• Latest News

    Rabu, 13 April 2016

    Mencari Keadilan untuk Suratmi


    Dahnil Anzar Simanjuntak
    Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah
     
    "Tahukah engkau orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tiada menganjurkan menyantuni orang miskin. Celakalah orang-orang yang shalat, yaitu lalai dari shalatnya, orang-orang yang riya dan tiada mau menolong dengan barang-barang yang berguna." 
    (QS al-Ma'un [107]: 1-7)


    Suratmi. Nama yang hampir dua minggu ini sering saya sebut kepada publik—meski media lebih sering menyebut nama Siyono—karena kasus terbunuhnya Siyono oleh Densus 88, yang diduga juga, oleh Densus 88 sebagai anggota jaringan teroris yang bisa mengancam keamanan Indonesia.
    Suratmi adalah janda almarhum Siyono dengan lima anak yatim. Dia telah menjadi pemicu bersatunya berbagai elemen bangsa untuk menghadirkan nilai kemanusiaan dan keadilan. Di tengah kesakitan luar biasa karena kehilangan suami, ditambah tuduhan bahwa suaminya pimpinan penting kelompok teroris, yang dia sendiri tak paham.

    Lima anaknya didera trauma, sebagaimana dirinya, dan anggota keluarga yang lain bisa jadi juga menyimpan dendam dan kebencian karena distigmakan sebagai keluarga teroris. Saya sulit membayangkan, betapa sakit dan sengsaranya hidup di bawah stigma ini, yang mereka sendiri tidak ketahui kebenarannya.

    Suratmi adalah wajah lain Suciwati, istri Munir, atau Sipon, istri Wiji Thukul, yang sama-sama kehilangan suami, terbunuh. Sedangkan, Sipon sampai detik ini tidak mengetahui di mana Wiji Thukul. Tentu, saya tidak ingin mempersamakan mereka, tapi semangatnya nyaris tidak berbeda, yakni mencari keadilan untuk diri mereka dan suami.

    Suratmi berani menantang ketidakadilan. Ketika ayah mertuanya, Marso Diyono, meneken surat yang disodorkan pihak Densus 88 yang menyatakan telah mengikhlaskan kematian Siyono putranya dan tidak akan menuntut pertanggungjawaban hukum, Suratmi melawan. Dia menolak menandatangani surat.

    Di tengah kegundahan ini, Suratmi disodorkan "uang duka", yang sampai detik ini belum dia buka, dan akhirnya dia serahkan ke Muhammadiyah agar menjadi alat bukti bila kelak proses hukum dilakukan. Di tengah kemiskinan dan kesusahan karena ditinggalkan suami, Suratmi masih merawat integritasnya sekaligus membuktikan usaha mencari kebenaran dan keadilan tidak bisa digantikan dengan uang.

    Setelah kehilangan suami, Suratmi agaknya menolak kalah oleh intimidasi untuk tidak memperkarakan kematian suaminya. Langkah Suratmi didampingi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) memasuki kantor pusat Muhammadiyah di Yogyakarta. Suratmi dan Komnas HAM mengadu kepada Muhammadiyah, yang saat itu diterima salah satu ketuanya, Busyro Muqoddas.

    Busyro Muqoddas agaknya menjadi pemantik awal pembelaan terhadap Suratmi. Mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang memiliki latar belakang akademik ilmu hukum ini, serta banyak meneliti isu-isu terorisme di Indonesia, bergerak cepat. Menerima semua aduan dan permintaan Suratmi agar Muhammadiyah membantunya mencari keadilan.

    Maka, gerakan membela Suratmi mencari keadilan membesar menjadi masif yang melibatkan kader-kader Muhammadiyah, khususnya Pemuda Muhammadiyah melalui Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam).

    Muhammadiyah akhirnya membentuk tim dokter forensik Muhammadiyah yang akan bekerja membantu menemukenali penyebab kematian Siyono, yang disebutkan oleh pihak Densus 88 karena dia melawan dan menyerang petugas saat borgolnya dilepas sehingga terjadi perkelahian satu lawan satu yang berujung pada kematian.

    Sekali lagi, kekuatan mental dan moral Suratmi diuji. Di tengah upaya Muhammadiyah bersama Komnas HAM akan autopsi jenazah Siyono, kepala desa mengatasnamakan warga Dusun Brengkungan, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Klaten, menyatakan menolak autopsi.

    Bila autopsi itu tetap dilakukan, Suratmi dan keluarga harus keluar dari Desa Pogung, meskipun pada perjalanannya justru warga membantu tim Muhammadiyah dan Komnas HAM menyiapkan proses autopsi dan si kepala desa menghilang ketika jelang autopsi dilakukan. Suratmi bergeming.

