• Latest News

    Senin, 01 Februari 2016

    Aliansi Cabang Istimewa Muhammadiyah Luar Negeri


    M. Rifqi Arriza
    Ketua PCIM Mesir 2013-2015

    Bisa dikatakan bahwa pembentukan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di luar negeri adalah salah satu wujud dari semangat “Muhammadiyah Gerakan Islam Berkemajuan” yang santer didengungkan saat ini. Bagaimana tidak? Konon, Muhammadiyah adalah ormas pertama yang meresmikan cabangnya di luar negeri. Itulah Muhammadiyah, dalam amal dan gerakan ia selalu terdepan. Uniknya, terobosan ini telah terintis jauh sebelum slogan di atas bergaung. Hal ini sebagai bukti bahwa slogan tersebut memang menjadi salah satu corak khas persyarikatan sejak lama.
    Mesir ditakdirkan menjadi saksi terbentuknya PCIM tersulung. Saat itu Bapak Din Syamsuddin, Bapak Haedar Nashir, dan beberapa tokoh Muhammadiyah lainnya datang khusus untuk meresmikan PCIM pertama di luar negeri. Pada tanggal 18 Ramadhan 1423 H yang bertepatan dengan 23 November 2002 M, PCIM Kairo resmi masuk dalam struktur keorganisasian Muhammadiyah melalui SK PP Muhammadiyah nomor 137/KEP/I.0/B/2002.


    Pembentukan PCIM kemudian sempat berhenti selama dua tahun. Baru kemudian pada tahun 2005, PCIM Iran dikukuhkan. Pada periode selanjutnya, pembentukan PCIM di luar negeri menjadi marak. Dalam kurun waktu tiga tahun, tak kurang dari sembilan PCIM luar negeri dibentuk. Awal 2006, PCIM Sudan diresmikan. Di penghujung tahun yang sama, Prof. Din Syamsudin selaku Ketua Umum PP Muhammadiyah mentahbiskan M. Suryo Alinegoro sebagai Ketua PCIM Belanda. Selanjutnya, berturut-turut PCIM Jerman, Inggris, Libya dan Kuala Lumpur disahkan pada tahun 2007. Selang setahun kemudian, PCIM Perancis, Amerika Serikat dan Jepang menyusul. Terbaru, 2014 kemarin, PCIM Taiwan dan disusul PCIM Tunisia pada Desember 2015 resmi menjadi bungsu dari PCIM-PCIM yang terlebih dahulu dikukuhkan.

     
    Fungsi PCIM Luar Negeri
    Sampai saat ini, setidaknya sudah ada 15 PCIM luar negeri yang telah diresmikan PP Muhammadiyah. Tentunya hal ini adalah aset besar yang dimiliki Muhammadiyah di luar negeri, yang mana jika dapat dimanfaatkan dengan optimal, maka hasilnya akan sangat berguna bagi persyarikatan secara khusus dan umat Islam secara umum.
    Dalam konteks ini, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin menekankan tiga fungsi pokok lembaga perwakilan Muhammadiyah di luar negeri. Peran pertama sekaligus peran utama PCIM adalah mencetak kader, demi keberlangsungan regenerasi persyarikatan. Peran kedua adalah peran mediasi, baik antara PP Muhammadiyah maupun lembaga-lembaga persyarikatan di Indonesia dengan instansi atau tokoh-tokoh di luar negeri. Sedangkan peran ketiga adalah peran pembinaan kader. Hal tersebut dirasa cukup penting karena PCIM dinilai sebagai wadah yang menjadi lumbung kaderisasi bagi ulama dan cendekiawan Muhammadiyah di masa depan.
    Kaderisasi yang dibidik oleh PCIM memang beragam, sesuai dengan keistimewaan negara masing-masing. PCIM Mesir dan Sudan, fokus mencetak dan membina kader ulama, yang nantinya akan mengisi Majelis Tarjih di daerah masing-masing. Diakui atau tidak, Muhammadiyah sangat kekurangan SDM ulama dan kelebihan SDM Doktor serta Profesor.
    Sedangkan PCIM Jerman, Amerika, Belanda, dan lainnya, tentu lebih fokus membidik kepada kaderisasi Doktor dan Profesor, khususnya dalam ilmu humaniora dan eksakta. Untuk mengisi kebutuhan SDM pada Perguruan Tinggi Muhammdiyah (PTM) di seantero Indonesia.


    Aliansi PCIM Luar Negeri
    Potensi masing-masing PCIM ini jika digabungkan tentunya akan menjadi alternatif baru dalam gerakan Muhammadiyah masa kini, khususnya dalam konteks internasionalisasi gerakan persyarikatan. Yang mana, hal itu sedikit banyak terbukti dengan berdirinya Muhammadiyah di Singapura dan Malaysia. Tidak seperti PCIM yang diisi dan digerakkan oleh orang Indonesia yang kebetulan sedang berada di luar negeri, Muhammadiyah Singapura dan Malaysia adalah NGO (non governmental organization) atau ormas yang memang diisi dan digerakkan oleh para pribumi yang terinspirasi dengan gerakan amal dan dakwah Muhammadiyah di Indonesia.


    Contoh lain tentang internasionalisasi gerakan persyarikatan adalah Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Mesir. Tapak Suci sebagai salah satu sayap gerakan PCIM Mesir, mengalami kemajuan yang pesat sejak dibukanya pendaftaran bagi warga Mesir untuk bergabung. Tak kurang dari 120 orang yang menjadi anggota Tapak Suci saat ini, warga Indonesia dan Mesir. Tapak Suci Mesir saat ini sudah memiliki beberapa cabang di luar kota Kairo, diantaranya bertempat di Propinsi Alexandria dan Banha. Bahkan, saat ini rekan-rekan Mesir sedang mengusahakan perizinan olahraga pencak silat di Kementerian Pemuda dan Olahraga Mesir.
    Salah satu realisasi gerakan bersama PCIM luar negeri adalah ceramah onlen yang digagas oleh PCIM Taiwan. Rekan-rekan PCIM Mesir cukup sering diminta menjadi narasumber. Juga dengan penerbitan buku, yang digarap secara gotong royong. Hal ini sempat menjadi wacana antar ketua PCIM sedunia, bahkan sudah ada tema yang sempat mengemuka untuk dikerjakan, yaitu “Fikih Tenaga Kerja”. Semoga dapat terealisasi dalam waktu dekat. []

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    2 komentar:

    1. Gerakan Selanjutnya dibentuk AUM PCIM, ini sangat penting. Ideologinya belum mengena diluar negari ya Kulturnya dahulu. Olahraga dg seragam Persyarikatan, AUM Toko Buku Suara Muhammadiyah, dan warung / Warung nasi yang sederhana salah satu terobosan Dakwah Muhammadiyah, yang Multi aspek ini.

      BalasHapus
    2. Ada lowongan kerja disana?

      BalasHapus

    Item Reviewed: Aliansi Cabang Istimewa Muhammadiyah Luar Negeri Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top