• Latest News

    Rabu, 24 Agustus 2016

    Nasyiatul ‘Aisyiyah di Tengah Globalisasi


    Ulfa Sularsih 
    Ketua Departemen Seni Budaya PC Nasyiatul ‘Aisyiyah
    Blimbing - Sukoharjo

    Derasnya arus informasi dewasa ini merupakan salah satu dampak dari semakin canggihnya ilmu teknologi. Semua kalangan, baik dari anak-anak, remaja, dewasa hingga orangtua. Dari kalangan kelas menengah ke bawah sampai kalangan menengah ke atas, tak terkecuali mereka yang ada di pelosok negeri. Akses mendapatkan informasi kini begitu mudah, salah satu sisi positif yang bermanfaat memang. Kondisi ini tak terlepas dari globalisasi. Lalu, apa sih arti kata globalisasi itu sendiri?
    Menurut Wikipedia Globalisasi adalah proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya. Kemajuan infrastruktur transportasi dan telekomunikasi, termasuk kemunculan telegraf dan internet merupakan faktor utama dalam globalisasi yang semakin mendorong saling ketergantungan (interdependansi) aktivitas ekonomi dan budaya. Karena Globalisasi, dunia yang luas ini seakan terasa sempit. Misalnya  kita bisa dengan mudah mengetahui kondisi keadaan sebuah negara yang jaraknya ber mil mil dari negara kita, hanya dengan satu klik saja. Kita juga bisa mengetahui seperti apa aktivitas ekonomi dan budaya di negara-negara lain tersebut. Sebuah kecanggihan yang luar biasa. Darinya kita bisa mendapatkan informasi-informasi yang bermanfaat, baik bagi diri kita pribadi, masyarakat secara umum dan lebih luasnya lagi bagi negara kita secara global. Di antara dampak positif globalisasi adalah, pertama, pembangunan semakin banyak. Indonesia sebagai negara berkembang, yang berkiblat pada negara-negara maju memacu diri untuk mengikuti pembangunan-pembangunan yang ada di negara negara tersebut.
    Kedua, semakin cepat dan mudahnya komunikasi. Dulu, hanya ada alat komunikasi berbentuk surat, jika jarak terlalu jauh, maka waktu yang dibutuhkan agar surat sampai pada tujuannya juga akan semakin lama. Hal ini tentunya menghambat jika surat yang dikirim tersebut bersifat penting dan segera. Selain itu biaya yang digunakan juga tidak murah. Kini, kecanggihan teknologi membuat semuanya menjadi mudah dan murah.  Jarak tak lagi menjadi penghambat sebuah komunikasi. Ketiga, kemudahan dalam transportasi. Dewasa ini, jasa layanan transportasi, baik udara, darat maupun laut, berlomba-lomba menawarkan pemesanan tiket online. Hal ini tentunya memudahkan pengguna jasa. Seorang customer tidak perlu datang dan antri berdesak-desakan hanya untuk mendapatkan tiket transportasi. Hanya dengan satu klik, bisa memilih alat transportasi mana saja yang diinginkan.
    Keempat, peningkatan pada ekonomi menjadi lebih produktif, efektif dan efisien. Seperti halnya penyedia layanan transportasi tadi, produsen barang pun juga berlomba menawarkan produknya melalui toko-toko online. Produsen dan konsumen tidak perlu bertemu untuk membeli suatu barang. Mereka tinggal memilih barang yang diinginkan dan kemudian pihak produsen akan mengirimnya ke masing-masing konsumen yang memesan. Sangat efisien. Sehingga sekarang ini, banyak sekali di antara kita yang berminat menggeluti dunia bisnis online ini. Dan kelima, kemudahan mendapatkan informasi. Tidak perlu menunggu berhari-hari untuk mendapatkan informasi terbaru dari sebuah daerah yang jaraknya jauh dari tempat kita. Misalnya saja, jika terjadi sebuah bencana di suatu tempat, maka hari itu juga, kita akan mendapatkan informasi dan beritanya, lagi-lagi hanya dengan satu klik. Positifnya, kita bisa mengirimkan bantuan ke daerah yang terkena bencana tersebut dengan segera.
