• Latest News

    Kamis, 16 Maret 2017

    Menghimpun Kisah Setelah 212


    Judul        : SPIRIT 212, Cinta Ini Menyatukan Kita
    Penulis    : Sinta Yudisia, dkk
    Penerbit    : Forum Lingkar Pena, Jakarta
    Cetakan    : Pertama, Januari 2017
    Dimensi    : 20 X 28 cm (soft cover)
    Tebal        : 296 halaman
    No. ISBN    : 978-602-6334-24-4

    Akhir tahun 2016 yang lalu, Allah SWT menggoreskan kenangan mendalam bagi seluruh lapisan masyarakat bangsa Indonesia. Berkumpulnya berbagai elemen umat Islam, ribuan, ratusan ribu, bahkan mencapai jutaan manusia. Dari berbagai organisasi kemasyarakatan, lembaga dakwah, yayasan, pondok pesantren, majelis taklim maupun yang datang perorangan. Dari berbagai profesi dan tingkat keilmuan, yang alim maupun yang awam. Berkumpulnya manusia dari berbagai pelosok negeri yang tidak saling mengenal itu sama sekali tidak menimbulkan huru hara, tidak terjadi kerusakan atau kerusuhan, tidak memunculkan pencurian, perampokan dan penjarahan. Padahal bila mau, hal itu bisa saja terjadi dan dilakukan, karena peserta aksi saat itu adalah kelompok dominan dan mayoritas. Namun yang terjadi justru sebaliknya, kekhusyukan dan ketentraman jiwa dirasakan oleh pelakunya, juga kedamaian dan keamanan dirasakan oleh orang-orang dan lingkungan di sekitarnya. Kumpulan manusia yang konon mencapai tujuh juta lebih itu menjelma dalam semangat yang sama, Aksi Super Damai Bela Islam 212.
    Adakah yang pernah melihat massa yang berbaris rapi dan teratur, beratus bahkan beribu kilometer dan konsisten menjaga bara semangatnya tanpa ada yang mengundang dengan iming-iming apapun, selain ‘hanya’ karena ingin menghadiri sebuah peristiwa luar biasa? Adakah yang pernah melihat, orang-orang dari luar Pulau Jawa yang sehari pulang pergi naik pesawat tanpa repot cari-cari tiket dengan harga promo seperti biasanya, bahkan ada yang khusus mencarter satu pesawat, ‘hanya’ agar bisa menghadiri sebuah peristiwa luar biasa tepat waktu? Berapapun harga tiketnya, dibayar. Berangkat saat itu juga.
    Aksi Super Damai Bela Islam 3 dengan acara shalat Jumat 212 yang diestimasi diikuti lebih dari 7 juta muslim, benar-benar telah menunjukkan silent majority umat Islam. Mayoritas yang selama ini diam dan patuh, kini bangkit menunjukkan eksistensinya sebagai sebuah entitas representasi dari masyarakat yang cinta damai. Memiliki kekuatan, kekukuhan, dan ketabahan, jutaan kaum muslim telah menembus jalan panjang untuk datang tetap beraksi dalam damai. Tak satupun pohon terganggu, tak satupun manusia dilukai, kecuali oleh orang-orang yang berniat jahat.
    Semua peristiwa itu terhimpun indah dalam buku berjudul “SPIRIT 212, Cinta Ini Menyatukan Kita” yang disusun oleh Sinta Yudisia bersama Tim Forum Lingkar Pena (FLP). Buku ini diterbitkan oleh FLP bersama Suara Muslim, Lembaga Manajemen Infaq (LMI) dan Lazis PJB (Pembangkitan Jawa-Bali) sebagai salah satu buku catatan sejarah yang monumental di akhir 2016.
    “Alhamdulillah... Sebuah hasil kerja keras, supercepat, dan sepenuh hati. Kerja yang tak gaduh, namun hasilnya insyaAllah jauh dari mengecewakan. Bisa dikatakan, inilah karya terbesar FLP sepanjang sejarah,” begitu kata Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Pusat (BPP) FLP Yeni Mulati Ahmad dalam akun facebooknya.
    Ketua Umum FLP Pusat Sinta Yudisia Wisudanti, M.Psi dalam sambutannya di buku ini mengatakan bahwa kisah dalam buku ini ditulis bukan sekedar memelihara emosional, euforia, hiruk pikuk dan besarnya massa. Lebih dari itu, ternyata kita dapat bergandengan tangan dengan kompak, damai, bahagia dan saling mendukung satu sama lain. Menurutnya, salah satu tujuan ditulisnya buku ini adalah untuk menelusuri apa saja yang menjadi niat orang-orang hadir ke sana. Belajar dari semangat dan kerja keras orang-orang yang berusaha mewujudkan sebuah keinginan ketika tekad baja telah terpatri.
    “Hal-hal lain menjadi tak terlalu penting dibandingkan keinginan besar yang menjadi tujuan kita bersama. Harapan melihat Indonesia menjadi negara jaya, berdaulat penuh, bermartabat, dan memiliki kekuatan yang disegani oleh bangsa-bangsa lain,” lanjut psikolong yang telah menulis lebih dari 50 buku ini.
