• Latest News

    Kamis, 10 Maret 2016

    Puritanisme dalam Tajdid Muhammadiyah


    Ahmad Nasri
     
    Warga Muhammadiyah beberapa tahun terakhir ini akrab dengan kata “berkemajuan”. Karena memasuki abad kedua perjalanan dakwah Muhammadiyah, gerakan ini memang mengusung jargon “Islam berkemajuan” atau “Islam yang berkemajuan”. Hal ini juga tersurat pada tema yang diangkat dalam Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar 3-7 Agustus 2015 lalu, yaitu “Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan”.
    Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2015-2020 Dr. H. Haedar Nashir, M.Si dalam tulisan berjudul “Muhammadiyah Gerakan Islam Berkemajuan” yang dimuat pada Majalah Tabligh no. 1/XIV Februari 2016 mengungkapkan bahwa perspektif Islam berkemajuan merupakan cara pandang dalam mengaktualisasi Islam yang lahir dari rahim sejarah Muhammadiyah sendiri, yaitu ide-ide kemajuan yang diperkenalkan oleh KH. Ahmad Dahlan dan sejalan dengan ajaran Islam dalam menjawab tantangan zaman. Masih menurut Pak Haedar, Islam berkemajuan tidak tersekat pada lokasi domestik atau negara, tetapi berwawasan universal dalam spirit rahmatan lil ‘alamin, termasuk di dalamnya mencakup negeri dimana Islam itu lahir.
    Untuk mewujudkan Islam berkemajuan, di antara jalan utama yang harus ditempuh persyarikatan ini (oleh warganya dan apalagi pimpinannya) adalah dengan dakwah dan tajdid. Hal ini seperti diamanahkan dalam pernyataan pikiran Muhammadiyah abad kedua yang merupakan Keputusan Muktamar ke-46 di Yogyakarta atau akrab dikenal dengan Muktamar Satu Abad. Dalam tulisan 17 halaman itu disebutkan bahwa dakwah dan tajdid bagi Muhammadiyah merupakan jalan perubahan. Karena Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang melaksanakan misi dakwah dan tajdid untuk terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

    Dakwah Muhammadiyah
    Sudah dimafhumi secara umum, bahwa Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan dakwah Islam, amar ma’ruf nahi munkar. Mengajak kepada kebajikan/kebaikan dan mencegah dari kemungkaran atau apa saja yang diingkari dan ditolak oleh Islam. Hal ini merupakan ciri Muhammadiyah yang muncul sejak kelahirannya dan akan tetap melekat tak terpisahkan dalam jatidiri Muhammadiyah. Ini berarti Muhammadiyah adalah organisasi yang bergerak, dinamis dan progresif. Muhammadiyah bukan organisasi statis, diam, berhenti dan apalagi berjalan mundur.
    Penegasan seperti ini jelas menggambarkan komitmen Muhammadiyah terhadap Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 104, suatu ayat yang menjadi faktor utama yang melatarbelakangi KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Berdasarkan ayat tersebut Muhammadiyah meletakkan khittah atau strategi dasar perjuangannya. Dalam matan Kepribadian Muhammadiyah dijelaskan bahwa dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar yang diperjuangkan Muhammadiyah ditujukan pada dua bidang: perseorangan dan masyarakat.
    Dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar pada bidang pertama terbagi dalam dua golongan, yaitu: (a) Kepada yang telah Islam bersifat pembaharuan (tajdid), yaitu mengembalikan kepada ajaran Islam yang asli dan murni; dan (b) Kepada yang belum Islam, bersifat seruan dan ajakan untuk memeluk agama Islam. Adapun dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar pada bidang kedua, yaitu kepada masyarakat, bersifat kebaikan dan bimbingan serta peringatan.
    Dalam matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah, salah satu teks resmi persyarikatan yang merupakan Keputusan Tanwir Muhammadiyah tahun 1969 di Ponorogo disebutkan bahwa Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya aqidah Islam yang murni, bersih dari gejala-gejala kemusyrikan, bid’ah dan khufarat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi menurut ajaran Islam.

