• Latest News

    Jumat, 22 Juli 2016

    Mengembalikan Ruh Dakwah Muhammadiyah


     Oleh: Ahmad Nasri

    Dakwah secara bahasa bisa diartikan sebagai undangan, panggilan, seruan dan ajakan. Secara istilah, dakwah berarti penyampaian Islam kepada manusia, baik secara lisan, tulisan maupun media lain yang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Di antara esensi dakwah adalah mengajak orang lain untuk mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi segala larangan dalam rangka mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dengan ungkapan yang singkat, hakikat dakwah adalah melakukan amar makruf dan nahi munkar berdasarkan ajaran Allah dan Rasul-Nya dengan tujuan untuk mencapai kebahagian hidup dunia dan akhirat. Hal ini dapat disimpulkan di antaranya dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artiya, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran [3]: 104)
    Dari ayat di atas juga, Muhammadiyah meletakkan khittah dan strategi dasar perjuangannya, yaitu dakwah Islam, amar makruf nahi munkar dengan masyarakat sebagai medan atau kancah perjuangannya. Karenanya hingga saat ini Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan dakwah Islam amar makruf nahi munkar. Ini merupakan salah satu ciri Muhammadiyah yang telah muncul sejak kelahirannya dan tetap melekat tak terpisahkan dalam jati diri Muhammadiyah hingga sekarang. Bahkan semua kiprah Muhammadiyah di tengah masyarakat dengan membangun berbagai amal usaha semacam lembaga pendidikan dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan dan lain sebagainya tidak lain merupakan perwujudan dari dakwah Islam. Artinya semua amal usaha tersebut didirikan dengan niat dan tujuan yang satu, yaitu sebagai sarana dakwah Islam, dalam rangka mencari ridha Allah dengan meyebarluaskan ajaran A-Qur’an dan As Sunnah Al Maqbulah untuk mencapai kebahagian hidup di dunia dan akhirat.
    Selain dikenal sebagai gerakan dakwah Islam, Muhammadiyah juga dikenal sebagai gerakan tajdid (reformasi), baik tajdid dalam artian purifikasi (pemurnian) maupun dalam arti dinamisasi (peningkatan, pengembangan). Sebagai gerakan dakwah yang multidimensi, Muhammadiyah senantiasa melakukan dinamisasi sebagai upaya penguatan terus menerus terhadap langkah-langkah dakwah, baik secara kualitatif maupun kuantitatif untuk menuju cita-cita dan tujuan Muhammadiyah, yaitu terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar benarnya. Saat ini dinamisasi dalam hal dakwah juga sudah dilakukan di Muhammadiyah. Dakwah tidak hanya dilakukan dalam pengajian saja, melainkan menyasar pada persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, seperti masalah ekonomi. Para juru dakwah Muhammadiyah juga tidak hanya dibatasi pada orang-orang yang menyampaikan ceramah atau pengajian, melainkan meluas kepada setiap warga Muhammadiyah yang memiliki komitmen amar makruf nahi munkar untuk memperbaiki keadaan masyarakat, sekecil apapun bentuknya dan dimanapun dia berada. Dakwah tidak hanya dari masjid ke masjid saja, tetapi telah merambah ke majalah, radio, televisi dan media internet. Dari segi aspeknya, dakwah Muhammadiyah ada di segala aspek, seperti: pendidikan, ekonomi, sosial, olahraga, seni budaya, dll. Karena Muhammadiyah memandang bahwa dakwah memiliki pengertian yang luas.
    Hal ini sesuai dengan maksud gerakan Muhammadiyah yang tertulis dalam matan Kepribadian Muhammadiyah, bahwa dakwah Islam amar makruf nahi munkar Muhammadiyah ditujukan pada dua bidang: perseorangan dan masyarakat. Dakwah dan amar makruf nahi munkar pada bidang pertama terbagi dalam dua golongan: (a) Kepada yang telah Islam bersifat pembaharuan (tajdid), yaitu mengembalikan kepada ajaran Islam yang asli dan murni; (b) Kepada yang belum Islam, bersifat seruan dan ajakan untuk memeluk agama Islam. Adapun dakwah dan amar makruf nahi munkar pada bidang kedua, ialah kepada masyarakat, bersifat kebaikan dan bimbingan serta peringatan. Kesemuanya itu dilaksanakan dengan dasar takwa dan mengharap keridhaan Allah  Subhanahu wa Ta'ala semata-mata. Dengan melaksanakan dakwah Islam dan amar makruf nahi munkar dengan caranya masing-masing yang sesuai, Muhammadiyah menggerakkan masyarakat menuju tercapainya tujuan Persyarikatan Muhammadiyah, ialah “Terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”.