    Namun ternyata tidak semuanya berdampak positif, selalu ada dampak negatif yang mengikutinya. Di antaranya: (1) Munculnya sikap ketergantungan pada gadget. Melalui gadget, kita dapat mengetahui semua yang terjadi di belahan dunia manapun. Dunia yang begitu besar seakan menjadi kecil dan mudah digenggam. Adakalanya, kita lebih suka chatting berjam-jam dengan orang lain di dunia maya daripada mengenal orang-orang baru yang ada di sekitar kita. Hal ini sejatinya bertentangan dengan budaya bangsa Indonesia, sebagai negara timur yang ramah dan mudah bergaul dengan orang yang di sekitarnya. Di rumah buka gadget, di sekolah buka gadget, di kampus, di kantin, di halte, dimanapun kebanyakan orang lebih sering membuka gadget untuk mengisi waktu luang. Ada sebuah istilah yang memang benar adanya “gadget itu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat”. (2) Informasi yang tak berimbang dan tak tersaring. Bukan hanya informasi positif, informasi negatif pun sekarang marak diberitakan. Dengan dalih kebebasan pers, semua memberitakan kasus atau berita yang mungkin tidak selayaknya disampaiakan kepada masyarakat. Hal ini mungkin akan berdampak pada anak-anak yang masih belum bisa menyaring informasi dengan baik dan benar. Dampak dari derasnya arus informasi ini memang sangat besar. Terutama bagi anak-anak. Sebagai contoh, ketika menyajikan sebuah tren yang sedang berkembang di masyarakat maka dengan mudah dan cepat, anak-anak akan meniru dan mengikuti tren tersebut. Hal ni  karena memang banyak media yang memblow up informasi tersebut secara besar-besaran. Bukan hanya tentang tren fashion, make up, potongan rambut, tetapi juga tren tingkah laku, gaya bicara, dan budaya. Melalui sinetron, beberapa sikap negatif ditampilkan. Pacaran misalnya. Hal ini seakan sudah menjadi gaya hidup remaja zaman sekarang.
    Sebagai muslim kita memiliki tanggungjawab terhadap agama, bangsa dan negara. Untuk dapat menunaikan kewajiban tersebut, sebagai putri Islam yang juga memiliki tanggungjawab yang sama, maka kami organisasi Nasyiatul ‘Aisyiyah hadir untuk menjawab tantangan zaman sekarang ini. Organisasi ini berdiri pada tanggal 28 Dhulhijjah 1349 Hijriyah yang bertepatan pada tanggal 16 Mei 1931 Miladiyah di Yogyakarta. Nasyiatul ‘Aisyiyah merupakan organisasi otonom dan kader Muhammadiyah yang merupakan gerakan putri Islam yang bergerak di bidang keperempuanan, keagamaan, kemasyarakatan, dan pendidikan. Tujuan dari organisasi ini adalah menjadi putri Islam yang berarti bagi agama, bangsa, keluarga  untuk menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
    Sesuai dengan QS. At Taubah ayat 71, “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan sebagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguh nya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
    Kenapa perempuan? Kenapa putri Islam? Karena sebaik-baik perhiasan dunia adalah perempuan shalihah. Perempuan adalah tiang sebuah negara, apabila baik perempuannya maka negara tersebut juga akan baik. Untuk mewujudkan tujuan organisasi Nasyiatul ‘Aisyiyah diatas, disusunlah Departemen-Departemen sebagai langkah untuk mempermudah mencapai tujuan organisasi.