    Setelah saya temui langsung dan menyampaikan sikap kepala desa tersebut kepada Suratmi, dia hanya menyatakan, "Saya hanya mencari keadilan buat saya dan anak-anak. Bila saya harus terusir karena itu, bumi Allah itu luas, Mas."

    Bagi saya jawaban Suratmi yang baru pertama saya temui ini teramat menggetarkan. Saya tidak dapat membendung emosi dan kagum. Perempuan ini kuat dan berani. Maka, upaya membantu mencari keadilan untuk Suratmi menjadi lahan dakwah kami para kader Muhammadiyah yang bernaung di Pemuda Muhammadiyah.

    Dimulai dari memberikan bantuan rasa aman di sekitar rumah Suratmi, seperti yang dia minta agar Kokam menjaga keamanannya dan anak-anaknya yang merasa terteror sekelompok orang yang mondar-mandir di sekitar rumahnya, sampai akhirnya proses autopsi terlaksana. Saat ini tinggal menunggu hasil final dari sembilan tim dokter forensik Muhammadiyah, yang segera diumumkan kepada publik.

    Teologi al-Ma'un adalah genetika gerakan ini sejak awal didirikan oleh KH Ahmad Dahlan dengan menghadirkan kemajuan dan kegembiraan dalam pengajaran Islam. Mengamalkan Islam sebagai solusi bagi permasalahan kehidupan. Agama itu adalah amal. Kata Kiai Dahlan.

    Surah al-Ma'un yang hanya terdiri dari tujuh ayat itu menjadi inspirasi bagi gerakan sosial yang dihadirkan Muhammadiyah. Surah pendek itu telah menggerakkan nurani kader Muhammadiyah untuk merawat kebaikan bagi mustadafin, mereka yang miskin, mereka yang yatim.

    Maka, gerakan mencari keadilan buat Suratmi meskipun dia dan suaminya bukan kader atau warga Muhammadiyah, tanpa peduli tuduhan yang dialamatkan kepada Muhammadiyah, tetap dilakoni dengan ikhlas. Agaknya sikap itu juga yang diperlihatkan para anggota Komnas HAM dan LSM serta ormas lainnya yang secara aktif membantu Suratmi mencari keadilan.

    Surah al-Ma'un pula yang telah menginspirasi berdirinya Pertolongan Kesengsaraan Oemoem (PKO) pada 1923. Berdirinya PKO menjadi manifesto bagi gerakan Muhammadiyah yang ingin hadir membantu kesengsaraan umat manusia yang sanggup dibantu Muhammadiyah.

    Pilihan diksi 'Oemoem' (umum) menunjukkan visi Muhammadiyah yang ingin bekerja tidak dibatasi tembok primordial, rasialisme, dan lainnya. Namun, bekerja membantu kesengsaraan manusia, membangun jembatan bagi sikap saling menolong atas nama kemanusian.

    Maka, bila ada pertanyaan sinis yang penuh prasangka dari beberapa pihak tentang mengapa Muhammadiyah ngotot membela Suratmi, padahal ia bukan warga atau kader Muhammadiyah. Penting terlebih dahulu memahami genetika Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dakwah amar makruf nahi mungkar yang berkarakter tajdid (pembaharuan) dengan amal utama menghadirkan Islam yang menggembirakan dan memajukan.

    Membela Suratmi bagi Muhammadiyah adalah narasi penghormatan terhadap kemanusiaan dan keadilan seperti yang sudah ditanam Muhammadiyah sejak 1912 dan dilanjutkan pendirian bagian PKO pada 1923, menjadi lembaga yang bekerja untuk membela hak mereka yang tertindas tanpa peduli latar belakangnya. Sekaligus merobohkan tembok tuduhan bahwa aparatur hukum bisa bertindak seenaknya mengabaikan hak hidup dan keadilan buat warga negaranya.

    Membela Suratmi mencari keadilan juga menjadi pembeda cara Muhammadiyah mengimplementasikan gerakan deradikalisasi dengan cara memutus tumpukan dendam dan kebencian dari anggota keluarga di masa depan yang bisa berpotensi menjadi pemicu munculnya akar radikalisme.

    Terima kasih Suratmi yang telah menunjukkan kepada kita semua tentang pentingnya keadilan karena akar terorisme sesungguhnya adalah tidak hadirnya keadilan. Fastabiqul khairat.



    *) Tulisan ini sebelumnya dimuat di Republika
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Mencari Keadilan untuk Suratmi Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top