• Latest News

    Senin, 05 Juni 2017

    Jokowi Singgung Isu PKI di UMM Dome


    Oleh: Fadh Ahmad Arifan
    Alumni Pascasarjana UIN Malang
     
    Sabtu 3 Juni 2017, ditawari salah satu staf tata usaha MTs-MA Muhammadiyah 2 Malang untuk hadir ke kajian Ramadhan 1438 H di UMM Dome Malang. ID card atau tanda pengenal peserta saya terima lengkap dengan kupon penukaran menu buka puasa. Hendak pulang ke rumah, saya lihat tanda pengenal masih banyak yang tersisa di meja guru. Ustadz Hamdan Mariyadi mengambil 3 kartu tanda pengenal yang tak terpakai untuk beliau berikan kepada koleganya. "Pakai batik dan sepatu ya mas Fadh," pesan beliau kepada saya.

    Kajian
    Ramadhan tahun ini cukup spesial. Karena didatangi Presiden Jokowi. Ribuan warga Muhammadiyah antusias hadiri acara ini. Rata-rata berasal dari kota Batu, Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Tuban, Gresik, hingga Surabaya. Ribuan orang tersebut terbagi 3 macam: peserta biasa yang bertanda pengenal berwarna merah dan biru (PW Muhammadiyah Jawa Timur), tanda pengenal merah muda yang khusus untuk pers dan yang berwarna abu-abu untuk tamu VIP. Meski memiliki tanda pengenal, tetap harus melewati petugas keamanan. Tas dan saku baju batik saya harus diperiksa. Beberapa peserta harus merelakan rokoknya disita semua. Petugas keamanan ingin tempat berlangsungnya acara steril dari asap rokok.

    Saya lihat dari kejauhan, puluhan peserta yang terlambat tertahan di depan pintu UMM Dome. Mereka resah tak boleh masuk ke dalam gedung. Di dalam Dome terlihat Abah Anton, Prof Abdul Malik Fadjar, Mendikbud RI, Menteri Agama RI, Prof. Dr. Din Syamsuddin. Nampak melintas di depan saya Prof. KH. Yunahar Ilyas. Yunahar Ilyas sendirian tanpa didampingi panitia acara. Jokowi beserta rombongan baru tiba di lokasi acara pada pukul 13.35 WIB. Panitia acara meminta peserta tetap duduk di tempat dan tak perlu bertepuk tangan. Salah seorang peserta nyeletuk, "ngerti aja kalau Muhammadiyah nggak ada shalawatan buat menyambut tamu penting".

    Acara yang mengambil tema "Memberi itu Indah" dibuka dengan pembacaan surah al-Baqarah ayat 183 dan surah al-Maun. Usai pembacaan ayat suci al-Quran, Dr. Saad Ibrahim, M.A memberi sambutan dan promosi pencapaian Muhammadiyah Jawa Timur. Kata Dr. Saad Ibrahim, anggaran pendapatan belanja di Amal Usaha Muhammadiyah Jawa Timur mencapai lebih dari 5 triliun rupiah.

    Setelah sambutan Dr. Saad Ibrahim yang cukup singkat, lanjut Ketua Umum Pimpimnan Pusat Muhammadiyah.

    "Pengajian Ramadhan di pusat sudah berjalan 33 tahun. Durasi 6 hari dalam seminggu. 3 hari diadakan di Yogyakarta dan 3 hari di ibukota Jakarta," ucap Dr. Haedar Nashir.

    Masih menurut beliau, "kita jadikan bulan puasa sebagai Mi'raj spiritual untuk bangun 3 hal: meneguhkan jiwa yang dekat dengan Allah, jiwa yang luhur dan menumbuhkan jiwa ukhuwah."

    Acara dilanjut ke sesi penyematan 'Jas Merah' almamater UMM kepada Presiden Jokowi. Mulai detik ini, beliau resmi menjadi keluarga kehormatan UMM. Tak selang beberapa lama, bapak utusan Konsulat Jenderal Jepang dan wartawan Media Indonesia duduk di sebelah kiri saya. Wartawan ini mengetik melalui gadgetnya. Ia menyimak pidato Jokowi sambil menuangkan ke dalam reportasenya.

    Seluruh isi pidato Presiden Jokowi tak sesuai tema kajian
    Ramadhan. Beliau membahas pertumbuhan jalan tol Indonesia dibandingkan negara lain. Kemudian kasus ujaran kebencian saat pilgub DKI Jakarta. Beliau mengeluhkan betapa banyak energi dan biaya yang terkuras karena meredam gejolak pilgub DKI. Jokowi sepertinya lupa, siapa sejatinya yang membuat jutaan umat Islam berbondong-bondong mendatangi ibukota untuk menuntut keadilan bagi penista agama dan ulama.

    Terakhir tanpa saya duga beliau menyinggung isu Partai komunis Indonesia (PKI). Termasuk juga tuduhan bahwa dirinya bagian dari PKI, "Tahun 1965 saya masih berumur 3 tahun, jadi tidak masuk akal saya dikait-kaitkan dengan PKI. Tidak mempan ke saya lalu gantian orang tua yang dituduh-tuduh". Ucapan, "saya gebug!" muncul kembali dari mulutnya, meski saya lihat ucapan itu belum setegas Pak Harto.

    Kalau kunjungan kerja ke tempat lain, Jokowi sering mengadakan kuis berhadiah sepeda dan bingkisan menarik lainnya. Namun kali ini beliau tidak menggelar kuis. Bukan karena persyarikatan Muhammadiyah sudah kaya raya dengan ribuan amal usahanya, melainkan karena acara ini kajian
    Ramadhan yang di dalamnya mengulas tema filantropi. "karena ini acara besar, tidak ada kuis," kata Jokowi disambut gelak tawa para peserta.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    1. Membangun Indonesia Berkemajuan tahap demi tahap.
      Insya Allah.

      BalasHapus

    Item Reviewed: Jokowi Singgung Isu PKI di UMM Dome Rating: 5 Reviewed By: Fastabiqu Online
    Scroll to Top