    Departemen Pengembangan Organisasi dan Kerjasama
    Pengembangan dalam meningkatkan pemahaman untuk menjalankan sebuah organisasi maupun adanya kerjasama. Departemen ini berfungsi untuk mengembangkan sayap organisasi. Seperti disebutkan dalam QS. As Shaff ayat 4, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”. Untuk itulah Departemen ini ada, merapikan semua urusan dalam organisasi. Membuat buku-buku panduan, menginisiasi permbentukan ranting, cabang, daerah, maupun wilayah-wilayah baru. Mendampingi mereka yang masih baru dalam ber-Nasyiah. Sebuah organisasi, tidak mungkin mampu berjalan sendiri tanpa adanya kerjasama dengan pihak lain. Melalui departemen ini pula, kerjasama dari tingkat pusat diteruskan sampai ke daerah. Sebagai contoh MOU dengan Dinas Kesehatan terkait dengan program pelayanan remaja sehat, atau dengan Dinas UMKM terkait dengan pelatihan wirausahan/wati.

    Departemen Dakwah
    Pengembangan proses dalam menyebar luaskan ajaran Islam yang baik dan jelas melalui dakwah. Sebagai putri Islam yang mengemban tanggungjawab terhadap agama, bangsa dan negara maka pastinya kita butuh ilmu. Ilmu hanya bisa kita dapatkan ketika kita mau mencarinya. Lewat Departemen ini, Nasyiatul ‘Aisyiyah berharap dapat menjadi sebuah sarana untuk berthalabul ‘ilmi bersama. Ilmu agama yang tentunya sebagai pondasi dasar yang harus kokoh, mendapat porsi yang lebih dalam hal ini. Namun bukan berarti mengabaikan ilmu duniawinya. Seperti kata Buya Hamka, “Jadikan dunia di tanganmu dan akhirat di hatimu”. Kajian-kajian dalam Nasyiatul ‘Aisyiyah mulai beragam, dari ilmu fiqih, sejarah, kesehatan, muamalah sampai Islam kontemporer. Dikemas dalam kegiatan rutin sehingga ilmu yang disampaikan dapat berkelanjutan. Selain itu, departemen ini juga memiliki goal setting mencetak mubalighat-mubalighat yang mampu menyampaikan ilmu ilmu agama pada masyarakat dengan berbagai pendekatan. Ilmu agama merupakan pegangan yang mendasar bagi tingkah laku manusia. Jika seorang mubalighat mampu mentransfer ilmu dengan menarik, maka ilmu itu akan sampai kepada masyarakat dan dapat diterapkan di kehidupannya. Untuk itulah Departemen Dakwah ini hadir dan memberi solusi bagi permasalahan masyarakat sekarang yang semakin dimanjakan dengan adanya kecanggihan teknologi.

    Departemen Kader
    Pengembangan yang dilakukan untuk tujuan memperbaiki kualitas generasi selanjutnya. Kaderisasi adalah sebuah proses penting dalam sebuah organisasi. Karena waktu terus berjalan, dan tidak mungkin setiap orang akan selamanya berada dalam sebuah organisasi. Dalam Nasyiatul ‘Aisyiyah, sesuai AD/ART anggota Nasyiatul ‘Aisyiyah adalah perempuan dari usia 17 – 40 tahun. Setelah usia tersebut, maka seorang perempuan bisa melanjutkan estafet dakwah ke ‘Aisyiyah. Hal ini, jika tidak dibarengi dengan kaderisasi dalam tubuh Nasyiatul ‘Aisyiyah sendiri maka tidak akan berhasil. Ketika ada seorang kader yang harus berpindah ke ‘Aisyiyah karena faktor umur, maka jika proses kaderisasi berjalan dengan baik, tidak akan terjadi goncangan dalam tubuh Nasyiatul ‘Aisyiyah sendiri. Organisasi akan tetap kuat meskipun harus ditinggal oleh beberpa orang. Seperti sebuah istilah “mati satu tumbuh seribu”. Hal ini lah yang menjadi fokus dari Departemen Kader, agar anggota Nasyiatul ‘Aisyiyah masih bisa memberikan kontribusi bagi keberlangsungan hidup masyarakat yang semakin beragam ini.


    Departemen Sosial
    Pengembangan dalam meningkatkan rasa kepedulian terhadap sesama dan memperhatikan kondisi yang ada disekitar. Bukan hanya keshalihan secara agama saja yang harus dimiliki oleh seorang kader. Keshalihan sosial pun juga sangat penting. Melalui Departemen ini, Nasyiatul ‘Aisyiyah mencoba menanamkan sikap kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Seperti awal berdirinya Muhammadiyah dahulu, didasari dengan semangat gerakan “Al-Maun”. Yang mencari dan mengumpulkan fakir miskin untuk kemudian disantuni dan diberi kehidupan yang layak. Semangat itulah yang sampai sekarang dipegang teguh oleh organisasi-organisasi ortonom Muhammadiyah. Bukan hanya fokus pada fakir miskin saja, melalui Departemen ini, Nasyiatul ‘Aisyiyah memberikan perlindungan atau advokasi terhadap orang-orang yang mungkin mengalami kasus kasus seperti KDRT, Pelecehan Seksual, dll. Kasus yang sekarang ini marak terjadi di sekitar kita. Terjadi karena begitu canggihnya teknologi dewasa ini. Globalisasi dan hilangnya jatidiri pada masyarakat juga merupakan faktor penyebab kasus-kasus tersebut. Seakan seperti wabah penyakit yang begitu cepat menyebar. Sebuah kasus yang terjadi jauh disana ternyata juga bisa terjadi pada orang-orang di sekitar kita. Bukan hendak menyalahkan media sepenuhnya, tapi sedikit banyak media memang berperan dalam lingkaran kasus-kasus ini. Pendampingan bagi mereka yang memang membutuhkan. Ramah Perempuan dan Anak, merupakan jargon Nasyiatul ‘Aisyiyah periode ini. Perempuan dan Anak. Karena dewasa ini banyak sekali kasus yang terjadi kebanyakan korbannya adalah perempuan dan anak. Departemen ini mengajarkan pada semua kader bahwasanya kita bukan hanya hidup untuk diri kita sendiri. Tapi juga ada orang lain yang berhak untuk kita bahagiakan.