    Tajdid Muhammadiyah
    Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah juga dikenal oleh masyarakat luas sebagai gerakan tajdid atau gerakan reformasi Islam. Mengingat sejarah berdirinya Muhammadiyah juga dilatarbelakangi adanya gelombang reformasi yang bersemi pada dunia Islam saat itu. Pembaharuan Muhammadiyah setidaknya diinspirasi dari pembaharuan Islam yang diusung oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim al-Jauziyah, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At-Tamimi, Syaikh Muhammad Rasyid Ridha dan beberapa ulama mujaddid lainnya (rahimahumullah). Bahkan menurut Ustadz Dr. H. Syamsul Hidayat, M.A dalam tulisan berjudul “Komitmen Dakwah Muhammadiyah”, ada riwayat yang menyebutkan bahwa KH. Ahmad Dahlan sempat berjumpa dengan Syaikh Rasyid Ridha tersebut di Mekkah saat beliau bermukim di sana.
    Bagi Muhammadiyah Islam merupakan nilai utama sebagai fondasi dan pusat inspirasi yang menyatu dalam seluruh denyut nadi gerakan. Paham Islam yang berkemajuan semakin meneguhkan perspektif tentang tajdid yang mengandung makna pemurnian (purifikasi) dan pengembangan (dinamisasi) dalam gerakan Muhammadiyah, yang seluruhnya berpangkal dari gerakan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah (al-ruju’ ila al-Qur’an wa as-Sunnah) untuk menghadapi perkembangan zaman.
    Di antara maksud tajdid dalam arti pemurnian (purifikasi) adalah untuk memelihara matan (teks) ajaran Islam yang murni, baik dari Al-Qur’an maupun As Sunnah Ash Shahihah yang sudah lebih dulu dirawat oleh para ulama pendahulu dari kalangan sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in (salafush shalih). KH. Ahmad Siddiq, seorang tokoh Nahdhatul Ulama (NU) dari Malang sebagaimana dikutip dalam buku “Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam” menjelaskan bahwa makna tajdid dalam arti pemurnian ini setidaknya menyasar kepada tiga aspek, yaitu: (a) i’adah atau pemulihan, yaitu membersihkan ajaran Islam yang tidak murni lagi; (b) Ibanah atau memisahkan; yaitu memisah-misahkan secara cermat oleh ahlinya (ulama- pen), mana yang sunnah dan mana pula yang bid’ah; dan (c) Ihya’ atau menghidup-hidupkan; yaitu menghidupkan ajaran-ajaran Islam yang belum terlaksana atau terbengkalai.
    Tiga aspek tajdid dalam bentuk purifikasi ini juga sudah dicontohkan langsung oleh pendiri dan para pendahulu persyarikatan. Sebut saja membersihkan ajaran Islam dari segala bentuk penyimpangan dalam hal ibadah maupun (lebih utama) dalam hal aqidah. Bahkan sejak awal berdirinya Muhammadiyah sudah dikenal dengan gerakan memberantas TBC (takhayul, bid’ah dan khurafat), termasuk di dalamnya syirik dan taklid buta yang menjamur di masyarakat kala itu.
    Dalam teks Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) juga disebutkan bahwa setiap warga Muhammadiyah harus memiliki prinsip hidup dan kesadaran imani berupa tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang benar, ikhlas, dan penuh ketundukkan sehingga terpancar sebagai lbad ar-rahman yang menjalani kehidupan dengan benar-benar menjadi mukmin, muslim, muttaqin, dan muhsin yang paripurna.
    Setiap warga Muhammadiyah wajib menjadikan iman dan tauhid sebagai sumber seluruh kegiatan hidup, tidak boleh mengingkari keimanan berdasarkan tauhid itu, dan tetap menjauhi serta menolak syirik, takhayul, bid’ah, dan khurafat yang menodai iman dan tauhid kepada Allah.
    Kalau kita cermati, tajdid dalam bentuk pemurnian (purifikasi) ini memang semakin hari semakin tidak populer di kalangan umat Islam saat ini. Betapa banyak kaum muslimin dari kalangan awam dan tokohnya yang alergi dengannya. Hal ini bisa dilihat dari seringnya kita dengar ada yang nyinyir kepada para juru dakwah, penyeru kepada tauhid yang lurus dan menjauhi bid’ah yang diada-adakan di antaranya dengan ungkapan, “sedikit sedikit bid’ah, sedikit sedikit syirik”. Ada pula lainnya yang berkata, “Orang lain sudah sampai ke bulan, kita masih ribut dengan syirik dan bid’ah”. Dan pernyataan-pernyataan serupa lainnya yang intinya ingin mengesampingkan pemurnian ajaran Islam ini.
    Padahal syirik adalah perkara besar yang konsekuensinya adalah surga dan neraka. Banyak ayat yang berbicara tentang bahaya syirik, di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, (yang artinya): “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al Maa'idah [5]: 72)
    Sedangkan tentang bid’ah, sungguh Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menyempurnakan Islam sebelum diwafatkannya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, sehingga tidak pantas bagi umatnya untuk menambah apa-apa yang tidak dibawa dan diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, (yang artinya): “...Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu...” (QS. Al Ma’idah [5]: 3)
    Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda, “Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang bukan urusan agama kami (tidak ada contohnya dari kami), maka ia tertolak.” (HR. Muslim)
    Dari perilaku bid’ah ini setidaknya akan kita dapati dua konsekuensi berat darinya. Pertama, seakan-akan ia (pelaku bid’ah) lebih pintar daripada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menegaskan bahwa agama Islam ini telah sempurna (sebagaimana QS. Al Maidah ayat 3 di atas), tetapi masih pula ditambah-tambah. Padahal tidak ada yang kurang sedikitpun dari ajaran Islam itu sehingga memerlukan tambahan.
    Kedua, seolah-olah ia (pelaku bid’ah) menuduh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah menyembunyikan sebagian ajaran Islam dengan tidak menyampaikan perbuatan bid’ah yang dianggap baik tersebut kepada umatnya. Na’uzubillah...

    Dakwah Tauhid: Pembebasan

    Maka sejatinya dakwah utama yang diusung oleh Muhammadiyah bisa disebut dengan “dakwah pembebasan”. Yaitu mendakwahkan aqidah tauhid agar masyarakat dan umat terbebas dari segala macam kesyirikan dan mendakwahkan sunnah (dalam artian hal-hal yang dituntunkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam) agar masyarakat terbebas dari bid’ah dan taqlid buta yang membelenggu mereka. Selain itu, Muhammadiyah juga berjuang untuk membebaskan masyarakat dari kebodohan dan kemiskinan yang paling besar, yaitu bodoh dan miskin dalam ilmu syariat, yang ujung-ujungnya juga akan terjerumus ke dalam perilaku syirik, takhayul, bid’ah, khurafat dan taklid buta.
    Sebagai penutup, kami kutipkan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, “...maka Allah timpakan atas kalian kehinaan dan tidak akan hilang kehinaan itu sehingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad, Sahih menurut Al Albani). Wallahu a’lam

    *) Dimuat di Majalah Tabligh edisi No 2/XIV Jumadil Akhir 1437 H/Maret 2016 M
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Puritanisme dalam Tajdid Muhammadiyah Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top