• Latest News

    Selasa, 14 Maret 2017

    Muhammadiyah dan Ajaran Wahhabi


    Oleh: Prof. Syafiq A Mughni 
    Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah
     
    Akhir-akhir ini banyak orang berbicara tentang Wahhabi. Ada yang suka dan ada yang tidak suka. Itu hal yang biasa. Mereka yang tidak suka menyatakan bahwa Wahhabisme (pemikiran Wahhabi) dilekatkan dengan terorisme atau ide radikal lainnya.

    Wahhabi diambil dari nama Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab. Sebenarnya nama Wahhabi itu diberikan oleh mereka yang tidak suka. Pengikutnya sendiri menyebut diri mereka dengan Muwahhidun (orang-orang yang bertauhid).

    Muhammad bin ‘Abd Al-Wahhab lahir di Uyaynah pada 1703. Ia belajar agama pada usia muda, khususnya dengan ayahnya (Abd al-Wahhab_red). Muhammad bin ‘Abd Al-Wahhab belajar juga dengan ulama di Basrah (Iraq selatan), dan melakukan perjalanan ke Makkah dan Madinah untuk melaksanakan ibadah haji dan belajar dengan ulama disana sebelum kembali ke Uyaynah pada 1740. Ia merumuskan ide-ide reformisnya ketika tinggal di Basrah itu dan menjadi terkenal karena debatnya dengan ulama disana.

    Muhammad bin ‘Abd Al-Wahhab adalah pengikut mazhab Hanbali, tetapi menentang otoritas mutlak mazhab dan menentang taqlid. Setelah kembali ke Uyaynah, Muhammad bin ‘Abd Al-Wahhab mulai mendapat pengikut, termasuk penguasa kota itu, Utsman ibn Mu’ammar. Dengan dukungan Ibn Mu’ammar, Muhammad bin ‘Abd Al-Wahhab mulai mendakwahkan ide-ide pemurniannya. Ia mengajak Ibn Mu’ammar untuk meratakan makam Zayd ibn al-Khattab RA, sabahat Nabi Muhammad SAW yang makamnya dikeramatkan oleh penduduk lokal.

    Gerakan ini menggelisahkan Sulayman bin Muhammad Ghurayr, penguasa daerah al-Hassa dan Qatif, yang mempunyai pengaruh besar di Najd. Ibn Ghurayr memerintahkan Ibn Mu’ammar, pengumpul pajak tanah di al-Hassa, untuk membunuh Muhammad bin ‘Abd Al-Wahhab. Ibn Mu’ammar menolak perintah itu, tetapi memaksa Muhammad bin ‘Abd Al-Wahhab meninggalkan daerah tersebut.

    Setelah diusir dari Uyaynah, Muhammad bin ‘Abd Al-Wahhab diundang untuk menetap di sekitar Dir’iyyah oleh penguasanya, Muhammad ibn Sa’ud, pada 1740. Dua orang saudara dari Ibn Sa’ud sesungguhnya adalah murid Muhammad bin ‘Abd Al-Wahhab di Uyaynah, dan dikatakan telah memainkan perannya dalam meyakinkan Ibn Sa’ud untuk menerima kedatangannya.

    Setibanya di Dir’iyyah, perjanjian telah dibuat antara Ibn Sa’ud dan Muhammad bin ‘Abd Al-Wahhab. Perjanjian itu menyatakan bahwa Ibn Sa’ud wajib melaksanakan ajaran Muhammad bin ‘Abd Al-Wahhab dan memberlakukannya di kota-kota sekitar.

    Muhammad bin ‘Abd Al-Wahhab memandang gerakannya sebagai usaha untuk memurnikan Islam dengan jalan mengembalikan umat Islam ke sumber aslinya (Al-Qur’an dan Al-Sunnah_red), dan membersihkannya dari bid’ah dan syirik. Upacara-upacara tertentu, seperti perayaan maulid Nabi, dianggap bid’ah. Ia dipandang oleh pengikutnya sebagai mujaddid, dan sebaliknya oleh penentangnya sebagai penganjur bid’ah. Bagaimanapun pengaruh Muhammad bin ‘Abd Al-Wahhab sangat besar.

    Bila diselidiki secara cermat, sesungguhnya tidak ada pemikiran Muhammad bin ‘Abd Al-Wahhab itu yang mengesahkan kekerasan atau ancaman terhadap jiwa manusia. Muhammad bin ‘Abd Al-Wahhab dalam praktiknya misalnya, meratakan makam dengan tanah agar tidak jadi sesembahan. Meratakan kuburan sesungguhnya hal yang tidak terlalu besar, apalagi jika diukur dengan ukuran waktu itu.

    Jika ada pengikut ajaran Wahhabi yang melakukan tindak kekerasan, itu hanyalah sebagian. Banyak pengikut Wahhabi yang dalam berdakwah tetap santun dan damai. Itu seperti halnya pengikut Islam atau Kristen yang melakukan tindak kekerasan, maka tidak berarti mewakili agamanya.

    Kesepakatan antara Muhammad bin ‘Abd Al-Wahhab dan Ibn Sa’ud telah dibuat untuk saling mendukung misi masing-masing. Itu bisa dipandang sebagai hal yang bisa difahami. Tetapi itupun harus diperlakukan dengan kritis. Kita boleh setuju atau tidak setuju.

    Bahkan kita pun boleh setuju atau tidak setuju dengan sebagian pemikiran Muhammad bin ‘Abd Al-Wahhab. Tidak ada yang sakral dalam pemikiran atau pemahaman seseorang. Kita bisa menentukan jalan pikiran sendiri. Yang penting tidak ada kezaliman terhadap orang lain.

    Jika disebut bahwa Muhammadiyah mendapatkan inspirasi dari gerakannya, itu memang benar. Karena Muhammadiyah berdakwah untuk purifikasi (pemurnian) akidah dan ibadah. Pemikir-pemikir Muhammadiyah dulu dan sekarang juga akrab dengan kitab-kitab yang ditulis Muhammad bin ‘Abd Al-Wahhab.

    Tetapi tidak semua pemikiran Wahhabi diambil mentah-mentah. Muhammadiyah juga mendapatkan inspirasi dari Jamal al-Din al-Afghani, Muhammad ‘Abduh, Rasyid Ridha, dan bahkan juga dari modernisme Barat. Pemikiran-pemikiran itu diolah dan diuji dengan parameter al-Qur’an dan al-Sunnah, dan kemudian menjadi gerakan Muhammadiyah.

    Muhammadiyah adalah dirinya sendiri, menentukan jalan pikirannya sendiri, dan tidak bisa dipasung oleh pemikiran atau gerakan lain.

    Sumber: Pwmu.co
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Muhammadiyah dan Ajaran Wahhabi Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top