    Departemen Pendidikan
    Pengembangan untuk berbagi antar sesama melalui dasar pendidikan yang baik. Pendidikan merupakan hal penting bagi sebuah kehidupan. Ilmu yang menjadi bekal bagi seseorang untuk mengarungi dunianya. Melalui departemen ini Nasyiatul ‘Aisyiyah belajar untuk terus memberikan pendidikan kepada banyak orang. Bukan terbatas pada pendidikan formal saja. Lebih banyak menyelenggarakan seminar-seminar edukatif untuk masyarakat. Mendirikan taman-taman bacaan untuk tempat nongkrong anak-anak muda. Memberi waktu dan ruang bagi anak-anak muda untuk memanfaatkan hidupnya dengan hal positif. Pendidikan pra nikah, dalam hal ini pasangan yang akan menikah bisa berkonsultasi dengan pakar, baik dari segi kesehatan seksual pra dan paska nikah, pakar psikologi, pakar keuangan, dan lain sebagainya. Jadi informasi tidak hanya mereka dapat dari media online yang terkadang tidak valid kebenarannya, yang terkadang berlebihan atau tidak sesuai dengan syariat Islam. Untuk itulah Departemen Pendidikan ini hadir sebagai solusi untuk memecahkan masalah tersebut. Selain itu, fokus dari Departemen ini juga fokus dalam pembuatan buku-buku bertema pendidikan. Dan yang baru-baru ini, Nasyiatul ‘Aisyiyah sedang mengupayakan berdirinya PAUD Nasyiah (mulai dari daycare 0-2, PAUD I 2-4 dan PAUD II 4-6 ). Sebuah pendidikan anak usia dini yang akan menjadi pondasi atau dasar bagi kehidupan anak kelak.

    Departemen Ekonomi
    Pengembangan untuk mengatur kondisi keuangan yang terstruktur dan penuh dengan pertimbangan agar pengelolaan ekonomi yang dilakukan tidak sia-sia. Melaui departemen ini, Nasyiatul ‘Aisyiyah ingin agar perempuan-perempuan mampu mengoptimalisai potensi diri, memanfaatkan sumber daya alam yang ada di daerah masing-masing. Menciptakan lapangan pekerjaan bagi perempuan-perempuan yang belum memiliki kesempatan untuk mendapatkan penghidupan yang layak. Memiliki Badan Usaha Nasyiatul ‘Aisyiyah (BUANA) sebuah koperasi berbasis syariah yang berdiri untuk membantu pengusaha-pengusaha kecil untuk dapat berkembang tanpa harus bergantung pada bank-bank konvensional. Menciptakan sikap produktif untuk menghasilkan barang-barang maupun jasa yang sesuai dengan pangsa pasar dan tetap berpegang tegup pada syariat Islam. Bisa menjadi solusi bagi kebanyakan masyarakat yang kini kebanyakan memiliki budaya konsumtif karena semakin mudahnya teknologi dan globalisasi.

    Departemen kominmas

    Pengembangan untuk mengambil peran yang baik ketika di lingkungan masyarakat. Melalui departemen ini, Nasyiatul ‘Aisyiyah berharap dapat mencetak kader-kader jurnalistik yang memiliki perspektif Islam dan mampu menyajikan informasi yang berimbang dan akurat. Mampu menjadi media yang baik dan ramah terhadap perkembangan anak, bukan hanya media yang memprioritaskan keuntungan sehingga menyampaikan informasi yang tak berimbang dan tak ramah anak. Hal ini tentunya bisa menjadi salah satu solusi, di tengah kebebasan pers yang menyampaikan berita maupun informasi yang kurang mendidik bagi masyarakat. Selain itu, Departemen Kominmas Nasyiatul ‘Aisyiyah juga berharap dapat mencetak penulis-penulis yang nantinya akan menghasilkan buku-buku yang memiliki manfaat bagi masyarakat.

    *) Tulisan ini dimuat di Majalah Tabligh edisi Agustus 2016
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Nasyiatul ‘Aisyiyah di Tengah Globalisasi Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top