    Habiburrahman El Shirazy, penulis fenomenal Nusantara dalam buku ini menyebut Aksi Bela Islam sebagai Orkestra Cinta Untuk Indonesia. Orkestra cinta maha dahsyat yang tidak hanya milik para santri dan ulama. Namun milik seluruh bangsa Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan, tua, muda hingga anak-anak, para elit hingga rakyat jelata. Kyai, santri, guru, buruh, petani, sopir angkot, karyawan perkantoran, pegawai negeri sipil, anggota TNI, anggota Polri, satpam, marbot masjid, tukang parkir, tukang batu, insinyur, direktur eksekutif perusahaan, menteri, hingga presiden dan wakil presiden menggemakan orkestra cinta pada Jumat 2 Desember 2016 di lapangan Monas, Jakarta.
    “Monas, Jakarta seumpama musim haji di Tanah Suci. Jutaan manusia berdzikir bersama, mengalunkan shalawat, mengungkapkan cinta. Ya, hanya cinta yang bisa mengumpulkan jutaan manusia dengan begitu cepat dan teratur, tanpa keributan dan keonaran sedikit pun. Lalu bubar secara teratur tanpa meninggalkan kotoran. Tak ada rumput yang rusak, tak ada pohon yang patah,” lanjut penulis novel mega best seller ‘Ayat-ayat Cinta’ ini.
    Buku “SPIRIT 212, Cinta Ini Menyatukan Kita” ini terdiri dari tujuh bagian. Bagian I bercerita tentang Sepak Terjang Perempuan; Bagian II Kegagahan Kaum Lelaki; Bagian III Kepahlawanan Anak Muda; Bagian IV Keberanian Orang-Orang Tua; Bagian V Catatan Sejarah yang Tak Terulang; Bagian VI Yang Unik dan Lucu dari Aksi Bela Islam; dan Bagian VII berisi tentang Kisah-Kisah Istimewa yang Diterjemahkan.
    Secara umum, buku ini bisa dikatakan sebagai ‘album kenangan’ untuk kaum muslimin selepas Aksi Bela Islam. Karena ditulis oleh para pelaku aksi 212 dan 411 dengan narasi yang menyentuh, unik dan dengan sudut pandang yang berbeda namun memiliki inti cerita yang sama, yaitu ketakjuban akan kekuasan Allah SWT yang mampu menyatukan hati manusia untuk berkumpul, berbuat kebajikan dan bergandengan tangan satu sama lain. Penulisnya adalah anggota Forum Lingkar Pena dan berbagai relawan yang menyusun potongan-potongan berharga dari aksi 212 dan beberapa di antaranya juga menulis tentang aksi 411. Daya tarik buku ini yang lain yaitu dicetak dengan pengemasan eksklusif, terdiri 40 naskah versi bahasa Indonesia dan 10 naskah terpilih yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman dan Korea. Dalam beberapa halaman buku ini juga dilengkapi ilustrasi foto-foto eksklusif Aksi Bela Islam, dan pada 12 halaman tengah buku juga disisipkan album foto Aksi Bela Islam full colour yang menarik untuk disimak.
    Maka bagi peserta aksi 212 dan 411 buku ini menjadi penting karena bisa kembali membangkitkan semangat juang dan persatuan kaum muslimin yang terjalin seakan tanpa sekat. Saat membaca berbagai kisah dalam buku ini kita akan merasakan kembali peristiwa-peristiwa yang pernah dialami dalam acara tersebut. Bagi orang yang tidak turut serta dalam Aksi Bela Islam, buku ini bisa menjadi semacam ‘buku putih’ yang menjelaskan keadaan sebenarnya dalam Aksi Bela Islam. Karena saat membaca berita pada media-media mainstream atau melihat tayangan berita televisi, yang ada hanyalah hal-hal yang menyudutkan kaum muslimin. Menganggapnya makar, perusuh, perusak kebhinekaan dan berbagai sebutan buruk lainnya. Buku ini akan menceritakan hal yang sebaliknya, tentang kedamaian yang tercipta, ketentraman yang dirasa, juga semangat toleransi, kebhinekaan dan cinta NKRI yang luar biasa.
    Meski termasuk buku yang luar biasa, tetap saja ada beberapa catatan untuk perbaikan di penerbitan berikutnya. Di antaranya adalah ukuran buku yang rasanya terlalu besar dan kurang proporsional sehingga lebih mirip ukuran skripsi. Selain itu, karena mungkin digarap dengan super cepat, sehingga ada beberapa bagian pengetikan yang masih lolos dari proses editing, antara lain penulisan tahun, beberapa tertulis 20116 padahal seharusnya 2016 (misal: hlm 4 & 35). Pada halaman 242, tampaknya juga ada satu bagian yang terlewatkan dalam dialog antara Budiman Syarif dan Prof. Greg Fealy sehingga saat dibaca menjadi terasa kurang nyambung.
    Selain buku Spirit 212 ini, ada buku lain yang membahas tentang Aksi Bela Islam, di antaranya buku berjudul Diary 212 yang disusun oleh Nurbowo. Bedanya, kalau Spirit 212 banyak berbicara tentang kisah-kisah heroisme Aksi Bela Islam, buku Diary 212 yang diterbitkan oleh Forum Alumni Muslim IPB ini menyajikan tentang fenomena Ahok, pemetaan sikap terhadap penistaan agama Islam, dan seluk beluk Aksi Bela Islam 212 di balik dan atas panggung. Buku setebal 436 halaman tersebut juga menghimpun essay-essay para pengamat dan peserta aksi tersebut dari berbagai aspeknya. Wallahu a’lam [Ahmad Nasri]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Menghimpun Kisah Setelah 212 Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top