    Satu sisi memang patut disyukuri perkembangan dakwah di persyarikatan ini, Meski demikian, kita tetap harus mengambil teladan terbaik dari para pendahulu kita, baik kepada Rasulullah dan para sahabat sebagai suri teladan terbesar dalam dakwah, maupun kepada KH. Ahmad Dahlan sebagai salah satu pelopor dakwah puritan di nusantara sekaligus pendiri Muhammadiyah. Bahwa memang sebenarnya ruh dakwah adalah pengajian atau pengkajian. Lihatlah Rasulullah yang memulai dakwahnya dengan ‘pengajian’ rutin di rumah Al Arqam. Dalam berbagai riwayat juga dikisahkan bahwa para sahabat mengambil hadis dari beliau saat diadakannya ‘pengajian’ oleh Rasulullah. Jibril juga pernah menurunkan wahyu dari Allah saat Rasulullah sedang menggelar pengajian bersama para sahabat beliau. Para sahabat seperti Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, Abu Musa Al ‘Asy‘ari, Abdullah bin Zubair, dll juga dikenal dengan kajian hadis dan tafsirnya. Termasuk para ulama mazhab seperti Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad bin Idris Asy Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal juga menjadi teladan dalam hal pengajian, pengkajian dan banyaknya murid beliau.
    KH. Ahmad Dahlan juga mengawali geraknya melalui pengajian-pengajian. Beliau senantiasa mencari peluang untuk mengisi pengajian dan menggerakkan pengajian. Sejarah mencatat banyak pengajian yang digerakkan Kyai Dahlan, beberapa di antaranya seperti: Qismul Arqa’, Fathul Asrar wa Miftahus Sa’adah, Wal ‘Ashri, Pengajian Malam Jum’at, Sapa Tresna, dll. Dari pengajian-pengajian tersebut kemudian muncul kader-kader dakwah yang luar biasa, yang menyebarluaskan Islam dan Muhammadiyah ke segala penjuru Nusantara. Kalau bisa katakan secara singkat, dakwah adalah ruh Muhammadiyah, dan pengajian adalah ruh dakwah Muhammadiyah.
    Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah periode 2010-2015 dr. H. Agus Sukaca, M.Kes dalam tulisannya berjudul “Semua Anggota Muhammadiyah Mengaji” mengatakan bahwa KH. AR Fachruddin berulang-ulang menyatakan bahwa pengajian adalah ruh-nya Muhammadiyah. Tanpa pengajian, Muhammadiyah ibarat jasad yang sudah tak bernyawa. Betapapun hebatnya seseorang, bila nyawanya sudah tak ada, ia hanyalah mayat yang tidak lagi mampu memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Ia menjadi tanggungjawab orang lain untuk memandikan, menshalatkan dan menguburkan. Demikian halnya dengan Muhammadiyah, bila tanpa pengajian, ia kehilangan kemampuan memberikan kemanfaatan bagi umat, bahkan menjadi beban. Menurut pengamatan beliau, orang-orang yang sering bermasalah dalam Muhammadiyah, apakah di amal usaha atau persyarikatan, bila ditelusuri, ternyata kebanyakan bukanlah orang yang ahli mengaji.
    Perkembangan gerakan Muhammadiyah tidak bisa dilepaskan dari pengajian. Kaidah-kaidah persyarikatan menjadikan pengajian sebagai inti gerakan. Mari kita tengok kembali Anggaran Rumah Tangga (ART) Muhammadiyah, dalam pasal 3 disebutkan bahwa amal usaha Muhammadiyah yang pertama adalah “Menanamkan keyakinan, memperdalam dan memperluas pemahaman, meningkatkan pengamalan, serta menyebarluaskan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan”. Sedangkan pada poin yang kedua dituliskan, “Memperdalam dan mengembangkan pengkajian ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan untuk mendapatkan kemurnian dan kebenarannya.”
