditujukan kepada seluruh umat manusia. Ketiga, sebagai usaha untuk merealisasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
    Jadwal terbit Majalah SM terbagi menjadi dua, yakni nomor ganjil (edisi 1-15) yang diterbitkan pada tanggal 17 dan nomor genap (edisi 16-31) yang diterbitkan pada tanggal 12 dalam setiap bulan. Dari sisi rubrikasi majalah ini juga semakin variatif meskipun ada beberapa rubrik yang tetap dipertahankan sebagai ciri khas majalah ini. Rubrik tersebut adalah tafsir atau tuntunan agama, tanya jawab agama, syarah hadist, dan tulisan PP Muhammadiyah sebagai pedoman warga Muhammadiyah.


     
    Peluang dan Tantangan
    Dalam perkembangannya, SM bukan hanya menjadi sebuah badan usaha milik persyarikatan yang hanya menerbitkan majalah saja. Saat ini SM sudah menjadi badan usaha yang berkembang cukup pesat. Selain majalah SM sendiri, perusahaan ini juga menerbitkan majalah Al Mannar. Termasuk juga mengelola toko dan penerbitan. Bahkan dari sisi aset, SM sudah memiliki tiga gedung baru di sekitar kantor PP Muhammadiyah lama di Jalan KH. Ahmad Dahlan Yogyakarta.
    Pada pengembangannya bahkan SM juga akan masuk sebagai media digital. Majalah ini bisa diakses oleh masyarakat umum baik di dalam maupun luar negeri melalui sarana internet. Meski mengalami perkembangan yang signifikan dan terbukti mampu bertahan hingga lebih dari seabad, namun bukan berarti majalah ini tidak menghadapi kendala ke depannya. Budaya baca dan membeli keilmuan yang masih cukup rendah di Indonesia di tengah tingginya sikap konsumerisme menjadi kendala terberat bagi pengembangan majalah milik persyarikatan ini.
    Selain itu banyaknya bermunculan media elektronik dan sosial media juga menjadi kendala tersendiri bagi majalah ini dalam hal kemasan isu yang  akan dibahas. Karena itulah isu yang dikembangkan adalah isu yang kontekstual sehingga semua edisi terbitan SM akan selalu pantas dibaca kapan saja dan dibutuhkan. [disusun redaksi dari berbagai sumber]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Majalah Suara Muhammadiyah: “Meneguhkan dan Mencerahkan” Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top