    Dalam bagian yang lain ART Muhammadiyah pasal 5 disebutkan tentang syarat pendirian ranting Muhammadiyah sekurang-kurangnya mempunyai: (a) pengajian/kursus anggota berkala, sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan; (b) pengajian/kursus umum berkala, sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan; (c) mushalla/surau/langgar sebagai pusat kegiatan; dan (d) jama’ah. Tidak hanya pada level ranting, untuk mendirikan Pimpinan Muhammadiyah di tingkat cabang (pasal 6), daerah (pasal 7) dan wilayah (pasal 8) semuanya mensyaratkan adanya pengajian anggota, pimpinan dan mubaligh, sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan.
    Masih dalam tulisan yang sama, dr. Agus mengatakan bahwa pengajian adalah media paling pas bagi umat Islam untuk belajar sepanjang hayat tanpa batas waktu. Melalui pengajian pula kehidupan berjama’ah bisa diamalkan. Dan melalui pengajian pula fungsi Muhammadiyah untuk mengantarkan umat Islam ke gerbang surga jannatun na’im dapat dilaksanakan. Berada dalam jama’ah pengajian Muhammadiyah menjamin kita tetap berada dalam orbit gerakan Muhammadiyah. Pengajian anggota merupakan bagian dari sistem pembinaan anggota. Tujuannya memberikan pengajaran dan bimbingan kepada anggota agar menjadi muslim yang taat, memahami dan mengamalkan ajaran Islam yang benar sesuai dengan yang dipahami Muhammadiyah, dan mampu menjadi subyek dakwah. Kewajiban ranting menyelenggarakan pengajian anggota mengisyaratkan semua warga Muhammadiyah harus mengaji, meningkatkan pemahaman agama, dan senantiasa berada dalam jama’ah.
    Pengajian Umum, di samping merupakan bagian dari sistem pembinaan anggota juga menjadi bagian dari sistem dakwah Muhammadiyah kepada para simpatisan. Pengajian ini menjadi media Muhammadiyah untuk melaksanakan misi menyebarluaskan ajaran Islam yang bersumber kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah kepada masyarakat umum. Warga Muhammadiyah sebagai inti anggota pengajian dan masyarakat umum sebagai sasaran dakwah Muhammadiyah. Kewajiban ranting menyelenggarakan pengajian umum mengindikasikan bahwa sasaran dakwah Muhammadiyah haruslah senantiasa diperluas di kalangan masyarakat umum, sehingga makin hari makin banyak masyarakat umum yang menerima dakwah Islam. Sebagai warga Muhammadiyah tugas kita adalah memasarkan dan merekrut sebanyak-banyaknya orang-orang yang dikenal untuk mengikuti pengajian ini.
    Maka sudah menjadi keniscayaan bahwa untuk mewujudkan “semua anggota Muhammadiyah mengaji”, tidak bisa tidak, pimpinan persyarikatan di semua jenjang harus mempersiapkan di antaranya dengan mencetak sebanyak mungkin juru dakwah/ustadz/mubaligh yang mumpuni. Tidak hanya mumpuni secara ilmu, tapi juga secara metode. Karena tangeh lamun (jawa: tidak mungkin) semua warga Muhammadiyah bisa mengaji di tempatnya masing-masing jika tidak ada pengisinya. Bahkan ironis jika warga Muhammadiyah, di masjid yang didirikan dan dikelola Muhammadiyah justru mengadakan pengajian dengan pengisi non-Muhammadiyah. Sehingga pada akhirnya warga Muhammadiyah, khususnya di akar rumput ‘terpaksa’ harus eksodus dari persyarikatan, bukan karena tidak cinta kepada Muhammadiyah, melainkan semata-mata karena merasa tidak ada pembinaan ruhiyah yang diterimanya. Sedangkan bersama ‘yang lain’ ada kajian-kajian agama yang bisa mereka ikuti secara rutin.
    Sehingga apa yang dikhawatirkan beberapa pihak di Muhammadiyah tidak terbukti, kalau Muhammadiyah adalah LSM terbesar di Indonesia. Hanya menjadi tempat berkumpulnya orang banyak, namun ruh Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah hilang, karena hilangnya ruh dan identitas dakwah di Muhammadiyah: yaitu pengajian! Wallahul Musta’an

    *) Dimuat di Majalah Tabligh edisi No 6/XIV Syawal 1437 H/Juli 2016 M
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    Item Reviewed: Mengembalikan Ruh Dakwah Muhammadiyah Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top